Tanya Dilema

Suatu pagi, di tengah-tengah pekerjaan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan di Facebook Messenger dari seorang temanku.

Seperti Nemo

Ada satu film yang bagiku aneh banget, yaitu Finding Nemo. Inti ceritanya kan ada seekor ayah ikan yang mencari anaknya. Yang aneh itu ternyata ikan ini bisa ngomong. Padahal kalopun ikan bisa ngomong, kan ikan ini ada di dalam air. Coba kita aja yang ngomong di dalam air, kedengeran nggak sama temen kita yang ada di deket kita.

Pakai Bahasa Indonesia

Dari sejak blog pertamaku aku selalu pengen mempertahankan ke-Indonesiaanku, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia di setiap tulisan blogku. Bukan karena aku nggak bisa bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau India, bukan! Tapi sebenarnya emang nggak bisa sih, tapi bukan itu maksudnya.

Hobi

Hobiku adalah membaca. Aku mendapatkannya dari sebuah majalah anak-anak. Jadi gini awal ceritanya, waktu itu ibuku mengirimkan foto dan dataku ke sebuah rubrik koresponden di majalah anak-anak itu. Dan di bagian hobinya, ibuku menuliskan kalo hobiku adalah membaca.

Power Bank

Di jaman gadget seperti sekarang ini, keberadaan smartphone menjadi bagian kehidupan bagi beberapa orang. Tapi di balik kecanggihan dan segala kelebihannya, ada salah satu sisi di mana smartphone justru lebih boros dalam pemakaian daya baterainya.

Minggu, 11 Desember 2011

Persaingan (atau bukan?)

Perumpamaan bagi sebuah persaingan adalah dua orang yang menaiki pohon yang sama, berlomba menjadi yang terdepan dan paling awal meraih puncaknya. Saat salah satu dari kedua orang itu udah meraih puncaknya, maka persaingan berakhir, pemenang sudah ditentukan, dan yang pasti yang terbaiklah yang menjadi orang pertama yang meraih puncaknya.

Tapi kadang tidak setiap orang mengerti kondisinya. Bagi orang yang belum meraih puncaknya, persaingan belum berakhir. Dia mungin saja masih mencoba lagi meraih puncaknya, yang terkadang memakai berbagai cara untuk menjatuhkan sang pemenang. Kalo udah gini, namanya bukan lagi persaingan, tapi perebutan atau pengkudetaan.

Kalo saja si pihak yang kalah menyadari bahwa pemenang udah ditentukan, yang terpilih udah ada, dan persaingan udah selesai, maka tidak perlu lagi ada perasaan kalah dan terhina, toh dia juga udah berusaha meraih puncaknya, meskipun gagal. Dan kalo saja si pihak yang kalah ini mengerti dan memahami tentang makna persaingan yang sebenarnya, pastilah juga tidak ada rasa was-was dari sang pemenang, jangan-jangan dia akan disodok dari bawah agar turun lagi. Kalo saja si pihak yang kalah ini menyadari sekali lagi bahwa sang pemenang emang pantas mendapatkan kemenangan karena usahanya lebih baik dan lebih tepat, tidak akan ada lagi iri dan dengki yang menghantui dan terus membayanginya.

Sabtu, 10 Desember 2011

Duri dalam Daging

Tidak selamanya orang-orang di sekitar kita menjadi pendorong dan penyemangat kita. Terkadang ada pula orang-orang yang menjatuhkan dan menjerumuskan kita. Bahkan ada pula yang tanpa kita sadari menunggu kita lengah dan terjatuh, untuk menggantikan tempat kita.

Kepercayaan terkadang tidak cukup, perkataan terkadang tidak cukup, perbuatan terkadang tidak cukup. Tidak ada jaminan orang yang bahkan paling dekat dengan kita tidak akan merobohkan kita. Sudah cukup banyak hikayat yang menceritakan hal itu, tidak peduli apa dan siapapun mereka bagi kita. Seseorang yang mengulurkan tangan pada kita saat kita jatuh, bisa jadi suatu saat mendorong kita untuk jatuh.

Yang terpenting bagi kita adalah tetap berbaik sangka, apapun dan bagaimanapun rasa percaya dan kepercayaan akan menghilangkan paranoid terhadap para pengkhianat. Kalaupun nantinya para pengkhianat itu beraksi dan bertindak, menyikat kita tanpa ada lagi yang tersisa yang bisa kita selamatkan, ingatkan diri bahwa meskipun kepercayaan kita salah, rasa ikhlas dan baik sangka kita akan selalu tersimpan dan membekas, meskipun kadang tertutup dengan rasa dendam dan benci. Satu lagi yang perlu diingat, Gusti ora sare!

