Tanya Dilema

Suatu pagi, di tengah-tengah pekerjaan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan di Facebook Messenger dari seorang temanku.

Seperti Nemo

Ada satu film yang bagiku aneh banget, yaitu Finding Nemo. Inti ceritanya kan ada seekor ayah ikan yang mencari anaknya. Yang aneh itu ternyata ikan ini bisa ngomong. Padahal kalopun ikan bisa ngomong, kan ikan ini ada di dalam air. Coba kita aja yang ngomong di dalam air, kedengeran nggak sama temen kita yang ada di deket kita.

Pakai Bahasa Indonesia

Dari sejak blog pertamaku aku selalu pengen mempertahankan ke-Indonesiaanku, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia di setiap tulisan blogku. Bukan karena aku nggak bisa bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau India, bukan! Tapi sebenarnya emang nggak bisa sih, tapi bukan itu maksudnya.

Hobi

Hobiku adalah membaca. Aku mendapatkannya dari sebuah majalah anak-anak. Jadi gini awal ceritanya, waktu itu ibuku mengirimkan foto dan dataku ke sebuah rubrik koresponden di majalah anak-anak itu. Dan di bagian hobinya, ibuku menuliskan kalo hobiku adalah membaca.

Power Bank

Di jaman gadget seperti sekarang ini, keberadaan smartphone menjadi bagian kehidupan bagi beberapa orang. Tapi di balik kecanggihan dan segala kelebihannya, ada salah satu sisi di mana smartphone justru lebih boros dalam pemakaian daya baterainya.

Selasa, 23 Desember 2014

Penyaji dan Pendengarnya

Entah kenapa, sebuah ceramah yang disampaikan oleh seseorang berdasarkan tulisan orang lain itu bagiku kesannya seperti ‘roh’ dari tulisan ini nggak tersampaikan. Misalnya gini, khotbah Jumat sederhananya. Seorang khotib yang kalo dia menyampaikan khotbahnya dengan membaca sebuah artikel hikmah hasil karya orang lain yang dimuat di majalah, yang menurutnya menarik, belum tentu bisa dibuat menarik dengan menyajikannya kepada jamaah sholat Jumat. Bisa aja penyajian itu jadi berkesan membosankan, entah karena khotibnya terlalu sibuk membaca sehingga kandungan maknanya tidak sampai kepada jamaah, atau karena bahasa artikelnya terlalu tinggi sehingga tidak bisa dimengerti oleh jamaah.

Mungkin ada juga yang membuat artikel itu menjadi sangat menarik untuk dibaca. Tapi yang perlu diperhatikan adalah, dengan materi yang dibaca dan disajikan kepada orang lain, apakah penyajinya punya pemahaman yang sama dengan pembuat materi itu? Kalo iya, apakah penyajinya menguasai materi itu? Kalo iya, apakah bahasa materinya bisa diterima oleh para pendengarnya? Kalo iya, apakah transfer pola pikir penulisnya bisa sampai kepada pendengarnya melalui penyaji materi tadi? Kalo iya, ya udah….

Intinya adalah, dari sebuah materi yang disampaikan, dalam bentuk apapun istilahnya, setidaknya ada sebuah atau lebih makna dan pemahaman yang bisa dibawa pulang oleh pendengarnya. Jadi menghadiri sebuah kajian misalnya, tidak jadi sebuah hal yang percuma karena ada oleh-oleh berupa ilmu dan pemahaman baru yang diambil dari materi tersebut. Jangan sampai karena asal menyampaikan materi dari literatur tertentu, penyaji gagal memberikan pola pikir yang sama saat dia membaca sebelumnya.

Karena mungkin sering banget kita menghadiri sebuah acara yang inti penyajiannya nggak nyampai ke kita. Alih-alih untuk dibawa pulang sebagai pokok ide, jangan-jangan pas perjalanan pulang aja itu materi udah lupa gimana. Ini sebenarnya nggak jauh beda dengan kita ngomong ke penyajinya “Pak, gimana kalo daripada Bapak capek baca tulisan itu, mending kita pinjam buat difotokopi?”, karena perasaan kalo mendengarkan orang membaca itu jadi membosankan. Yang baca asyik-asyik aja, yang denger nggak ngerti blas, dan parahnya pendengarnya menghadapi situasi yang mana kondisi seperti itu nggak bisa dihindari dan ditinggalkan.

