Tanya Dilema

Suatu pagi, di tengah-tengah pekerjaan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan di Facebook Messenger dari seorang temanku.

Seperti Nemo

Ada satu film yang bagiku aneh banget, yaitu Finding Nemo. Inti ceritanya kan ada seekor ayah ikan yang mencari anaknya. Yang aneh itu ternyata ikan ini bisa ngomong. Padahal kalopun ikan bisa ngomong, kan ikan ini ada di dalam air. Coba kita aja yang ngomong di dalam air, kedengeran nggak sama temen kita yang ada di deket kita.

Pakai Bahasa Indonesia

Dari sejak blog pertamaku aku selalu pengen mempertahankan ke-Indonesiaanku, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia di setiap tulisan blogku. Bukan karena aku nggak bisa bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau India, bukan! Tapi sebenarnya emang nggak bisa sih, tapi bukan itu maksudnya.

Hobi

Hobiku adalah membaca. Aku mendapatkannya dari sebuah majalah anak-anak. Jadi gini awal ceritanya, waktu itu ibuku mengirimkan foto dan dataku ke sebuah rubrik koresponden di majalah anak-anak itu. Dan di bagian hobinya, ibuku menuliskan kalo hobiku adalah membaca.

Power Bank

Di jaman gadget seperti sekarang ini, keberadaan smartphone menjadi bagian kehidupan bagi beberapa orang. Tapi di balik kecanggihan dan segala kelebihannya, ada salah satu sisi di mana smartphone justru lebih boros dalam pemakaian daya baterainya.

Jumat, 06 Desember 2013

Tokoh Bersejarah

Di sebuah episode kuis ‘Siapa Berani’, di babak terakhir, di mana seorang peserta yang berhasil menembus babak akhir bersama pendamping yang membantunya menjawab pertanyaan. Mereka tiba pada suatu pertanyaan tentang seorang tokoh asing yang namanya saja susah dieja. Kemudian salah satu dari mereka bertanya sambil menggumam pada dirinya sendiri dengan ekspresi percaya diri sok tahu dan serius, “Norman Schwarzkopf itu aktor apa sutradara ya?” Spontan aku yang tadinya kurang memperhatikan acara tersebut karena sedang mengerjakan sesuatu kemudian melotot ke layar televisi. Dan meskipun jawaban peserta tadi akhirnya benar, tapi dia juga kena sindir pembawa acaranya tentang gumamannya tadi sangat salah.

Mungkin memang bagi yang tidak tahu pertanyaan tadi sangatlah sulit dikira-kira, orang ini profesinya apa sih. Tapi bagi orang yang tau, gumaman seperti itu tentulah sangat konyol. Sebagai sedikit penjelasan, Norman Schwarzkopf terkenal sebagai jenderal yang memimpin pasukan sekutu dalam Perang Teluk di tahun 1990. Aku pernah membacanya dalam buku pelajaran Sejarah pada saat kelas dua SMK. Aku sering teringat-ingat bacaan tersebut karena sosoknya yang khas ditambah namanya yang aneh bagi orang Indonesia dan juga peran sebagai pimpinan pasukan, ditambah lagi dia terlibat dalam sebuah perang besar di era modern.

Mungkin kita jarang mengamati atau memperhatikan sejarah tokoh-tokoh dunia. Kita umumnya tidak tahu dari mana nama penghargaan Nobel berasal, atau bagaimana asal mula nama alat-alat yang bahkan kita temui setiap hari. Pengetahuan seperti itu mungkin bagi kita tidak penting, karena yang penting kita pakai alatnya saja. Pengetahuan seperti ini mungkin lebih dikuasai oleh para ahli sejarah dan pengetahuan, sehingga kita lebih memikirkan bagaimana hidup hari ini dan besok dan besoknya lagi daripada mengingat-ingat nama tokoh yang bahkan kita gak pernah tau.

Tapi melihat ‘kasus’ Norman Schwarzkopf tadi, mengingat sejarah menjadi cukup penting sebagai pengetahuan yang mungkin bagi masyarakat umum tidak penting, karena kita akan lebih mengerti dan memahami bagaimana situasi dunia yang sudah jadi saat ini terbentuk pada awalnya dan siapa saja yang berperan di dalamnya. Karena memang tidak mengenakkan menjadi katak dalam tempurung (bahkan menjadi katak di luar tempurung pun tidak mengenakkan). Dan mungkin juga bisa berfungsi sebagai pencegah rasa malu karena salah menjawab pertanyaan di kuis seperti di atas.

