Tanya Dilema

Suatu pagi, di tengah-tengah pekerjaan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan di Facebook Messenger dari seorang temanku.

Seperti Nemo

Ada satu film yang bagiku aneh banget, yaitu Finding Nemo. Inti ceritanya kan ada seekor ayah ikan yang mencari anaknya. Yang aneh itu ternyata ikan ini bisa ngomong. Padahal kalopun ikan bisa ngomong, kan ikan ini ada di dalam air. Coba kita aja yang ngomong di dalam air, kedengeran nggak sama temen kita yang ada di deket kita.

Pakai Bahasa Indonesia

Dari sejak blog pertamaku aku selalu pengen mempertahankan ke-Indonesiaanku, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia di setiap tulisan blogku. Bukan karena aku nggak bisa bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau India, bukan! Tapi sebenarnya emang nggak bisa sih, tapi bukan itu maksudnya.

Hobi

Hobiku adalah membaca. Aku mendapatkannya dari sebuah majalah anak-anak. Jadi gini awal ceritanya, waktu itu ibuku mengirimkan foto dan dataku ke sebuah rubrik koresponden di majalah anak-anak itu. Dan di bagian hobinya, ibuku menuliskan kalo hobiku adalah membaca.

Power Bank

Di jaman gadget seperti sekarang ini, keberadaan smartphone menjadi bagian kehidupan bagi beberapa orang. Tapi di balik kecanggihan dan segala kelebihannya, ada salah satu sisi di mana smartphone justru lebih boros dalam pemakaian daya baterainya.

Selasa, 11 Oktober 2011

Bung Hatta

DR. (HC) Drs. H. Mohammad Hatta atau lebih dikenal Bung Hatta adalah proklamator RI, Wakil Presiden I RI, Bapak Koperasi Indonesia, negarawan, pahlawan, diplomat, dan ekonom. Itulah gelar kedaulatan yang Bung Hatta sandang. Namun, selain gelar-gelar di atas yang biasa kita baca, ada hal lain yang tidak kalah penting yang membuat saya kagum seraya bangga atas sosok Bung Hatta lainnya yakni santun, jujur, hemat, serta uncorruptable.
Bung Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada 12 Agustus 1902. Pada usia 19 tahun, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool (sekarang Universitas Erasmus) dan mendapat gelar Drs. Bung Hatta. Selama di Belanda, Bung Hatta terus melakukan perjuangan kemerdekaan untuk bangsa di nusantara. Aktivitasnya dalam organisasi menyebabkan Hatta pernah ditangkap pemerintah Belanda.
Tahun 1932 Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi CPNI yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. Belanda menangkap Hatta, bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Hatta diasingkan ke Digul dan kemudian ke Banda selama 6 tahun.
Tahun 1945, Hatta secara aklamasi diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, bersama Bung Karno yang menjadi presiden RI sehari setelah ia dan Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena peran tersebut maka keduanya disebut Bapak Proklamator Indonesia. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Bung Hatta meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun.

Bung Hatta, Sikap Negarawan yang LangkaBila India memiliki Mahatma Gandhi sebagai bapak negarawan yang sederhana, santun, bersahaja bagi rakyatnya, maka Indonesia memiliki Bung Hatta. Sepanjang hidupnya, Bung Hatta berperilaku senantiasa menampilkan sikap yang santun terhadap siapa pun. Baik kawan maupun lawan. Terhadap Bung Karno yang pada masa sebelum kemerdekaan melakukan kerja sama cukup erat namun kemudian mereka tidak dapat bekerja sama secara politik, tetapi sebagai sesama manusia, Bung Hatta masih menghormatinya. Ketika Bung Karno sakit, Bung Hatta menengoknya. Demikian pula sebaliknya. Kesantunan menjadi sikap dalam hidupnya untuk saling menghargai.
Banyak kisah tentang dia yang menyadarkan kita semua, bahwa Indonesia pernah memiliki seorang pemimpin dan negarawan yang teramat bersahaja. Dan, itu pula yang disampaikan Rachmawati Soekarnoputri dalam tulisannya yang dimuat di Harian Kompas, 9 Agustus 2002, Mengenang 100 Tahun Bung Hatta. Dalam tulisan tersebut, putri mendiang Bung Karno tersebut mengatakan, suri teladan yang perlu diteladani dari Bung Hatta adalah sifat dan perilakunya yang fair dan jujur. “Jujur di sini, tidak hanya terbatas pada tidak melakukan praktek KKN selama berkuasa atau menjabat. Namun, lebih dari itu, Bung Hatta jujur terhadap hati nuraninya,” kata Rachmawati.
Hal itu terlihat saat Bung Hatta mulai tidak sepaham dengan Bung Karno antara lain menganggap Bung Karno sudah ke-kiri-kirian, terlebih saat Bung Karno mencetuskan ide Nasakom, Bung Hatta yang sudah tidak sepaham lagi dengan Bung Karno memilih mengundurkan diri 1 Desember 1956
Kejujuran yang diperlihatkan Bung Hatta dalam hal ini justru menunjukkan sikap ksatria seorang negarawan yang patut dihargai dan dicontoh. Kendati demikian, hubungan pertemanan antara Bung Hatta dan Bung Karno tidak lalu berubah menjadi permusuhan, malahan Bung Hatta melakukan kerja sama yang kritis terhadap Bung Karno (critical cooperation). Bahkan, adakalanya Bung Hatta memberikan masukan langsung datang ke Istana selain menulis surat atau menelepon. Dan, Bung Karno pun tetap menganggap Bung Hatta sebagai teman bukan musuh yang harus “dilumpuhkan”.
Rachmawati juga mengungkapkan bahwa sikap fair dan perilaku terasa ketika Bung Karno sakit setelah terjadinya G30S/PKI tahun 1965. Ketika Bung Karno mulai jatuh sakit, Bung Hatta tetap memberikan perhatian kepada Bung Karno. Bahkan, pada saat sakit yang diderita Bung Karno semakin parah pada tahun 1969 dan terpaksa harus dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Bung Hatta bersikeras menjenguk Bung Karno di mana tak satu pun pejabat atau tokoh lain mau menjenguk Bung Karno.