Jumat, 09 Desember 2011

Riwayatmu Dulu, Nasibmu Kini

Benda itu berdiri kokoh di dekat persimpangan jalan. Warnanya mencolok, siapapun yang melihat pasti tahu apa dan fungsinya. Namun sayangnya, sekarang ini tidak sedikit pula yang tidak menyadari keberadaan benda ini di situ. Fungsinya seolah hanya sebagai pelengkap jalanan, atau bahkan sebagai prasasti bisu kejayaan masa lalu.

Memang di jaman lalu benda ini sangat bermanfaat. Letaknya lebih bisa dijangkau daripada harus ke tempat pusatnya. Hampir semua orang pernah melihat dan menggunakannya, sebuah fasilitas eksklusif yang memang diperuntukkan bagi semua orang yang membutuhkannya. Hampir setiap minggu, aku sering mendatangi benda ini untuk menyalurkan kebutuhanku akan sarana berhubungan dengan teman-temanku yang tersebar di berbagai daerah. Sebuah benda primadona, yang sekarang terkikis oleh teknologi.

Benda ini adalah kotak pos, atau lebih sering juga disebut bis surat. Yang terdekat dari rumahku ada di sekitar 100 meter ke arah selatan, di samping pertigaan besar. Yang agak jauh, sekitar 500 meter ke arah utara, di depan Kantor Pos. Sering saat melewatinya, timbul suatu pertanyaan yang tanpa disadari selalu muncul, apakah kotak ini masih sering terpakai, apakah ada isinya sekarang, apakah petugas pos masih sering mengecek isinya, dan lain-lain lagi pertanyaannya. Mengingat di jaman sekarang sudah sangat jarang orang-orang berkomunikasi lewat surat.

Aku sudah jarang sekali (kalo tidak bisa dikatakan tidak pernah lagi) berkirim surat. Kalopun perlu berkirim surat, aku langsung mendatangi kantor pos untuk membeli perangko, maklum aku udah tidak hapal lagi berapa perangko yang dibutuhkan untuk berkirim surat. Surat masih harus butuh beberapa hari lagi untuk sampai ke tempat tujuan, bahkan meskipun tujuannya cukup dekat.

Keberadaan teknologi-teknologi canggih, yang bisa mengirimkan informasi jauh lebih cepat daripada surat, semakin menjauhkan ingatan masyarakat tentang kotak pos. Anak-anak jaman sekarang pun jarang sekali yang diajari bagaimana menulis dan mengirimkan surat (kalopun ada, anak-anak sekarang lebih suka pake SMS buat bertukar informasi dan kabar). Sehingga bukan tidak mungkin, fungsi kotak pos semakin mengarah menjadi monumen di tepi jalan. Entah di tempat lain, tapi begitulah di daerahku.

Kamis, 08 Desember 2011

SIM (Surat Ijin Menyopir)

Berkendara dengan kendaraan bermotor tanpa memegang SIM seolah merasa seperti maling saja, yang masuk ke rumah orang tanpa ijin. Sesuai namanya, SIM berfungsi sebagai surat yang mengijinkan pemiliknya menggunakan dan mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya. Namanya udah punya SIM berarti kan udah memenuhi syarat-syarat yang berlaku (kecuali kalo punya SIM-nya hasil nembak), berarti udah bolehlah, dengan tak lupa memperhatikan ketentuan-ketentuan yang lain.

Saat ini lagi mengalami kondisi seperti itu. SIM A-ku udah abis dan belum bisa memperpanjang lagi, tapi kadang masih dimintai bantuan menyopir ke mana-mana. Tapi untunglah gak ada masalah, karena mobil yang aku bawa diberi nama ‘Ambulance’ dan ditulis besar-besar di bagian depannya. Sedangkan beberapa tahun lalu, saat SIM C-ku mati secara tiba-tiba (ya gak tiba-tiba sih sebenernya, tapi emang masa berlakunya abis), baru beberapa bulan kemudian aku bisa memperpanjangnya. Selama kekosongan SIM itulah beberapa kali kena cegatan polisi.

