Tanya Dilema

Suatu pagi, di tengah-tengah pekerjaan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan di Facebook Messenger dari seorang temanku.

Seperti Nemo

Ada satu film yang bagiku aneh banget, yaitu Finding Nemo. Inti ceritanya kan ada seekor ayah ikan yang mencari anaknya. Yang aneh itu ternyata ikan ini bisa ngomong. Padahal kalopun ikan bisa ngomong, kan ikan ini ada di dalam air. Coba kita aja yang ngomong di dalam air, kedengeran nggak sama temen kita yang ada di deket kita.

Pakai Bahasa Indonesia

Dari sejak blog pertamaku aku selalu pengen mempertahankan ke-Indonesiaanku, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia di setiap tulisan blogku. Bukan karena aku nggak bisa bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau India, bukan! Tapi sebenarnya emang nggak bisa sih, tapi bukan itu maksudnya.

Hobi

Hobiku adalah membaca. Aku mendapatkannya dari sebuah majalah anak-anak. Jadi gini awal ceritanya, waktu itu ibuku mengirimkan foto dan dataku ke sebuah rubrik koresponden di majalah anak-anak itu. Dan di bagian hobinya, ibuku menuliskan kalo hobiku adalah membaca.

Power Bank

Di jaman gadget seperti sekarang ini, keberadaan smartphone menjadi bagian kehidupan bagi beberapa orang. Tapi di balik kecanggihan dan segala kelebihannya, ada salah satu sisi di mana smartphone justru lebih boros dalam pemakaian daya baterainya.

Minggu, 09 Oktober 2011

Rating Acara Televisi

Sejak 1992, Nielsen Media Research (NMR) melakukan pengukuran jumlah penonton tayangan televisi di Indonesia. Pengukuran share penonton televisi yang sekarang akrab dikenal sebagai rating, awalnya hanya dilakukan pada audiens televisi di Jakarta dan Surabaya. Kini penyebaran audiens yang dipantau melalui metode peoplemeter ini sudah menjangkau 9 kota utama di Indonesia, yaitu Greater Jakarta, Greater Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makasar, Greater Yogyakarta, Palembang, dan Denpasar yang mulai dipantau sejak Juli 2004.

Rating adalah persentase penonton suatu acara dibandingkan dengan total atau spesifik populasi pada waktu tertentu. Data riset NMR ini sangat berpengaruh bagi industri pertelevisian di tanah air, terutama bagi pemain-pemain industri hiburan. Pasalnya, sampai saat ini belum ada biro riset lainnya yang menampilkan data pembanding. Seringkali, kesuksesan sebuah acara diukur oleh tingginya rating yang berhasil diraih. Walaupun sebenarnya tidak demikian adanya. Seperti yang dikemukakan oleh NMR sendiri, bahwa teknologi peoplemeter tersebut hanya mengukur jumlah penonton yang sedang menonton paling tidak minimum 1 menit (atau 17 detik) tanpa mengukur preferensi (suka/tidak suka) maupun kualitasnya (baik/buruk) suatu program acara TV.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Di Posisi Ketiga

Dalam turnamen yang menggunakan sistem peringkat ke-3, atau istilahnya perebutan tempat ketiga, akan tampak bahwa juara ketiga akan nampak lebih bahagia daripada juara keduanya. Yang menyebabkan perbedaan itu adalah bahwa tim peringkat ketiga meraih tempat ketiganya dengan kemenangan, sedangkan tim peringkat kedua memperolehnya dengan kekalahan. Terlihat bahwa hasil akhir lebih menentukan dalam perayaan peringkatnya.

Seperti dalam piala dunia sepakbola, perebutan peringkat ketiganya juga sering disebut sebagai final kecil. Tim peringkat ketiga, yang sudah pasti tidak akan meraih gelar juara karena tersisih di semifinal, mengalahkan semifinalis lainnya dalam final kecil tersebut. Tentunya mereka akan merayakannya karena bagaimanapun mereka adalah pemenang pertandingan.

Sedangkan tim peringkat kedua mengakhiri turnamen dengan kekalahan di final. Tentunya dalam pertandingan ini target mereka adalah kemenangan, dan mereka gagal meraihnya. Tidak ada perayaan berlebihan, seolah-olah peringkat kedua itu lebih rendah kastanya daripada tim semifinalis.

