Tanya Dilema

Suatu pagi, di tengah-tengah pekerjaan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan di Facebook Messenger dari seorang temanku.

Seperti Nemo

Ada satu film yang bagiku aneh banget, yaitu Finding Nemo. Inti ceritanya kan ada seekor ayah ikan yang mencari anaknya. Yang aneh itu ternyata ikan ini bisa ngomong. Padahal kalopun ikan bisa ngomong, kan ikan ini ada di dalam air. Coba kita aja yang ngomong di dalam air, kedengeran nggak sama temen kita yang ada di deket kita.

Pakai Bahasa Indonesia

Dari sejak blog pertamaku aku selalu pengen mempertahankan ke-Indonesiaanku, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia di setiap tulisan blogku. Bukan karena aku nggak bisa bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau India, bukan! Tapi sebenarnya emang nggak bisa sih, tapi bukan itu maksudnya.

Hobi

Hobiku adalah membaca. Aku mendapatkannya dari sebuah majalah anak-anak. Jadi gini awal ceritanya, waktu itu ibuku mengirimkan foto dan dataku ke sebuah rubrik koresponden di majalah anak-anak itu. Dan di bagian hobinya, ibuku menuliskan kalo hobiku adalah membaca.

Power Bank

Di jaman gadget seperti sekarang ini, keberadaan smartphone menjadi bagian kehidupan bagi beberapa orang. Tapi di balik kecanggihan dan segala kelebihannya, ada salah satu sisi di mana smartphone justru lebih boros dalam pemakaian daya baterainya.

Rabu, 05 Maret 2014

Bikin Layout Buku

Mungkin suatu ketika kita dapat tugas bikin sebuah booklet, atau di kantor bikin pedoman yang berbentuk buku. Dengan tugas ini, apa yang akan kita lakukan? Mengorderkan tugas ke pengetikan? Atau ke percetakan? Satu hal yang perlu diperhatikan adalah sebuah tugas kalo kita berikan untuk dikerjakan ke orang lain hasilnya bisa jadi tidak seperti yang kita harapkan, itu pertama. Yang kedua adalah dengan orang lain yang mengerjakan tugas yang agak rumit dari kita, maka secara tidak langsung kita bikin orang tersebut lebih pintar dan lebih kreatif dari kita. Dan yang terakhir, akibatnya adalah kita tetap berada dalam zona di mana kita nggak bisa ngerjain tugas-tugas seperti itu nantinya, sehingga kita tetap menggantungkan pekerjaan ke orang tadi.

Kalo mau belajar dikit, sebenernya tugas bikin booklet atau buku ini bisa kita kerjakan sendiri, kan udah ada program pengolah kata semacam Microsoft Office atau OpenOffice. Kita tinggal bikin setting-setting aja, udah bisa bikin buku. Kali ini akan aku peragakan gimana cara buat kerangkanya, dalam hal ini aku pake Microsoft Office Word 2007.

Yang pertama adalah menentukan kertas yang akan dipakai. Biasanya yang sering dipakai adalah kertas kuarto, A4, atau folio. Dari Page Setup bisa diliat berbagai ukurannya. Kalo pake kertas kuarto yang berukuran 21,59 × 27,94 cm, pilih kertas bernama Letter. Kalo pake kertas A4 yang berukuran 21 × 29,7 cm, pilih kertas bernama A4. Kalo pake kertas folio yang ukurannya 21,59 × 33 cm, pilih jenis kertas Letter, tapi ganti ukuran Height yang sebelumnya 27,94 menjadi 33. Idealnya sebenarnya bikin booklet itu pake kertas folio, soalnya lebih panjang dan nantinya tata letak halamannya pas.

Secara umumnya bikin booklet di MS Word itu ada dua cara. Yang pertama adalah bikin dokumen seperti biasa aja, tar pas mau mencetak dibuat Page Layoutnya jadi Booklet. Cara ini sebenarnya lebih praktis, tapi kurang berseni. Ingat, yang praktis itu sering bikin nggak kreatif! Cara yang kedua adalah bikin dokumennya langsung dalam layout bukunya. Cara ini yang akan aku tulis di sini.

Karena kita akan bikin dokumen dalam bentuk yang nggak biasa, bergantung pada ukuran kertasnya seperti di atas tadi, setelah menentukan jenis kertas yang akan dipakai maka langkah berikutnya adalah bikin setting agar dokumen yang tampil udah jadi bentuk semi booklet. Sebagai contoh dalam tulisan ini aku pakai kertas folio. Orientasi kertas dibuat mode Landscape. Kemudian semua margin diatur, sebagai contoh aku buat margin atas, bawah, dan kanan dibuat 1 cm. Margin kiri dari dokumen juga akan dibuat 1 cm, tapi di sini margin kiri tidak diisi dengan angka 1. Dihitung dulu dengan memperhatikan panjang kertas, yaitu 33 cm, dibagi 2, jadi 16,5 cm. Kemudian 16,5 ini ditambah margin kiri yang diinginkan tadi, yaitu 1. Jadi margin kiri di Page Setup ini diisi dengan angka 17,5 cm. Lalu untuk bagian Multiple Pages dipilih Mirror Margins. Setelah itu selesai dan klik OK.