Yang pertama kali kena pas dolan ke Tulungagung, ada cegatan di tengah jalan gitu. Akhirnya karena ketauan terpaksa bayar di tempat saja lah. Kemudian yang paling parah di Mapolresta Kediri. Cegatan ini diadakan tepat di halaman kantor polisinya, lupa jam berapa yang jelas udah malam. Yang bikin parah tuh petugasnya gak ngecek kali ya kalo tanggal berlakunya udah abis, jadi aku dibiarkan bebas berkeliaran begitu aja tanpa ada tindakan apapun. Tapi ya gak apa-apa lah, melenggang dengan agak deg-degan juga, siapa tau pak polisinya kurang yakin terus minta diperiksa lagi.

Yang ketiga juga agak parah nih. Karena SIMnya gak berlaku, aku sering bepergian lewat jalan-jalan desa kecil gitu. Tapi kok ya ada aja polisi yang mengadakan cegatan di jalan kecil. Kena deh di Desa Silir, di jalan tengah sawah samping kali, berhenti dengan agak grogi. Kali ini juga selamat dari tilang pak polisi, gara-garanya ada motor di belakangku yang gak mau berhenti saat dicegat, sehingga pak polisi yang lagi memeriksa aku buru-buru mengembalikan surat-surat dan mengejar motor tadi.

Makanya, sebenarnya aku juga gak mau berkendara tanpa SIM yang berlaku, karena resikonya terlalu besar. Tapi karena seringnya dalam keadaan darurat, dengan alasan pasien yang harus segera berangkat, jadilah gak peduli dengan kematian SIM A-ku. Tapi lebih baik juga kalo cari kesempatan agar bisa memperpanjang lagi SIM-nya, biar gak jadi pengendara ilegal di jalan raya.

Rabu, 07 Desember 2011

Sala(h)tiga

Di sela-sela mencari ide buat bikin tulisan-tulisan  baru untuk postingan, aku teringat tentang legenda asal-usul ‘Salatiga’ yang diceritakan seorang temanku. Tentunya asal-usul ini bukan yang sebenarnya, tapi buat guyonan aja. Saat itu aku masih sekitar kelas lima SD, saat menceritakan kepada temanku tentang legenda Salatiga yang aku baca dari sebuah buku pelajaran Bahasa Daerah. Eh, malah sama temanku dikasih ‘cerita’ tandingan tentang ‘Salatiga’ juga tapi yang nyleneh.

Dia bercerita sambil ngegambar coretan-coretan sketsa di bangku sekolahku. Ceritanya ada tiga orang laki-laki akan melaksanakan sholat, seorang bapak dan kedua anaknya. Sang bapak ini akan mengajarkan tata cara sholat kepada salah seorang anaknya yang masih kecil, dan bagi anak itu sholat ini adalah pengalamannya yang pertama. Sang bapak berpesan kepada anaknya itu sebelum sholat, bahwa apapun dan bagaimanapun yang bapaknya lakukan maka tirukanlah. Sedangkan sang kakaknya udah agak besar dan bisa sholat sendiri, sehingga tidak perlu diberi pesan oleh bapaknya.

Di rokaat terakhir, saat bangkit dari sujudnya, tiba-tiba ada tikus jatuh tepat di depan bapaknya. Karuan saja, karena agak terkejut, sholat sang bapak jadi berantakan dan tanpa sengaja beliau berkata ‘Tikus jatuh’. Sang adik, karena patuh pada pesan bapaknya, diapun menirukan dengan berkata ‘Tikus jatuh’. Jadilah sholat kedua orang ini berantakan. Nah, sang kakak yang seharusnya selamat sholatnya karena dia tidak mengikuti bapaknya, bukannya melanjutkan sholatnya tapi malah ngomong ‘Untung aku nggak ikut ngomong kaya Bapak’.

Mengapa kisah ini aku ingat terus sampai sekarang? Karena selain agak kocak, ternyata setelah aku analisa sendiri ada beberapa pelajaran yang terkandung dari dialog ‘Salatiga’ alias ‘salah tiga’ ini. Sang bapak, yang seorang pemimpin, melambangkan pemimpin yang lalai dalam tugasnya. Tanpa sadar beliau lupa bahwa bawahan akan selalu mengikuti apa yang pimpinan lakukan, apalagi kalo udah ada pesannya. Kelalaian beliau dalam tugas dasarnya menjadikan bawahan ikut melakukan kesalahan saat pemimpinnya juga keliru.

