Tanya Dilema

Suatu pagi, di tengah-tengah pekerjaan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan di Facebook Messenger dari seorang temanku.

Seperti Nemo

Ada satu film yang bagiku aneh banget, yaitu Finding Nemo. Inti ceritanya kan ada seekor ayah ikan yang mencari anaknya. Yang aneh itu ternyata ikan ini bisa ngomong. Padahal kalopun ikan bisa ngomong, kan ikan ini ada di dalam air. Coba kita aja yang ngomong di dalam air, kedengeran nggak sama temen kita yang ada di deket kita.

Pakai Bahasa Indonesia

Dari sejak blog pertamaku aku selalu pengen mempertahankan ke-Indonesiaanku, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia di setiap tulisan blogku. Bukan karena aku nggak bisa bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau India, bukan! Tapi sebenarnya emang nggak bisa sih, tapi bukan itu maksudnya.

Hobi

Hobiku adalah membaca. Aku mendapatkannya dari sebuah majalah anak-anak. Jadi gini awal ceritanya, waktu itu ibuku mengirimkan foto dan dataku ke sebuah rubrik koresponden di majalah anak-anak itu. Dan di bagian hobinya, ibuku menuliskan kalo hobiku adalah membaca.

Power Bank

Di jaman gadget seperti sekarang ini, keberadaan smartphone menjadi bagian kehidupan bagi beberapa orang. Tapi di balik kecanggihan dan segala kelebihannya, ada salah satu sisi di mana smartphone justru lebih boros dalam pemakaian daya baterainya.

Rabu, 22 April 2015

Keunikan di Jalan

Sebagai orang yang sering berada di jalanan, dengan mengendarai motor, aku sering menemui hal-hal yang mungkin aneh, unik, atau malah ngeselin. Salah satu yang ngeselin adalah kalo ketemu ibu-ibu di jalan, mengendarai motor, dia nggak kencang, tapi juga nggak pelan. Kecepatannya konstan banget. Yang bikin kesel itu, dia jalannya nggak di tepi jalan, tapi agak nengah gitu.

Mau nyalip lewat kiri, dari depan kendaraan rame banget. Mau nyalip dari kanan, takutnya tau-tau dia jalan minggir. Dan kalo model kaya gini, mau nyalain klakson juga kadang nggak mempan. Bisa kalah sama omelannya.

Pernah ya dulu aku naik sepeda, di pertigaan tiba-tiba dari kanan ada ibu-ibu, naik sepeda juga. Tanpa tengok-tengok, nggak ngasih tanda, tau-tau dia motong jalur bersepedaku. Kadang di sini mau negor juga segan ya. Khawatirnya pas negor ‘Bu, kasih tanda dulu dong!’, eh tiba-tiba dia bilang ‘Uh, dasar cowok, nggak peka…’.

Kan bikin kesel ya, tar bisa-bisa malah terjadi obrolan nggak penting. Bisa aja tau-tau aku ngejawab ‘Emang saya salah apa Bu?’, si ibu ngejawab ‘Pikir aja sendiri!’. Kan kalo udah gini malah bikin bingung, kalo aku bilang ‘Saya nggak tau Bu.’ Si ibu akhirnya bilang ‘Emang ya, semua cowok sama saja!’

Yang bikin heran di jalanan lagi adalah nemuin orang naik motor, pake jaket tapi dibalik. Ini maksudnya gimana gitu. Aku kira gambar jaket yang bagian belakangnya lebih bagus daripada bagian depannya, pas diliat ternyata bagian belakangnya nggak ada gambarnya, polos gitu.

Padahal para perancang jaket itu udah merancang jaket sedemikian rupa, yang bisa nyaman dan aman buat dipakai. Tapi seolah-olah orang-orang ini menganggap para desainer ini salah, sehingga perlu direvisi lagi. Apalagi orang-orang yang nggak hanya pake kebalik, bagian belakangnya dipake di bagian depan. Yang ekstrim bagian lehernya dipake di bawah.

Ada lagi keunikannya adalah orang yang megang setir menghadap atas. Normalnya orang megang setir kan tangannya menghadap ke bawah, muntir gas juga lebih nyaman. Ini ada orang yang berkebalikan.

Dan yang paling unik dari semua yang aku sebut di atas, tentu aja ketemu ibu-ibu yang naik motor, dengan kecepatan konstan, jalan di tengah, pake jaket terbalik, dan tangannya menghadap ke atas.

Senin, 13 April 2015

Blokir

Akhir-akhir ini lagi marak berita tentang pemblokiran situs-situs tertentu oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi, dengan rekomendasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, sebut saja BNPT. Karena situs-situs ini dinilai menyebarkan nilai-nilai radikalisme.