Wakil Presiden Bung Hatta Harus Menabung Membeli Sepatu “Bally”, Tapi…..Salah satu kisah mengugah dari Bung Hatta yang dikenang masyakarat adalah kisah tentang sepatu Bally. Pada tahun 1950-an, Bally adalah merek sepatu bermutu tinggi yang berharga mahal. Bung Hatta, ketika masih menjabat sebagai wakil presiden, berniat membelinya. Untuk itulah, maka dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya.
Setelah itu, dia pun berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, apa yang terjadi? Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Ini tak lain karena uangnya selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Ball tersebut masih tersimpan dengan baik.
Andai saja Bung Hatta mau memanfaatkan posisinya saat itu, sebenarnya sangatlah mudah baginya untuk memperoleh sepatu Bally, misalnya dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalannya. Barangkali bukan hanya sepatu merek Bally yang mampu dibelinya. Bisa saja ia memiliki saham di pabrik sepatu dan berganti-ganti sepatu baru setiap hari. Tetapi, ia tidak melakukan semua itu. Ia hanya menyelipkan potongan iklan sepatu Bally yang tidak terbelinya hingga akhir hayat. Bila dilihat pada kondisi sekarang, seharusnya masa lalu juga demikian, tentu hal ini merupakan sebuah tragedi.
Seorang mantan wakil presiden, orang yang menandatangani proklamasi kemerdekaan, orang yang memimpin delegasi perundingan dengan Belanda –negara yang pernah menjajahnya—hingga Belanda mau mengakui kedaulatan Indonesia, ternyata tidak mampu hanya untuk sekadar membeli sepasang sepatu bermerek terkenal. Meski memiliki jasa besar bagi kemerdekaan negeri ini, Bung Hatta sama sekali tidak ingin meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain atau negara.
Menurut Jacob Utama, Pemimpin Umum Harian Kompas, segala yang dilakukan Bung Hatta sudah mencerminkan bahwa dia tidak hanya jujur, namun juga uncorruptable, tidak terkorupsikan. Kejujuran hatinya membuat dia tidak rela untuk menodainya dengan melakukan tindak korupsi. Mungkin banyak masyarakat berkomentar, “Iya, lha wong sepatu Bally harganya, kan, selangit.”
Namun lagi-lagi itulah, ternyata bukan hanya sepasang sepatu itu yang tidak mampu dibeli Hatta. Barang lain yang juga tak mampu dibelinya adalah mesin jahit yang juga sudah lama didambakan sang istri. Wah, mengapa bisa begitu? Ya, tak lain karena setelah mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden, 1 Desember 1956, uang pensiun yang diterimanya sangat kecil. Bahkan saking kecilnya, sampai-sampai hampir sama dengan Dali, sopirnya yang digaji pemerintah. Dalam kondisi seperti ini, keuangan keluarga Bung Hatta memang sangat kritis.
Sampai-sampai, pernah suatu saat Bung Hatta kaget melihat tagihan listrik, gas, air, dan telepon yang harus dibayarnya, karena mencekik leher. Menghadapi keadaan itu, Bung Hatta tidak putus asa. Dia semakin rajin menulis untuk menambah penghasilannya. Baginya, biarpun hasilnya sedikit, yang penting diperoleh dengan cara yang halal. Itu sebabnya, mengapa Bung Hatta mengembalikan sisa uang yang diberikan pemerintah untuk berobat ke Swedia. Itu dilakukan, karena sepulang dari Swedia Bung Hatta mendapati bahwa uang tersebut masih bersisa, dan dia merasa itu bukan haknya.
Sungguh mengangumkan. Apa yang dilakukan Bung Hatta adalah karena dia ingin menjaga nama baik. Bukan hanya dirinya sendiri, tetapi nama baik bangsa dan negara. Dalam konteks itu pula, maka Bung Hatta pun tidak berusaha bekerja di berbagai perusahaan meski sebenarnya sangat memungkinkan. Dalam pandangannya, jika dia bekerja pada perusahaan, maka citra seorang mantan wakil presiden akan runtuh. Juga, jika dia menjadi seorang konsultan, maka sebenarnya dirinya sedang terjebak ke dalam bias persaingan usaha yang sarat dengan kepentingan.
Pemikiran yang luar biasa itulah yang dijalankan oleh Bung Hatta. Bung Hatta lebih memilih hidup sederhana demi menjaga nama baik bangsa Indonesia. Bung Hatta telah mengorbankan dirinya bagi negeri ini. Bung Hatta begitu hati-hati menggunakan kekuasaan.
Sungguh mengagumkan. Apa yang dilakukan Bung Hatta adalah karena dia ingin menjaga nama baik. Bukan hanya dirinya sendiri, tetapi nama baik bangsa dan negara. Pemikiran yang luar biasa itulah yang dijalankan oleh Bung Hatta. Bung Hatta lebih memilih hidup sederhana demi menjaga nama baik bangsa Indonesia. Bung Hatta telah mengorbankan dirinya bagi negeri ini. Bung Hatta begitu hati-hati menggunakan kekuasaan.
Semoga melalui artikel yang diangkat dari kisah nyata dari seorang pemimpin besar bangsa ini, seorang proklamator yang turut memperjuangkan NKRI dengan Pancasila sebagai falsafah bangsa, memberi kebanggaan sekaligus teladan bagi rakyat Indonesia, terutama generasi muda. Membaca kisah ini mestinya membuat malu bagi setiap warga Indonesia, terutama para pejabat, baik eksekutif, yudikatif maupun legislatif yang berebut kursi kekuasaan. Bagaimana mungkin anggota dewan sudah meminta jatah laptop di awal jabatannya? Bagaimana timpangnya sikap Bung Hatta dengan sikap Kementerian SBY yang minta kenaikan gaji pasca 1 hari dilantik?
Semoga kisah Bung Hatta tentang Sepatu Bally menjadi bagian dari artikel dalam pendidikan sekolah terkait pendidikan antikorupsi dan bela negara. Saya terharu sekaligus kagum mengetahui bahwa seorang Wakil Presiden RI yang juga bapak proklamator harus menabung untuk membeli sepatu “bally”, tapi…. hingga akhirnya hayatnya ia harus memendam cita-citanya! Terima kasih Bung Hatta!