Apalagi kalo informasi dari penyajian tersebut nggak dicatat, hanya didengarkan. Terlebih lagi, kalo niat nyatet misalnya, kita bingung bagian mana yang bisa dicatet, karena mungkin materinya nggak berinti dan nggak nyampai maksud dan tujuannya.

Senin, 22 Desember 2014

Persepsi

Misalnya suatu ketika kita dapat luka, tempatnya di pojokan lutut a.k.a dengkul. Sebenarnya bingung juga, ini lutut pojokannya di mana ya, tapi ya biarlah, wong ini juga permisalan aja. Terus karena tempat lukanya ini strategis, mudah tersenggol apa aja, kita jadi punya pemikiran “Ini luka udah dihati-hati biar nggak kena senggol tapi kok tetep kena aja. Emang ya yang dihati-hati itu malah lebih sering kenanya…”.

Atau suatu ketika kita kena sariawan, tempatnya juga strategis, pastinya di mulut sih. Terus suatu saat sariawannya kegigit sendiri pas lagi makan. Sambil meringis, kita akan berpikir, “Kenapa ya sariawan itu malah sering tergigit sendiri?”.

Dari kedua contoh ini sebenarnya hanya persepsi kita aja kenapa kok bisa gitu. Sekarang misalnya dibalik, lutut kita nggak kenapa-kenapa, nggak ada lukanya, pernah nggak kita merhatiin berapa kali lutut kita ini tersenggol dalam sehari? Atau saat mulut kita semanis madu, tanpa ada sariawan, pernah nggak ngerasa berapa kali mulut kena gigi kita dalam waktu makan? Nggak kan? Itu karena kita nggak ngerasain sakitnya dan nggak menganggap bahwa itu adalah hal yang berbahaya.

Kalo ada luka kaya tadi, kesenggol dikit aja kan rasanya sakit gitu. Itulah yang bikin kita ngerasa semua hal yang kita jaga bener-bener pasti ada ujiannya. Yang nggak kita jaga, kaya lutut yang nggak terluka tadi, mau disenggol apa aja (asal nggak disenggol kendaraan di jalan) juga woles aja, nggak apa-apa terutama kalo kesenggolnya pelan aja nggak keras-keras. Kalo ada luka, misalnya kesenggol pelan aja kena bantal, udah bisa bikin kita nyumpahin agar bantal itu menjadi bantal untuk selamanya.

Minggu, 21 Desember 2014

Pola Film

Sebenarnya hal yang dibahas dan ditampilkan di sebuah film itu adalah “MASALAH”. Kita bisa liat kan, di film itu, entah itu berupa sinema elektronik (sinetron) atau sinema layar lebar, polanya adalah ditampilkan masalah, kemudian tokoh utamanya mengatasi masalah, masalah selesai, dan tokoh utamanya menang, akhirnya bahagia. Ada sih beberapa film yang berakhir dengan tokoh utamanya nggak bahagia, tapi seenggaknya filmnya selesai, tamat, nggak nyambung-nyambung lagi, itu bisa jadi kebahagiaan bagi para penontonnya.

Tapi sekarang coba kita perhatikan, ada sinetron-sinetron berseri yang panjangnya bahkan bisa sampai seribu episode, padahal kalo sinetron itu ditayangkan setiap hari tanpa henti, dengan durasi sekitar satu jam, maka selama sekitar tiga tahunan sinetron itu tayang, bahkan belum tamat juga. Ini kan bisa bikin pertanyaan, sebenarnya seberat apa sih masalah yang dihadapi tokoh utama di sinetron itu? Kok ada ya masalah yang dihadapi sampai tiga tahun belum selesai-selesai. Padahal kita liat orang-orang Indonesia sekarang ini. Hujan gerimis sehari aja udah galaunya bukan main. Giliran besoknya panas banget ngeluhnya minta ampun. Yang kaya gini udah jelas nggak masuk kriteria pola sinetron tadi.

