Tanya Dilema

Suatu pagi, di tengah-tengah pekerjaan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan di Facebook Messenger dari seorang temanku.

Seperti Nemo

Ada satu film yang bagiku aneh banget, yaitu Finding Nemo. Inti ceritanya kan ada seekor ayah ikan yang mencari anaknya. Yang aneh itu ternyata ikan ini bisa ngomong. Padahal kalopun ikan bisa ngomong, kan ikan ini ada di dalam air. Coba kita aja yang ngomong di dalam air, kedengeran nggak sama temen kita yang ada di deket kita.

Pakai Bahasa Indonesia

Dari sejak blog pertamaku aku selalu pengen mempertahankan ke-Indonesiaanku, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia di setiap tulisan blogku. Bukan karena aku nggak bisa bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau India, bukan! Tapi sebenarnya emang nggak bisa sih, tapi bukan itu maksudnya.

Hobi

Hobiku adalah membaca. Aku mendapatkannya dari sebuah majalah anak-anak. Jadi gini awal ceritanya, waktu itu ibuku mengirimkan foto dan dataku ke sebuah rubrik koresponden di majalah anak-anak itu. Dan di bagian hobinya, ibuku menuliskan kalo hobiku adalah membaca.

Power Bank

Di jaman gadget seperti sekarang ini, keberadaan smartphone menjadi bagian kehidupan bagi beberapa orang. Tapi di balik kecanggihan dan segala kelebihannya, ada salah satu sisi di mana smartphone justru lebih boros dalam pemakaian daya baterainya.

Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Januari 2025

Saving Private Ryan (Bukan Resensi Film)

Jadi, malam itu saya lagi suntuk banget, ngerjain tugas sambil sesekali ngelirik jam yang nggak terasa berdetik. Rasanya waktu kayak berhenti. Buat nyemangatin diri, saya puter film yang sebenarnya udah pernah saya tonton beberapa kali, Saving Private Ryan. Tapi entah kenapa, malam itu nonton film itu terasa beda. Bukan cuma karena adegan perangnya yang bikin bulu kuduk merinding, tapi juga ada sesuatu yang saya tangkap lebih dalam. Ternyata, perang itu… nggak pernah ada hentinya.

Bayangin, tiap tentara yang terlibat perang harus terus bergerak, terus fokus mengamati musuh, melepas serangan, sambil tetap berjuang buat bertahan. Mereka harus menghindari serangan sebisa mungkin, membantu temannya yang terluka karena tembakan atau bom. Semua itu terasa seperti nggak ada istirahatnya. Bayangin kalau itu dilakukan seharian. Bahkan kalau dia bisa bertahan hidup hari itu, besoknya lagi dia harus ngelakuin itu lagi. Besoknya lagi, dan seterusnya, sampai perang itu selesai, atau hidupnya yang selesai.

Itu baru perang di dunia modern. Gimana kalau perang di dunia klasik? Liat aja perang klasik buat gambaran, kayak di film Lord of the RingsAlexanderRed Cliff, atau film perang kolosal lainnya. Perang waktu itu masih berbentuk duel satu lawan satu. Bisa aja pas kita duel, orang di samping kita itu bukan kawan, tapi lawan. Saat kita berduel dengan satu orang dan menang, kita harus langsung ngelawan yang ada di sebelahnya. Dan itu berlangsung seharian. Bahkan kalau kita bertahan hidup hari itu, besoknya kita harus ngelakuin hal yang sama lagi. Besoknya lagi, dan terus begitu, sampai perang itu selesai, atau hidup kita yang selesai.

Kebayang juga gimana perang di zaman Rasulullah Muhammad SAW. Dalam cerita-cerita perang beliau, gambaran perangnya udah begitu dahsyat. Saya yakin para sahabat yang selamat dari perang-perang itu pasti mengalami luka-luka, atau bahkan kehilangan anggota tubuh. Kalau kita lihat bagaimana mereka berperang, perjuangannya nggak cuma soal fisik, tapi juga soal mental dan spiritual yang luar biasa.

Kalau kita lihat sejarahnya (baik di film, literatur, atau cerita-cerita besar) saya jadi berpikir, perang itu lebih dari sekadar medan tempur. Ia adalah gambaran tentang kelelahan jiwa dan tubuh, tentang keberanian yang nggak kenal lelah, dan tentang rasa sakit yang terus menggerogoti. Sampai akhirnya, mungkin cuma ada satu hal yang bisa mengakhiri semuanya: kemenangan, atau akhir dari hidup kita sendiri.

Rabu, 15 Januari 2025

Tahun 2000

Waktu itu di tahun 2022. Saya lagi ngecek data seorang karyawan di tempat kerja untuk keperluan biasa. Awalnya santai aja, tapi tiba-tiba mata saya terpaku di satu data. Karyawan ini lahir tahun 2000. Seketika saya semacam flashback ke kejadian beberapa tahun lalu. Waktu itu, tempat kerja kami pernah kecolongan; entah gimana, tanpa sadar mempekerjakan seseorang yang masih umur 16 tahun. Padahal, setahu saya, itu melanggar aturan ketenagakerjaan. Kami waktu itu langsung ribet menyelesaikan masalah ini. Trauma banget, sih. Jadi, pas saya lihat data ini, saya sempat panik kecil. "Jangan-jangan kejadian lagi?"

Kejadian kecolongan itu nggak cuma bikin kami panik, tapi juga memengaruhi reputasi tempat kerja. Kami jadi harus menghadapi pertanyaan dari pihak internal dan eksternal tentang bagaimana bisa hal itu terjadi. Selain itu, ada penyesuaian proses rekrutmen yang harus dilakukan supaya nggak ada kejadian serupa. Rasanya kayak dapat tamparan keras untuk lebih serius soal perlindungan hak pekerja, terutama yang usianya masih muda.

Tapi tunggu. Ini kan tahun 2022. Kalau lahir tahun 2000, sekarang sudah 22 tahun. Aman, dong. Saya baru sadar, waktu ternyata sudah jalan sejauh ini. Padahal dulu, saya yang umur 19 tahun masuk kerja di sini, merasa jadi yang paling muda. Sekarang? Generasi baru terus datang, dan mereka makin muda aja.

Dulu, waktu saya ngecek data karyawan yang lahir tahun 90-an (1994, 1995, 1996) saya masih mikir, "Ini anak-anak muda banget." Eh, sekarang ketemu yang lahir tahun 2000, saya jadi mikir, "Apa saya yang nggak nyadar waktu berlalu, atau memang saya aja yang nggak mau nyadar?" Kadang, generasi baru ini bikin kita merasa tua, tapi di sisi lain juga bikin bangga. Kita melihat mereka berkembang, dan itu rasanya luar biasa.

Ngomong-ngomong soal trauma, trauma kecolongan tadi bikin saya lebih hati-hati. Waktu mikir ada karyawan di bawah umur, saya langsung ingat aturan ketenagakerjaan di Indonesia. Ternyata, ada batas usia minimal buat kerja. Berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003, usia minimal untuk kerja itu 18 tahun. Tapi ada pengecualian: anak usia 13–15 tahun boleh kerja, tapi cuma pekerjaan ringan, maksimal 3 jam sehari, dan nggak boleh ganggu sekolah atau kesehatan mereka. Kalau usia 15–17 tahun, boleh kerja juga, asal nggak di tempat berbahaya atau berisiko tinggi. Kalau kamu penasaran lebih dalam soal aturan ketenagakerjaan di Indonesia, coba cek langsung Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 di sini.

Selain itu, Indonesia juga punya komitmen internasional dengan mengikuti Konvensi ILO tentang usia kerja yang bisa kamu baca di sini. Jadi, pas tempat kerja saya dulu mempekerjakan seseorang yang masih 16 tahun, sebenarnya itu nggak sepenuhnya melanggar aturan, asalkan pekerjaannya aman. Tapi tetap aja, rasanya nggak nyaman.

Ngomong-ngomong soal generasi muda di dunia kerja, menurut laporan dari International Labour Organization (ILO), generasi muda (usia 15 - 24 tahun) menyumbang sekitar 15% dari total angkatan kerja global pada tahun 2022. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data BPS, generasi muda usia 20 - 24 tahun mendominasi sektor perdagangan dan jasa. Kehadiran mereka nggak cuma bikin suasana kantor lebih dinamis, tapi juga membawa perubahan besar, terutama dalam hal inovasi dan cara kerja. Contohnya, mereka cenderung lebih adaptif terhadap teknologi, sesuatu yang mungkin butuh waktu lebih lama buat generasi sebelumnya.