Padahal jika disadari dan diingat, perjuangan mereka jauh sangat berhasil daripada tim-tim yang gagal melewati babak penyisihan. Tim penyisihan pun tidak bisa dibilang gagal total karena mereka telah berhasil melewati babak kualifikasi, menjadi salah satu tim yang berbangga dan beruntung bisa mencicipi turnamen tersebut. Dan tim kualifikasi, mungkin saat ini bukan waktunya mereka bisa mengikuti turnamen.

Sudah pasti bahwa peringkat pertama adalah yang menjadi juaranya, tim terbaik turnamen. Sudah pasti pula tim inilah yang paling beruntung sejak kualifikasi sampai ke finalnya. Meskipun sebenarnya, semua tim turnamen adalah yang terbaik, setidaknya untuk tim kualifikasi.

Jumat, 07 Oktober 2011

Bahasa dan Pendidikan Indonesia


“Kenapa ya, biaya kuliah kita kok bisa begitu mahal?” “Karena pas kita mendaftar, poster yang dipajang pakai kata registration, maka bayarnya Rp. 35 juta. Coba kalau saat itu memakai kata pendaftaran, pasti cuma Rp. 5 juta.” Itu adalah dialog ringan tapi sarat makna dua orang mahasiswa pascasarjana di sela-sela waktu kuliah mereka. Dulu, bahasa Inggris baru diajarkan ketika anak memasuki tingkat SLTP. Sekarang dalam PAUD pun bahasa ini udah diajarkan. Padahal menurut hasil riset terbaru, sistem pendidikan bilingual di Indonesia selama ini kurang efektif, karena mengabaikan bahasa Indonesia. Dampaknya baru akan terasa ketika anak masuk ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Penguasaan bahasa asing emang penting, tapi jangan sampai mengabaikan bahasa pertama anak. Anak yang memiliki konsep akademik yang kuat dalam bahasa pertamanya dapat memiliki kemampuan yang baik pula dalam bahasa asing. Jika bahasa kedua dikenalkan sebelum bahasa pertama benar-benar dikuasai, maka perkembangan bahasa pertama dan kedua akan lambat dan bahkan mengalami regresi. Terdapat sedikit ironi terkait pemberlakuan sekolah terhadap bahasa Indonesia. Di beberapa sekolah RSBI, jika dilihat dari nilai ujian, terdapat kecenderungan ‘meninggikan’ bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Di beberapa sekolah, kasus nilai UNAS/UAN bahasa Indonesia yang lebih rendah daripada Inggris ini juga menjadi pembicaraan. Persoalan ini pada akhirnya menjadi perbincangan tersendiri di kalangan internal sekolah dan cukup mendapat perhatian. Problematika nilai kedua bahasa itu lebih disebabkan para siswa cenderung menyukai les bahasa Inggris dan kebijakan pemerintah pusat atas UNAS. Lagipula kan tidak ada les bahasa Indonesia. Tidak terjebak dalah wilayah simbolitas semata, bahkan melupakan budaya bangsa, itulah makna sesungguhnya internasional. Jadikan SBI sebagai media untuk membawa kultur lokal ke pentas dunia, sehingga tidak malah membanggakan pendidikan bergaya luar tapi melupakan lokal. Visi pendidikan bukan sekedar mengerjakan soal kurikulum luar negeri. Pendidikan seharusnya mengajak peserta didik untuk membentuk kepribadian sebagai salah satu karakternya. Hal itu membutuhkan waktu lama, bukan jalan pintas dengan mengasah otak demi kelulusan. Suasana dunia pendidikan saat ini terlalu monolitik, artinya semua anak didik hendak diproduk menjadi orang-orang sesuai dengan kehendak sistem pendidikan tersebut. Padahal pendidikan terbaik adalah pendidikan yang memberi inspirasi kepada anak didik untuk mengembangkan hal terbaik yang ada dalam dirinya secara alamiah.