Dan lagi, tiga tahun sinetron nggak tamat-tamat. Kalo dengan pola tadi, tokoh utamanya bahagia di akhir cerita, ini berarti selama tiga tahun tokoh utama ini nggak bahagia, ada aja masalahnya. Ini jangan-jangan tar berakhirnya cerita gara-gara tokoh jahatnya bosan bikin masalah, terus dia mikir ‘Ah, udahan aja lah masalahnya, udah tiga tahun nih, bosan jahat terus!’. Kalo tokoh jahatnya kaya gini ini sebenarnya cerita selanjutnya udah bisa ketebak, bukannya tamat, malah tokoh jahat lainnya muncul lagi. Dia kemudian meneruskan “tradisi jahat tiga tahunan” yang dari tokoh jahat sebelumnya.

Nggak, gini lo sebenernya, apa sih manfaat dari kita, para pemirsa ini, dengan menonton sinetron yang sampai seribu episode itu? Kita lo malah terlarut dalam cerita, sehingga jangan-jangan kita terlalu menghayati peran dalam sinetron itu. Iya kalo perannya yang jadi si baik, yang ditindas selama tiga tahun woles-woles aja. Coba kalo perannya ternyata jadi si jahat, tiap hari bikin masalah nggak abis-abis, bahkan sampai tiga tahun belum selesai. Mau jadi apa hidupnya?

Kalo dulu ada kontroversi tentang tayangan-tayangan kartun kaya Pokemon atau Spongebob Squarepants karena membahayakan yang nonton, harusnya juga ada dong larangan menayangkan sinetron yang panjang-panjang episodenya. Harusnya aturan panjangnya dibatasi, misalnya kalo yang tayang setiap hari kalo bisa tiga bulan udah selesai dan yang tayang seminggu sekali enam bulan udah tamat. Kalo gitu kan abis tamat ada yang lain ngantri tayang, toh yang main kan kebanyakan ya pemainnya itu-itu aja.

Kaya FTV itu sebenarnya bagus, tapi alurnya mudah ketebak. Polanya itu nggak jauh-jauh dari ketemu, berantem, naksir, terus jadian. Pemainnya juga sebenarnya itu-itu terus. Tapi bagusnya nggak ada FTV yang nyampe tayang seribu episode. Ini kalo FTV sampai seribu episode, kasian yang mau naksir ini, mungkin episode ketemunya bisa satu episode selesai, tar berantemnya 950 episode berikutnya, 48 episode berikutnya diisi dengan acara taksir-taksiran, terus episode terakhirnya jadian, tamat!

Sabtu, 20 Desember 2014

Mr. Bean

Pasti semua udah pada tau kan serial “Mr. Bean” yang disiarin di tivi itu, bahkan mungkin sering nonton. Mr. Bean adalah serial komedi televisi dari Inggris yang dibintangi oleh Rowan Atkinson. Program ini diproduksi oleh Tiger Television, yang kemudian berganti nama menjadi Tiger Aspect (perusahaan di mana Atkinson menanam sahamnya), untuk Thames Television dan awalnya hanya disiarkan di ITV. Di Britania Raya, acara ini sering disiarkan oleh PBS selama beberapa tahun dan sekarang telah tersedia dalam bentuk DVD.

Dalam serial ini Atkinson berperan menjadi seorang lelaki lucu, egois, dan banyak akal yang sering menghadapi situasi konyol karena ulah dan perbuatannya. Dalam kesehariannya, Mr. Bean mengendarai sebuah Mini Cooper (pada episode awal berwarna jingga keluaran tahun 1969, tetapi lama kelamaan berganti menjadi keluaran 1977 dengan warna hijau jeruk nipis dan kap mesin berwarna hitam).