Dan banyak tanggapan bernada protes tentang aksi pemblokiran ini. Aku jadi berpikir-pikir, jangan-jangan suatu ketika blogku ini diblokir juga, karena menyebarkan nilai-nilai radikalisme. Iya, radikalisme dalam berpikir ngaco.

Pernah sih suatu ketika kena blokir, pas ada orang hajatan gitu. Jalan ditutup, mau lewat nggak bisa, harus putar balik. Ini kan jadi menghambat jalur transportasi ya. Masa orang punya hajat harus gitu-gitu amat sih?

Aksi blokir sering aku lakuin buat kontak Facebook. Ada akun yang suka bikin status misuh-misuh, blok. Akun yang suka bikin status ngeluh, blok. Sampe ada akun yang suka bikin status, aku blok juga. Pokoknya kalo ada kontak yang senengnya kirim hal-hal yang nggak mendukung program mencerdaskan kehidupan bangsa gitu, aku blok aja, biar nggak memberatkan pikiran.

Di telepon seluler itu juga ada fasilitas ngeblok nomor, yang kalo nomornya diblok mereka jadi nggak bisa telepon kita, atau SMSnya nggak masuk ke kotak masuk pesan. Aku sering juga pake fasilitas itu. Tapi sayangnya, fasilitas ini nggak bisa ngeblok SMS dari operator. Tiap hari ada aja SMS masuk dari operator. Udah disempat-sempatin buka telepon seluler buat ngecek pesan, karena bunyi ada pesan masuk, eh ternyata malah SMS dari operator.

Harusnya BNPT itu juga menggolongkan hal seperti ini sebagai aksi teror juga. Niatnya operator sih sebenernya promo fitur atau produknya, tapi kan bagi pengguna hal seperti ini seakan-akan bisa jadi teror. Kalo aja di dalam dunia teror itu berlaku juga sistem delik aduan, lama-lama para operator ini bisa diblokir sama Kementerian Komunikasi dan Informasi, gara-gara bikin teror promo SMS. Dan karena operator kita diblokir, kita jadi nggak bisa pake jasa operator. Tar telepon seluler punya kita jadi berfungsi buat alarm sama buat liat jam aja deh.

Minggu, 05 April 2015

Hamster

Jadi terhitung tahun ini, udah tiga tahun aku miara hamster, hewan imut dan lucu yang tingkat keimutan dan kelucuannya udah ngalahin pemiliknya. Banyak pengalaman pahit dan manis, asem dan asin, yang didapat dari ngerawat mereka.

Pertama beli hamster itu jenis Campbell. Jadi hamster itu juga ada berbagai jenis gitu, yang masing-masing punya karakteristik dan keistimewaan tersendiri. Campbell yang aku beli adalah varian Black Mottled sama Normal Mottled. Tadinya nggak tau nama varian ini, soalnya yang jual bilangnya ini varian panda sama dominan. Sekilas aku liat, emang sih warnanya kaya panda, tapi kok nggak makan bambu ya.

Ngerawat hamster dari nol, dan hanya berbekal sedikit keterangan dari penjualnya, bikin aku harus nyari sumber lain buat ngorek-ngorek data tentang hamster ini. Beruntungnya, tiga tahun yang lalu itu udah ada internet, jadi bisa nyari di situ. Dari internet ini, aku nemuin forum pecinta hamster di Kaskus.

Dari sini, banyak banget yang bisa diambil pelajaran. Dan sebagai pemula, aku nggak mau terlalu lama. Aku harus bisa masuk ke tahap lanjutan sebagai perawat hamster. Makanya, tiap ilmu yang ada langsung aku ambil dan terapkan.

Beralih ke media lain, dapat grup juga di Facebook. Sama kaya sebelumnya, di sini banyak dokumen yang mendukung. Ditambah lagi dapat teman-teman yang nggak pelit ngasih hujatan dan ilmu. Bahkan akhirnya ketemu penghobi hamster juga di Kediri. Ilmu semakin banyak, ngerawat hamster pun bisa lebih baik lagi.

Berawal dari sepasang, nambah-nambah lagi, sampai ada yang beranak juga, sempat menyentuh angka 50 ekor piaraanku. Ada beberapa cerita berdasarkan pengalaman pribadi. Yang pertama adalah nggak semua hal yang dilakukan oleh pedagang atau peternak hamster itu benar. Ada beberapa hal yang malah bikin bahaya bagi hamsternya sendiri. Seperti yang aku alami tadi, bahwa nggak ada yang namanya hamster varian panda atau dominan.