Sang adik, melambangkan seorang yang mengikuti secara membuta kepada seseorang atau kelompok. Tanpa dasar apapun (entah karena tidak tahu atau tidak mau tahu), salah atau benar itulah yang jadi panutannya. Apalagi dia juga udah diberi pesan untuk selalu mengikuti pimpinannya, maka dia menjadi patuh dan taqlid buta. Sang kakak, melambangkan seseorang yang punya ilmu tapi kurang diamalkan. Sebagai orang yang berilmu udah seharusnya dia menjalankan segala sesuatu berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Tapi karena melihat kesalahan orang lain, keluarlah nada yang seakan mencemooh dan meninggikan ilmunya, padahal ilmunya sendiri tidak dia amalkan.

Bapak yang ‘latah’, adik yang mengikuti, dan kakak yang ceroboh, kayanya juga pernah aku dengar dari sebuah ceramah tapi lupa entah di mana. Mungkin sang penceramah punya pengertian sendiri tentang apa yang ada di balik cerita ini, tapi yang pasti begitulah sifat manusia, yang mungkin akan sering kita jumpai dalam kehidupan dunia ini. Sekarang cari ide lagi buat tulisan yang lain ah, jangan sampai ‘Salatiga’nya menjadi ‘Salaempat’, ‘Salalima’, dan seterusnya.

Selasa, 06 Desember 2011

Obsesi Terselubung

Kadang saat melihat orang lain berada setingkat lebih baik daripada kita, kita seolah terdorong atau setidaknya mempunyai keinginan untuk bisa lebih dari itu, setidaknya menyamainya. Sering terlintas pemikiran bahwa orang itu, dengan kualitas dan derajat hidup yang mungkin sama denganku saja bisa melakukannya, mengapa aku tidak. Kemudian dengan usaha keras untuk menyamai, tanpa terasa kita telah bisa melampauinya.

“Virus benar-benar manusia paling kompetitif yang pernah kami kenal. Jika ada yang melebihi dia sedikit saja, dia tidak akan dapat menerimanya” (3 Idiots, 16:57 – 17:00). Seseorang dengan jiwa yang kompetitif seperti Dr. Viru Shastrabhuddi (mahasiswa memanggilnya “virus”) pasti dia tidak akan pernah rela ada orang lain yang melampauinya, dalam segala hal.

Aku jarang dan kurang suka mengikuti kompetisi terbuka, yang terkadang menimbulkan persaingan tidak sehat yang seharusnya tidak muncul dalam kehidupan sosial. Tapi sering terpacu dengan kompetisi tertutup, karena melihat ada orang lain yang bisa meraih prestasi yang lebih baik, atau mempunyai sifat yang baik, maka terlintaslah pemikiran seperti yang di atas. Bisa setidaknya menyamai, atau bahkan lebih baik lagi menjadi obsesi terselubung, yang kemudian diusahakan untuk diwujudkan.

Minggu, 04 Desember 2011

Pilih Kalimat yang Mana?

Kebanyakan sebuah panduan atau tutorial menggunakan kalimat perintah dalam menjelaskan langkah-langkahnya, misalnya ‘Masukkan nama anda di kotak yang paling atas’. Sebuah kalimat bernada perintah, karena terlihat dari kata pertama dari kalimat tersebut, ‘Masukkan’. Mungkin dengan kalimat seperti ini, sebuah panduan menjadi terkesan cukup tegas dan kesan lain yang muncul adalah ini suatu keharusan.

Dulu saat mengerjakan laporan praktek industri, aku sering membandingkan tulisanku dengan beberapa temanku satu kelompok. Aku lebih sering menggunakan kalimat aktif dalam menjabarkan langkah kerja, misalnya ‘Menghaluskan permukaan benda kerja dengan mengikir permukaan yang diinginkan’. Sedangkan kebanyakan temanku memakai kalimat mengajak, misalnya ‘Permukaan benda kerja kita haluskan dengan mengikirnya’. Dengan kalimat ini, pembaca seolah dituntun untuk mengerjakan suatu perintah dalam langkah kerja tadi.

Sedangkan kalimat aktif yang aku pakai, seolah mengesankan bahwa langkah-langkah kerja tersebut dilakukan oleh penulis sendiri, sedangkan pembacanya mungkin tidak merasa terlibat dalam mengerjakan langkah-langkahnya. Hal yang agak mirip terjadi jika yang dipakai adalah kalimat pasif, misalnya ‘Permukaan benda kerja dihaluskan dengan dikikir’, lebih mengesankan bahwa penulis menceritakan pengalamannya dalam melakukan langkah kerja itu, dan lebih mirip dengan laporan kerja saja.