Tulisan Aslinya

Senin, 10 Oktober 2011

Poligami a la Rasulullah Muhammad SAW: Istri-Istri Rasulullah

Salah satu rubrik favoritku dalam majalah ‘Matan’ adalah Kolom, yang secara rutin diisi oleh Bapak Nur Cholis Huda, wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Dalam majalah edisi April 2010, kebetulan tema majalah ‘Matan’ membahas masalah nikah siri, sehingga dalam rubrik Kolom ini juga dibahas tentang nikah siri, lebih khususnya tentang poligami.

Di sini diceritakan tentang makna dan pelaksanaan poligami di kehidupan nyata. Kebanyakan alasan yang dikemukakan adalah melaksanakan sunah Rasul. Padahal kalo mau benar-benar melaksanakan sunah Rasul, harus dipahami pula esensi dan sebab mengapa Rasul beristri lebih dari satu, sehingga bukan hanya mengikuti secara membuta dan mengglobal.

Dalam buku ‘Istri-Istri Para Nabi’ digambarkan betapa manusiawinya kehidupan Rasulullah Muhammad SAW bersama istri-istrinya. Rasulullah tidak berpoligami saat istri pertama beliau, Khadijah binti Khuwailid R.A., masih hidup. Rasulullah SAW hidup bersama Khadijah selama lebih dari 24 tahun, dan selama itu Rasulullah tidak menikah dengan wanita lain. Sedangkan Khadijah saat menikah dengan Rasulullah berstatus janda, pernah menikah 2 kali, mempunyai 1 anak dengan suami pertamanya, Atiq bin Aidz, dan 2 anak dengan suami keduanya, Abu Halak Malik bin Nabbasy.