Atau pemberian makanan buat hamsternya. Kalo banyak orang yang seenaknya aja ngasih makan hamster, dengan alasan ‘hemat duit’, ‘hamsternya doyan’, atau ‘biasanya sih gitu’, mestinya nggak semua makanan itu cocok buat hamster. Ada beberapa makanan yang malah jadi racun buat hamster.

Yang berikutnya adalah pengalaman mengembangbiakkan hamster itu. Karena salah-salah, ibu hamster yang melahirkan bisa makan anak-anaknya sendiri. Pernah suatu ketika ada indukan yang ngelahirin, dan aku pisah dengan pejantannya. Anaknya habis dimakan! Sampe dua kali kejadian kaya gitu. Tapi di lahiran yang ketiga, aku sengaja nggak pisahin dengan pejantannya. Anaknya selamat! Padahal udah diniatin, kalo kali ini anaknya habis lagi, nggak bakal aku kawinin lagi.

Dan dari indukan ini, aku jadi tau bahwa pejantan itu nggak akan makan anaknya sendiri, kalo betinanya nggak mulai. Ceritanya waktu itu si betina ngelahirin 5 ekor, tapi kemudian dia mati. Anak-anaknya ikut mati beberapa saat kemudian. Aku baru tau pas ngeliat ke kandangnya, si pejantan ini menyusun anak-anaknya yang udah mati di tempat makannya, seakan-akan bayi-bayi ini masih hidup.

Pengalaman berikutnya saat ada betina yang melahirkan, padahal nggak dicampur sama pejantannya. Jadi untuk mengontrol jumlah populasi, induk akan dipisah saat betinanya melahirkan. Betina yang satu ini aku dapat dalam keadaan hamil, kemudian aku satuin sama pejantan yang aku punya. Nggak berapa lama si betina ini lahiran, dan aku pisah dengan pejantannya. Jadi sebenernya bayi-bayi ini adalah hasil perbuatan pejantan yang lain.

Tapi nggak seberapa lama, sekitar dua minggu berikutnya, betina ini lahiran lagi. Dan kalo diamati, ini adalah hasil perbuatan pejantan yang aku satuin sebelum lahiran itu. Jadi, dari dua pejantan, betina ini mengalami dua kali lahiran, dengan jarak yang nggak jauh beda. Padahal kisaran masa hamil hamsterku ini antara 14 sampai 21 harian gitu.

Sekarang hamster yang ada dalam perawatanku tinggal enam ekor, dari tiga jenis, Campbell, Hybrid, sama Roborovski. Seterusnya aku masih pengen terus merawat hamster, karena kebanyakan penghobi hamster yang sejaman denganku dulu, sekarang udah nggak lagi miara hamster.

Sabtu, 04 April 2015

Proses

Kita semua, sebagai manusia yang hidup, pasti mengikuti proses. Dan seringnya, kita nggak menyadari proses itu. Tau-tau, di titik kita sekarang ini, melihat dokumentasi masa lalu, kita nyadar, ‘Owh, ane dulu kok kaya gitu ya…’.

Misalnya liat foto kita beberapa taun yang lalu, sontak kita bilang ‘Eh, dulu aku kurusan ya…’, atau ‘Dulu aku culun banget!’. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata itu kita, dan kita nggak nyadar.

Misalnya lagi kalo ketemu temen lama, temen sekolah yang udah beberapa tahun yang ketemu, tau-tau ketemu dan bilang ‘Kamu kok jadi gini ya?’. Padahal dia sendiri juga berubah, tapi nggak nyadar.

Dan namanya proses ini masih terus berjalan, belum berhenti. Terus berjalan, dan tetep, nggak nyadar. Tau-tau tua.

Dari proses ini banyak pembelajaran yang kita dapatkan, kebanyakan sih dari pengalaman yang kita alami sendiri, atau yang dialami orang lain. Perpaduan antara kisah hikmah, rasa pahit, manis, asem, pedes, sampe hambarnya hidup, nyampur menjadi pengingat hidup yang melekat dalam kehidupan ke depan kita.

Tapi tentu aja, yang namanya proses kaya gitu, nggak harus tiap hal yang kita alami perlu diinget-inget terus. Ambil aja intisarinya, pembelajarannya, sama pengalamannya. Jadi kalo misalkan mau diceritain ke orang lain nggak usah terlalu detail. Orang lain itu kalo diceritain juga sering nggak mau repot ngedengerin. Cukup intinya aja.

Tulisan ini terinspirasi dari berkumpulnya aku dengan teman-teman SD dalam grup WhatsApp, kemudian kami mengenang apa yang kami lakukan di masa lalu. Dan akhirnya kami baru nyadar, udah hampir dua puluhan tahun kami meninggalkan SD itu.