Selasa, 04 Oktober 2011

Mencari Alamat


Setelah seorang sepupuku pindahan rumah, baru beberapa bulan kemudian aku bisa mengunjungi rumah barunya. Sebelumnya aku hanya mendengar rumah sepupuku itu dari cerita ibuku. Beliau tidak menceritakan detail bentuk rumahnya, tapi cerita tentang hal-hal yang berhubungan aja, misalnya kemarennya pager rumahnya ditinggikan, halamannya mau ditanami banyak bunga, dan sebagainya. Saat aku mengantar ibuku ke rumah sepupuku tadi, pastinya itu pertama kali aku ke sana. Tapi dengan berbekal informasi yang sebenarnya gak terlalu penting tadi, aku bisa langsung menebak yang mana rumah sepupuku itu. Aku berhenti tepat di depan pintu pagar rumahnya, sambil ditanyain ibu apa aku pernah ke situ sebelumnya. Aku hanya menjawab bahwa saat itu adalah pertama kali aku ke situ. Mencari alamat asing, yang kita belum pernah ke sana, bahkan denger tempat itu aja baru sekali, memang agak membingungkan. Berbekal sedikit informasi bahkan tak jarang tanpa informasi sama sekali, menambah tingkat kesulitannya. Mungkin kita hanya berharap ada kentongan di tempat itu, yang bisa kita pukul dan membuat banyak orang berkumpul, sehingga kita bisa dapat narasumber yang banyak dalam waktu yang singkat. Salah satu kuncinya adalah percaya pada sumber informasi dan isi informasinya. Jika dipadukan dengan nalar, analisa, imajinasi, dan insting, maka pastinya akan segera dapat kita temukan. Apalagi kalo ditambah kenekadan (yang tidak perlu) seperti membunyikan kentongan tadi. Informasi yang kita dapatkan bisa jadi bahan imajinasi kita menggambarkan gimana sih lokasi dan tempat yang akan kita tuju nantinya, berwujud dan seperti apa bentuknya gitu. Dulu, saat tinggal di Malang untuk tugas praktek dari sekolah, aku bersama 5 orang temanku dicarikan tempat kos oleh karyawan SDM pabriknya. Kebetulan tempat kos tadi rumah adiknya, jadi rumah itu yang jadi alternatif pertamanya. Beliau menceritakan letak rumah kos tadi sambil aku coba gambarkan gimana sih tempat asing yang akan aku tinggali 9 minggu ke depan. Kemudian beliau akan mengantar kami ke rumah itu, namun karena kami ada enam orang, beliau hanya membawa 2 orang dari kami untuk bersama beliau. Tak seberapa lama, seorang yang juga kos di rumah tadi menjemput kami. Seperti bapak tadi, hanya 2 orang dari kami yang bisa ikut. Sisanya, aku dan seorang temanku, disuruh naik bis aja ke rumah. Jadilah kami yang belum tau apa-apa tentang daerah ini naik bis dengan penuh waspada. Kami hanya diberi satu nama, Telon Kedok, daerah kosnya. Saat membayar ke kondektur kami memberitahu di mana kami turun. Sebenarnya aku tidak yakin kondekturnya akan memperingatkan kami saat masuk ke daerah tadi, sehingga aku mengarahkan pandangan ke luar bis. Saat masuk ke salah satu tikungan dengan pertigaan, segera aku meminta bis berhenti dan aku mengajak temanku tadi untuk segera turun sebelum bis jalan lagi. Saat udah turun temanku bertanya lokasi Telon Kedok itu di mana, kemudian aku jawab aku juga belum tau pasti, tapi aku menunjuk ke pertigaan tadi. Temanku baru mengerti kalo yang dimaksud Telon Kedok itu adalah protelon (pertigaan) di daerah yang bernama Kedok. Benar saja, anak yang menjemput teman-temanku tadi udah nunggu in di samping gapura pertigaan sebelah timur. Selamatlah kami dari ketersesatan. Kalo dengan cerita ini, aku cuma memanfaatkan faktor nalar, insting dan imajinasi. Untungnya aku gak perlu mukul kentongan keras-keras (meskipun di pojok pertigaan itu ada kentongan berukuran gede), sehingga tidak merepotkan orang lain.

Senin, 03 Oktober 2011

Halangan dan Kehidupan

Sabtu siang, 15 Mei 2010, di salah satu sisi lapangan di Stadion New Wembley, London, Didier Drogba meratap, mengeluh dan memaki, sambil memukuli tiang gawang Porsmouth. Tidak kurang dari 30 menit sebelumnya, berkali-kali aksi para pemain Chelsea tertahan oleh tiang dan mistar gawang yang dijaga oleh David James tersebut. Bahkan beberapa menit sebelumnya, Drogba sendiri yang mengalami bagaimana mistar gawang dengan dinginnya memantulkan bola yang ditembaknya sendiri. Seolah-olah gawang tersebut tidak rela bola memasuki daerah kediamannya.