Tapi tetap saja trauma itu bikin saya lebih waspada. Setelah itu, setiap kali lihat data karyawan, saya lebih hati-hati memastikan nggak ada lagi kejadian serupa. Dunia kerja, buat saya, bukan cuma soal produktivitas atau target. Tapi juga soal tanggung jawab — khususnya buat melindungi pekerja muda. Kadang, kita lupa, mereka itu bukan cuma angka di database. Mereka punya cerita dan harapan. Jangan sampai, gara-gara lalai, kita malah jadi bagian dari cerita yang salah buat mereka.

Ini kayak musik yang saya masih dengerin sampai sekarang. Lagu-lagu tahun 90-an — bahkan 80-an dan 70-an — rasanya masih relevan dan enak banget. Tapi saya nggak tahu, generasi 2000-an mikirnya gimana? Apa mereka juga bisa nikmatin, atau mereka ngerasa itu kuno, kayak saya dulu dengerin musik tahun 60-an?

Sama kayak generasi baru di tempat kerja, mungkin ini soal gimana kita menerima bahwa dunia terus bergerak maju. Kita nggak lagi jadi yang 'paling muda' di ruangan. Tapi, di tengah itu, kita tetap bisa bangga sama apa yang generasi kita bawa.

Di sisi lain, saya penasaran juga, gimana pandangan generasi muda yang lahir tahun 2000an ini? Apa mereka merasa pekerjaan pertama mereka memberi pengalaman yang cukup untuk membentuk mereka? Atau mungkin mereka lebih memilih pekerjaan yang lebih fleksibel dan berbasis teknologi dibandingkan generasi saya yang dulu harus mulai dari posisi paling dasar?

Dari pengalaman saya tadi, saya jadi mikir soal peran generasi muda di dunia kerja secara lebih luas. Contohnya, ada perusahaan teknologi yang justru mengincar talenta muda karena mereka lebih cepat beradaptasi dengan perubahan teknologi dan cara kerja modern. Tapi, ada juga tantangan besar di sini: gimana caranya perusahaan bisa memberikan lingkungan kerja yang aman, sesuai aturan, sambil tetap memanfaatkan potensi generasi muda. Kejadian di tempat kerja saya dulu mungkin terlihat sederhana, tapi sebenarnya itu jadi pengingat penting tentang tanggung jawab perusahaan untuk menjaga kesejahteraan pekerjanya, terutama mereka yang masih muda.

Pengalaman ini juga bikin saya sadar, waktu nggak akan berhenti, bahkan kalau kita mau dia berhenti sekalipun. Yang bisa kita lakukan adalah menerima perubahan, sambil tetap bangga sama apa yang kita bawa dari generasi kita sendiri. Siapa tahu, generasi muda ini suatu hari nanti bakal cerita ke anak-anak mereka tentang 'senior keren' yang pernah mereka temui di tempat kerja. Saya sih, berharap itu tentang saya!

Nah, gimana pengalaman kamu dengan generasi yang berbeda di tempat kerja? Apa kamu pernah merasa 'kaget generasi' seperti saya? Atau justru kamu salah satu generasi 2000an yang pernah kerja bareng senior kayak saya? Ceritain di kolom komentar, ya!

Sabtu, 06 Agustus 2016

Film Kartun

Tadi malem mau tidur, eh malah ketiduran duluan. Untungnya tengah malam kebangun. Ya udah, akhirnya saya tidur. Tapi nggak bisa tidur itu emang menyiksa ya. Saya pernah ngalamin, pas waktu itu mau tidur, saya minum kopi dulu.

Insomnia itu tar bisa bikin bangun tidurnya jadi nggak enak. Itu juga kalo bisa tidur. Itu juga kalo tidur bisa bangun. Kebanyakan insomnia itu jadi bisa menular. Yang awalnya sulit tidur, menular jadi sulit bangun tidur. Katanya insomnia itu juga karena banyak masalah. Kan harusnya banyak masalah itu kita bersyukur, bisa dibagi-bagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Gara-gara insomnia, saya pernah jadi bisa nonton siaran bola Liga Champions. Pas nonton komentatornya ngobrol, akhirnya saya ketiduran. Begitu bangun, acara tivi udah ganti, Spongebob Squarepants. Saya kan jadi bingung, sejak kapan Spongebob ikut Liga Champions.

Akhirnya saya punya tips, kalo pas insomnia dan pengen tidur, tontonlah komentator bola ngobrol. Jangan lupa siapin kopinya.

Ngomong-ngomong, film kartun yang sering dibully itu Doraemon, soalnya katanya Nobita itu nggak naik-naik kelas. Coba bayangkan, kalo Nobita naik kelas. Dan hanya butuh waktu 10 episode, buat naik kelas. Pasti 10 tahun lagi, nggak ada film Doraemon. Soalnya Nobita udah mati. Kecuali kalo Nobita bisa dihidupkan, dengan bantuan tujuh bola naga. Mungkin episodenya bisa diperpanjang.

Beberapa waktu lalu sedang heboh pelarangan film kartun. Saya akan bilang, itu udah terlambat! Film Tom & Jerry misalnya, udah ada sejak tahun 1940. Kenapa baru diprotes sekarang? Kemaren-kemaren ke mana aja? Tom & Jerry itu lebih tua dari umur kita semua. Tega kita, membunuh karakter mereka? Nggak sopan banget, sama orang tua! Padahal film kartun itu film yang efisien, soalnya pemainnya kagak bakalan salah dialog, sama salah adegan.

Film kartun Hollywood itu keren-keren, yang ngisi suara juga aktor-aktris ternama. Brad Pitt, Will Smith, sampe Jennifer Lopez, pernah ngisi suara di film kartun. Masalahnya adalah, sampe Indonesia, filmnya didubbing. Dan suara aktor-aktris Hollywood itu, nggak ada gunanya. Diganti, sama suaranya Ony Syahrial.

Tapi di atas apapun, demi apa menghapus film kartun di Indonesia, selama sinetron masih hidup? Bahkan kalopun sinetronnya dimatiin, para penggemarnya bakal ngehidupin lagi, pake bantuan tujuh bola naga.

Kamis, 04 Agustus 2016

Pelajaran Sekolah

Ada ilmuwan yang bilang, kalo sejarahnya manusia berasal dari kera. Selama bertahun-tahun, mengalami perubahan yang disebut evolusi. Masalahnya adalah, setelah ribuan tahun manusia pertama muncul di bumi, kenapa wujud manusia nggak berubah-ubah lagi? Siapa tau, setelah berevolusi, ada manusia yang jadi robot.

Dan parahnya, sampe sekarang kera juga masih ada. Apakah ini golongan kera yang nggak move on? Ada sih, manusia yang berubah. Berubah jadi siluman, mulai dari siluman harimau, siluman kera, sama siluman buaya darat.

Kata orang, sejarah bisa berulang. Ini sejarah aja sampe remedial. Jangan-jangan dia pas ujian, kenaikan tingkat dari kera menjadi manusia, dia gagal. Akhirnya setelah remedial, bukannya jadi manusia, eh malah jadi siluman.

Sejarah mencatat penemuan-penemuan penting dalam peradaban hidup manusia. Manusia menemukan tenaga listrik, telepon, mobil, internet, sampe teori evolusi. Listrik misalnya, ditemukan oleh Michael Faraday. Setelah ditemukan, beliau bingung, bayar listriknya di mana. Kan PLN belum ada. Atau telepon, yang ditemukan Alexander Graham Bell. Setelah ditemukan, beliau bingung, mau nelepon siapa. Kan di dunia baru dia yang punya telepon.

Tapi gini, apa yang terjadi, kalo sampe sekarang yang namanya listrik, telepon, atau internet belum ditemukan? Kita masih hidup dalam kegelapan, dan nggak bisa menghubungi sodara kita, yang lagi remedial sejarah.

Dan sementara pikiran kita masih menganggap nenek moyang kita adalah kera, sedangkan kera sendiri, nggak mau mengakui perbuatannya. Kan dia sekarang jadi siluman.