Kamis, 05 Desember 2013

Disiplin Saat Tidak Diawasi

Pada dasarnya manusia didominasi dengan sifat meniru. Jadi apapun bisa ditiru oleh orang, meskipun ada salah satu yang menjadi perintisnya. Tak terkecuali dengan mentaati sebuah peraturan. Jika seseorang melihat orang lain melanggar peraturan, sedangkan tidak ada tindakan apapun dari pelanggaran tersebut, maka dia akan terpicu untuk meniru hal tersebut dengan alasan tadi. Sedangkan orang pertama yang melakukannya adalah orang yang meremehkan adanya peraturan tadi, sehingga dia yakin bahwa yang dilakukannya tidak apa-apa dan bukan merupakan sesuatu yang penting.

Jadi ingat wejangan seorang guruku yang berpesan kepada para muridnya untuk ‘disiplin saat tidak diawasi’. Bukan berarti kalo diawasi malah tidak disiplin, tapi kalo tidak diawasi saja bisa disiplin, apalagi kalo diawasi. Masalahnya sering orang meremehkan peraturan entah karena alasan kedekatan sosial, keakraban personal, ataupun alasan-alasan lain yang menurut mereka bisa mengijinkan mereka untuk melakukan pelanggaran itu.

Peraturan bukan dibuat untuk dilanggar, ataupun dibuat untuk mengetahui bahwa kita telah melanggarnya, tetapi peraturan dibuat untuk dipatuhi, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga demi kenyamanan bersama. Karena pembuatan peraturan bukan hanya tentang kedisiplinan pribadi namun juga ketertiban bersama. Kalo diajak tertib saja masih banyak orang nggak mau dengan berbagai alasan yang tidak berhubungan, bagaimana kita bisa mencontohkan kedisiplinan kepada generasi penerus di bawah kita. Bisa jadi kita hanya mewariskan kecurangan dan penipuan terhadap peraturan saja.

Dan bisa jadi kita juga melanggar peraturan pribadi yang kita buat sendiri kalo kita menganggap hal-hal seperti itu tidak penting lagi.

Rabu, 04 Desember 2013

Penumpangnya Banyak di Situ

Denger sayup-sayup berita di televisi di sebuah pagi, sambil berbenah mau berangkat kerja. Beritanya tentang sopir-sopir angkutan umum yang berhenti di tempat yang tidak semestinya. Saat ditanya mengapa seperti itu terus saja dilakukan, para sopir tersebut hanya menjawab ‘karena penumpangnya banyak di situ’. Jadi inget dengan kejadian yang sering aku liat di sekitaran pertigaan atau perempatan lampu merah, di mana angkutan umum, terutama bis, terkadang menjadi penyebab utama kemacetan yang terjadi di kawasan itu. Masalahnya bis tersebut berhenti di sebelah luar lampu merah, di mana jalur tersebut seharusnya menjadi jalur para pengguna jalan untuk melewati dan menjauh dari lampu merah. Tetapi karena ada bis di situ, jalur dari arah yang sama dengan bis tadi menjadi terhambat karena jalan raya yang sempit tidak muat untuk kendaraan lain bisa menyalip bis tersebut.

Dan tentu saja akibatnya antrian panjang pun terjadilah, bahkan bagi beberapa kendaraan di barisan belakang mereka harus berhenti lagi karena lampu udah keburu merah lagi. Kalo dari jalur antrian tersebut bis tidak berada di depan kemungkinan arus lalu lintas juga tetap lancar saja. Dan kejadian ini tidak hanya terjadi di satu tempat saja, di beberapa tempat (bahkan seperti yang di televisi tadi meskipun penyebabnya berbeda).

Alasan ‘karena penumpangnya banyak di situ’ memang sebuah alasan utama bagi para sopir. Mereka tentu saja mencari peluang dan prospek di mana titik penumpukan penumpang sering terjadi sehingga pastinya tempat itu akan menjadi hot spot bagi mereka untuk menaikkan penumpang ataupun menurunkan penumpang. Bahkan tidak peduli dengan apapun, termasuk mungkin ada tanda atau rambu dilarang berhenti di situ. Tapi apakah hanya para sopir saja yang patut disalahkan di sini?