Namun, setelah babak kedua dimulai, tiang gawang pulalah yang membantunya membuat gol ke gawang Porsmouth. Bola yang menerpa tiang kemudian memantul ke dalam gawang dan masuk! Chelsea pun menang dan menjadi juara Piala FA 2010, berkat satu-satunya gol Drogba tadi.

Peristiwa seperti itu mungkin sering terjadi dalam pertandingan sepakbola. Tapi bila dipikir secara lebih mendalam (asal mikirnya gak di sumur), terdapat filosofi terutama dari rangkaian peristiwa tadi. Bagaimana tiang dan mistar gawang yang sebelumnya menjadi penghalang justru menjadi bantuan di lain waktu. Dalam setiap halangan, rintangan, dan tantangan yang kita hadapi setiap kali di kehidupan kita ini, terkadang juga ada halangan yang menjadi penolong kita di saat kita membutuhkan. Pengalaman melewati setiap halangan juga menjadikan kekuatan bagi kita untuk terus melangkah dan siap untuk menghadapi halangan yang akan datang kembali.

Mengharap senang dalam berjuang bagai merindu rembulan di tengah siang. Hidup untuk berjuang, bukan hanya berjuang dalam arti Beras, Baju dan Uang, tapi berjuang dalam arti yang sebenar-benarnya. Pengalaman melewati halangan akan menguatkan kita. Meskipun sebenarnya, di antara laki-laki dan perempuan, dalam menghadapi rintangan dan halangan, perempuan akan lebih siap karena perempuan pasti udah sering kena halangan (minjem istilah konyolnya Mas Arif).

Belajar hidup dengan mengalami hidup itu sendiri. Karena seperti contoh Drogba di atas, keberuntungan yang menjadi sarana turunnya takdir Allah SWT untuk manusia bisa didapat setiap saat tanpa kita sangka.

Minggu, 02 Oktober 2011

Festival Film Indonesia vs Indonesian Movie Awards

Festival Film Indonesia (FFI) merupakan ajang penghargaan tertinggi bagi dunia perfilman di Indonesia. FFI pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 dan berlanjut di tahun 1960 dan 1967 (dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional), sebelum akhirnya mulai diselenggarakan secara teratur pada tahun 1973.

Mulai penyelenggaraan tahun 1979, sistem Unggulan (Nominasi) mulai dipergunakan. FFI sempat terhenti pada tahun 1992, dan baru diselenggarakan kembali tahun 2004. Pada perkembangannya, diberikan juga penghargaan Piala Vidia untuk film televisi.

 
Indonesian Movie Awards (IMA) adalah penghargaan bagi insan perfilman yang dimulai sejak tahun 2007. Ajang penghargaan ini dibuat karena ajang FFI 2006 yang hasilnya cukup mengecewakan bagi Masyarakat Perfilman Indonesia. Namun IMA dibuat bukan untuk menandingi FFI. IMA hadir untuk memberikan apresiasi kepada pemeran film terbaik, karena mereka punya bakat dan prestasi. IMA setiap tahun akan selalu hadir dengan format baru dan tentu berbeda dengan FFI. Jika pada FFI piala yang diberikan disebut Piala Citra. Sedang di IMA, piala yang diberikan disebut Piala Layar Emas Dalam ajang ini pemenang terbagi atas Terfavorit dan Terbaik. Di mana untuk kategori Terbaik pemenang dipilih oleh dewan juri. Sedangkan kategori Terfavorit pemenang dipilih oleh masyarakat.

IMA emang bagus sih, tapi sayangnya, kok namanya pake Bahasa Inggris, sekedar agar lebih go internasional, atau karena kalo pake Bahasa Indonesia kurang laku dijual? Apa gak bisa pake nama 'Penghargaan Film Indonesia' aja ya?