Setelah wafatnya Khadijah, Rasulullah kemudian menikahi ‘Aisyah binti Abu Bakar R.A. 2 tahun sebelum hijrah, dan ‘Aisyah dinikahi saat masih gadis. Kemudian Rasulullah menikahi Saudah binti Zam’ah R.A., janda as Sakran bin Amr, di tahun yang sama, kemudian menikah dengan Hafshah binti Umar, janda Khunais bin Hudzafah as Sahmi di tahun 2 H, tiga puluh bulan kemudian, Rasulullah menikah dengan Zainab binti Khuzaimah al Hilaliyah R.A., janda ath Thufail bin al Harits, kemudian beliau menikah dengan Ummu Salamah binti Abu Umaiyyah, janda Abu Salamah bin Abdul Asyhal, tahun 4 H, kemudian menikah dengan Zainab binti Jahsy R.A., janda Zaid bin Haritsah, tahun 5 H, dan di tahun 5 H pula, Rasulullah menikahi Juwairiyah binti al Harits al Khuzaiyah R.A., janda Musafi’ bin Shafwan al Mushthaliqi. Pada tahun 6 H, Rasulullah menikahi Raihanah binti Zaid R.A., janda al Hakam, kemudian Rasulullah menikahi Ummu Habibah binti Abu Sufyan R.A., janda Ubaidillah bin Jahsy, pada tahun 7 H, kemudian menikah dengan Shafiyah binti Huyai R.A., janda Salam bin Misykam dan Kinanah bin ar Rabi’, di tahun 7 H pula. Pada tahun 8 H, Rasulullah memperistri Maimunah binti al Harits R.A., janda Abu Ruhm bin Abdul Uzza.

Ada pula Maria al Qibthiyah, istri Rasulullah dari kalangan Kristen Goptic Mesir yang masuk Islam dan dinikahi sekitar tahun 7 H., yang memberi seorang putra bagi Rasulullah dan satu-satunya putra Rasul setelah masa kenabian beliau, yang sayangnya putra beliau ini, Ibrahim, meninggal saat berusia 18 bulan karena sakit parah. Beliau adalah budak Rasulullah yang dihadiahkan oleh al Muqaiqis dari Mesir. Untuk istri Rasul yang satu ini tidak banyak referensi yang bisa aku temukan apakah beliau dinikahi dalam status gadis atau janda, yang jelas beliau sangat membuat istri-istri Rasulullah yang lain cemburu karena kecantikannya. Maria tidak dimasukkan daftar sebagai Ummahat al Mukminin dalam beberapa sumber, padahal beliau mendapatkan penghargaan dan kehormatan yang sama sebagai istri Rasulullah SAW, bahkan mendapatkan gelar yang sama sebagai Ummahat al Mukminin bersama istri-istri Rasulullah yang lain.

Masih ada pula istri-istri Rasul yang lain, yang disebutkan dinikahi Rasulullah tapi tidak beliau gauli, serta beberapa wanita yang menawarkan dirinya kepada Rasul dan ada pula yang beliau tolak. Menurut ‘Aisyah R.A.: “Rasulullah SAW tidak wafat hingga Allah menghalalkan beliau menikahi wanita-wanita mana saja yang beliau inginkan”. Dan kemudian Rasulullah menikahi wanita-wanita yang sudah menikah sebelumnya (kecuali ‘Aisyah R.A.). Sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Allah tidak menghendaki aku menikah atau dinikahkan kecuali dengan wanita-wanita penghuni surga”.

Maka jika ingin mencontoh Rasulullah SAW, contohlah Rasulullah yang menikahi janda tua yang punya yatim, pejuang yang menjadi janda, terlantar, dan terlunta-lunta di negeri orang karena dicerai suaminya yang murtad. Mereka ini ketika dinikahi Rasulullah sudah tidak muda lagi, bahkan hampir menopause. Dan pernikahan beliau juga selalu dirayakan, tidak diam-diam. Alasan yang layak dipertimbangkan terutama bagi yang akan berpoligami dengan alasan mengikuti sunnah Rasul. Sedangkan yang sudah terlanjur ya sudah, tinggal bersikap adil karena setiap ketidakadilan dalam hal apapun dan dalam bentuk apapun berlawanan dengan Islam.

Minggu, 09 Oktober 2011

Rating Acara Televisi

Sejak 1992, Nielsen Media Research (NMR) melakukan pengukuran jumlah penonton tayangan televisi di Indonesia. Pengukuran share penonton televisi yang sekarang akrab dikenal sebagai rating, awalnya hanya dilakukan pada audiens televisi di Jakarta dan Surabaya. Kini penyebaran audiens yang dipantau melalui metode peoplemeter ini sudah menjangkau 9 kota utama di Indonesia, yaitu Greater Jakarta, Greater Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makasar, Greater Yogyakarta, Palembang, dan Denpasar yang mulai dipantau sejak Juli 2004.