Adegan pembuka acara ini (digunakan mulai dari episode kedua dan seterusnya) menggambarkan Mr. Bean jatuh dari langit dalam sinaran cahaya. Banyak teori mengenai arti dari adegan ini, mulai dari kemungkinan Mr. Bean adalah alien, malaikat yang dikirim ke dunia, atau manusia yang telah mengalami penculikan oleh alien (abduction) yang kemudian mengalami berbagai kejadian aneh. Tetapi para produser serial ini berpendapat bahwa adegan tersebut bermaksud menunjukkan bahwa Mr. Bean adalah manusia biasa yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian (tetapi serial animasinya memberikan artian yang lebih jelas). Apapun arti dari adegan itu, yang jelas Mr. Bean adalah karakter yang tampak sendirian di dunia, kekanakan, dan kadang terlihat tidak memahami aspek-aspek dasar yang bekerja di dunia.

Dia seolah punya dunia sendiri yang berbeda dengan orang lain, bahkan orang-orang di sekelilingnya. Dia punya boneka beruang yang seolah “hidup” dan bisa diajak ngomong. Atau dia begitu terlihat emosional saat melihat mobil yang mirip dengan mobilnya sendiri. Nggak bisa dipungkiri bahwa tingkah lakunya yang terkesan konyol itu bisa mengundang tawa buat penontonnya. Terutama yang paling diingat adalah ekspresi-ekspresi lucunya di berbagai situasi. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa kita ambil hikmahnya dari film ini. Terutama adalah bahwa acara ini mempertunjukkan bagaimana Mr. Bean berusaha melakukan kegiatan sederhana, seperti pergi berenang, mendekorasi apartemennya, atau mengerjakan ujian.

Tapi di balik hal-hal yang dilakukan secara sederhana ini, Mr. Bean itu selalu punya tujuan. Misalkan pada saat mengerjakan ujian, dia punya tujuan untuk bisa lulus ujian tersebut. Yang bikin konyol tentu aja gimana dia mencapai tujuan tersebut. Kelucuan biasanya muncul ketika ia menerapkan solusinya sendiri terhadap berbagai masalah tanpa menghiraukan orang lain. Banyak saat di mana Mr. Bean akhirnya dapat mencapai tujuannya tersebut, tapi sering juga usahanya berakhir dengan kekonyolan.

Sebenarnya sayang ya dengan tayangan Mr. Bean yang ada di tivi sekarang ini. Dulu serial Mr. Bean selalu punya jam tayang sendiri di jam-jam hiburan utama. Sekarang, entah karena para pemirsa tivi udah terlalu hapal dengan tiap-tiap episodenya atau gimana, seolah-olah kesannya kalo Mr. Bean tayang di tivi itu hanya sebagai pelengkap. Mungkin karena stasiun tivi udah kehabisan acara buat ditayangin, terus ditayangin aja Mr. Bean di waktu itu.

Referensi Ide

Kamis, 18 Desember 2014

Di Balik Nina Bobo

Sebenarnya bingung dengan lagu ini, Nina Bobo. Yang jadi kebingungan adalah kenapa harus Nina aja yang bobo, gimana dengan yang lain? Karena penasaran kan aku jadi browsing cari-cari tau gimana sejarah lagu ini. Eh malah yang ketemu cerita-cerita mistis di balik itu. Tapi di sini aku nggak akan ngebahas cerita mistisnya sih, soalnya kalo orang bilang itu kurang ilmiah. Mengesampingkan cerita-cerita horor tentang lagu Nina Bobo ini, ada beberapa hal yang bisa kita analisa dari lagu ini.

Pembahasan yang pertama, ada yang hapal lirik lagu Nina Bobo? Menurut Wikipedia setidaknya ada dua versi lirik lagu Nina Bobo ini. Versi pertamanya adalah:
Nina bobo oh nina bobo
kalau tidak bobo digigit nyamuk.
Marilah bobo oh nona manis,
kalau tidak bobo digigit nyamuk.


Sedangkan versi keduanya adalah:
Nina bobo oh nina bobo
kalau tidak bobo digigit nyamuk.
Bobolah bobo adikku sayang,
kalau tidak bobo digigit nyamuk.