Sabtu, 01 Oktober 2011

Tentang Ikhwan dan Akhwat

Ada salah satu hal yang menarik untuk aku cermati dan rasakan dari novel berjudul “Bidadari untuk Ikhwan” karya Fajar Agustanto. Bahwa di luar lingkaran aktivitas dakwah, para ikhwan dan akhwat jarang bergaul dengan komunitas di luar kelompok mereka, sehingga berkesan eksklusif. Padahal sebenarnya, banyak para ikhwan atau akhwat yang canggung jika berkumpul dengan selain mereka, karena orang di luar komunitas mereka cenderung mengesankan mereka itu orang aneh. Meskipun banyak juga ikhwan dan akhwat yang bergaul nyaman dengan lingkungan di luar golongan mereka.

Orang awam cenderung melihat dari ciri-ciri para ikhwan dan akhwat itu. Para ikhwan sering dikesankan dengan pemuda yang berjenggot, bercelana cingkrang di atas mata kaki, kadang tidak lepas dari baju gamisnya, berdahi menghitam, dan ciri-ciri lainnya. Para akhwat juga dicitrakan sebagai para pemudi yang memakai jilbab lebar, burqa, memakai abaya, dan ciri-ciri lain yang sudah melekat pada pikiran masyarakat pada umumnya.

Dan kata akhwat juga sudah menjadi hegomoni seorang yang berjilbab besar. Padahal, akhwat ataupun ikhwan, hanyalah kata bahasa Arab biasa yang berarti wanita atau pria. Jika kata-kata ikhwan dan akhwat itu terus bermakna aktivis dakwah, jangan-jangan malah kata-kata itulah yang membuat dakwah tidak berjalan dengan lancar. Jangan-jangan, kata itulah yang telah mempersulit dakwah. Jangan-jangan, kata itulah yang membuat dikotomi sesama umat Islam. Jangan-jangan, sudah terjadi pembedaan. Jangan-jangan, akan mudah mengakibatkan perpecahan umat. Kemudian pula ada sebutan ikhwit yang kemudian dikenal untuk menyebut seorang wanita yang memakai jilbab kecil (yang sebenarnya tidak layak juga disebut jilbab, sebut saja kerudung atau khimar).

Maka, kemudian aku ikut tersenyum saat tokoh utama dalam novel tersebut menceritakan kepada teman-temannya (saat dia dirawat di rumah sakit), bahwa rata-rata perawat yang ada di rumah sakit itu adalah akhwat, lalu kemudian dia menunjuk seorang perawat yang memakai baju putih, rok pendek dan bertopi kecil putih, yang kemudian disambut senyum teman-temannya. Padahal, yang dikatakannya adalah benar, bahwa perawat itu adalah seorang wanita, yang tentu saja juga bisa disebut akhwat.

Kiriman yang Sama

Televisi (bagian 3)

Sebenarnya banyak sekali program pembodohan dan pembohongan publik di tivi, ada yang terang-terangan namun banyak juga yang terselubung. Beberapa di antaranya adalah acara-acara terutama acara musik.

Secara logis, acara musik, apalagi yang live, harusnya menampilkan penyanyi yang menyanyikan lagu secara langsung. Namun nyatanya, tidak banyak acara musik live yang menampilkan penampilan penyanyi yang menyanyi langsung. Kebanyakan lipsync, dan penyanyinya hanya pura-pura menyanyi saja. Kalo penampil tersebut grup band, terkadang hanya penyanyinya saja yang live, tapi pemain band yang lain yang berpura-pura main band.

Biasanya antara pura-pura dan tidaknya terlihat dari gerakan bibir, power bernyanyinya, aransemen, atau ciri-ciri terlihat yang lain. Bisa juga dengan gaya bernyanyi yang terlihat berlebihan.

Bagi penonton yang menyaksikan langsung di TKP, mereka mendapat keuntungan karena melihat artis pujaan mereka bernyanyi secara langsung di depan mata mereka. Sedangkan bagi yang melihat lewat televisi, tidak ada keuntungan secara signifikan. Maka tidak berlebihan kalo kemudian band Padi pernah menyatakan bahwa mereka lebih baik bubar daripada harus main lipsync, karena alasan yang telah aku uraikan di atas. Menurut mereka pula, daripada liat mereka main lipsync, lebih baik liat video klipnya karena sama saja.