Rating adalah persentase penonton suatu acara dibandingkan dengan total atau spesifik populasi pada waktu tertentu. Data riset NMR ini sangat berpengaruh bagi industri pertelevisian di tanah air, terutama bagi pemain-pemain industri hiburan. Pasalnya, sampai saat ini belum ada biro riset lainnya yang menampilkan data pembanding. Seringkali, kesuksesan sebuah acara diukur oleh tingginya rating yang berhasil diraih. Walaupun sebenarnya tidak demikian adanya. Seperti yang dikemukakan oleh NMR sendiri, bahwa teknologi peoplemeter tersebut hanya mengukur jumlah penonton yang sedang menonton paling tidak minimum 1 menit (atau 17 detik) tanpa mengukur preferensi (suka/tidak suka) maupun kualitasnya (baik/buruk) suatu program acara TV.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Di Posisi Ketiga

Dalam turnamen yang menggunakan sistem peringkat ke-3, atau istilahnya perebutan tempat ketiga, akan tampak bahwa juara ketiga akan nampak lebih bahagia daripada juara keduanya. Yang menyebabkan perbedaan itu adalah bahwa tim peringkat ketiga meraih tempat ketiganya dengan kemenangan, sedangkan tim peringkat kedua memperolehnya dengan kekalahan. Terlihat bahwa hasil akhir lebih menentukan dalam perayaan peringkatnya.

Seperti dalam piala dunia sepakbola, perebutan peringkat ketiganya juga sering disebut sebagai final kecil. Tim peringkat ketiga, yang sudah pasti tidak akan meraih gelar juara karena tersisih di semifinal, mengalahkan semifinalis lainnya dalam final kecil tersebut. Tentunya mereka akan merayakannya karena bagaimanapun mereka adalah pemenang pertandingan.

Sedangkan tim peringkat kedua mengakhiri turnamen dengan kekalahan di final. Tentunya dalam pertandingan ini target mereka adalah kemenangan, dan mereka gagal meraihnya. Tidak ada perayaan berlebihan, seolah-olah peringkat kedua itu lebih rendah kastanya daripada tim semifinalis.

Padahal jika disadari dan diingat, perjuangan mereka jauh sangat berhasil daripada tim-tim yang gagal melewati babak penyisihan. Tim penyisihan pun tidak bisa dibilang gagal total karena mereka telah berhasil melewati babak kualifikasi, menjadi salah satu tim yang berbangga dan beruntung bisa mencicipi turnamen tersebut. Dan tim kualifikasi, mungkin saat ini bukan waktunya mereka bisa mengikuti turnamen.

Sudah pasti bahwa peringkat pertama adalah yang menjadi juaranya, tim terbaik turnamen. Sudah pasti pula tim inilah yang paling beruntung sejak kualifikasi sampai ke finalnya. Meskipun sebenarnya, semua tim turnamen adalah yang terbaik, setidaknya untuk tim kualifikasi.

Jumat, 07 Oktober 2011

Bahasa dan Pendidikan Indonesia


“Kenapa ya, biaya kuliah kita kok bisa begitu mahal?” “Karena pas kita mendaftar, poster yang dipajang pakai kata registration, maka bayarnya Rp. 35 juta. Coba kalau saat itu memakai kata pendaftaran, pasti cuma Rp. 5 juta.” Itu adalah dialog ringan tapi sarat makna dua orang mahasiswa pascasarjana di sela-sela waktu kuliah mereka. Dulu, bahasa Inggris baru diajarkan ketika anak memasuki tingkat SLTP. Sekarang dalam PAUD pun bahasa ini udah diajarkan. Padahal menurut hasil riset terbaru, sistem pendidikan bilingual di Indonesia selama ini kurang efektif, karena mengabaikan bahasa Indonesia. Dampaknya baru akan terasa ketika anak masuk ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Penguasaan bahasa asing emang penting, tapi jangan sampai mengabaikan bahasa pertama anak. Anak yang memiliki konsep akademik yang kuat dalam bahasa pertamanya dapat memiliki kemampuan yang baik pula dalam bahasa asing. Jika bahasa kedua dikenalkan sebelum bahasa pertama benar-benar dikuasai, maka perkembangan bahasa pertama dan kedua akan lambat dan bahkan mengalami regresi. Terdapat sedikit ironi terkait pemberlakuan sekolah terhadap bahasa Indonesia. Di beberapa sekolah RSBI, jika dilihat dari nilai ujian, terdapat kecenderungan ‘meninggikan’ bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Di beberapa sekolah, kasus nilai UNAS/UAN bahasa Indonesia yang lebih rendah daripada Inggris ini juga menjadi pembicaraan. Persoalan ini pada akhirnya menjadi perbincangan tersendiri di kalangan internal sekolah dan cukup mendapat perhatian. Problematika nilai kedua bahasa itu lebih disebabkan para siswa cenderung menyukai les bahasa Inggris dan kebijakan pemerintah pusat atas UNAS. Lagipula kan tidak ada les bahasa Indonesia. Tidak terjebak dalah wilayah simbolitas semata, bahkan melupakan budaya bangsa, itulah makna sesungguhnya internasional. Jadikan SBI sebagai media untuk membawa kultur lokal ke pentas dunia, sehingga tidak malah membanggakan pendidikan bergaya luar tapi melupakan lokal. Visi pendidikan bukan sekedar mengerjakan soal kurikulum luar negeri. Pendidikan seharusnya mengajak peserta didik untuk membentuk kepribadian sebagai salah satu karakternya. Hal itu membutuhkan waktu lama, bukan jalan pintas dengan mengasah otak demi kelulusan. Suasana dunia pendidikan saat ini terlalu monolitik, artinya semua anak didik hendak diproduk menjadi orang-orang sesuai dengan kehendak sistem pendidikan tersebut. Padahal pendidikan terbaik adalah pendidikan yang memberi inspirasi kepada anak didik untuk mengembangkan hal terbaik yang ada dalam dirinya secara alamiah.