Di sekolah, pelajaran yang paling saya sukai adalah Matematika. Sayang, perasaan saya bertepuk sebelah tangan. Saya PDKT sama Matematika sejak kelas 1 sampe kelas 12. Nggak kena-kena! Akhirnya saya tau, kalo Matematika udah dijodohin. Saya taunya dari orangtuanya, Aljabar dan Berhitung. Kalo nggak salah dia dijodohin sama Fisika.

Selain Matematika, ada 2 pelajaran lagi yang saya sukai. Pertama, pelajaran kosong. Sejak kelas 1 sampe kelas 12, saya belum pernah ketemu gurunya.

Yang kedua adalah pelajaran Olahraga. Saya suka, soalnya nggak pernah ada PR. Pelajaran yang nggak ada PR itu juga penting, biar kalo kita olahraga lebih fokus, nggak mikirin PR. Juga biar PDKT sama Matematika lebih lancar. Lebih nggak fokus lagi kalo gurunya killer. Pas konsentrasi di kelas, baca buku pelajaran, eh ternyata gurunya Jack The Ripper. Apalagi dia ngajar pelajaran kosong.

Dulu ada pelajaran yang namanya Ilmu Bumi. Diganti namanya jadi Geografi, sejak negara api menyerang. Biar nggak ada yang tau, kalo para pengendali bumi masih hidup. Mungkin ada juga yang namanya Ilmu Air sama Ilmu Udara. Akhirnya digabung, jadi Fisika, calon suaminya Matematika.

Minggu, 31 Juli 2016

Cicak

Suatu ketika pas mau menjemur baju di jemuran belakang rumah, nemuin ada kotoran teronggok di tengah kawat jemuran. Dari bentuk, bau, dan rasanya, sepertinya ini kotoran cicak. Kan jadi merasa aneh ya, karena secara normalnya, kawat jemuran bukanlah jalan lewat cicak pada umumnya.

Tapi tentu saja hal ini mungkin saja terjadi. Bisa jadi si cicak ini penyuka tantangan. Dia suka hal-hal yang ekstrim, seperti berjalan di kawat jemuran. Atau dia pengen memecahkan rekor dunia gitu, nggak tau juga. Pas lagi jalan di tengah kawat, tau-tau perutnya mules dan nggak tahan pengen buang air. Lagian di tengah situ nggak ada toilet umum, dan akhirnya dia boker di situ.

Atau memang si cicak ini emang sehari-hari dia lewatnya di kawat jemuran ini. Karena dia di atas genteng, dan mau ke tembok di seberangnya, daripada turun dulu ke bawah terus nyebrang, kejauhan, akhirnya dia melatih dirinya sendiri lewat di kawat jemuran untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Kan kalo udah kaya gini jadinya aku yang repot. Pas mau ngejemur baju, ada kotoran, jadi harus bersih-bersih kawat jemuran dulu. Memeriksa ke seluruh bagian kawat jemuran, apakah ada kotoran lain di kawat tersebut. Memeriksa kawat jemuran yang satunya lagi, apakah si cicak ini juga buang kotoran di situ. Kalo udah bersih semua, baru baju-bajunya dijemur, biar nggak dilewatin cicak lagi.

Tapi berhubungan dengan cicak, ada mitos bangke yang bahwa katanya kalo ada orang kejatuhan cicak, maka dia akan kena sial. Entah dari mana dan atas dasar apa mitos ini sampai muncul di muka bumi ini. Udah jelas-jelas yang jatuh cicaknya, kan berarti yang sial cicaknya. Manusia itu kalo kejatuhan cicak nggak bakal ada satupun anggota tubuhnya yang terluka atau berubah bentuknya, kecuali kalo cicaknya pas nempel di buah kelapa.

Atau teori ini bisa jadi benar, kalo ternyata cicak yang jatuh tadi, baru saja kejatuhan cicak.

Terakhir, kalo ada pembaca yang udah membaca tulisan ini sampai di titik ini, pasti merasa kalo tulisan ini nggak ada maknanya dan nggak bisa diamalkan di kehidupan sehari-hari. Padahal itu benar! Tulisan ini cuma luapan ide yang berasal dari cicak aja sih.

Jumat, 29 Juli 2016

Sulapan

Sebagai penulis blog amatir yang berusaha untuk mengangkat hal-hal yang tidak penting menjadi kurang perlu untuk dibahas, saya berusaha membahas hal-hal sepele yang terjadi di lingkungan sekitar saya untuk saya jadikan bahan tulisan. Hal ini nggak lepas juga dari kekosongan ide untuk membahas hal-hal yang sudah sempurna, sehingga nggak perlu lagi dibahas.

Kali ini saya pengen ngebahas tentang earphone, atau dikenal juga sebagai headset. Pasti di jaman sekarang ini benda ini dikenal luas kan, terutama bagi para penyuka musik atau pengguna smartphone. Lantas kenapa benda ini perlu saya bahas? Nggak ada perlunya sih sebenernya, tapi pernah nggak kepikiran kalo earphone ini bisa sulap?

Dasar pemikiran saya ini adalah lebih karena kabelnya. Kalo kita tidak lagi menggunakan earphone, kemudian kita gulung kabelnya dengan rapi, terus dimasukkan kantong atau tas, apa yang terjadi pada saat kita ambil kembali? Kebanyakan kabelnya bakal kusut. Padahal tadi dimasukkan rapi, dikeluarkan kusut. Sulap banget!

Sering terjadi kesalahan penyebutan earphone atau headphone ini. Earphone sering disebut juga headphone, padahal meskipun fungsinya sama, bentuk kedua benda ini beda. Headphone lebih besar, dengan fungsi ganda, yaitu pertama sebagai alat untuk mendengarkan musik secara personal, dan yang kedua bisa berfungsi sebagai bando rambut. Sedangkan earphone lebih simpel dengan tinggal mengaitkan kedua ujung stereonya ke lubang telinga.

Satu lagi, penyebutan headset yang sering salah disebut jadi handset. Pernah ngikutin grup jual beli di Facebook? Seringkali ada orang jual telepon genggam dengan menyebut ‘minus handset’. Mungkin kita bisa paham, bahwa orang tersebut jual telepon genggam dengan tidak menyertakan earphone dalam paket penjualannya, atau mungkin karena earphonenya rusak. Tapi handset bukan headset! Secara bahasa, orang yang jual telepon genggam yang minus handsetnya nggak disertakan, berarti dia jual telepon genggam tanpa unit telepon genggamnya. Bisa jadi cuma jual dosnya, atau buku manualnya, atau earphonenya saja.

Pembahasan nggak penting ini akan saya akhiri dengan nasihat, gunakan earphone seperlunya dan jangan berlebihan. Jangan sampai penggunaan earphone jadi mengganggu kehidupan sosial kita dengan lingkungan sekitar. Jangan pernah menggunakan earphone di lubang hidung. Dan yang terpenting, jangan pernah menggunakan earphone saat kita sedang menggunakan earphone.

Rabu, 27 Juli 2016

Isi Staples

Suatu sore, saat pulang kerja dan berada di ruas jalan yang cukup padat, di depanku kebetulan adalah sebuah mobil boks yang memasarkan produk tertentu. Dan kali ini produk yang dipasarkan (atau lebih tepatnya yang menempel di boks) adalah isi staples.

Produknya sih biasa aja ya, isi staples gitu loh! Yang bikin mikir itu taglinenya. Ya karena agak lama di belakangnya, jadi kepikiran soal isi staples ini. Sebut saja merknya “MERK INI” (bukan nama sebenarnya). Sebenernya aku sebut gitu karena aku juga lupa merknya apa, soalnya nggak begitu terkenal. Taglinenya adalah kurang lebih begini: Membuat Anda Berhasil dan Beruntung. Lupa juga sih bener gitu apa nggak, mungkin yang tau tar bisa memberi koreksi.

Masalahnya gini, ini kan isi staples ya. Emang sih kita nggak bisa ngeremehin barang kaya gini, tapi sepenting itukah pengaruh isi staples terhadap kehidupan masa depan kita? Aku sendiri ya, kalo udah yang namanya isi staples nempel di dalam staples, nggak peduli merk apa dia, yang penting staplesnya berfungsi baik dan bentuknya bagus.

Kan nggak mungkin juga ya suatu ketika kita melamar pekerjaan menjadi manajer misalnya, terus dalam wawancara kerja ada pertanyaan “Kalau boleh tahu, Anda menggunakan isi staples merk apa?” “Owh, saya menggunakan isi staples MERK ITU, Pak.” “Kami mohon maaf Saudara, kami hanya menerima calon karyawan yang menggunakan isi staples dengan MERK INI, karena membuat berhasil dan beruntung!”.