Sekarang kita lihat bentuk dokumen yang ada di layar. Hasil dari setting yang dibuat di Page Setup tadi terlihat di sini. Bagian dokumen akan berada di bagian kanan layar, sedang bagian kirinya kosong. Nanti kalo dokumen udah memasuki halaman berikutnya, yaitu halaman 2, dokumen akan berganti ke bagian kiri, sedang sebaliknya bagian kanannya kosong. Itu adalah hasil dari setting Mirror Margins tadi, di mana nantinya untuk halaman ganjil dokumen ada di posisi yang sesuai dengan page setup awal, sedangkan sebaliknya untuk halaman genap akan berada di posisi yang sebaliknya.

Sampai di sini sementara settingnya selesai. Kita udah bisa ngetik dan menyesuaikan sesuai dengan tugas yang kita punya tadi. Kalo udah selesai semua proses pengetikannya dan mau mencetak, perhatikan baik-baik karena proses pencetakan itu nggak begitu aja. Lihat dulu berapa jumlah halaman keseluruhan dari dokumen kita ini, kemudian bagi 4, maka hasilnya adalah jumlah lembar kertas yang dibutuhkan. Kita bagi 4 karena dalam 1 lembar kertas nantinya masing-masing akan ada 4 halaman. Kalo misalnya nggak habis dibagi 4, misalnya jumlah halamannya 26, berarti kelebihan hasil pembagiannya adalah tambahan 1 lembar kertas lagi, berarti akan butuh 7 lembar kertas.

Untuk mencetaknya, pertama pada area Page Range, isi pada bagian Pages. Jika jumlah halaman tadi 26, maka bagi dua, jadi isi Pages dengan angka 1 – 14. Ini berarti hanya halaman 1 sampai dengan 14 saja yang akan dicetak. Kemudian pada bagian print, ganti All Page in Range menjadi Odd Page. Ini berarti halaman ganjil aja yang akan dicetak. Setelah itu bisa diklik OK.

Setelah selesai semua kertas cetakan pada bagian ini, kemudian tanpa mengubah tatanan kertas langsung balik dengan posisi vertikal dan masukkan lagi ke printer. Cetak lagi dengan cara yang sama dengan atas, hanya saja yang Odd Page tadi diganti dengan Even Page. Ini berarti halaman genap aja yang akan dicetak. Setelah itu bisa diklik OK.

Proses berikutnya adalah mencetak halaman sisanya, yaitu halaman 15 sampai dengan halaman 26. Jadi isi Pages dengan angka 15 – 26. Ganti lagi bagian Print yang All Page in Range menjadi Odd page. Kertas yang udah keluar sebelumnya dari printer tadi, tanpa mengubah tatanan kertas masukkan lagi ke printer tanpa dibalik. Setelah itu bisa diklik OK.

Setelah selesai kembalikan tatanan kertas yang udah keluar tadi ke printer dalam keadaan dibalik. Cetak lagi halaman 15 sampai dengan 26 dengan mengganti All Page in Range menjadi Even Page. Setelah selesai, semua cetakan udah bisa dilipat dan dibentuk buku, sesuai dengan urutan halamannya.

Yang perlu diperhatikan sekali lagi di sini adalah jumlah halaman dan kesesuaian nomor halaman pada cetakan. Misalkan halaman 1 yang ganjil, berada di sisi kanan, halaman baliknya yang berada di sisi kiri pasti adalah halaman genap. Di samping halaman genap ini, di sebelah kanan, pasti halaman ganjil dan baliknya yang sebelah kiri adalah halaman genap. Banyak masalah yang timbul karena halaman total tidak habis dibagi dengan 4. Untuk lebih yakinnya bisa dibikin simulasi dulu pake kertas lain. Bentuk lembaran kertas menjadi tatanan bentuk buku dan beri masing-masing halaman dengan nomor halamannya. Dengan simulasi ini maka mencetak bisa lebih mudah.

Kalo paparanku di atas kurang jelas dimengerti karena bahasanya berbelit-belit, anda bisa mencari referensi lain atau bikin eksperimen sendiri. Karena dengan eksperimen sendiri siapa tau anda bisa menemukan cara yang lebih mudah dari caraku tadi. Dan yang pasti anda akan lebih kreatif dalam mengerjakan tugas dan penggunaan programnya.

Selasa, 04 Maret 2014

Menjadi Orang Lain

Kita, setidaknya sekali dalam seumur hidup, pasti pernah pengen menjadi orang lain. Kita ngelihat orang lain hidupnya enak, nyaman, dan sukses, terus kita pengen menjadi dia. Misalnya gini, kita ngelihat seorang David Beckham menjadi bintang lapangan sepakbola, model berbagai iklan, menjadi selebritis, terkenal, dan seterusnya yang nggak cukup bila ditulis di sini. Terus kita secara mengkhayal pengen jadi seorang David Beckham. Pertanyaannya, mau nggak David Beckham jadi kita?