Selasa, 04 Oktober 2011

Mencari Alamat


Setelah seorang sepupuku pindahan rumah, baru beberapa bulan kemudian aku bisa mengunjungi rumah barunya. Sebelumnya aku hanya mendengar rumah sepupuku itu dari cerita ibuku. Beliau tidak menceritakan detail bentuk rumahnya, tapi cerita tentang hal-hal yang berhubungan aja, misalnya kemarennya pager rumahnya ditinggikan, halamannya mau ditanami banyak bunga, dan sebagainya. Saat aku mengantar ibuku ke rumah sepupuku tadi, pastinya itu pertama kali aku ke sana. Tapi dengan berbekal informasi yang sebenarnya gak terlalu penting tadi, aku bisa langsung menebak yang mana rumah sepupuku itu. Aku berhenti tepat di depan pintu pagar rumahnya, sambil ditanyain ibu apa aku pernah ke situ sebelumnya. Aku hanya menjawab bahwa saat itu adalah pertama kali aku ke situ. Mencari alamat asing, yang kita belum pernah ke sana, bahkan denger tempat itu aja baru sekali, memang agak membingungkan. Berbekal sedikit informasi bahkan tak jarang tanpa informasi sama sekali, menambah tingkat kesulitannya. Mungkin kita hanya berharap ada kentongan di tempat itu, yang bisa kita pukul dan membuat banyak orang berkumpul, sehingga kita bisa dapat narasumber yang banyak dalam waktu yang singkat. Salah satu kuncinya adalah percaya pada sumber informasi dan isi informasinya. Jika dipadukan dengan nalar, analisa, imajinasi, dan insting, maka pastinya akan segera dapat kita temukan. Apalagi kalo ditambah kenekadan (yang tidak perlu) seperti membunyikan kentongan tadi. Informasi yang kita dapatkan bisa jadi bahan imajinasi kita menggambarkan gimana sih lokasi dan tempat yang akan kita tuju nantinya, berwujud dan seperti apa bentuknya gitu. Dulu, saat tinggal di Malang untuk tugas praktek dari sekolah, aku bersama 5 orang temanku dicarikan tempat kos oleh karyawan SDM pabriknya. Kebetulan tempat kos tadi rumah adiknya, jadi rumah itu yang jadi alternatif pertamanya. Beliau menceritakan letak rumah kos tadi sambil aku coba gambarkan gimana sih tempat asing yang akan aku tinggali 9 minggu ke depan. Kemudian beliau akan mengantar kami ke rumah itu, namun karena kami ada enam orang, beliau hanya membawa 2 orang dari kami untuk bersama beliau. Tak seberapa lama, seorang yang juga kos di rumah tadi menjemput kami. Seperti bapak tadi, hanya 2 orang dari kami yang bisa ikut. Sisanya, aku dan seorang temanku, disuruh naik bis aja ke rumah. Jadilah kami yang belum tau apa-apa tentang daerah ini naik bis dengan penuh waspada. Kami hanya diberi satu nama, Telon Kedok, daerah kosnya. Saat membayar ke kondektur kami memberitahu di mana kami turun. Sebenarnya aku tidak yakin kondekturnya akan memperingatkan kami saat masuk ke daerah tadi, sehingga aku mengarahkan pandangan ke luar bis. Saat masuk ke salah satu tikungan dengan pertigaan, segera aku meminta bis berhenti dan aku mengajak temanku tadi untuk segera turun sebelum bis jalan lagi. Saat udah turun temanku bertanya lokasi Telon Kedok itu di mana, kemudian aku jawab aku juga belum tau pasti, tapi aku menunjuk ke pertigaan tadi. Temanku baru mengerti kalo yang dimaksud Telon Kedok itu adalah protelon (pertigaan) di daerah yang bernama Kedok. Benar saja, anak yang menjemput teman-temanku tadi udah nunggu in di samping gapura pertigaan sebelah timur. Selamatlah kami dari ketersesatan. Kalo dengan cerita ini, aku cuma memanfaatkan faktor nalar, insting dan imajinasi. Untungnya aku gak perlu mukul kentongan keras-keras (meskipun di pojok pertigaan itu ada kentongan berukuran gede), sehingga tidak merepotkan orang lain.