Ini mungkin juga berlaku juga dengan yang namanya pulpen. Meskipun pada dasarnya emang ada pulpen yang enak dipakai dan ada yang nggak, tapi hasil goresan pulpen di kertas bisa jadi sama. Kan nggak bakal keluar pertanyaan “Kalau boleh tahu, Anda menggunakan pulpen merk apa?” “Owh, saya menggunakan pulpen MERK ITU, Pak.” “Kami mohon maaf Saudara, kami hanya menerima calon karyawan yang menggunakan pulpen dengan MERK INI, karena membuat berhasil dan beruntung!”.

Tapi pada akhirnya aku menyadari, bahwa bikin tagline iklan kaya gitu nggak semudah orang ketabrak angkot terus dia misuh. Aku ngerasain sendiri gimana dulu pas kemah pramuka, bikin yel-yel yang gampang diapalin dan enak didengar itu sulit banget, padahal itu cuma yel-yel yang abis kemah mungkin udah nggak kepakai lagi. Tagline iklan ini bakal bisa melekat di produk yang diiklankan, bahkan meskipun produknya udah nggak ada.

Hanya saja emang agak ngeganggu sih dengan tagline yang dibesar-besarkan jauh lebih besar dibanding fungsi produk itu sendiri. Bisa jadi kita bakal nemuin ada yang jual sapu dengan tagline ‘Membersihkan Rumah Secepat Kedipan Mata Anda’, tapi gimanapun itu sapu, kalo nggak dipake ya nggak bakalan bersih rumahnya.

Rabu, 22 April 2015

Keunikan di Jalan

Sebagai orang yang sering berada di jalanan, dengan mengendarai motor, aku sering menemui hal-hal yang mungkin aneh, unik, atau malah ngeselin. Salah satu yang ngeselin adalah kalo ketemu ibu-ibu di jalan, mengendarai motor, dia nggak kencang, tapi juga nggak pelan. Kecepatannya konstan banget. Yang bikin kesel itu, dia jalannya nggak di tepi jalan, tapi agak nengah gitu.

Mau nyalip lewat kiri, dari depan kendaraan rame banget. Mau nyalip dari kanan, takutnya tau-tau dia jalan minggir. Dan kalo model kaya gini, mau nyalain klakson juga kadang nggak mempan. Bisa kalah sama omelannya.

Pernah ya dulu aku naik sepeda, di pertigaan tiba-tiba dari kanan ada ibu-ibu, naik sepeda juga. Tanpa tengok-tengok, nggak ngasih tanda, tau-tau dia motong jalur bersepedaku. Kadang di sini mau negor juga segan ya. Khawatirnya pas negor ‘Bu, kasih tanda dulu dong!’, eh tiba-tiba dia bilang ‘Uh, dasar cowok, nggak peka…’.

Kan bikin kesel ya, tar bisa-bisa malah terjadi obrolan nggak penting. Bisa aja tau-tau aku ngejawab ‘Emang saya salah apa Bu?’, si ibu ngejawab ‘Pikir aja sendiri!’. Kan kalo udah gini malah bikin bingung, kalo aku bilang ‘Saya nggak tau Bu.’ Si ibu akhirnya bilang ‘Emang ya, semua cowok sama saja!’

Yang bikin heran di jalanan lagi adalah nemuin orang naik motor, pake jaket tapi dibalik. Ini maksudnya gimana gitu. Aku kira gambar jaket yang bagian belakangnya lebih bagus daripada bagian depannya, pas diliat ternyata bagian belakangnya nggak ada gambarnya, polos gitu.

Padahal para perancang jaket itu udah merancang jaket sedemikian rupa, yang bisa nyaman dan aman buat dipakai. Tapi seolah-olah orang-orang ini menganggap para desainer ini salah, sehingga perlu direvisi lagi. Apalagi orang-orang yang nggak hanya pake kebalik, bagian belakangnya dipake di bagian depan. Yang ekstrim bagian lehernya dipake di bawah.

Ada lagi keunikannya adalah orang yang megang setir menghadap atas. Normalnya orang megang setir kan tangannya menghadap ke bawah, muntir gas juga lebih nyaman. Ini ada orang yang berkebalikan.

Dan yang paling unik dari semua yang aku sebut di atas, tentu aja ketemu ibu-ibu yang naik motor, dengan kecepatan konstan, jalan di tengah, pake jaket terbalik, dan tangannya menghadap ke atas.

Senin, 13 April 2015

Blokir

Akhir-akhir ini lagi marak berita tentang pemblokiran situs-situs tertentu oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi, dengan rekomendasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, sebut saja BNPT. Karena situs-situs ini dinilai menyebarkan nilai-nilai radikalisme.

Dan banyak tanggapan bernada protes tentang aksi pemblokiran ini. Aku jadi berpikir-pikir, jangan-jangan suatu ketika blogku ini diblokir juga, karena menyebarkan nilai-nilai radikalisme. Iya, radikalisme dalam berpikir ngaco.

Pernah sih suatu ketika kena blokir, pas ada orang hajatan gitu. Jalan ditutup, mau lewat nggak bisa, harus putar balik. Ini kan jadi menghambat jalur transportasi ya. Masa orang punya hajat harus gitu-gitu amat sih?

Aksi blokir sering aku lakuin buat kontak Facebook. Ada akun yang suka bikin status misuh-misuh, blok. Akun yang suka bikin status ngeluh, blok. Sampe ada akun yang suka bikin status, aku blok juga. Pokoknya kalo ada kontak yang senengnya kirim hal-hal yang nggak mendukung program mencerdaskan kehidupan bangsa gitu, aku blok aja, biar nggak memberatkan pikiran.

Di telepon seluler itu juga ada fasilitas ngeblok nomor, yang kalo nomornya diblok mereka jadi nggak bisa telepon kita, atau SMSnya nggak masuk ke kotak masuk pesan. Aku sering juga pake fasilitas itu. Tapi sayangnya, fasilitas ini nggak bisa ngeblok SMS dari operator. Tiap hari ada aja SMS masuk dari operator. Udah disempat-sempatin buka telepon seluler buat ngecek pesan, karena bunyi ada pesan masuk, eh ternyata malah SMS dari operator.

Harusnya BNPT itu juga menggolongkan hal seperti ini sebagai aksi teror juga. Niatnya operator sih sebenernya promo fitur atau produknya, tapi kan bagi pengguna hal seperti ini seakan-akan bisa jadi teror. Kalo aja di dalam dunia teror itu berlaku juga sistem delik aduan, lama-lama para operator ini bisa diblokir sama Kementerian Komunikasi dan Informasi, gara-gara bikin teror promo SMS. Dan karena operator kita diblokir, kita jadi nggak bisa pake jasa operator. Tar telepon seluler punya kita jadi berfungsi buat alarm sama buat liat jam aja deh.

Sabtu, 04 April 2015

Proses

Kita semua, sebagai manusia yang hidup, pasti mengikuti proses. Dan seringnya, kita nggak menyadari proses itu. Tau-tau, di titik kita sekarang ini, melihat dokumentasi masa lalu, kita nyadar, ‘Owh, ane dulu kok kaya gitu ya…’.

Misalnya liat foto kita beberapa taun yang lalu, sontak kita bilang ‘Eh, dulu aku kurusan ya…’, atau ‘Dulu aku culun banget!’. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata itu kita, dan kita nggak nyadar.

Misalnya lagi kalo ketemu temen lama, temen sekolah yang udah beberapa tahun yang ketemu, tau-tau ketemu dan bilang ‘Kamu kok jadi gini ya?’. Padahal dia sendiri juga berubah, tapi nggak nyadar.

Dan namanya proses ini masih terus berjalan, belum berhenti. Terus berjalan, dan tetep, nggak nyadar. Tau-tau tua.

Dari proses ini banyak pembelajaran yang kita dapatkan, kebanyakan sih dari pengalaman yang kita alami sendiri, atau yang dialami orang lain. Perpaduan antara kisah hikmah, rasa pahit, manis, asem, pedes, sampe hambarnya hidup, nyampur menjadi pengingat hidup yang melekat dalam kehidupan ke depan kita.