Bukan itu sih masalahnya. Masalahnya adalah kita terlalu sering melihat kehidupan orang lain adalah nyaman untuk dijalani. Kita nggak tau apakah sebenarnya orang itu nyaman dengan hidupnya sendiri, malah bisa jadi dia bisa berpikir bahwa hidup kita terlihat nyaman untuk dijalani. Padahal sebenarnya kalo kita mau menyadari, sebenarnya hidup yang enak dan nyaman untuk dijalani itu ya hidup yang sedang kita jalani sekarang ini.

Aku sering berpikir bahwa tidak akan ada orang yang mungkin mampu menjalani hidup seperti yang aku jalani sekarang ini. Hidupku yang seperti ini terlalu sayang untuk dijalani oleh orang lain, ataupun juga terlalu sayang untuk dijalani lagi untuk kedua kalinya. Aku udah berada di posisi sekarang ini dengan banyak hal yang telah dijalani sejak lahir, dan bagaimana jadinya bila ada orang lain yang pengen bertukar hidup denganku yang sekarang. Padahal dia nggak tau apa aja yang pernah aku lalui, apa aja yang telah berhasil aku bangun, mental yang telah aku pertahankan sampai sekarang, dan seterusnya yang nggak cukup bila ditulis di sini.

Inti sebenarnya adalah bahwa dengan mensyukuri hidup yang kita jalani sampai sekarang ini, kita bisa menghargai hidup, serta tidak ada satupun dalam hidup kita ini yang terlalu murah untuk kita tukar dengan kehidupan orang lain. Dan ada sebuah ungkapan, bahwa hidup terlalu singkat untuk dijalani menjadi orang lain.

Senin, 03 Maret 2014

Les atau Sekolah

Dulu selama sekolah di tingkat SD aku mengikuti les mata pelajaran di luar jam sekolah. Sebenarnya guru pengajarnya juga sama, tapi bedanya les dilakukan tidak di sekolah dan tidak di dalam jam pelajaran. Di dalam les tersebut lebih banyak dibahas tentang pelajaran di sekolah juga, selain sedikit pemahaman dan pengetahuan di luar pelajaran yang diajarkan di sekolah. Dan karena mengikuti les tersebut, nilai sekolah menjadi terbantu dan pelajaran lebih mudah dipahami.

Meningkat di tingkat SMP aku mengikuti les juga, hanya saja yang aku ikuti cuma les bahasa Inggris saja. Les ini lebih kepada pemahaman tentang bahasa Inggris beserta pemakaiannya dalam praktek, serta didukung dengan pembahasan pelajaran di sekolah. Sehingga secara umum dan luasnya pemahaman bahasa Inggris lebih bisa dikuasai dan sangat mendukung dalam pelajaran sekolah, meskipun kemudian di sekolah tidak diajar oleh guru yang memberi les tersebut.

Sama-sama belajar, sama-sama diberi materi, sama-sama diajar oleh guru sekolah, tapi mengapa ya pengajaran dari les lebih mudah dipahami dan lebih mudah diterapkan? Kalo aku pribadi sih menganggap karena suasana di les lebih nyaman dan komunikatif aja. Misalnya saat di les, saat diberi sebuah soal matematika, guru akan mengarahkan dengan efektif dan efisien bagaimana cara menyelesaikan soal tersebut. Saat kita salah mengerjakannya, kita nggak akan dihukum, malah diberitahu cara mengerjakan soal tersebut dengan mudah. Selain itu suasana les juga nggak kaku. Kita lebih bebas berekspresi dengan menanyakan berbagai pelajaran yang tidak atau belum kita pahami.

Beberapa contoh seperti di atas tentu beda dengan suasana pembelajaran di sekolah. Kita lebih dituntut ‘menjawab dengan benar’ dari setiap soal yang diberikan kepada kita. Padahal mungkin metode pengajaran yang diberikan sama antara les dan sekolah. Tapi nggak tau kenapa seolah-olah penjelasan guru di sekolah tidak cukup untuk menyalurkan ilmu dari sebuah bahasan kepada murid-muridnya. Entah kenapa…

Aku jadi teringat ada sebuah ungkapan dari seorang kenalan, dia bilang kalau les bisa bikin anak jadi pinter, kenapa perlu ada sekolah? Dari ungkapan ini seolah sekolah itu hanya sebuah sarana untuk mendapatkan pengakuan atas ‘kepintaran’ seseorang, padahal dengan adanya les mata pelajaran seorang anak bisa lebih menguasai pelajaran daripada penyajian di sekolah. Sementara aku sendiri menganggap bahwa sebenarnya proses menuntut ilmu itu tidak harus dari sekolah. Sekolah hanyalah salah satu sarana menuntut ilmu. Tapi kenyataannya memang tanpa sekolah seseorang tidak bisa diakui kompetensinya, karena tidak ada bukti formal yang mendukung bahwa dia telah mengikuti ‘proses pembelajaran’ yang mengikuti ‘proses menuntut ilmu’.