Tentu saja tidak demikian. Ada akibat tentu juga ada sebab. Kita juga harus beralih dengan analisa pada pihak lain, dalam hal ini penumpangnya. Karena persamaan pola pikir, para penumpang ini menganggap bahwa sebuah tempat tersebut adalah tempat yang baik untuk mencegat angkutan umum. Faktor tempat strategis, ditambah lagi dengan kebiasaan para sopir yang salip menyalip dan kebut-kebutan membuat penumpang harus mencari tempat yang dirasa cukup pantas bagi anggapan mereka di mana angkutan umum tersebut bisa berhenti tanpa mengganggu kegiatan kebut-kebutan mereka.

Pertanyaannya lagi, lalu siapa yang lebih pantas disalahkan? Mungkin tidak ada yang perlu dipersalahkan, yang perlu adalah kesadaran dari masing-masing pihak. Para penumpang harus menyadari dan mengerti bagaimana tempat yang lebih tepat untuk mencari kendaraan angkutan umum, dengan memperhatikan peraturan dan keadaan lalu lintas yang ada. Para sopir angkutan pun juga harus memperhatikan hal yang sama. Kita harus benar-benar menunjukkan bahwa meskipun keadaan memaksa demikian, namun kita semua harus menjadi orang-orang yang bisa berpikir.

Terkadang di jalanan semua orang berpikir bahwa semua orang di jalan itu salah, kecuali dirinya sendiri. Dan sekali lagi, karena keseragaman pola pikir, maka setiap orang juga berpikir demikian. Kalo hanya satu dua orang saja yang menyadari hal-hal seperti ini mungkin tidak akan ada pengaruhnya sama sekali untuk semua, tapi setidaknya menghindarkan diri dari kufur nikmat adalah hal yang lebih utama di jalanan.

Selasa, 03 Desember 2013

Kenangan Bersama Kaset

Dulu sebelum jamannya musik berformat mp3 berjaya, kaset adalah primadona musik. Kaset merupakan media jualan musik yang paling efektif di segala lapisan masyarakat. Selain pemilik perorangan, stasiun radio juga banyak memutar musik dengan berbasis pada pemutaran kaset di studionya. Bahkan pada saat media audio CD mulai beredar, kaset masih laris di pasaran, baik yang versi aslinya atau bajakannya yang lebih banyak beredar. Penjual kaset bajakan juga cukup banyak, bahkan pemasarannya lebih luas ke pelosok-pelosok daerah daripada penjual kaset aslinya, yang kebanyakan berjualan di toko-toko. Mungkin kalo sekarang seperti penjual VCD atau DVD yang ada di berbagai tempat seperti itu.

Isi dalam kaset pun tidak terbatas pada musik saja. Beragam isinya, mulai dari kisah cerita anak-anak (yang terkenal seperti Sanggar Cerita), pengajian, lawakan, ataupun campuran (seperti cerita musikal). Aku masih ingat bagaimana aku pernah punya beberapa kaset lama berisi Sanggar Cerita, Si Unyil, dan juga grup lawak Kwartet Jaya ataupun Srimulat. Kaset pun menjadi media untuk merekam acara-acara tertentu. Orangtuaku sering merekamkan acara televisi melalui tape recorder dan disimpan di dalam kaset. Kemudian aku sendiri juga sering merekam lagu-lagu dari radio ataupun televisi ke dalam kaset. Pernah suatu ketika aku asal aja mengambil kaset yang kemudian aku pakai untuk merekam suaraku sendiri sedang bercerita, dan begitu diperiksa ulang ternyata lagu-lagu asli dalam kaset tersebut adalah lagu-lagu yang lumayan bagus, yang sayangnya ‘ternodai’ oleh rekaman suaraku.

Karena sering tidak mampu beli album rekaman lagu, dan karena gak ada album yang hanya menyediakan lagu-lagu yang aku suka aja, maka merekam sendiri dalam kaset kosong adalah suatu kegiatan yang cukup menyenangkan. Lagu yang akan direkam bisa dipilih sesuai dengan keinginanku. Seiring dengan perkembangan jaman, di mana kemudian ditampilkan format mp3 sebagai pemutar audio yang lebih praktis dan mudah, maka kegiatan mendengarkan musik pun mulai tergantikan dengan mendengarkan melalui media berformat mp3. Lebih praktis karena lagu-lagunya bisa dipilih sendiri dengan lebih efisien. Bahkan album-album yang dulu pernah aku beli kasetnya sekarang bisa didonlot dengan mudah, isinya pun juga lebih beragam. Dan akhirnya sekarang nasib kaset-kasetku hanya berfungsi sebagai penghias lemari, jarang didengarkan, dan terabaikan.