Kamis, 02 April 2015

Antara Sekolah dan Hujan

Hujan itu lebih sering turun di siang, sore, atau malam hari. Jarang turun di pagi hari. Apa mungkin hujan kalo pagi sekolah dulu ya?

Kenapa kali ini aku mengkaitkan sekolah dengan hujan? Padahal dua hal ini beda bidang, dan beda spesialisasi. Itu dikarenakan banyak kenangan yang berkaitan saat dua hal ini bertemu dalam satu potongan kisah kehidupan di masa lalu.

Kalo pas TK dulu, nggak ada hubungan antara sekolah sama hujan. TK kan paling banter, jam 10 pagi udah pulang. Nggak sempat ketemu hujan kalo turunnya siang. Lagian kalo hujannya mulai pagi, mending nggak usah masuk.

Di SD banyak kenangannya. Misalnya pernah pas masuk siang, waktunya pelajaran olahraga, eh hujan turun deras banget. Akhirnya nggak ada pelajaran, yang ada malah main hujan-hujanan. Atau karena masuk siang pulangnya sore, pas hujan bingung pulangnya. Andalannya cuma nunggu jemputan yang bawain payung.

Kalo pas SMP, salah satu kenangan paling berkesan dengan hujan adalah pas masuk siang, listrik di sekolah padam. Dan karena SMP kami nggak dapat bantuan UPS dari DPRD, didukung dengan hujan lebat, maka di kelas jadi gelap. Ditambah lagi pelajaran belum usai, maka kami dapat jatah lilin di masing-masing kelas. Jadilah kita belajar di kelas dengan penerangan lilin.

Yang paling banyak dapat pengalaman sekolah dan hujan adalah pas sekolah di STM. Karena ke sekolah itu naik sepeda, maka hujan adalah salah satu rintangan tersendiri selama perjalanan. Kalo pas berangkatnya sih jarang banget kehujanan, bahkan bisa dibilang cuma sekali yang aku ingat kehujanan. Waktu itu pas hari membengkel, pagi-pagi udah gerimis. Karena pake sepeda gunung, yang nggak ada slebornya, sehingga cipratan air di tanah bisa balik ke punggung. Akhirnya seragam putihku pun menjadi bercorak garis dorsal sepanjang punggung, gabungan antara air kotor dan tanah.

Salah satu pengalaman yang paling menegangkan itu ketika nekad menembus hujan pas pulang sekolah. Karena rumah udah tinggal sekitar tiga kilometer lagi, dan hujan turun, nanggung banget kalo harus berteduh, akhirnya aku nekad menembus hujan itu. Sayangnya, hujannya nggak mau ditembus oleh seorang siswa STM yang hanya mengandalkan sepedanya. Hujannya makin lebat, sehingga efek yang terjadi kemudian adalah aku merasa seperti orang yang mau tenggelam di waduk. Dan akhirnya aku menyerah. Berhenti sebentar, berteduh.

Yang sering jadi kepikiran kalo pas kehujanan gitu adalah gimana nasib buku-buku di dalam tasku. Emang kebanyakan sih jadi basah. Yang lain adalah, gimana nasib sepatuku ini. Karena aku hanya punya sepasang sepatu, kalo sore ini pas pulang sekolah kehujanan, dan nggak dimasukin kantong plastik, besok pagi aku pasti berangkat sekolah pake sepatu yang setengah kering, sebagian besar basah. Kalo jalan, jadi ada bunyi semacam percikan air gitu.

Dan karena udah terlalu keseringan kehujanan, maka di akhir-akhirnya aku bawa jas hujan kalo ke sekolah. Agak ngrepotin sih, tapi ada gunanya juga. Meskipun kadang kalo cuma hujan gerimis aja juga nggak aku pake, takut jas hujannya basah. Kalo basah kan, garansinya ilang.

Ada satu lagi kenangan hujan dan sekolah adalah, kalo hujan lebat, daerah antara SMAN 1 sampai SMA St. Agustinus Kediri itu banjir. Soalnya konon kabarnya, dulunya daerah situ rawa, airnya gampang menggenang. Dan parahnya, sistem saluran pembuangan airnya juga nggak beres. Jadi, kalo abis hujan lebat sore ini, besok paginya kita akan melihat anak-anak SMAN 1 berjejer di depan sekolah, sambil mengamati genangan air, dan mungkin ada yang merenung, ‘Air sebanyak ini bisa dibikin apa ya?’, atau ‘Air banyak gini, buat mi rebus dulu ah…’. Dan di sela-sela anak-anak ini, ada juga yang meneriakkan ‘Asyik, libur…’.