Tapi setidaknya, baik memakai kalimat mengajak, kalimat aktif, ataupun kalimat pasif, terkesan lebih halus dalam menggambarkan langkah-langkah kerja, daripada jika memakai kalimat perintah yang mengesankan keharusan melaksanakannya. Asal jangan sampai pakai kalimat tanya, pembacanya malah bingung, mau baca tutorial kok malah ditanyai. Masalah pemahaman para pembacanya dalam membaca panduan kerja ini, tetap tergantung pada personal masing-masing, lebih nyaman membaca kalimat yang bagaimana.

Hal yang sama mungkin terjadi saat menuntun seseorang dalam melakukan sebuah pekerjaan. Misalnya, seorang instruktur kursus mengetik mengatakan ‘Kita letakkan jari telunjuk pada tombol keyboard yang ada tandanya’, berarti instruktur tersebut mengajak (yang berarti seharusnya instruktur tersebut juga melakukannya sebagai contoh). Sedangkan dengan kalimat ‘Anda letakkan jari telunjuk pada tombol keyboard yang ada tandanya’, berarti instruktur meminta (memerintahkan) untuk meletakkan jarinya di tombol, tanpa instruktur sendiri melakukannya. Instruktur tidak memberi contoh, tapi mengarahkan kursuser dengan langsung berpraktek.

Sabtu, 03 Desember 2011

Windows Apa Office?

‘Kalo dibuka pake Windows 2007 udah bisa kan Mas?’
Sejenak aku terpikir, kemudian baru tahu maksudnya adalah Office 2007, bukan Windows 2007. Itu adalah sepenggal pertanyaan seorang temanku yang kemarin OSnya aku perbaiki karena rusak dan banyak virusnya. Dan sekaligus mewakili bahwa ternyata masih banyak teman yang menyebut Office dengan sebutan Windows. Padahal beda banget, meskipun sama-sama produknya Microsoft tapi tentu saja fungsi dan kegunaannya sangat berbeda.

Microsoft Office 2007 adalah versi Office pertama dengan ekstensi default yang berbeda. Misalnya jika biasanya menyimpan dari Microsoft Word 2003 memakai ekstensi .doc, maka di versi 2007 ini memakai ekstensi .docx. Dan versi ini jika memakai ekstensi defaultnya tidak akan bisa dibuka dengan Office versi sebelumnya, bahkan jika ekstensinya diganti secara manual. Jika ingin bisa dibuka dengan Office versi lain maka dokumen harus di-save as dulu dan diganti format ekstensi filenya dengan versi yang lama. Kecuali jika dibuka dengan Open Office, tidak perlu diganti lagi karena kebanyakan Open Office bisa membuka segala dokumen dengan berbagai format yang terdukung.

Sebenarnya file default penyimpanannya bisa diganti dengan format biasa dengan versi sebelumnya. Hanya saja terkadang pengguna tidak bisa menggantinya, atau teknisi pemasang programnya terlalu malas untuk mengatur lebih lanjut lagi, sehingga para penggunanya pasrah saja dengan keadaan seperti itu. Cara penggantiannya ada di Option di setiap programnya. Misalnya di Microsoft Word 2007 ada di ‘Word Option’, ‘Save’, kemudian ganti input ‘Save files in this format’ yang terdefault dengan ‘Word Document (*.docx)’ dengan ‘Word 97 – 2003 Document (*.doc)’, dan masalah penyimpanan selanjutnya pun terselesaikan. Tanpa perlu memakai ‘Save as’ file udah bisa dipakai untuk Microsoft Word versi 1997 sampai 2003.

Memang sayangnya langkah ini tidak diajarkan dalam pendidikan formal maupun modul pada umumnya, sehingga bagi yang terpatok pada aplikasi tekstual tidak akan bisa menemukan cara-cara seperti ini. Cara ini bisa didapatkan dengan latihan, pengalaman dan keberanian dalam mengambil resiko kesalahan, dan lagi-lagi, tidak akan bisa dilaksanakan bagi yang tercetak untuk melaksanakan aplikasi secara tekstual. Tapi yang jelas, aku belum pernah dengar Windows yang versi 2007.

Jumat, 02 Desember 2011

Satu Bahasa, Beda Budaya

Punk in Love dan Jagad X Code, dua film dengan dominasi pemakaian bahasa Jawa namun beda kandungan budaya. Entah apa karena dalam Punk in Love komunitas punk dari Malang yang menjadi tokohnya, sedangkan dalam Jagad X Code menampilkan anak-anak muda lugu dari pesisir Kali Code di Jogja, tapi kesan yang terlihat jelas menampakkan ciri khas yang berbeda antara bahasa Jawa daerah timur dan dan daerah barat.