Menuntut ilmu itu penting, sekolah itu sarana, dan les itu pendukung. Tidak ada salahnya ikut les kalau ternyata bisa mendukung kegiatan di sekolah, dan selama itu merupakan bagian dari menuntut ilmu. Dengan banyaknya pilihan tempat les daripada pilihan tempat sekolah, maka harapannya pilihan yang tepat bisa mengembangkan nilai pendidikan seseorang dalam menjalani jenjang pendidikan formalnya, serta bisa meningkatkan standar pendidikannya sebagai pendukung program mencerdaskan kehidupan bangsa.

Minggu, 02 Maret 2014

Outbound

Ngomongin tentang outbound itu menyenangkan, terutama kalo pas kelompok yang aku ikuti menang. Tapi nggak cuma kemenangan itu yang menjadi kesenangan outbound, tapi juga permainan, kebersamaan, dan outbound itu sendiri secara keseluruhan. Banyak manfaat yang bisa diambil dari kegiatan ini, terutama bagiku sendiri memberikan kesan yang berbeda-beda dari masing-masing kegiatan outboundnya.

Salah satu kegiatan outbound yang bagiku paling berkesan dan menyenangkan adalah outbound yang bersifat penjelajahan. Kita dibagi menjadi beberapa kelompok, yang terdiri dari antara tujuh sampai sepuluhan orang. Kemudian semua kelompok berkumpul dari satu titik pemberangkatan untuk kemudian menyusuri rute tertentu yang telah ditentukan. Selama perjalanan setiap kelompok mendapatkan misi yang berakhir di titik finish. Selain itu, selama rute perjalanan tersebut ada pos-pos tertentu, di mana masing-masing pos ada tugasnya masing-masing. Yang seperti ini sih sebenarnya dulu sering aku alami sebagai penjelajahan selama mengikuti kegiatan kepramukaan.

Satu hal yang menambah kesenangannya adalah kita menyusuri sebuah rute yang berada di daerah yang sama sekali kita kenal. Maklum outboundnya kan juga bukan di daerah rumah atau tempat kerja, tapi di daerah pedesaan. Jadi menyusuri sawah, kebun, sungai, dan naik-turun daratan yang tinggi adalah perjalanan yang harus dilalui selama kegiatan outbound. Selama perjalanan ini kita bisa dihadapkan pada berbagai masalah, seperti tersesat karena tidak menemukan petunjuk jalan, tertusuk karena melewati jalan berduri, atau juga tidak berhasil melaksanakan misi globalnya.

Lain halnya dengan outbound yang on the spot, tempatnya dari awal sampai akhir ya di situ-situ aja. Kalau outbound lingkungan dengan penjelajahan panitia bisa memanfaatkan lingkungan yang ada sebagai sarananya, outbound yang ini menuntut penyelenggaranya lebih kreatif dalam membuat trek outboundnya. Misalnya kalau mau ada outbound yang pakai sarana halang rintang, ya jadinya harus bikin sarananya sendiri dengan pemanfaatan lingkungan yang minim. Selain itu outbound yang semacam ini juga membutuhkan tempat yang lebih luas agar masing-masing tugas dan permainan bisa berlangsung dan menyambung lebih cepat sehingga menghemat waktu pelaksanaan outbound secara keseluruhan.

Intinya kegiatan outbound itu menyenangkan, terutama bagi orang-orang yang menyukai tantangan, petualangan, serta suka hal-hal yang berbau olahraga dan taktik strategi. Kalau mau kegiatan outbound yang lebih serius lagi bisa latihan di markas militer yang sarananya sudah tersedia, pelatihnya ada, dan sudah pasti manfaatnya bakal lebih terasa. Apalagi kalau setelah outbound kebersamaan menjadi lebih erat dan terasa hangat, semua rasa lelah dan capek selama mengikutinya jadi terbayar lunas.

Sabtu, 01 Maret 2014

Hari Besar Nasional

Di dunia ini banyak diperingati hari-hari besar, sebagai pengingat untuk peristiwa-peristiwa tertentu yang memang perlu diingat. Di Indonesia juga gitu, ada banyak hari-hari yang beraroma ‘bersejarah’. Nggak hanya hari peringatan, tapi tentunya juga hari-hari besar agama. Masing-masing hari pasti merujuk pada sebuah alasan dan peristiwa tertentu, dengan maksud dan tujuan tertentu pula.

Masalahnya adalah hari-hari yang udah merujuk pada sebuah alasan dan peristiwa tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu itu seringkali tercampuraduk dengan sebuah alasan dan peristiwa dengan maksud dan tujuan dari hari yang lain. Misalnya nih, Hari Ibu yang dibuat untuk tiap tanggal 22 Desember. Kita mungkin sering nemuin ada kata-kata untuk memperingati Hari Ibu itu dengan begini nih, ‘Selamat Hari Ibu untuk ibu-ibu dan calon ibu-ibu di Indonesia’. Ini kan jadi menggeneralisasi Hari Ibu untuk seluruh wanita Indonesia kan. Padahal untuk perempuan Indonesia udah diplot peringatannya di Hari Kartini! Kalo Hari Ibu udah mewakili untuk seluruh perempuan Indonesia, lalu Hari Kartini untuk apa?