Dan daerah antara SMKN 1 Kediri, pagar paling timur sampe pagar paling barat, juga tergenang air. Tapi kami nggak ada tuh, yang duduk terdiam di atas genangan air, sambil berpikir ‘Ane sakti nih, bisa duduk di atas air…’, atau tiba-tiba ada yang punya prospek usaha bikin air isi ulang kemasan galon. Kita tetep aja masuk sekolah, kaya biasanya. Soalnya beda dengan keadaan di SMAN 1, yang banjir di sekolahku kan depan sekolah doang, kelasnya nggak.

Senin, 30 Maret 2015

Kerja Bersepeda

Aku sering ke kantor dengan naik sepeda. Ini sebenernya adalah keinginan sejak lama. Tapi karena sepeda fixieku yang dulu hilang, dan beberapa waktu nggak punya sepeda, keinginan ini jadi agak terhambat. Akhirnya beberapa bulan yang lalu, aku bisa membeli sepeda, meskipun bekas, dengan harga yang sangat murah pula, hanya seratus tujuh puluh lima ribu rupiah aja. Meskipun bekas, dan perlu banyak pembenahan, kegiatan bersepeda jadi bisa dilakukan lagi.

Dan ke kantor naik sepeda itu banyak halangannya. Terutama adalah karena jalan ke kantor itu menuju ke arah Gunung Kelud, sehingga jalannya sedikit menanjak. Jarak yang sepuluh kilometer itu nggak terlalu bermasalah sih, daripada jalanan menanjak itu.

Dan karena jalan utamanya menanjak dengan tanjakan yang cukup kerasa, aku sering lewat jalur dalam, melewati jalan-jalan desa. Ya karena selain alasan itu, lewat jalan desa itu juga menghindari kepadatan dari kendaraan lain. Maklum, yang namanya orang bersepeda itu sering nggak dianggap sama kendaraan-kendaraan lain yang lebih besar. Sama truk, atau sama bis, atau yang lebih besar lagi sama pesawat terbang, atau kapal laut.

Selain itu, lewat jalur desa itu menghindarkan diri dari kebosanan. Kalo biasanya ke kantor naik motor lewat situ, naik sepeda lewat situ juga, lama-lama juga bosan. Makanya cari variasi.

Seperti yang aku bilang tadi, jalur berangkat ke kantor itu menanjak. Bahkan baru keluar gang aja, udah kerasa capek. Padahal kalo pas lagi bersepeda santai, nggak pas kerja, rasanya biasa aja. Lewat jalur jalan desa juga menanjak sih, tapi lebih landai daripada jalur besar. Dan pastinya sampe kantor udah dalam kondisi berkeringat deras, kaki pegal, tangan kesemutan, sampe tenggorokan kering, bibir pecah-pecah.

Dari kerja bersepeda itu, yang paling bisa dinikmati adalah perjalanan pulangnya. Udah pasti kayuhannya lebih ringan. Sambil menikmati jalan pulang, ironisnya aku juga menikmati jalur yang tadi paginya aku lalui dengan kerja keras.

Tapi emang kadang capek itu sering bikin ketagihan. Biarpun hari ini capek, sampe seolah-olah ogah-ogahan, besoknya pengen lagi.

Dan kerja bersepeda ini seakan mengulang waktu dulu sekolah di STM. Jarak rumah ke sekolah yang sekitar 12 kilometer juga aku tempuh naik sepeda. Dan rasanya sama kan, sama-sama capek. Tapi udah gitu, bikin seger.

Hal yang aku lakuin biasanya kalo udah nyampe kantor adalah istirahat, minum susu, sambil nunggu keringat kering ngerjain kerjaan. Keringat udah kering, mandi dulu, trus lanjutin kerjaan. Dan karena perlu mandi di tempat kerja, akhirnya nyediain peralatan kosmetik mandi di kantor. Sikat gigi, pasta gigi, sabun, parfum, handuk, sampe semen, koral, sama pasir, semua harus tersedia lengkap di tempat kerja. Biar nggak tampil sekusut mungkin.

Minggu, 29 Maret 2015

Nyebut Merk

Dalam keseharian hidupku sebagai manusia, aku berusaha sebaik mungkin untuk nggak nyebut sebuah barang bukan dengan jenis atau nama barangnya. Artinya nggak nyebut sebuah barang dengan merknya. Misalnya kalo pas beli air minum, sebisa mungkin nggak bilang, ‘Pak, beli Aqua dong!’. Atau pas beli aksesoris buat sepeda gunungku, aku menghindari bilang ‘Bang, beli setangnya sepeda Federal.’.

Tapi sepandai-pandainya aku menghindar, tetap masih aja kadang terpaksa harus nyebut merk. Misalnya pasta gigi, aku harus nyebut Odol. Soalnya aku bingung, gimana nyebut pasta gigi dalam bahasa Jawa, kan nggak mungkin dibilang barang jemek sing nggo untu.