Di beberapa tempat mungkin masih cukup banyak komunitas penyuka kaset, terutama kaset-kaset edisi lama jadul. Aku sendiri juga sudah jarang menyambangi toko kaset untuk mencari atau membeli kaset-kaset tertentu. Sekarang kaset menjadi suatu kenangan bermusik saja bagiku, untuk disimpan bukan untuk dibuang. Bukannya bermaksud sentimentil, namun aku masih sering teringat bagaimana riwayat mendapatkan masing-masing kasetku tersebut, bagaimana dulu memasuki toko kaset ibarat masuk ke dunia permainan yang mengasyikkan dengan berbagai pengalaman yang mengayakan. Bagaimana kaset-kaset itu menemaniku dalam berbagai kegiatan di masa lalu. Dan selama masih ada tape recorder di dunia ini, kaset-kaset tersebut akan masih tetap bisa terpakai, meskipun hanya sekedar untuk mendapatkan sensasi mendengarkan musik dengan cara yang lebih berbeda.

Senin, 02 Desember 2013

Bila Kamu Tidak Malu, Berbuatlah Sesukamu

Memang susah menjadi orang yang super baik. Harus bisa menahan amarah, sabar, baik hati, tidak sombong, tidak pendendam, pemaaf, selalu mengalah, dan sifat-sifat positif lainnya. Sifat-sifat yang mungkin bagi beberapa orang terkesan ‘bukan sifat manusiawi’. Sedangkan untuk menjadi orang yang berkebalikan, mungkin memang lebih mudah, tinggal ngikutin aja arus nafsu negatif manusiawinya, jadi deh.

Sebenarnya tidak sulit bagi kita manusia menjadi orang super baik dengan menjalani sifat-sifat tersebut. Yang menjadi sulit adalah pada saat kita bertemu dengan sekelompok orang yang tidak mau mengerti dan tidak mau tahu tentang bagaimana pentingnya menjadi orang yang super baik. Bagi beberapa orang pula, saat sifat-sifat yang berlawanan tadi muncul, yang muncul adalah dalih tentang ‘sifat manusiawinya’, hal-hal tersebut adalah manusiawi, alamiah, manusia memiliki batas, dan lain sebagainya. Atau kalo gak gitu, bagi mereka sifat-sifat baik seperti itu hanya ada dalam kisah sinetron saja, seolah-olah hanya malaikat saja yang bisa menjadi super baik seperti itu. Padahal kalo diperhatikan, masih banyak juga orang yang memiliki sifat-sifat super baik seperti itu.

Secara fitrahnya, manusia didominasi dengan sifat baik. Hanya karena nafsu negatifnya, mungkin karena penasaran ataupun iri, manusia lebih sering menjalani sisi buruknya dalam kehidupan. Banyak orang yang nekad berbuat jahat, tapi sedikit sekali orang yang nekad berbuat baik. Kejahatan manusia pertama kali di dunia ini juga terjadi karena iri hati dan dendam pribadi.

Bagaikan sebuah kiasan, bagaimana Nohara Sinosuke, tokoh Jepang yang paling terkenal di dunia setelah Doraemon, pulang ke rumah tanpa memakai celananya karena malu celananya robek, sebuah sifat malu yang tidak pada tempatnya. Masa sekarang ini, banyak orang yang lebih malu untuk berbuat baik daripada malu untuk berbuat jahat. Jadi ingat sebuah hadits Rasulullah Muhammad SAW, ‘Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu’.

Minggu, 01 Desember 2013

Penguji Apa Adanya

Seorang anak memenuhi gilirannya, memasuki ruang kelas. Kemudian dia mengambil tempat duduk di depanku. Aku melihat wajahnya, dia mempunyai mata yang cantik, dengan bulu mata yang lentik. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku segera memberikan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian dia jawab. Dan beberapa waktu kemudian, dia selesai dan keluar dari ruangan. Dia menjadi salah satu dari beberapa anak yang lulus dengan cukup sukses malam ini di hadapanku.