Lain lagi dengan Hari Sumpah Pemuda, biasanya selain ucapan tentang Sumpah Pemuda juga ada tambahan ‘Untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah berjuang melawan penjajah’. Lha, padahal kan Hari Pahlawan udah ada sendiri, lalu kalo perjuangan udah diperingati bersama Hari Sumpah Pemuda, tar Hari Pahlawan ngapain lagi?

Atau Hari Kebangkitan Nasional, memperingati bangkitnya persatuan dan kesatuan bangsa dalam melawan penjajah. Padahal hal yang hampir sama diperingati pas Hari Sumpah Pemuda juga. Pengkhususan seperti itu bikin anak sekolah jadi sering punya upacara untuk hari-hari tertentu. Ada upacara Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Sumpah Pemuda sendiri-sendiri. Padahal kalo maksud dan tujuannya memperingati hal yang sama kan dua peringatan itu bisa diringkas menjadi sekali upacara aja.

Tapi lebih menyenangkan kalo hari-hari besar nasional itu dijadikan hari libur nasional, kan bisa menambah hari istirahat dari kerja atau sekolah. Yah daripada ada hari cuti bersama yang hanya dinikmati oleh para PNS dan pekerja-pekerja tertentu saja, kan asyik tuh kalo tambah hari libur.

Rabu, 22 Januari 2014

Fasilitas Umum

Ngomongin soal fasilitas umum, pernah nggak anda menemukan fasilitas umum di Indonesia ini yang bersih, terawat, dan berfungsi dengan baik? Jarang sekali kita dapat fasilitas yang kondisinya seperti ini. Bisa jadi bersih, terawat, tapi rusak. Atau terawat dan berfungsi dengan baik, tapi jorok banget.

Kita dihadapkan pada kenyataan bahwa masyarakat kita sedikit sekali mempunyai kesadaran akan rasa memiliki terhadap fasilitas umum, dengan menjaga dan memperlakukan fasilitas umum seperti milik sendiri yang harus selalu bersih, terawat, dan berfungsi dengan baik. Kalaupun ada yang punya rasa memiliki mungkin terus dicongkel dan dibawa pulang atau dijual.

Contohnya nih, telepon umum. Sekarang sih emang udah jarang ya telepon umum, tapi yang ABG tahun ‘90an pasti akrab banget sama barang yang satu ini. Telepon umum dulu biasanya ada yang jenis ‘akuarium’, yang kayak lemari kaca terus kita masuk ke dalamnya. Atau model tiang dengan tempat payungan berbahan fiber di atasnya. Tapi pernah nggak setelah sekian lama telepon umum tersebut berada di tempat itu, kita nemuin telepon umum yang kondisinya sama seperti pertama kali dipasang? Masih untung teleponnya bisa dipake dengan nyaman, tanpa melihat tempatnya.

Contoh lagi halte bis. Di depan rumahku ada halte bis yang lumayan rame, nggak hanya buat nyegat bis, tapi juga buat nongkrong dan jualan. Tapi ya sama saja, kondisinya nggak sedap dipandang. Halte ini udah beberapa kali ganti desain. Dulu pernah modelnya bagian bawahnya seperti semacam pondasi yang menonjol ke atas sebagai tempat duduk, terus kedua tepinya ada tiang besi ke atas yang menyangga atapnya. Di sela-sela tiang itu ada pipa paralon yang berfungsi sebagai saluran air yang mengalirkan air hujan dari atap ke bawah. Nggak seberapa lama dari selesainya desain yang ini, pipa paralon itu udah pecah, dari atap sampai tempat dudukannya.

Yang model sekarang ini sebenarnya cukup bagus. Tapi sayangnya, kondisinya udah penuh coretan di mana-mana. Jadi curiga nih, jangan-jangan ada seseorang yang bikin nyoretan pada awalnya, terus ada orang lagi yang ngejawab di bawahnya, dan seterusnya. Jadi kayak dialog tanya jawab gitu, tapi di dinding halte sampai atapnya. Fungsi haltenya, ya itu tadi. Jadi tempat nyegat bis, nongkrong, dan jualan.

Apalagi WC umum! Pintu WC umum yang utuh dan berfungsi sempurna itu adalah sebuah kemewahan tersendiri! Memang biasanya itu yang sering paling cepat rusak dari sebuah WC umum, di samping baunya yang khas. Dan fasilitas terakhir yang bisa berfungsi dari sebuah WC umum adalah kran air, mengesampingkan bisa nggaknya airnya keluar.

Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. Intinya adalah fasilitas umum itu adalah milik umum, bukan milik pemerintah, bukan milik lembaga tertentu, atau yang lainnya, karena fasilitas umum digunakan untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Kita nggak bisa mengesampingkan bahwa orang lain juga akan menggunakan fasilitas tersebut. Tapi apa yang terjadi kemudian muncul rasa memiliki yang nggak wajar, yang berlebihan, sehingga seolah kita menganggap bahwa kita saja yang menggunakan fasilitas tersebut, nggak peduli apakah fasilitas tersebut akan berfungsi baik bila dipakai orang lain. Dan kalau fasilitas itu kemudian rusak, kita lebih suka menyalahkan pemerintah atau pengelola fasilitas tersebut daripada menyalahkan kita yang notabene penggunanya.