Tapi tentu aja, yang namanya proses kaya gitu, nggak harus tiap hal yang kita alami perlu diinget-inget terus. Ambil aja intisarinya, pembelajarannya, sama pengalamannya. Jadi kalo misalkan mau diceritain ke orang lain nggak usah terlalu detail. Orang lain itu kalo diceritain juga sering nggak mau repot ngedengerin. Cukup intinya aja.

Tulisan ini terinspirasi dari berkumpulnya aku dengan teman-teman SD dalam grup WhatsApp, kemudian kami mengenang apa yang kami lakukan di masa lalu. Dan akhirnya kami baru nyadar, udah hampir dua puluhan tahun kami meninggalkan SD itu.

Sabtu, 28 Maret 2015

Babi Ngepet

Salah satu makhluk jadi-jadian yang melegenda di Indonesia adalah babi ngepet. Biarpun babi ada di mana-mana, tapi hanya di Indonesia ada babi ngepet. Belum pernah tuh denger di China ditemukan babi ngepet. Babi ngepet itu, kalo di dunia manusia dia dibilang siluman babi, kalo dia di dunia babi dia dibilang siluman manusia.

Ceritanya kan babi ngepet itu jelmaan orang yang nyolong barang, umumnya duit, di suatu tempat. Dan dia harus punya partner dalam bidang ini. Fungsi partnernya adalah jagain lilin. Soalnya kalo api lilin ini sampe goyang, si babi dalam masalah besar. Bukan si babinya sih lebih tepatnya, tapi orang yang jadi babi.

Nah, berhubungan dengan fungsi babi ngepet sebagai pencuri, muncul keheranan yang nggak abis-abis dari dalam hatiku. Masalahnya adalah, kenapa harus babi? Kan misal orang ya, jadi babi, trus dia nyolong di rumah orang. Kalo dia ketangkep, babi bisa apa? Dia nggak punya alat perlindungan diri yang memadai buat membela diri dari marabahaya.

Dan kalo pencipta trik babi ngepet ini sedikit lebih cerdas, dia harusnya bikin trik naga ngepet. Kalopun ketahuan, nangkap naga itu sulit. Selain dia gede, lincah, punya kaki, sering buang air nggak pake cebok, dia juga punya napas api. Kalo dia ketangkep, warga mau ngejar, tinggal ‘ehm’ doang, apinya keluar.

Kalo naga kegedean, coba beruang ngepet, atau macan ngepet, atau seenggaknya sigung ngepet lah. Pas si sigung ngepet ini ketangkep warga, dia langsung ngeluarin bau. Warga yang mau nangkap juga mikir-mikir kalo silumannya kaya beruang atau macan gitu.

Jumat, 27 Maret 2015

Antara Kapsul Bulma dan Bola Pokemon

Di jaman yang cukup modern ini, ada banyak hal yang dijadikan sesuatu yang instan, sehingga hidup lebih praktis. Contohnya, pengen makan mi, udah ada mi instan. Pengen bikin soto, udah ada bumbu soto. Jangan-jangan suatu saat nanti, kita bisa masak air tanpa pake air. Airnya instan.

Atau kita bisa bikin ayam goreng tapi nggak pake ayam. Tapi yang ini kayanya udah kejadian. Soalnya aku pernah liat di Kaskus, ada orang yang jual makanan, di gerobak tulisannya ‘Lele Fried Chicken’. Itu kan berarti ayam goreng, tapi nggak ada ayamnya. Yang kasian lelenya, dia dipaksa menyalahi kodratnya sebagai seekor lele, malah disuruh jadi ayam. Ayam goreng lagi!

Mungkin itulah yang ada di benak Akira Toriyama, pengarang cerita Dragon Ball. Bayangin, kendaraan atau rumah bisa dibawa ke mana-mana, pake kapsul! Butuh mobil, tinggal buang kapsulnya, jadilah mobil. Butuh rumah, buang kapsulnya, jadilah rumah. Atau Satoshi Tajiri, saat mendesain Pokemon. Dia menemukan bola, yang bisa diisi oleh monster-monster imut.

Sayangnya mereka nggak menguraikan secara detail, gimana cara bikin kapsul atau bola tadi. Gimana caranya bikin ekstrak rumah, yang dimasukin kapsul, dan akan otomatis kembali berbentuk rumah saat dilempar dan menyentuh tanah. Gimana pula cara bikin ekstrak tank, biar tentara-tentara yang lagi perang nggak lagi butuh kapal-kapal induk perang yang besar-besar gitu.

Atau gimana bikin bola yang nyaman buat kucing. Jadi kan bawa kucing ke mana-mana nggak usah pake keranjang. Bawa ikan cukup dimasukin bola. Bawa gajah buruan, tinggal lempar bolanya aja.

Trus gimana juga fasilitas yang ada di dalam bola tadi. Misalkan bolanya buat anjing ya, tar ada bola lagi di dalam, buat mainan anjing. Bolanya buat hamster, di dalam ada jogging wheelnya, ada kora-kora, sama ada terowongan hamster. Atau bola buat kucing, di dalam ada tikus mainan, ada bak tempat kotoran. Kalo perlu sekalian di dalamnya ada penjual ‘Lele Fried Chicken’ juga.

Hidup emang bisa jauh lebih praktis, tapi manusia bisa jadi jauh lebih manja.

Selasa, 17 Maret 2015

Nama

Setiap benda itu punya nama. Bahkan benda yang nggak punya nama aja juga punya nama. Namanya ‘Nggak Punya Nama’. Nama itu penting, biar bisa menyebut atau memanggil. Coba kalo nggak ada, kita manggil orang dengan cara ‘Maaf, Ki Sanak…’.

Tapi mungkin ada orang yang manggil tetangganya dengan ‘Ki Sanak’, ternyata emang nama aslinya ‘Ki Sanak’. Mungkin orangtuanya dulu penggemar Tutur Tinular.

Kalo nggak ada nama, kita nyebut benda jadi bingung. Mau kita tunjuk-tunjuk dan di-itu-itu-in, takut bendanya marah. Kalo marah kan, dia jadi ngebentak-bentak gitu. Tar dia bentak kita, ‘Hei, Ki Sanak, aku ini punya nama…!!!’.

Tapi gara-gara media sosial, banyak nama yang nggak banget. Ada gitu, nama akunnya ‘Cowok Banget’, tapi foto profilnya ngondek. Ada lagi ‘Pria Bijak’, tapi statusnya ngeluh mulu. Pernah ketemu namanya ‘Cewek Cuek’ gitu, pas statusnya dinyinyirin temennya, eh dia ngamuk.

Kalopun bikin nama samaran, coba deh bikin nama yang sesuai. Ya mestinya kalo emang bener cuek, ya biarin aja. Kalo bener bijak, ya bikin status motivasi gitu.

Salah satu hal yang muncul di pikiranku adalah, sejak kapan kita ngerespon pas dipanggil nama kita ya? Apa karena dulu pas bayi kita sering ditimang-timang sama orangtua kita, terus mereka manggil-manggil sebuah kata, dan kita berasumsi ‘Owh, itu namaku. Aku akan merespon saat kata itu dipanggil.’.

Itu mungkin karena naluri kita ya. Sama kaya kucing. Kan kebanyakan orang kalo manggil kucing itu ‘pus…pus…’ gitu kan. Tapi kenapa kucingnya datang, kan namanya ‘kucing’, bukan ‘pus’?

Minggu, 15 Maret 2015

Kekebalan Tubuh

Jadi ceritanya, sejak awal tahun lalu aku ngerasa sistem kekebalan tubuhku ini mulai menurun. Padahal sebelumnya, jarang banget yang namanya flu, apalagi sampe demam. Tapi sejak awal tahun lalu, tiba-tiba aku kena pilek yang agak berkepanjangan. Dan sejak aku pulang dari pelatihan di Malang, akhir Maret tahun lalu, malah kerasa ada yang lebih aneh lagi dengan gejala pilekku.

Awalnya muncul bau-bau agak amis gitu. Pikirku itu berasal dari pedagang ayam goreng yang ada di depan rumah, yang lagi goreng ikan apa gimana. Tapi kok makin hari makin ngerasa aneh, kan itu pedagang ayam, ngapain goreng ikan ya? Dan lagian baunya nggak cuma pas lagi ada di rumah aja, tapi pas kerja juga muncul.