Itu adalah sepenggal kisah yang terjadi sekitar 12 tahun yang lalu, di sebuah malam di mana para anggota junior Pramuka di SMP sedang menjalani ujian sebagai syarat kecakapan umum mereka yang pertama. Aku sendiri sudah lulus dua tahun dari SMP saat itu, sehingga malam itu aku kebagian jadi salah satu penguji untuk mengetahui sejauh mana keseriusan dan kenyataan mereka dalam memenuhi syarat-syarat kecakapan umum tersebut.

Dalam briefing sebelum dimulainya ujian tersebut, kami para penguji sudah diwanti-wanti oleh para senior kami untuk tidak dengan mudah memberikan tanda tangan sebagai tanda kelulusan para junior. Pertanyaan-pertanyaannya harus benar-benar dari buku teks, dan jawabannya pun juga harus benar, salah sedikit saja maka mereka harus mengulang ke luar, belajar kembali, memberi kesempatan temannya untuk maju, kemudian dia sendiri kembali masuk ruangan dan menghadapi para penguji lagi.

Kesan dalam menjalani ujian semacam itu, pengujinya dinilai kejam, keras, dan mempersulit keadaan. Padahal sebenarnya para penguji seperti itu adalah mereka yang mematuhi peraturan dengan memberikan pertanyaan ujian sebagaimana syarat yang ditentukan, seperti pertanyaan yang sama maksudnya dengan apa yang tertulis di syarat-syarat standar. Mereka yang kemudian dicap sebagai penguji yang terlalu lurus, tidak fleksibel, dan cap-cap negatif lainnya.

Maka, tidak mudah memang, menjadi orang yang taat peraturan. Kadang orang-orang seperti ini yang kemudian terpinggirkan dan tidak dianggap ada. Seperti malam itu, yang berakhir dengan di luar perencanaan. Para peserta lebih memilih seorang penguji yang tidak seperti penguji yang lain (karena dia datang terlambat dan tidak mengikuti briefing sehingga tidak tahu aturan ujiannya), yang dengan mudahnya memberikan tanda tangan kelulusan kepada para peserta ujiannya.

Sabtu, 30 November 2013

Metode Belajar

Tidak ada salahnya meniru cara belajar teman, terutama dari para jenius. Karena bisa jadi cara belajar mereka bisa kita terapkan untuk diri kita sendiri, meskipun sebenarnya semua orang punya caranya sendiri-sendiri dalam hal belajar yang baik dan benar, serta yang mudah dan gampang dilaksanakan.

Berawal dari iseng membaca buku catatan temanku, Bro Salim Darmadi pada saat waktu luang di SMP dulu, aku menemukan cara belajarku sendiri diadaptasi dari caranya mencatat pelajaran. Mungkin saja banyak yang penasaran bagaimana orang sepintar Bro Adi membuat catatan dan bagaimana caranya belajar, tapi waktu itu aku benar-benar lagi iseng aja membaca bukunya yang tergeletak begitu saja di meja. Aku perhatikan buku tulis tersebut, sekilas dari membaca halaman pertama terlihat bahwa dia menggunakan sebaris di lembar buku tulis untuk menulis dua baris, jadi satu bari dijadikan dua untuk menulis. Kebetulan buku itu adalah buku yang ukurannya agak besar, jadi mungkin cukup untuk menulis dua baris di satu baris yang sudah disediakan dalam buku.

Itu baru pengamatan awal saja. Pengamatan berikutnya hasil dari membolak-balik buku, ternyata buku itu bukan khusus untuk satu pelajaran saja, melainkan campuran dari beberapa pelajaran, yang jadi satu dan dipisahkan satu sama lain dengan tulisan titel mata pelajaran di atas catatannya. Dan pengamatan berikutnya adalah catatannya sebenarnya tidak cukup rapi susunannya menurutku, tapi mudah diingat dan dimengerti terutama bagi penulisnya sendiri.

Dari pengamatan tersebut, aku membuat metode belajarku sendiri waktu itu. Aku menyediakan sebuah buku tulis khusus untuk catatan campuran. Tentunya aku mencatat semua pelajaran dalam buku tersebut, sama seperti yang dilakukan Bro Adi tadi. Kemudian dari catatan tersebut aku kemudian menyalinnya di buku yang lebih khusus untuk mata pelajaran tertentu.