Atau yang paling parah adalah pengalamanku pas beli pompa air. Aku bilang ke penjaga tokonya ‘Mbak, beli pompa air.’
Si mbaknya bingung sambil nanya, ‘Pompa air opo, Mas?’
Setengah ngejelasin sambil berusaha ngegambarin pompa airnya, aku jawab ‘Itu lo Mbak, pompa air listrik.’
Si mbak masih keukeuh ‘Kayanya nggak ada Mas!’
Dan akhirnya, aku harus nyebut itu merk ‘Sanyo itu lo Mbak!’
Mbak-mbaknya juga akhirnya ngejawab ‘Owh, itu ada.’
Aku nambahin ‘Merknya Shimizu, Mbak.’

Gini kan jadinya. Orang umumnya nyebut pompa air itu dengan merk, yaitu Sanyo. Padahal aku belinya yang Shimizu.

Satu lagi merk terkenal yang jadi nama sebuah barang, Kodak. Masih aja ada orang yang bilang ‘In, pinjam Kodakmu dong!’, padahal kameraku merknya BenQ. Entah darimana, ‘BenQ’ bisa dia baca ‘Kodak’.

Tapi emang gitu kan, orang suka nyebut sesuatu dengan apa yang gampang disebut aja. Sialnya, salah satu yang gampang disebut itu merknya. Nggak heran, sering kejadian salah paham yang dialami oleh orang yang mengambil jalan lurus dengan menyebut barang dengan namanya, seperti aku tadi, dengan orang yang mengambil merk sebagai nama barang.

Sabtu, 28 Maret 2015

Babi Ngepet

Salah satu makhluk jadi-jadian yang melegenda di Indonesia adalah babi ngepet. Biarpun babi ada di mana-mana, tapi hanya di Indonesia ada babi ngepet. Belum pernah tuh denger di China ditemukan babi ngepet. Babi ngepet itu, kalo di dunia manusia dia dibilang siluman babi, kalo dia di dunia babi dia dibilang siluman manusia.

Ceritanya kan babi ngepet itu jelmaan orang yang nyolong barang, umumnya duit, di suatu tempat. Dan dia harus punya partner dalam bidang ini. Fungsi partnernya adalah jagain lilin. Soalnya kalo api lilin ini sampe goyang, si babi dalam masalah besar. Bukan si babinya sih lebih tepatnya, tapi orang yang jadi babi.

Nah, berhubungan dengan fungsi babi ngepet sebagai pencuri, muncul keheranan yang nggak abis-abis dari dalam hatiku. Masalahnya adalah, kenapa harus babi? Kan misal orang ya, jadi babi, trus dia nyolong di rumah orang. Kalo dia ketangkep, babi bisa apa? Dia nggak punya alat perlindungan diri yang memadai buat membela diri dari marabahaya.

Dan kalo pencipta trik babi ngepet ini sedikit lebih cerdas, dia harusnya bikin trik naga ngepet. Kalopun ketahuan, nangkap naga itu sulit. Selain dia gede, lincah, punya kaki, sering buang air nggak pake cebok, dia juga punya napas api. Kalo dia ketangkep, warga mau ngejar, tinggal ‘ehm’ doang, apinya keluar.

Kalo naga kegedean, coba beruang ngepet, atau macan ngepet, atau seenggaknya sigung ngepet lah. Pas si sigung ngepet ini ketangkep warga, dia langsung ngeluarin bau. Warga yang mau nangkap juga mikir-mikir kalo silumannya kaya beruang atau macan gitu.

Jumat, 27 Maret 2015

Antara Kapsul Bulma dan Bola Pokemon

Di jaman yang cukup modern ini, ada banyak hal yang dijadikan sesuatu yang instan, sehingga hidup lebih praktis. Contohnya, pengen makan mi, udah ada mi instan. Pengen bikin soto, udah ada bumbu soto. Jangan-jangan suatu saat nanti, kita bisa masak air tanpa pake air. Airnya instan.

Atau kita bisa bikin ayam goreng tapi nggak pake ayam. Tapi yang ini kayanya udah kejadian. Soalnya aku pernah liat di Kaskus, ada orang yang jual makanan, di gerobak tulisannya ‘Lele Fried Chicken’. Itu kan berarti ayam goreng, tapi nggak ada ayamnya. Yang kasian lelenya, dia dipaksa menyalahi kodratnya sebagai seekor lele, malah disuruh jadi ayam. Ayam goreng lagi!