Jadi kita perlu memperbaiki rasa memiliki kita dengan kadar yang sesuai dengan tempatnya. Kita harus kembali menanamkan pada pikiran kita bahwa fasilitas umum itu ya fasilitas yang digunakan untuk umum, bukan hanya untuk umum yang orang lain saja, tapi suatu saat kita juga akan menggunakannya. Sehingga saat suatu ketika kita menggunakannya, kita akan merasakan nyamannya menggunakan fasilitas umum yang bersih, terawat, dan berfungsi dengan baik.

Selasa, 21 Januari 2014

Pemilihan Kepala Desa

Pagi hari, menjelang berangkat ke lapangan untuk melaksanakan pemilihan kepala desa, terjadi dialog antara aku dan ibuku.

‘Kalau milih xxxx, kita khianat apa nggak ya?’, tanya ibuku.

‘Kalo nggak janji ya nggak khianat.’

‘Tapi pas ngasih uang kan dimintai bantuannya, kita mengiyakan.’

Gimana ya, negara ini memprogramkan penghapusan politik uang, tapi pas momen kaya gini, sudah menjadi hal yang umum, selalu saja ada sistem bagi-bagi uang setiap mau pilihan kepala desa. Dan pasti yang satu nggak mau kalah dengan yang lain. Kalo yang satu ngasih, yang lain ikutan ngasih. Yang satu ngasih lima puluh ribu, yang lain berani ngasih lebih. Dan begitu seterusnya.

Dan kalo dengar cerita-cerita dari teman-teman yang lain desa, sistem seperti itu juga terjadi, dan selalu terjadi juga. Selalu ada celah bagi para calon kepala desa buat ‘menyenangkan’ para calon pemilih. Kalo nggak lewat cara bagi-bagi uang ya pake cara lain yang sekiranya cocok dan menyamankan para calon pemilih. Dan karena hal ini sudah menjadi ‘tradisi’, mau nggak pake cara seperti itu juga nggak lengkap.

Lalu apa itu menjadi kesalahan para calon kepala desa dan tim suksesnya? Nggak sepenuhnya, karena di sisi lain masyarakat juga senang-senang aja dengan praktek politik seperti ini. Diperluas lagi, nggak hanya dalam pilihan kepala desa saja, tapi pemilihan-pemilihan yang lain. Kalo nggak dikasih malah masyarakat sering mencibir dan menjauhi calon yang dinilai ‘pelit’ tadi. Simpati dan empati dari masyarakat lebih mengarah pada siapa yang memberi uang, bukan siapa yang mampu memimpin. Jiwa kepemimpinan dan hak memimpin lebih berada di tangan siapa yang mampu memberi uang.

Faktor ekonomi, meskipun hanya sedikit pengaruhnya, masih saja menjadi salah satu sebab seseorang bisa dipilih sebagai pemimpin. Maka dengan budaya ini, calon kepala desa sepertinya lebih banyak merupakan orang yang kaya, terpandang, dan mapan, bukan yang bersih, berkharisma, dan kompeten. Tapi tentu saja jangan melulu melihat di satu sisi saja, bahwa menjadi kepala desa dengan membagikan ‘sesuatu’ kepada masyarakat adalah hal yang salah, tapi satu sisi yang lain juga perlu dinilai bahwa masyarakat lebih suka diberi ‘sesuatu’ untuk memilih, meskipun dengan terpaksa.

Ceritanya dialog dengan ibuku di atas sedang membahas dua orang yang hari itu berperan sebagai calon kepala desa. Satu calon merupakan kepala desa yang sedang menjabat saat ini, sedangkan satunya lagi adalah mantan kepala desa yang menjabat di periode sebelumnya. Satunya ngasih uang dan satunya nggak. Satunya orang kaya dan satunya juga. Mau dibanding-bandingin seperti apapun, pasti ada plus minusnya masing-masing kedua orang istimewa ini. Dan akhirnya aku hanya bisa berharap, semoga calon yang terbaik yang menang.

Senin, 20 Januari 2014

Kota Kecil

Setiap orang pasti membangga-banggakan daerah asal masing-masing. Dan pembanggaan sedikit banyak mengarah pada perilaku primordialis dengan masing-masing kadarnya yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Sama sih denganku, yang lahir, besar, dan tinggal di kotaku ini, Kediri. Bagaimanapun Kediri merupakan daerah kebanggaan.