Sekali lagi, ini adalah untuk keuntungan besar industri pertelevisian, karena penyanyi yang tidak bernyanyi pastinya harganya tidak sama dengan penyanyi yang bernyanyi secara langsung. Dengan ditampilkannya para penyanyi, stasiun tivi akan mendapatkan keuntungan dengan datangnya banyak sponsor dan penonton, yang keuntungannya tidak akan berkurang banyak jika si penyanyi itu hanya berpura-pura bernyanyi dan hanya memanfaatkan lambang popularitas mereka untuk menyedot keuntungan.

Dari Blog Sendiri

Jumat, 30 September 2011

Televisi (bagian 2)

Lalu bagaimana dengan gerakan dakwah Islamiyah lewat televisi? Cukup menggairahkan, banyak tayangan dakwah bermunculan (terutama kalo bulan Ramadhan), bahkan ada tayangan yang tayang di jam yang tidak lazim digunakan untuk tayangan dakwah, di siang hari. Padahal biasanya tayangan dakwah disiarkan pagi hari setelah Subuh, atau kadang malam ato sore hari (di televisi lokal). Dengan penceramah dan tema yang bervariasi, pemirsa bisa memilih sendiri mana yang ingin mereka saksikan.

Tetapi sebenarnya, tayangan dakwah itu terkadang mencerminkan apa yang dipercayai oleh sang pendakwahnya, bukan dalam pemahaman umum. Sehingga kemudian muncul kesan bahwa tayangan tersebut eksklusif hanya untuk kalangan tertentu saja, yang juga menganut paham yang sama. Aku masih ingat betul gimana masalah ibadah berdasarkan salah satu madzab yang diangkat oleh seorang pendakwah. Kebetulan sang pendakwah menerangkan tentang tata cara ibadah haji yang dalam salah satu madzab dilarang, tetapi dibenarkan dalam madzab lain. Maka, saat melaksanakan ibadah haji, jika terpaksa harus melakukan tata cara tersebut, maka jamaah tersebut harus berganti madzab dulu, kemudian kalo udah selesai prosesi hajinya bisa balik lagi ke madzabnya.

Kemudian pertanyaannya, gimana tuh tata cara berganti madzab? Apakah berganti madzab disamakan seperti berganti agama? Padahal tata cara ibadah yang benar sesungguhnya berasal dari Rasulullah Muhammad SAW. Imam madzab menjelaskan tata caranya, dengan pemikiran yang sangat mendalam. Dan meskipun saat dalam suatu madzab tidak diajarkan suatu tata cara beribadah yang diajarkan oleh imam madzab yang lain, namun imam madzab tersebut tidak ragu untuk melakukan tata cara ibadah dari imam madzab yang lain, jika tata cara tersebut ada dalam tuntunan beribadah Rasulullah SAW.

Pada kenyataannya tayangan tersebut yang membuatku mempunyai pemikiran di atas, bahwa setiap pendakwah punya paham keislaman yang berbeda, yang kemudian dibawanya saat berdakwah. Akibatnya terjadilah marjinalisasi gerakan dakwah itu sendiri, dan yang lebih memberatkan, dakwah tersebut ditayangkan lewat televisi yang kemudian disiarkan dan disaksikan oleh masyarakat umum. Sehingga saat ada segolongan masyarakat yang berbeda paham dan kemudian mereka berpikiran sempit, dengan mudah akan timbul kesenjangan dan perselisihan di antara golongan tersebut. Padahal, Islam itu satu, hanya cara memandang dan memahami yang diyakini berbeda antar umat Islam itu sendiri.

Jadi, tetaplah jadi pemirsa yang kritis (bukan kritis seperti yang ada di UGD), pintar memilah dan memilih tayangan yang tepat, dan berpikir cerdas terhadap segala gambar yang keluar dari kotak (meskipun sekarang bentuknya gak selalu kotak) ajaib ini.

Dari Blog Sendiri

Rabu, 28 September 2011

Televisi

Hampir di setiap rumah di Indonesia punya televisi, bahkan beberapa rumah punya lebih dari satu televisi. Seolah-olah, siaran televisi itu mempunyai sihir tersendiri bagi pemirsanya. Banyak hal yang bisa didapat dari televisi, ada yang positif, tapi banyak juga yang negatif. Media elektronik seperti televisi masih merupakan sarana efektif sebagai media penyiaran yang mampu menjangkau hampir setiap lapisan masyarakat, sehingga berbagai pihak bisa menggunakannya untuk kepentingan apapun.