Mungkin itulah yang ada di benak Akira Toriyama, pengarang cerita Dragon Ball. Bayangin, kendaraan atau rumah bisa dibawa ke mana-mana, pake kapsul! Butuh mobil, tinggal buang kapsulnya, jadilah mobil. Butuh rumah, buang kapsulnya, jadilah rumah. Atau Satoshi Tajiri, saat mendesain Pokemon. Dia menemukan bola, yang bisa diisi oleh monster-monster imut.

Sayangnya mereka nggak menguraikan secara detail, gimana cara bikin kapsul atau bola tadi. Gimana caranya bikin ekstrak rumah, yang dimasukin kapsul, dan akan otomatis kembali berbentuk rumah saat dilempar dan menyentuh tanah. Gimana pula cara bikin ekstrak tank, biar tentara-tentara yang lagi perang nggak lagi butuh kapal-kapal induk perang yang besar-besar gitu.

Atau gimana bikin bola yang nyaman buat kucing. Jadi kan bawa kucing ke mana-mana nggak usah pake keranjang. Bawa ikan cukup dimasukin bola. Bawa gajah buruan, tinggal lempar bolanya aja.

Trus gimana juga fasilitas yang ada di dalam bola tadi. Misalkan bolanya buat anjing ya, tar ada bola lagi di dalam, buat mainan anjing. Bolanya buat hamster, di dalam ada jogging wheelnya, ada kora-kora, sama ada terowongan hamster. Atau bola buat kucing, di dalam ada tikus mainan, ada bak tempat kotoran. Kalo perlu sekalian di dalamnya ada penjual ‘Lele Fried Chicken’ juga.

Hidup emang bisa jauh lebih praktis, tapi manusia bisa jadi jauh lebih manja.

Kamis, 26 Maret 2015

Ngeband

Seperti yang pernah aku ceritain di sebuah tulisan di blog ini, aku pernah ngeband. Iya, ngeband. Karir ngeband aku mulai dengan menjadi kentongan di masa kecil.

Bukan itu sih, tapi dimulai ketika SD, aku ikut drumband. Ngeband juga kan namanya. Karena bertubuh kecil dan lemah, aku pegang alat yang nggak ngeberatin kalo digendong dan diajak jalan. Karena itulah, aku langsung menolak pas disuruh ngegendong mayoretnya. Yang aku pilih adalah snare drum. Atau bahasa kerennya waktu itu adalah genderang.

Sejak pertengahan kelas 4, para siswa yang mau ikut drumband diperbolehkan ikut latihan tiap hari Kamis sore. Aku yang udah lama pengen ikut drumband, akhirnya meninggalkan masa-masa latihan kentongan. Lebih seriusnya, aku meninggalkan kegemaranku nonton film kartun di tivi, tiap hari Kamis sore.

Biasanya ikut drumband kaya gitu berlangsung selama 2 tahunan. Kami pernah main di luar kota, biasanya sih di kabupaten. Kabupaten kan luar kota ya. Jadi, karena sekolah kami letaknya di kabupaten, nggak ke mana-mana pun kami udah main di luar kota.

Paling jauh kami pernah main di Trenggalek. Nggak tau kenapa pastinya gimana bisa kami main di sana, apakah di Trenggalek nggak ada grup drumband yang nggak berisi anak-anak SD yang masih suka ngelap ingus apa gimana, yang jelas, kami main di sana. Waktu itu di karnaval, kalo nggak salah sih karnaval desa. Di depan grup kami ada mas-mas yang pake kostum kura-kura, jadi dia ngedesain supaya dengan pake kostum itu, dia keliatan naik kura-kura dan jalan-jalan keliling desa. Kami lebih banyak menghabiskan waktu buat mengagumi dan mengamati kostum kura-kura itu, daripada latihan drumbandnya.

Biasanya kalo tampil kan kita pake seragam, kita nyebutnya jaket. Emang kaya jaket gitu seragamnya, kain tebel, banyak aksesoris, kaya serdadu Belanda. Pokoknya kalo liat orang pake kostum ini udah kaya ngeliat kaleng biskuit gitu, yang ada gambar orang drumband di tutupnya.

Dapat jaket itu nggak gampang, karena yang disebut jaket itu, disimpan di dalam lemari yang bertempat di ruang kantor kepala sekolah, ukurannya bermacam-macam, dari kecil sampe super gede. Dan penempatannya nggak dikelompokkan, sehingga kita harus milih satu per satu.

Paling ngenes adalah pas kita dapat jaket, yang aksesoris emblemnya nggak ada. Aksesoris emblem itu semacam tambahan buat diselipin ke emblem jaketnya, dan pinggirannya ada hiasan rumbai-rumbai gitu. Padahal, bagiku bagian itulah yang cukup menarik buat diliat. Terkesan gagah dan berwibawa, terutama kalo aksesoris itu nggak dipake di topi.