Bahasa Jawa daerah timur cenderung kasar, baik dari aksen, dialek maupun kata-katanya. Semakin ke arah barat, bahasanya semakin berubah agak lebih halus lagi. Sehingga bila ketemu orang Jawa bagian timur dengan bagian barat, akan terlihat jelas perbedaannya. Kebetulan daerahku ada di tengah-tengah, pertemuan antara kedua budaya yang berakar sama namun berbeda karakternya. Bila dirasakan saat ketemu dengan orang daerah yang lebih barat, daerah Nganjuk atau Madiun misalnya, bahasa daerahku terasa kalah halus dibandingkan dengan mereka.
 
Maka jangan ditanya lagi tingkat kehalusan bahasa Jawa khas Jogja, bahkan saat pembicaranya mengeluarkan kata-kata umpatan yang terdengar masih cukup halus oleh orang-orang daerah yang lebih timur. Apalagi dengan bahasa sehari-harinya wuih, bikin tensi tinggi jadi turun. Tapi kata teman-temanku dari daerah Malang, bahasa sehari-hariku itu terlalu halus bagi mereka. Ya maklum aja, seperti yang aku bilang tadi, mendengar bahasa percakapan teman-temanku dari Madiun aja aku cukup terkagum-kagum dengan penggunaan dan pemilihan kata-katanya, halus!

Secara umumnya percakapan sehari-hari masih bisa dimengerti di tiap daerah di Jawa, baik di Jawa Timur maupun di Jawa Tengah. Hanya saja memang ada beberapa istilah yang beda, bahkan satu kata bisa diartikan beda di tiap daerah. Tapi yang pasti, kedua film ini memang benar-benar mengangkat bahasa Jawa dari dua daerah dengan budaya dan adat yang berbeda dengan memadukan secara campuran penggunaan bahasa Indonesianya.

Kamis, 01 Desember 2011

Gara-Gara Jalan Pintas

Suatu ketika, dalam sebuah seminar bersama dokter spesialis kandungan, seperti biasa beberapa peserta meminta materi yang disajikan oleh pematerinya. Kemudian si dokter tadi menyalin filenya ke dalam masing-masing flashdisk pemintanya. Karena kebetulan aku duduk bersama pemateri tadi, udah pasti aku melihat bagaimana beliau memproses penyalinan tadi yang ternyata melalui proses yang keliru. Mau mengingatkan juga gak enak, apalagi mengingat beliau seorang terpelajar. Dan akhirnya yang aku perkirakan benar-benar terjadi, file-file yang disalin tidak bisa dibuka.

Shortcut, sering disalahartikan sebagai file itu sendiri. Bagi shortcut yang dilengkapi dengan icon udah pasti terlihat simbol shortcut itu di pojok kiri bawah icon, berupa tanda panah kecil. Apalagi kalo dilihat secara detail, pasti terlihat bahwa tipe filenya berupa shortcut. Tapi kebanyakan orang mengira bahwa file yang ada di menu start recent document memang di situlah letaknya, sehingga tanpa dilihat lagi file yang diinginkan dan baru dibuka langsung disalin dari situ. Padahal itu cuma shortcut, atau jalan pintas saja.

Lalu di mana letak file yang sebenarnya? Letaknya bisa dilihat dari shortcut itu juga, yaitu dengan mengklik kanan shortcut yang menandakan filenya, kemudian pilih Properties. Maka kemudian akan muncul sebuah form dengan tab Shortcut, yang kemudian di bawahnya akan muncul sebuah text box bercaption Target. Nah, di dalam text box itu letak dari file aslinya berada. Maka yang perlu dilakukan adalah menuju ke lokasi file tersebut melalui Windows Explorer dan menyalin dari lokasi asalnya.

Salah satu salah kaprah lainnya adalah membuat file yang berlokasi di Desktop. Selain akan memberatkan jalannya OS, file tersebut akan rentan hilang jika OS rusak (termasuk file-file yang ada di My Documents default OSnya berlokasi di drive partisi C:). Untuk mengantisipasi hal itu caranya sangat mudah, jangan sekalipun menyimpan file data dan dokumen di drive C:, atau dengan kata lain simpanlah file di partisi manapun kecuali C:.

Daftar Blog Saya