Kalo ini karena pilek, nggak pernah muncul tuh ingusnya dari lubang hidungku ini. Sampe suatu hari, beberapa hari kemudian, akhirnya ingusnya keluar. Dalam logika kampretku, kalo baunya busuk-busuk amis kaya gitu tar ingusnya warnanya kaya ada darahnya gitu. Tapi ternyata nggak, warnanya malah hijau. Apa mungkin ingus juga ikutan program go green ya?

Ya udah, akhirnya periksa ke dokter dan dapet obat. Agak lama juga sembuhnya pilek ini, yang penting akhirnya sembuh.

Tapi jaman sekarang ini orang-orang lebih suka pamer di media sosial kalo lagi sakit, daripada berobat ke dokter. Orang jadi punya bahan buat bikin status pas sakit.

Apalagi di grup ya. Sebagai salah seorang yang menjadi anggota dari salah satu grup kedaerahan di Facebook, nama grupnya kita samarin jadi ‘Asli Banget’, padahal nama aslinya itu grup ‘Asli Kediri’, keliatan banget kalo orang di sini lebih mengandalkan pendapat orang daripada langsung cari ke sumber terpercaya.

Misalnya ada yang ngepos ‘Ada yang tau obat buat penyakit asma?’, atau ‘Kalo sakit herpes itu obatnya apa ya?’. Biasanya kalo ada yang kaya gini, aku ngasih komentar ‘Periksa ke dokter aja, biar lebih tepat penanganannya.’. Iya, gitu kan? Ini bidangnya kesehatan, ranah pekerjaannya para dokter dan praktisi kesehatan. Bukan keahlian anggota grup!

Ya mungkin aja sih ada yang pernah ngalamin gitu, terus dengan berbekal pengalaman dia nyaranin sebuah solusi yang dia tau. Tapi sejauh mana nilai kepercayaan atas solusi tersebut bisa dipercaya?

Misalnya dari kiriman tentang asma tadi, ada 50 komentar, yang 25 di antaranya ngasih solusi yang berbeda. Apakah sang pengirim tulisan tadi akan mencoba 25 solusi ini? Misalnya hari pertama nyobain salah satu solusi. Karena kayanya nggak ada perubahan, besokannya coba solusi lain. Begitu seterusnya sampe hari ke-25.

Dan sering kejadian, yang terampuh adalah yang terakhir. Dan akhirnya, dengan sedikit penyesalan dia mikir, ‘Kenapa nggak ambil solusi yang ke-25 ini dari pertama ya?’. Ya kita mana tau, kan ada 25 pilihan.

Coba kalo periksa ke dokter, pilihan kita mungkin tinggal dokter mana yang kita pilih. Setelah itu, solusi dari dokter mungkin nggak hanya satu, tapi juga nggak nyampe dua puluh lima solusi.

Tapi ya nggak apa-apa lah, kalo emang milih solusi pake metode ’25 solusi’ tadi, kan seenggaknya dalam 25 hari bisa punya ide buat bikin status.

Sabtu, 14 Maret 2015

Buang Sampah

Di sebuah ruas jalan yang biasa aku lewati pas kerja, ada sebuah papan pengumuman yang ditancepin di pinggir jalan irigasi sawah. Tulisannya kurang lebih gini, “Hanya monyet yang buang sampah di sini!”.

Dalam pikiran isengku, jangan-jangan suatu saat orang di sekitar situ beli monyet, terus dilatih buat buang sampah di situ.

Ya kenapa sih, kok sampe-sampe orang harus bikin pengumuman kaya gitu, nyertain bonus ‘monyet’ pula? Ini karena kebiasaan dan budaya buang sampah kita itu udah kelewatan banget. Lazimnya, orang buang sampah di tempat sampah. Sedangkan kebanyakan dari kita, menganggap semua tempat adalah tempat sampah, yang pantes-pantes aja kita buang sampah di situ.

Nggak usah liat orang nongkrong, sambil ngerokok, terus abunya sama puntungnya dibuang di bawahnya begitu aja. Nggak usah itu dulu. Kita liat aja, orang bermartabat, yang ke sana ke mari naik mobil, di dalam ngemil-ngemil cantik, buang sampahnya di mana? Masih untung ya kalo di mobil ada tempat sampahnya, kalo nggak, tinggal buka kaca jendela, buang di manapun dia berada. Ini orang kalo buang sampahnya di samping papan pengumuman tadi, dia bisa dikira monyet.

Ini secuil kisah tentang orang (yang kelihatannya) bermartabat, berduit, berpendidikan, terbukti dengan mobilnya yang keren. Kalo lulusan PAUD doang, mana bisa beli mobil gitu. Dia harus nerusin dulu ke TK, kan masih anak kecil.

Dengan asumsi ‘semua tempat adalah tempat sampah’ tadi, orang-orang jadi halal dan bebas buang sampah di mana aja. Belum lagi asumsi, bahwa ‘hanya saya yang buang sampah di sini’.

Aku pernah ngeliat ilustrasi menarik soal ini. Awalnya ada orang pertama yang buang sampah di sebuah tempat yang bersih. Kemudian datang orang kedua, yang juga buang sampah di situ. Kemudian datang orang ketiga, keempat, sampe mungkin orang kesembilan puluh sembilan. Biar lengkap seratus orang, hadir kembali si orang pertama. Dan dengan entengnya, dia bilang ‘Lingkungan ini kotor banget, orang-orang buang sampah sembarangan nih…’.

Pesan moralnya, udah bisa nebak kan? Kan sambil baca tadi langsung kepikiran. Ya gitu, orang biasanya niru orang. Nggak peduli, mau perilaku itu baik atau nggak, kalo ada orang yang ngelakuin itu, dan itu nggak apa-apa, bakal ada yang niruin. Yang mau disalahin siapa, orang terakhir? Ya nggak! Yang perlu disalahin, ya semua!

Ya sebenernya sih nggak etis ya saling salah menyalahkan, kalo kita sendiri juga ngelakuin itu. Harusnya kita sendiri juga memulai kehidupan yang lebih baik, dengan budaya membuang sampah yang baik dan benar pula. Jangan sampe kita nyalahin orang lain, kalo ternyata budaya itu berawal dari kita sendiri.

Minggu, 25 Januari 2015

Aturan

Suatu saat, pasti kita pernah ngalamin yang namanya ketaatan dan kepatuhan kita diuji. Di jalan misalnya, pas berhenti di lampu lalu lintas, ada yang nyelonong pas lampu merah, kita tergoda buat ikutan. Ada orang naik motor, nggak pake helm, kita tergoda buat niruin. Ada orang pake helm, tapi nggak bawa motor, kita tergoda buat nyela.

Dan gini, hal-hal seperti ini sebenernya tergantung dari apa yang menjadi idealisme kita. Kalo kita punya idealisme mematuhi peraturan, kita nggak bakal terpengaruh dengan godaan apapun semacam itu. Tapi kalo kita nggak punya idealisme, atau sekedar seenak sendiri, ya kita pasti ngikut.

Pernah nggak ketemu dengan orang yang melanggar rambu-rambu di depan rambu-rambu itu sendiri? Misalnya, ada orang ngerokok di bawah papan “Dilarang merokok” gitu. Itu rasanya udah kaya ngejambret di depan polisi, polisi beneran, bukan polisi tidur. Itu bukan karena orangnya buta huruf, atau nggak punya mata hati, tapi dia nggak punya idealisme! Dia nggak tahan godaan, buat melanggar peraturan itu. Emang ada alasan gitu?

Semuanya balik ke hal yang itu tadi, jiwa dan mental kepatuhan kita sendiri. Yang perlu diingat adalah bahwa kita, sebagai makhluk berakal, tidak sepantasnya melanggar peraturan. Peraturan itu dibuat bukan untuk dilanggar, ingat itu!

Peraturan itu bersifat memaksa, jadi siapapun di bawahnya harus “terpaksa” melakukannya. Bukannya malah “terpaksa” melanggarnya! Ini malah jadi semacam terpaksa yang dipaksakan.

Ya kalo nggak mau dipaksa gitu, hidup aja di tempat yang nggak ada aturannya. Di hutan misalnya. Di hutan itu nggak ada aturannya lo! Emang kita pernah nemuin raja hutan nerbitin undang-undang?