Senin, 03 Oktober 2011

Halangan dan Kehidupan

Sabtu siang, 15 Mei 2010, di salah satu sisi lapangan di Stadion New Wembley, London, Didier Drogba meratap, mengeluh dan memaki, sambil memukuli tiang gawang Porsmouth. Tidak kurang dari 30 menit sebelumnya, berkali-kali aksi para pemain Chelsea tertahan oleh tiang dan mistar gawang yang dijaga oleh David James tersebut. Bahkan beberapa menit sebelumnya, Drogba sendiri yang mengalami bagaimana mistar gawang dengan dinginnya memantulkan bola yang ditembaknya sendiri. Seolah-olah gawang tersebut tidak rela bola memasuki daerah kediamannya.

Namun, setelah babak kedua dimulai, tiang gawang pulalah yang membantunya membuat gol ke gawang Porsmouth. Bola yang menerpa tiang kemudian memantul ke dalam gawang dan masuk! Chelsea pun menang dan menjadi juara Piala FA 2010, berkat satu-satunya gol Drogba tadi.

Peristiwa seperti itu mungkin sering terjadi dalam pertandingan sepakbola. Tapi bila dipikir secara lebih mendalam (asal mikirnya gak di sumur), terdapat filosofi terutama dari rangkaian peristiwa tadi. Bagaimana tiang dan mistar gawang yang sebelumnya menjadi penghalang justru menjadi bantuan di lain waktu. Dalam setiap halangan, rintangan, dan tantangan yang kita hadapi setiap kali di kehidupan kita ini, terkadang juga ada halangan yang menjadi penolong kita di saat kita membutuhkan. Pengalaman melewati setiap halangan juga menjadikan kekuatan bagi kita untuk terus melangkah dan siap untuk menghadapi halangan yang akan datang kembali.

Mengharap senang dalam berjuang bagai merindu rembulan di tengah siang. Hidup untuk berjuang, bukan hanya berjuang dalam arti Beras, Baju dan Uang, tapi berjuang dalam arti yang sebenar-benarnya. Pengalaman melewati halangan akan menguatkan kita. Meskipun sebenarnya, di antara laki-laki dan perempuan, dalam menghadapi rintangan dan halangan, perempuan akan lebih siap karena perempuan pasti udah sering kena halangan (minjem istilah konyolnya Mas Arif).

Belajar hidup dengan mengalami hidup itu sendiri. Karena seperti contoh Drogba di atas, keberuntungan yang menjadi sarana turunnya takdir Allah SWT untuk manusia bisa didapat setiap saat tanpa kita sangka.

Minggu, 02 Oktober 2011

Festival Film Indonesia vs Indonesian Movie Awards

Festival Film Indonesia (FFI) merupakan ajang penghargaan tertinggi bagi dunia perfilman di Indonesia. FFI pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 dan berlanjut di tahun 1960 dan 1967 (dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional), sebelum akhirnya mulai diselenggarakan secara teratur pada tahun 1973.

Mulai penyelenggaraan tahun 1979, sistem Unggulan (Nominasi) mulai dipergunakan. FFI sempat terhenti pada tahun 1992, dan baru diselenggarakan kembali tahun 2004. Pada perkembangannya, diberikan juga penghargaan Piala Vidia untuk film televisi.

 
Indonesian Movie Awards (IMA) adalah penghargaan bagi insan perfilman yang dimulai sejak tahun 2007. Ajang penghargaan ini dibuat karena ajang FFI 2006 yang hasilnya cukup mengecewakan bagi Masyarakat Perfilman Indonesia. Namun IMA dibuat bukan untuk menandingi FFI. IMA hadir untuk memberikan apresiasi kepada pemeran film terbaik, karena mereka punya bakat dan prestasi. IMA setiap tahun akan selalu hadir dengan format baru dan tentu berbeda dengan FFI. Jika pada FFI piala yang diberikan disebut Piala Citra. Sedang di IMA, piala yang diberikan disebut Piala Layar Emas Dalam ajang ini pemenang terbagi atas Terfavorit dan Terbaik. Di mana untuk kategori Terbaik pemenang dipilih oleh dewan juri. Sedangkan kategori Terfavorit pemenang dipilih oleh masyarakat.

IMA emang bagus sih, tapi sayangnya, kok namanya pake Bahasa Inggris, sekedar agar lebih go internasional, atau karena kalo pake Bahasa Indonesia kurang laku dijual? Apa gak bisa pake nama 'Penghargaan Film Indonesia' aja ya?