Sebenarnya juga sih aku nggak tinggal di daerah kotanya, tapi di kabupatennya. Tapi tetap aja kan namanya Kediri. Soal apa dan bagaimana kotaku ini udah sering juga aku ceritakan dalam beberapa tulisanku sebelumnya. Kediri, yang merupakan kota kecil yang berada di tengah Propinsi Jawa Timur, kini semakin terasa ke’kecilan’nya. Bagaimana nggak, sekarang yang namanya macet menjadi menu keseharian di jalanan. Tingkat kehidupan ekonomi yang semakin meningkat, makin banyaknya kendaraan yang dimiliki warganya, ditambah lagi Kediri sebagai jalur lalu lintas yang dilalui jalan propinsi, menjadikan volume kendaraan yang melintas di jalan semakin padat, sementara itu jalan yang ada tetap segitu-gitu aja.

Hal lain yang menjadikan ke’kecilan’ kota ini semakin terasa adalah makin banyak tumbuhnya pusat-pusat perbelanjaan berupa mal, supermarket, diiringi dengan pusat hiburan yang ‘menempel’ di dalamnya. Karena itulah tingkat konsumsi warganya meningkat sehingga gaya hidup konsumtif seakan makin dimanjakan. Dengan banyaknya kegiatan ekonomi tingkat menengah ke atas ini, maka garis batas standar konsumsi semakin meningkat, namun juga secara otomatis menarik standar ekonomi menjadi semakin naik.

Sebenarnya kalo diamati lagi hal seperti ini terjadi secara global di seluruh daerah ya. Bisa kita amati dari besaran Upah Minimum Regional dari tahun ke tahun yang semakin meningkat. Secara sempit kita lihat Upah Minimum Regional Kota Kediri tahun 2013, sebesar Rp1.104.600, sedangkan Kabupaten Kediri sebesar Rp1.089.950. Dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar Rp1.037.500 di Kota Kediri dan Rp999.000 di Kabupaten Kediri. Padahal di tahun 2011 masing-masing sebesar Rp975.000 dan Rp935.500.

Secara rata-rata dalam tiga tahun terakhir kenaikan UMR di Kota Kediri sebesar 6%, sedangkan di Kabupaten Kediri sebesar 8%. Nggak perlu dibahas secara mendalam soal ini, soalnya ini juga bukan bidangku, tapi setidaknya dari angka kenaikan ini bisa kita lihat sebagai salah satu faktor penilaian peningkatan dan pertumbuhan ekonomi di Kediri secara umumnya, dengan mengesampingkan bahwa hal ini bisa menjadi sebab-akibat kenaikan harga-harga kebutuhan.

Kembali pada bagaimana kotaku sekarang ini, sebenarnya dengan semakin ramainya kota bisa semakin membuat nama Kediri menjadi salah satu kota yang disebut-sebut oleh banyak orang yang di luar sana. Akan banyak orang yang sebelumnya belum tahu bahwa sebenarnya ada sebuah kota yang bernama Kediri, dengan sejarah yang panjang dan sekarang menjadi seperti ini. Sebuah keuntungan promosi tersendiri yang di masa depan bisa menjadikan Kediri ini ‘semakin sempit’ karena banyaknya pendatang. Kediri bisa menjadi kota yang tidak lagi ‘mengekspor’ tenaga kerja ke luar kota, tapi menjadi pusat kegiatan ketenagakerjaan bukan hanya dari daerah sekitar, bukan hanya dari daerah sepropinsi, sepulau, tapi juga senegara, dan lebih luas lagi. Bukan hanya itu, tetapi bisa menjadi pusat kegiatan di segala bidang secara luas, dengan tingkat kemakmuran penduduknya juga semakin meningkat.

Ini sebenarnya hanyalah harapanku, yang sepertinya sih sekarang belum terwujud. Tapi kalo suatu saat hal itu terjadi, maka siap-siap saja merasakan ke’sempit’an kota kecilku ini. Ya siapa tau areanya bisa diperlebar lagi, biar nggak lagi berstatus kota kecil dan mengurangi ke’kecil’annya itu.

Minggu, 19 Januari 2014

Kumpulan Gambar

Piala Dunia tahun 1994 adalah titik awal di mana aku menggemari sepakbola. Waktu itu turnamen diadakan di Amerika Serikat, yang selang waktunya di sini mencapai 12 jam. Jadi pertandingan sepakbola yang biasanya diadakan malam, di sini disiarkan pada pagi hari. Tambahan beruntungnya adalah waktu itu sedang libur sekolah, dan tidak ada kegiatan favorit selain nonton televisi, tambahan lagi stasiun televisi yang siaran di rumah hanya satu saja.

Sebenarnya awalnya aku tidak terlalu sering melihat pertandingannya. Awalnya aku suka melihat foto-foto di koran saja, yang mengabadikan momen-momen berkesan yang terjadi di AS sana. Dari situ muncul keinginanku untuk membuat kliping tentang Piala Dunia, yang kemudian aku utarakan kepada ibuku. Setelah restu ibu aku terima, mulailah sejak saat itu muncul lubang-lubang di koran harian langganan kami yang terjadi akibat foto-fotonya aku guntingi dan ditempel di buku bekas. Dan sejak saat itu pula aku nggak terlalu puas hanya menonton gambarnya saja, beberapa pertandingan mulai aku pelototi melalui layar televisi.