Dan satu lagi, yang terakhir, kita sebagai manusia hidup pasti pake aturan. Kita diatur untuk bernapas, makan, atau boker. Itu sifat alamiah makhluk hidup. Kalo nggak mau nurut aturan hidup, ya nggak usah bernapas, makan, atau boker. Aturan itu nggak hanya mengatur kita, tapi juga orang lain. Kalo kita melanggar aturan, itu bisa dianggap sama aja dengan tidak menghargai orang lain.

Sabtu, 24 Januari 2015

Sulih Suara

Suatu sore aku nonton film di televisi. Ada sebuah film yang sebelumnya belum pernah aku tonton, judulnya ‘Flushed Away’. Pemainnya keren-keren, ada Hugh Jackman, Kate Winslet, sama Ian McKellen. Bagi yang belum tau ini film apa, aku kasih tau kalo ini adalah film animasi. Jadi bintang-bintang yang aku sebutin tadi sebenarnya hanya mengisi suara tokohnya aja.

Dan begitu cerita filmnya dimulai, seketika kekerenan bintang-bintang tadi hilang begitu aja. Bukan karena mereka nggak tampil di filmnya (kan udah dikasih tau kalo mereka hanya mengisi suara tokohnya aja!), tapi karena filmnya didubbing! Dan tau kenapa, bagiku film ini nggak lebih bagus daripada film Terminator yang sebenarnya dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger, tapi begitu ditayangin di televisi Indonesia yang main ganti Agung Hercules.

Bukan, ini bukan masalah Agung Hercules, bukan pula masalah Arnold Schwarzenegger, tapi masalah sulih suara tadi. Secara pribadi terus terang aku nggak terlalu suka dengan sebuah film (atau tayangan apapun mungkin) yang berasal dari luar negeri dengan memakai bahasa asing, yang kemudian dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia melalui pengisian suara. Bukan karena aku nggak suka dengan pemakaian Bahasa Indonesia juga. Tapi buatku tayangan yang disulih suara itu bikin suasana di dalam tayangan tersebut berkurang kadarnya.

Misalnya gini, film Bollywood di tayangan televisi Indonesia kan sering dan cukup populer kan, pernah nggak nonton film Bollywood pake bahasa aslinya? Gimana rasanya kalo dibandingin nonton film Bollywood yang udah disulih suara? Secara umumnya sih sama aja, mungkin kita tetep bisa terhanyut dalam cerita film itu, bisa tetep nangis-nangis bombay, tapi tetep aja suasana yang terbangun dengan suara bahasa aslinya beda banget.

Dulu banget ada serial televisi, dari India juga, judulnya Tipu Sultan. Ceritanya ada kerajaan Islam di India gitu kalo nggak salah berjuang melawan penjajah Inggris. Dan serial ini disulihsuarakan ke dalam Bahasa Indonesia, semua tokohnya, nggak hanya orang Indianya tapi juga orang Inggrisnya. Dan sisi kekonyolannya terletak di sisi orang Inggrisnya. Di sini orang Inggris itu ngomongnya kaya orang bule yang baru belajar Bahasa Indonesia, tau kan? Ya kaya orang-orang Belanda yang ada di dalam film Si Pitung gitu. Yang bikin aku nggak ngerti adalah kenapa orang Indianya ngomongnya nggak gitu-gitu banget, biasa aja ngomongnya lancar kaya orang Indonesia.

Dan kebanyakan tayangan kartun di televisi Indonesia sekarang ini adalah hasil sulih suara. Termasuk kemaren pas aku nonton film Spiderman di televisi, semuanya berbahasa Indonesia. Lalu gimana dengan yang namanya ‘SEMANGAT MEMBACA BANGSA INDONESIA’? Dulu waktu aku kecil, aku nonton film-film kartun juga ada terjemahannya di layar sebelah bawah gitu. Dan meskipun pemahaman kata-katanya nggak terlalu lancar, terjemahan dalam bentuk teks kaya gini bisa melancarkan proses belajar membaca. Dan bagi yang udah lancar membaca, kayanya sistem alih bahasa kaya gini juga nggak ada masalah.

Selain itu juga hal semacam ini bisa memperlancar proses pembelajaran bahasa asing, ya nggak? Katanya pengen bisa lancar ngomong bahasa asing, tapi nonton film di televisi aja perlu bantuan sulih suara. Gimana kita bisa belajar bahasa asing kalo filmnya ngomong pake Bahasa Indonesia? Tapi gini, dengan sedikit mengesampingkan jasa para pengisi suara di Indonesia, nonton tayangan asing yang berbahasa aslinya itu juga bisa mendukung proses pembelajaran kita, pemakaian Bahasa Inggris misalnya. Kan sekarang ini kita sering nemuin banyak orang yang pengen sok-sokan keren terus pake Bahasa Inggris gitu. Taunya abis diucapin ternyata salah pakai. Dengan mencontoh atau mengutip percakapan dari film yang ditonton, sebenarnya itu bisa jadi proses pembelajaran tersendiri kan?

Jumat, 23 Januari 2015

Kotoran Hewan

Di daerah lingkungan sekitar rumah dan jalan-jalan yang sering aku lewati itu masih sering ada lewat cikar atau pedati yang ditarik dengan sapi. Ada juga kadang-kadang dokar atau bendi yang ditarik dengan kuda. Nah karena lewat jalan umum dan karena yang menarik kendaraan ini adalah hewan, maka udah pasti setiap saat bisa aja si penarik ini buang-buang air, entah itu ukuran kecil, sedang, atau besar. Kalo udah gitu kan nggak ada yang nyempatin waktu buat beresin kotorannya di jalan, jadinya kita mungkin akan berpikir bahwa kotoran itu akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu.

Tapi kita juga pasti tau bahwa sebenarnya kotoran-kotoran itu nggak hilang dengan sendirinya. Pasti ada seseorang atau sesuatu yang membawa pergi kotoran itu. Terutama kalo di jalan raya, kita akan lebih sering melihat bahwa di situ kotoran lebih cepat hilangnya daripada di jalanan kecil. Ya pastinya setelah keluar dari perut hewan si penarik itu, kotoran-kotoran ini akan terlindas oleh roda kendaraan di belakangnya, dan terus menerus. Dan tingkat intensitas kendaraan yang melewati sebuah jalan yang ada kotorannya berbanding lurus dengan kecepatan kotoran tersebut hilang.

Nggak enaknya adalah kalo ternyata kita yang ada di belakang cikar atau dokar itu tadi. Atau sama nggak enaknya dengan kalo kita adalah orang kedua di belakang cikar atau dokar itu. Gimana nggak enaknya adalah karena, pertama, kita adalah orang yang tepat di belakangnya. Begitu melihat ada kotoran yang masih utuh, kita akan kelabakan menghindarinya. Kan nggak ada yang mungkin kita lagi iseng pengen nabrak itu biar greget.

Yang kedua adalah misalkan kita adalah orang kedua di belakangnya, dan tepat di depan kita, kendaran pertama yang menghadapi kotoran tersebut, adalah kendaraan besar semacam mobil atau truk, dan mereka nggak menghindarinya. Itu udah pasti kita nggak hanya akan mendapati bekas kotoran yang terinjak roda, tapi bisa-bisa ada benda-benda melayang yang mengikuti putaran rodanya.

Beberapa waktu lalu juga gitu, di kamar tidurku itu tercium bau nggak enak gitu. Setelah aku periksa ternyata ada semut yang bersarang di pojokan. Aku jadi langsung menyimpulkan bahwa bau nggak enak itu berasal dari tempat kotorannya si semut itu. Mungkin ada yang bingung gimana cara nemuin tempat semut buang air, itu sebenarnya mudah aja. Biasanya kan ada lalat yang mengerubungi kotoran, jadi kalo di sarang semut itu ada suatu tempat yang dikerubungi lalat itulah tempat semut buang-buang air. Yang nggak mudah adalah memahami gimana lalat masuk ke sarang semut.

Tapi gimanapun ada juga kegunaan dari kotoran hewan itu. Ada yang menjadikannya sebagai pupuk organik, ada juga yang menjadikannya sebagai sumber daya energi yang bisa digunakan menjadi gas alam dan dipakai buat masak. Sayangnya di daerah rumahku udah jarang yang miara sapi, lagian juga nggak ada yang mendayagunakan sebagai sumber energi. Padahal sumber daya semacam ini berpotensi menjadi sumber energi yang berkesinambungan karena akan selalu ada setiap saat sampai si sapi mati, kecuali kalo suatu ketika sapinya lagi sembelit.