Prakteknya, setiap kali pelajaran di dalam kelas, apapun pelajarannya aku tulis di buku campuran. Kemudian hasil dari mencatatku di buku tersebut aku catat dan salin kembali di buku yang khusus untuk mata pelajaran tertentu, di malam sebelum mata pelajaran tersebut diajarkan kembali. Misalnya hari Senin ada pelajaran Matematika, Sejarah, dan Biologi. Aku mencatat pelajaran Matematika, Sejarah, dan Biologi di buku campuran. Kemudian hari Kamis ada pelajaran Sejarah lagi. Hari Rabu malam aku menyalin catatan Sejarah dari buku campuran ke buku pelajaran Sejarah.

Prinsipnya sama dengan mengulang apa yang diajarkan pada hari Senin untuk dicatat sekaligus otomatis dipelajari dan diingat kembali untuk hari Kamis. Jadi belajar lebih ringkas, apalagi bagiku yang sulit mempelajari sesuatu. Dan hasilnya, nilaiku di akhir tahun itu meningkat dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Mungkin cara tersebut terkesan ribet, berbelit-belit, atau malah menyulitkan diri sendiri. Tapi begitulah cara yang menurutku lebih mudah. Dan cara tersebut juga aku pakai di tingkat pendidikan selanjutnya juga. Hanya satu kelemahannya adalah jika menemui teman yang agak malas mencatat, kemudian pinjam catatan temannya yang lebih lengkap. Kalo kemudian yang dipinjam catatanku, aku harus merobek lembar catatan dari buku campuranku tadi untuk dipinjamkan. Dan kembalinya pun tidak selalu satu atau dua hari, bisa sampai hari di mana pelajaran tersebut kembali diajarkan.

Jumat, 29 November 2013

Odong-Odong

Suatu ketika aku tertarik pada sebuah artikel dalam sebuah blog setelah sang pemilik blog mengisi komen di blogku. ‘Kesetiaan Tukang Odong-odong Pada Lagu Anak’ judul blognya, menceritakan bahwa tukang odong-odong adalah satu pihak yang paling setia memutar dan menyiarkan lagu anak-anak. Mungkin sebuah kalimat yang terkesan ironis, tapi mirisnya memang begitulah adanya yang terjadi di dunia nyata.

Yang aku amati sendiri dari lingkunganku, di Jalan Tamtama, jalan utama di desaku, di mana setiap sore sampai malam hari berjajar bapak-bapak tukang odong-odong, seolah dari mereka bersahut-sahutan lagu anak-anak menyuara seiring berputarnya becak goyang mereka menghibur anak-anak yang sedang naik di atasnya. Berdampingan dengan alunan lagu-lagu Sagita yang disetel oleh para penjual VCD di jalan yang sama. Lagu anak-anak masih sangat tepat untuk menemani anak-anak kecil dengan tawa-tawa riang mereka menaiki wahana hiburan murah meriah tersebut.

Berlawanan dengan apa yang terjadi di malam takbiran Idul Adha kemarin. Sebuah mobil bak terbuka, berisi anak-anak kecil yang seharusnya mengumandangkan kalimat takbir, tahmid dan tahlil dalam rangka menyambut hari raya keesokan harinya, tapi yang berkumandang malah lagu ‘Hamil Duluan’ yang dinyanyikan serempak tanpa cela oleh anak-anak kecil tersebut. Orang-orang dewasa yang ada di mobil pun seolah tidak memprotes apa yang mereka lakukan, sehingga anak-anak tersebut merasa bahwa mereka tidak bersalah menyanyikan lagu tersebut.

Pergeseran budaya pasar, mengorbankan hak anak-anak untuk mendengarkan lagu-lagu yang sesuai bagi mereka. Jarang sekali lagu-lagu yang tersedia bagi mereka di media-media elektronik terutamanya. Ditambah pula, kurang sadarnya para orangtua menyediakan kaset atau VCD berisi lagu-lagu anak-anak di rumah. Anak-anak sekarang lebih suka mendengarkan lagu-lagu dewasa sebagai pengantar tidur daripada mendengarkan lagu-lagu yang bertema ‘kekanakan’ sebagai bekal pemikiran mereka. Bagi beberapa orangtua, anak-anak yang bisa nyanyi lagu dewasa terlihat lucu dan membanggakan.