Usai Piala Dunia 1994 aku mulai memproklamirkan diri sebagai penggemar sepakbola kecil-kecilan. Kliping tadi merupakan ‘barang pusaka’ yang tidak bosan-bosannya aku bolak-balik tiap lembarnya sampai lusuh. Bahkan beberapa tahun berikutnya aku pindah ke buku yang baru agar lebih bagus dan rapi lagi. Dari situ aku berpikir bahwa membuat kliping gambar sepakbola merupakan hal yang menyenangkan.

Beberapa tahun kemudian, aku mulai kembali membuat kliping gambar sepakbola. Dengan sumber daya yang terbatas, kliping tersebut sempat tidak bertambah halamannya selama beberapa saat, meskipun juga dapat sumbangan dari beberapa kenalan. Tapi akhirnya klipingku berkembang pesat karena waktu itu aku secara khusus membeli tabloid sepakbola yang aku korbankan lembarannya untuk jadi serpihan gambar yang berpindah memenuhi buku kliping.

Di jaman sekarang bisa dikatakan dengan mudah dari banyak media, bahan bisa terkumpul. Aku bisa melihat bahwa hal itu adalah sebuah kelebihan untuk membuat kliping, tapi tidak bisa menjadi seni membuat kliping. Dulu untuk memenuhi sebuah buku menjadi kumpulan gambar membutuhkan beberapa waktu bisa berbulan-bulan. Sedangkan sekarang bahan gambar untuk satu buku bisa didapat dalam hitungan menit saja. Sebenarnya keinginan meneruskan kembali mengumpulkan gambar untuk ditempel dalam sebuah buku kadang juga muncul, tapi sekarang ini gambar bisa dilihat saja melalui komputer. Kemudahan seperti ini yang malah sering membuatku merindukan kumpulan gambarku yang dulu.

Sabtu, 18 Januari 2014

Kucing Motivator

Sekali-kali ngomongin hal yang nggak masuk akal boleh kan? Kita ngomongin tentang hewan. Dosa nggak sih ngomongin hewan? Kan hewan nggak ngomongin kita! Gini nih, banyak dongeng, terutama fabel, yang diawali dengan kalimat ‘Jaman dahulu kala, saat binatang masih bisa berbicara, …’. Pertanyaannya, itu hewan-hewan bicaranya pake bahasa apa jaman dulu itu? Trus kalo dulu bisa ngobrol semua hewan itu, kenapa begitu nggak bisa ngomong bunyinya jadi beda-beda?

Aku jadi ingat dongeng tentang asal-usul kucing nggak bisa ngomong. Dulunya itu kucing bisa ngomong dan pinter berenang. Ada seekor kucing yang menjadi penasehat sebuah kerajaan. Rajanya udah tua banget (ini rajanya manusia) dan nggak punya anak. Dia hanya punya seorang adik yang serakah dan tamak, sama aja kayaknya kedua kata sifat itu. Terus karena udah merasa nggak mampu lagi memimpin kerajaan, dan nggak pengen kerajaannya hancur di tangan adiknya, sang raja kemudian mewariskan tahta kerajaan kepada kucing itu, dengan tanda bahwa cincin tanda tahta kerajaan diserahkan kepada kucing itu.

Karena adik raja itu tadi nggak terima, dia kemudian memaksa si kucing menyerahkan cincin itu kepadanya. Dan karena pengen nyelametin kerajaannya, maka kucing itu tadi tidak mau menyerahkan cincin kerajaan tadi. Karena terdesak, cincin itu kemudian ditelannya dan dia menceburkan diri terhanyut di sungai.

Sejak saat itu kucing nggak bisa ngomong. Tiap kali buang air dia mengubur kotorannya agar cincin kerajaan tadi nggak diketemukan musuhnya tadi. Dan karena trauma tercebur air, si kucing jadi takut air. Dari cerita ini muncul pertanyaan, emang saat itu kucing cuma ada satu ya di dunia ini? Anggaplah cuma ada dia seekor di dunia ini, gimana bisa sekarang begitu banyak kucing berkeliaran?

Kalopun ternyata tidak hanya satu ekor saja, kenapa semua kucing berbunyi sama? Ya anggap aja setelah itu kucing penasehat ini beralih karir jadi seorang motivator yang memberikan motivasi dan pengaruh hebat kepada kucing-kucing yang lain, sehingga sampai saat ini semua kucing berbunyi sama. Sekarang ini kan kosakata kucing itu terbagi menjadi tiga, yaitu ‘miaw’ (tempo lambat), saat dia pengen makan, lalu ‘miaw’ (tempo cepat), saat kita mendekatkan makanan kepada dia, dan ‘ngaaawwwww’ (nada tinggi), saat dia marah dan mengajak kita berkelahi, karena ternyata calon makanannya kita makan sendiri.

Nggak tau deh binatang yang lain gimana ceritanya, mungkin dulu salah satu dari nenek moyang mereka pasti ada yang jadi motivator kayak si kucing penasehat tadi. Jadi seluruh dunia, sampai sekarang, bunyi mereka seragam dan kompak.

Daftar Blog Saya