Dan terakhir, aku sadar kalo materi tulisan kali ini agak menjijikkan ya, karena ngebahas kotoran hewan. Kalo anda membaca sampai habis tulisan ini pasti udah ngerti konsekuensinya dari judul tulisan ini. Ah sudahlah, daripada memperpanjang pembahasan kotoran kita ngebahas hal lain yang lebih menyenangkan dan menarik.

Kamis, 22 Januari 2015

Majalah Digital

Selama ini aku nggak pernah langganan majalah atau koran atau tabloid. Yang ada sih sering beli rutin pas terbitnya, ini termasuk langganan apa nggak ya? Dulu waktu masih SD sering beli majalah anak-anak, biasanya kalo udah waktunya hari terbitnya suka ngintip-ngintip ke toko koran, udah ada apa belum. Pas SMP dengan dominasi kegemaran sepakbola aku sering beli tabloid sepakbola atau olahraga.

Menginjak masa sekolah di SMK aku punya kegemaran baru, beli majalah bekas. Kebetulan pas itu nemuin sebuah toko yang di situ ngejual majalah-majalah bekas tapi masih bagus, kayanya sih majalah yang dulu dijual dalam bentuk baru tapi nggak laku, akhirnya biar tetap produktif dijual dalam bentuk bekas. Tapi tetap aja, meskipun bekas banyak yang masih di dalam segel plastik, dan yang paling menarik bonus-bonusnya masih lengkap. Di toko ini malah bisa-bisa waktunya banyak terbuang buat meneliti isi majalahnya, soalnya ada banyak majalah yang nggak disegel jadi bisa dibuka-buka gitu. Kapannya lagi ke situ, ya nyari-nyari lagi, buka-buka lagi, sambil baca-baca lagi. Ini mungkin yang jaga toko sampai jengkel kalo pas aku ke situ.

Tapi emang sampai sekarang masih sering tertarik juga kalo ada yang jual majalah-majalah bekas ini, soalnya meskipun bekas ilmunya nggak berkurang. Selain toko yang satu tadi, aku juga nemu beberapa tempat lagi yang juga jualannya sama di dekat rumah, malah ada juga buku-buku bekas gitu. Meskipun sering juga beli yang baru. Kalo beli baru, aku kadang-kadang beli majalah tentang komputer, seringnya sih biar dapat DVD softwarenya. Masalahnya kalo baca majalahnya itu teknologinya kan udah nggak nyampai buatku sekarang, udah sangat terlalu tinggi buat diraih. Kalo softwarenya kan masih bisa dipakai.

Selain itu juga kadang-kadang beli tabloid olahraga, itu juga kalo penjual korannya lagi mampir ke kantor. Kalo nggak mampir aku ya nggak beli juga.

Sekarang kan udah mulai banyak tuh majalah elektronik, yang tinggal diunduh aja dari internet, udah bisa baca kaya majalah cetak yang biasa gitu. Cara ini katanya diklaim bisa menghemat kertas dan biaya percetakan. Selain itu juga lebih praktis dan gampang, serta dalam beberapa sektor lebih murah. Tapi itu adalah analisa kalo kita melihat dari satu sisi aja. Pastinya semua hal itu kan ada banyak sisinya, nggak cuma satu aja. Coba kita liat dari sisi-sisi yang lainnya kalo suatu saat semua media cetak diganti jadi produk digital. Ada berapa perusahaan percetakan yang kehilangan ordernya. Ada berapa toko koran yang ganti menjadi toko pulsa. Ada berapa loper koran yang alih profesi.

Sebenarnya ini dilema tersendiri, sama kaya gagasan gimana kalo perusahaan rokok ditutup aja, ya gitu analisa sebab-akibatnya. Itulah kenapa selalu ada pro dan kontra dari dua sisi yang berlawanan, soalnya emang masing-masing sisi itu juga punya segi analisa masing-masing juga. Tapi balik ke soal majalah cetak tadi, gimanapun versi majalah cetak tetap lebih menarik dan punya kepuasan tersendiri bagi pembacanya.

Selasa, 20 Januari 2015

Majalah Anak-Anak

Waktu kecil dulu aku sering dibelikan majalah anak-anak. Dulu sih banyak macamnya, tapi yang paling sering dibelikan ya Bobo sama Mentari. Atau tabloid anak-anak yang sebenarnya merupakan sisipan atau bonus dari tabloid wanita kebanyakan waktu itu. Dari majalah-majalah ini banyak hal yang bisa aku ambil sebagai pelajaran, entah itu hikmah, pendidikan, ataupun pengetahuan umum dan sejarah, serta yang lainnya. Dan tentu aja di majalah itu yang terutama banyak ya cerita-cerita pendek dengan berbagai temanya.

Nah, dari cerita pendek ini sebenarnya banyak hal yang ‘meracuni’ harapan dan impianku. Cerita-cerita ini kan disetting buat anak-anak, tapi karena ceritanya banyak yang khayal jadinya aku sering berkhayal juga. Contohnya waktu itu ada cerita tentang anak-anak yang kelaparan dan nggak mampu beli roti buat makan. Kebetulan waktu itu ada peri baik yang lewat, dan karena kasihan dia memberikan anugerah berupa tangan anak itu saat mengusap gambar roti maka bisa berubah jadi roti beneran. Dan setelah membaca cerita ini, aku jadi teracuni dan berobsesi mengusap gambar agar jadi beneran.

Atau pas baca cerita bersambung tentang robot dari luar angkasa yang mendarat di rumah seorang bocah, dan akhirnya robot itu menjadi teman bocah tersebut. Robot ini baik hati dan bisa membantu bocah tersebut. Dari cerita ini aku jadi punya obsesi miara robot.

Kembali pada cerita ini disetting buat anak-anak. Nggak tau sebenernya apakah cerita-cerita khayal kaya gini bisa masuk ke nalar anak-anak pembacanya dengan baik, ataukah cerita ini sebenarnya masih membutuhkan bimbingan orangtua buat mengembangkan dan menjelaskan sehingga anak-anaknya mengerti. Yang paling nggak ngerti waktu itu aku pernah baca cerita tentang seseorang yang punya undangan pesta di dua tempat yaitu di hulu dan hilir sungai, dalam waktu yang sama. Dia memilih undangan yang di hulu sungai karena hidangannya enak-enak. Tapi begitu nyampai di tempat ternyata hidangannya udah habis. Karena nggak mau rugi, akhirnya dia mendatangi undangan yang satunya, di hilir sungai. Tapi begitu nyampai di sana acaranya udah selesai. Ini kalo anak-anak sendiri yang baca, dia nggak bakal ngerti apa maksud dari cerita ini, kaya aku tadi.

Tapi terlepas dari hal-hal yang berkaitan dengan cerita tadi, majalah anak-anak bikin kreatif pembacanya. Selain itu bikin proses belajar membaca jadi lebih cepat. Apalagi juga pengetahuan tentang ilmu umum dan sejarah juga bisa didapat. Hanya saja setelah sekian lama nggak tau apa aja isi majalah anak-anak tadi, suatu ketika aku iseng buka-buka majalah anak-anak di penjual majalah. Yang bikin nyesek adalah ternyata majalah anak-anak ini udah nggak lagi dikhususkan buat anak-anak, malah lebih kepada remaja atau ABG gitu. Nggak tau apakah emang konsep majalah ini digeser ke pasar itu, atau sebenarnya merupakan sisipan aja. Tapi emang sih, mungkin juga penerbit majalah itu menyesuaikan dengan pasar. Coba liat aja sekarang, banyak anak-anak yang nggak lagi bertingkah laku seperti anak-anak. Banyak anak yang lebih hapal lagu orang dewasa daripada lagu anak-anak. Dan lebih parahnya lagi, banyak orangtua yang lebih bangga kalo anaknya hapal lagu-lagu orang dewasa daripada lagu anak-anak yang mencerminkan dunia mereka.

Bukan bermaksud nggak mau move on atau terperangkap dengan keindahan dunia anak-anak, tapi emang aku sangat merindukan majalah anak-anak yang dulu. Majalah-majalah yang memberikan nuansa lain bagi pemikiran anak-anak yang bukan pemikiran yang ‘dipaksa’ gede sebelum waktunya, tapi pemikiran yang bikin wawasan anak-anak berkembang sesuai dengan masa kanak-kanaknya.

Daftar Blog Saya