Topi sendiri juga nggak gampang nyarinya. Sama kaya seragam tentara-tentara Eropa, topi ini bentuknya silinder tinggi, dan ada hiasan bulu di bagian depannya. Paling apes kalo dapat topi yang pas, tapi nggak ada bulunya. Itu serasa kita pas beli soto ayam yang enak banget, sotonya masih ada, tapi mangkoknya abis.

Dan nggak mungkin kita dapat mengganti bulu itu dengan bulu yang lain, misalnya pake bulu ayam. Atau kalo mau gampang beli suttlecock, trus bulunya dicabutin buat dipake di topi. Dan terlebih nggak cocok lagi, kalo pake bulu babi di topi.

Beres kostum dari sekolah, kita masih terbebani sama bikin celananya. Ya karena sekolah nggak mungkin nyediain celana. Selain ukurannya pasti beda-beda tiap anak, ada resiko penularan kejorokan anak-anak SD yang masih suka ngelap ingus pake ujung celana. Nggak banget, dapat celana yang bekas dipake anak lain, yang make celana itu buat main futsal.

Kalo nggak salah kita dapat kain sama hiasan pitanya doang dari sekolah. Bikinnya diserahin masing-masing. Untungnya dulu belum ngetren yang namanya skinny jeans. Coba ada anak yang bikin celana yang pake model gitu, dia pasti kesemutan selama start sampe finish.

Sepatu juga jadi kerepotan tersendiri, meskipun nggak terlalu. Karena sepatu putih kan tinggal beli sebenernya, repotnya cuma pada uang yang buat beli. Mungkin kalo pas waktu itu aku udah kreatif, aku bisa pake sepatu sekolah hitam aja, yang dicat putih.

Salah satu tampilan yang cukup berkesan selama karirku ikut drumband adalah pas ikut Porseni tingkat Kabupaten Kediri. Karena tingkatnya kabupaten, otomatis kami main di luar kota dong. Dan kebetulan kecamatanku adalah tuan rumahnya. Bukan kebetulan juga sih, soalnya dipilih gitu.

Berminggu-minggu kami latihan, digembleng, dibully senior, sampe dipalakin. Ini kaya anak SMA aja. Tapi ya gitu lah, intinya kami kerja keras, latihan hampir tiap pagi atau sore, nggak bisa nonton film kartun sore lagi. Aku masih ingat banget kata-kata motivasi pelatih kami, yang memberi kami wejangan dengan setengah memarahi. Kata beliau, kami mungkin yang terbaik di kecamatan kami, tapi kami belum yang terbaik di tingkat kabupaten. Kalo kami masih santai-santai, kami nggak dapat apa-apa. Kami cuma dapat malu.

Itulah cerita awal karir ngebandku, yang tentu aja peranku di grup drumband ini biasa-biasa aja. Seorang anak yang karena bertubuh pendek ada di barisan dua dari belakang, yang kalo pas tampil di jalan, ada sopir truk yang mabok dan nabrak rombongan kami, akan menjadi salah satu korban pertama.

Dan ngeband selanjutnya adalah di grup band yang sebenernya. Karena nggak bisa main gitar dan hanya berbekal suara yang fals, akhirnya aku memilih jadi drummis. Aku sebut drummis, karena coba liat yang lain, nama-namanya berakhiran ‘-is’. Vokalis, basis, keyboardis, pianis, gitaris, sampe penonton sinis. Tapi kenapa yang pegang dipanggil ‘drummer’? Ini kan diskriminasi! Makanya aku lebih suka nyebut drummis, biar lebih merakyat aja.

Dan sebagai drummis, aku bukan orang yang jago-jago banget mainnya. Asal bisa ngikutin tempo sama nada lagunya aja, jangan sampe drumnya salah kord atau salah nada dasar, gitu aja. Main juga yang intens pas udah kerja gitu, temen ngebandnya juga temen kerja. Jadi nggak punya dasar apa-apa tentang keterampilan berdruman yang baik dan benar. Latihannya sambil latihan.

Aku pernah cerita juga di salah satu tulisan di blog ini, bahwa kami pernah manggung. Sekali doang, di acara jalan santai yang diadain oleh tempat kerjaku. Abis itu, bandnya bubar. Soalnya kedua personilnya keluar kerja. Nggak pa-pa sih, yang penting kita dapat pengalaman manggung, yang untungnya nggak sampe dilemparin sama botol air mineral.

Oya, biarpun band amatir, band tetep harus punya nama. Dan bandku ini juga punya nama. Namanya ‘Tambal Band’.

Daftar Blog Saya