Siaran televisi saat ini didominasi oleh banyaknya sinema elektronik, atau kita lebih sering menyebutnya sinetron. Baik berupa sinetron berseri (yang membosankan), ataupun juga sinetron sekali tayang (yang agak memaksakan cerita). Secara umum, sinetron yang ada sekarang berbeda dengan sinetron di era 90-an, misalnya. Secara cerita saja, sinetron masa itu menyiarkan realita kehidupan (yang lebih realistis). Mungkin yang sudah bisa melihat tivi saat era 80 sampai 90-an masih ingat sebuah sinetron yang berjudul ‘ACI (Aku Cinta Indonesia’, sebuah sinetron remaja jadul tapi kaya hikmah dan motivasi. ACI memang sebuah sinetron remaja, tapi beda dengan sinetron remaja sekarang, ACI tidak menampilkan cerita percintaan anak remaja, yang sekarang muncul di sinetron-sinetron remaja, bahkan anak-anak kecil pun dalam sinetron udah diceritakan dengan cerita percintaan pula. ACI merupakan contoh sinetron yang cukup berkualitas dan mendidik, yang jaman sekarang tidak ada hal seperti itu. Di tahun 90-an, di awal-awal televisi
swasta juga ada sinetron yang mendidik (malah mengajarkan pendidikan dan pelajaran sekolah), tapi kemudian tidak ada kelanjutannya (mungkin hal seperti itu gak laku kali ya?!).

Kalo dalam hal soundtrack, sinetron jadul punya lagu sendiri yang bukan lagu yang beredar luas, tidak seperti sekarang yang mengambil dari lagu-lagu yang sedang dan akan ngetrend (selain juga untuk mendongkrak penjualan album lagu tersebut). Makanya, dulu aku pernah bertanya-tanya ketika dalam sebuah penghargaan sinetron dikatakan bahwa soundtrack adalah lagu yang dibuat berdasarkan isi cerita sebuah sinetron, padahal saat itu sinetron dibuat setelah adanya lagu soundtracknya dengan isi cerita yang memaksakan.

Dari ceritanya pun, udah bisa ditebak gimana sinetron Indonesia jaman sekarang, gak jauh-jauh dari tema percintaan, hamil di luar nikah, hubungan terlarang, tidak disetujui oleh orangtua, kejahatan terencana yang di luar batas, iri, dengki, hasut dan teman-temannya, ditambahi dengan persekongkolan terselubung, orang-orang teraniaya, dll.  Makanya ada suatu penelitian bahwa perencanaan kejahatan di sinetron bisa dipraktekkan di dunia nyata, suatu bukti bahwa sinetron mengajarkan metode kejahatan yang bisa mengelabui korban dengan mudahnya.

Aku jadi ingat saat pernah tinggal di Malang, bersama teman-teman satu kos kami melihat suatu sinetron yang tayang perdana di televisi. Aku tidak menyaksikan sampai habis karena kemudian aku masuk kamar dan dengerin musik. Saat sinetron habis, teman sekamarku masuk kamar kemudian bercerita bahwa akhir dari sinetron itu udah bisa ditebak dari episode pertama. Saat sinetron itu kemudian berakhir, aku inget bahwa tebakan temanku tadi tepat dalam hal ceritanya, yang tidak tepat adalah ternyata episode sinetron tersebut diperpanjang dan dibuat sequelnya.

Kalo udah kayak gini, generasi sekarang merupakan generasi didikan televisi. Apapun yang ada di televisi bisa terekam dan dipraktekkan secara gampang bahkan oleh anak kecil sekalipun. Dalam salah satu cerpen yang sempat aku baca, seorang anak sejak kecil sampai dia dewasa biasa mempraktekkan kejahatan yang cara dan petunjuknya dia lihat di televisi, tanpa sadar bahwa dia telah berbuat kesalahan besar. Dalam menyikapi hal-hal yang negatif untuk anak-anak, bimbingan orangtualah yang dibutuhkan untuk memberi pendidikan yang tidak didapat dari tayangan televisi. Setiap orangtua punya caranya masing-masing dalam melaksanakannya, yang paling penting hasil keluaran dan pendidikan untuk anak-anaknya tetap terpelihara dari pengaruh negatif televisi.

Dari Blog Sendiri

Daftar Blog Saya