Kalo bagiku sebenarnya ada satu lagi pihak yang masih setia dengan lagu-lagu anak-anak, yaitu para guru TK. Namun sayangnya TK hanya mempunyai waktu beberapa jam untuk mengisi pendengaran anak-anak dengan lagu-lagu mereka.

Kamis, 28 November 2013

Generalisasi; Karena Nila Setitik...

Sering banget denger hal-hal seperti ini, ‘Orang dari daerah ini biasanya berkelakuan kasar’, atau ‘Orang dengan zodiak ini seringnya bernasib sial’, atau anggapan-anggapan lainnya lagi yang terkesan meng-‘umum’-kan. Padahal hanya karena menemui banyak orang dengan ciri-ciri tertentu yang sama, bukan berarti semua orang di dunia ini dengan ciri-ciri tertentu yang sama tersebut adalah orang yang sama.

Yang muncul dari generalisasi ini tentu saja anggapan, sebuah anggapan yang mewakili semuanya. Yang kemudian lebih mengesankan bahwa sifat dari sebuah kondisi tertentu berlaku bagi semua anggota dalam sebuah komunitas. Hal seperti ini malah memunculkan sebuah ‘tuduhan’ (kalo gak bisa disebut ‘prasangka’), bahwa hal-hal di atas berlaku bagi semua.

Hampir sama terjadi muncul dalam berbagai ramalan, entah itu dari budaya peradaban kuno, ataupun malah yang keluar lewat internet. Generalisasi dari sebuah kondisi dan diperluas melalui ilmu yang kalo orang Jawa bilang ilmu ‘titen’ (atau ilmu mengingat/memperhatikan). Anggapan, ataupun kepercayaan, yang dipelajari dari beberapa sampel untuk menganalisa sebuah keadaan di suatu lingkungan (wah, kok jadi kayak statistik ya?). Tapi memang begitulah yang terjadi, dan sering tanpa sadar kita sendiri juga terseret, atau malah mengamalkannya tanpa sengaja.

Misalnya, seperti contoh di atas, kita menemui atau tahu beberapa orang dari sebuah daerah dengan sifat-sifat dan ciri-ciri yang hampir sama, bisa jadi karena budaya dan tradisi, atau mungkin saja kebetulan, maka bisa jadi kita beranggapan bahwa semua orang di daerah tersebut bersifat seperti itu. Atau, kalo kita menemui ada beberapa perilaku dari sebuah komunitas yang sama, kita bisa beranggapan bahwa komunitas tersebut berperilaku seperti itu.

Memang, semua itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak semuanya benar. Jangan sampai saja karena sebuah anggapan, semuanya mendapat cap yang sama, yang seperti ini sama saja dengan menganggap semua sama. Kalo baik sih gak apa-apa, tapi kalo jelek dan tercela, bisa jadi anggapan tersebut menyempit sebagai tuduhan bagi beberapa pihak yang tidak berperilaku seperti itu.

Selasa, 26 November 2013

Kembali ke Suatu Masa

Pernah gak suatu ketika punya keinginan kuat buat kembali ke masa lalu, ke sebuah momen, kemudian mengulang lagi kehidupan mulai dari titik tersebut bagaimanapun pahit manisnya? Aku pernah, sering malah! Pengen kembali ke masa-masa sekolah, atau ke masa kecil, atau ke masa-masa tertentu, kemudian menjalaninya kembali sampai kemudian ke masa sekarang ini. Tapi terkadang setidaknya ada dua hal yang bikin aku merasa hal tersebut sangat sulit untuk dijalani.

Pertama, tidak mudah berada di keadaan dan posisiku yang sekarang. Kilas balik ke belakang, banyak perjuangan yang panjang membentang, sampai akhirnya aku menjadi seperti ini. Dan untuk menjalani itu semua kembali, rasanya sulit banget, banyak hal yang mungkin kalo aku jalani kembali bisa jadi malah tidak bisa aku lewati masa-masa itu, bahkan mungkin aku tidak akan mencapai posisiku yang seperti sekarang ini.

Kedua, kembali ke kehidupan masa laluku adalah sangat tidak mungkin. Hidup adalah garis lurus.

Daftar Blog Saya