Sabtu, 01 Oktober 2011

Tentang Ikhwan dan Akhwat

Ada salah satu hal yang menarik untuk aku cermati dan rasakan dari novel berjudul “Bidadari untuk Ikhwan” karya Fajar Agustanto. Bahwa di luar lingkaran aktivitas dakwah, para ikhwan dan akhwat jarang bergaul dengan komunitas di luar kelompok mereka, sehingga berkesan eksklusif. Padahal sebenarnya, banyak para ikhwan atau akhwat yang canggung jika berkumpul dengan selain mereka, karena orang di luar komunitas mereka cenderung mengesankan mereka itu orang aneh. Meskipun banyak juga ikhwan dan akhwat yang bergaul nyaman dengan lingkungan di luar golongan mereka.

Orang awam cenderung melihat dari ciri-ciri para ikhwan dan akhwat itu. Para ikhwan sering dikesankan dengan pemuda yang berjenggot, bercelana cingkrang di atas mata kaki, kadang tidak lepas dari baju gamisnya, berdahi menghitam, dan ciri-ciri lainnya. Para akhwat juga dicitrakan sebagai para pemudi yang memakai jilbab lebar, burqa, memakai abaya, dan ciri-ciri lain yang sudah melekat pada pikiran masyarakat pada umumnya.

Dan kata akhwat juga sudah menjadi hegomoni seorang yang berjilbab besar. Padahal, akhwat ataupun ikhwan, hanyalah kata bahasa Arab biasa yang berarti wanita atau pria. Jika kata-kata ikhwan dan akhwat itu terus bermakna aktivis dakwah, jangan-jangan malah kata-kata itulah yang membuat dakwah tidak berjalan dengan lancar. Jangan-jangan, kata itulah yang telah mempersulit dakwah. Jangan-jangan, kata itulah yang membuat dikotomi sesama umat Islam. Jangan-jangan, sudah terjadi pembedaan. Jangan-jangan, akan mudah mengakibatkan perpecahan umat. Kemudian pula ada sebutan ikhwit yang kemudian dikenal untuk menyebut seorang wanita yang memakai jilbab kecil (yang sebenarnya tidak layak juga disebut jilbab, sebut saja kerudung atau khimar).

Maka, kemudian aku ikut tersenyum saat tokoh utama dalam novel tersebut menceritakan kepada teman-temannya (saat dia dirawat di rumah sakit), bahwa rata-rata perawat yang ada di rumah sakit itu adalah akhwat, lalu kemudian dia menunjuk seorang perawat yang memakai baju putih, rok pendek dan bertopi kecil putih, yang kemudian disambut senyum teman-temannya. Padahal, yang dikatakannya adalah benar, bahwa perawat itu adalah seorang wanita, yang tentu saja juga bisa disebut akhwat.

Kiriman yang Sama

Televisi (bagian 3)

Sebenarnya banyak sekali program pembodohan dan pembohongan publik di tivi, ada yang terang-terangan namun banyak juga yang terselubung. Beberapa di antaranya adalah acara-acara terutama acara musik.

Secara logis, acara musik, apalagi yang live, harusnya menampilkan penyanyi yang menyanyikan lagu secara langsung. Namun nyatanya, tidak banyak acara musik live yang menampilkan penampilan penyanyi yang menyanyi langsung. Kebanyakan lipsync, dan penyanyinya hanya pura-pura menyanyi saja. Kalo penampil tersebut grup band, terkadang hanya penyanyinya saja yang live, tapi pemain band yang lain yang berpura-pura main band.

Biasanya antara pura-pura dan tidaknya terlihat dari gerakan bibir, power bernyanyinya, aransemen, atau ciri-ciri terlihat yang lain. Bisa juga dengan gaya bernyanyi yang terlihat berlebihan.

Bagi penonton yang menyaksikan langsung di TKP, mereka mendapat keuntungan karena melihat artis pujaan mereka bernyanyi secara langsung di depan mata mereka. Sedangkan bagi yang melihat lewat televisi, tidak ada keuntungan secara signifikan. Maka tidak berlebihan kalo kemudian band Padi pernah menyatakan bahwa mereka lebih baik bubar daripada harus main lipsync, karena alasan yang telah aku uraikan di atas. Menurut mereka pula, daripada liat mereka main lipsync, lebih baik liat video klipnya karena sama saja.

Sekali lagi, ini adalah untuk keuntungan besar industri pertelevisian, karena penyanyi yang tidak bernyanyi pastinya harganya tidak sama dengan penyanyi yang bernyanyi secara langsung. Dengan ditampilkannya para penyanyi, stasiun tivi akan mendapatkan keuntungan dengan datangnya banyak sponsor dan penonton, yang keuntungannya tidak akan berkurang banyak jika si penyanyi itu hanya berpura-pura bernyanyi dan hanya memanfaatkan lambang popularitas mereka untuk menyedot keuntungan.

Dari Blog Sendiri

Daftar Blog Saya