Ada lagi versi bahasa Belandanya, yaitu:
Slaap meisje, oh slaap, meisje (tidurlah gadis, o tidur, gadis)
als je niet gaat slapen, zul je door een mug gestoken worden. (jika kamu tidak segera tidur, kamu akan disengat seekor nyamuk)
Laten we gaan slapen, oh lief meisje, (tidurlah tidur, o gadis manis)
als je niet gaat slapen, zul je door een mug gestoken worden. (jika kamu tidak segera tidur, kamu akan disengat nyamuk)

Pembahasan yang kedua adalah ini sebenarnya lagu anak-anak, fungsinya biasanya dipakai sebagai lagu pengantar tidur anak-anak. Tapi tau nggak, bahwa sebenarnya lagu ini nggak pantas diajarkan buat anak-anak? Biasanya kita dilarang mengajarkan ancaman buat anak-anak biar mereka nggak menganggap hal itu adalah menakutkan atau patut dihindari ke depannya. Tapi lagu ini malah mengajarkan ancaman. Coba liat di salah satu baitnya, ‘Kalau tidak bobo digigit nyamuk’, ini kan ancaman! Jadi si anak ini harus milih salah satu, segera bobo atau rela digigit nyamuk. Dan anak yang baik pasti milih yang pertama.

Pembahasan yang ketiga masih ada hubungannya sama tulisanku yang sebelumnya, soal fitnah kepada nyamuk. Ingat, nyamuk itu menghisap, bukan menggigit!

Pembahasan keempatnya masih ada hubungannya sama pembahasan yang ketiga, masih soal nyamuk. Yang kita tau itu nyamuk nggak akan milih-milih mangsanya, entah itu dia nggak tidur atau sudah tidur, tetep aja dia hajar. Kalo di lagu ini dibilang ‘Kalau tidak bobo digigit nyamuk’, atau harusnya ‘Kalau tidak bobo dihisap nyamuk’, udah tidur pun nggak jaminan itu nyamuk nggak menyedot darah kita.

Pembahasan terakhirnya ada hubungannya sama cerita mistisnya. Dari hasil browsing aku menemukan setidaknya ada tiga cerita di balik nama Nina ini, dua di antaranya yang berhubungan dengan mistisnya. Yang satu namanya Helenina Mustika Van Rodjnik, yang satu lagi namanya Nina Van Mijk. Persamaan dari kedua nama ini adalah keduanya sama-sama keturunan Belanda dan sama-sama dipanggil Nina. Mitosnya kalo ada yang nyanyiin Nina Bobo buat anaknya sebelum tidur di malam hari, maka arwah Nina (nggak tau Nina yang mana) akan menjaga anak itu biar tidur nyenyak sampai pagi.

Dari sini timbul pertanyaan, sebenarnya ada berapa stok arwah Nina yang tersedia? Misalnya gini, di sebuah gang ada 20 anak kecil, 10 di antaranya pas mau tidur dinyanyiin lagu Nina Bobo. Jadi seenggaknya harus ada 10 orang (atau apa?) arwah Nina yang harus menjaga anak-anak di dalam gang ini satu per satu. Ini masih di satu gang, gimana satu kelurahan? Kalopun cerita kedua anak Belanda itu benar-benar ada, mungkin bisa dibagi tugasnya masing-masing ya. Tapi tetep aja, harus punya banyak stok buat ngejagain semua anak di Indonesia ini yang ditidurkan pake lagu Nina Bobo.

Oya, ada satu versi lagi asal mula judul Nina Bobo yang aku dapat, dan sebenarnya aku lebih cenderung ke versi ini. Karena selain sumbernya lebih valid, ini juga lebih ilmiah. Nina Bobo adalah sebuah lagu pengantar tidur dari Indonesia yang bercitrakan irama keroncong. Lagu ini juga dikenal di luar Indonesia, misalnya di Negeri Belanda. Lagu ini dipopulerkan oleh Anneke Grönloh dan Wieteke van Dort. Dalam Bahasa Indonesia, kata-kata yang digunakan untuk menidurkan dalam lagu ini adalah nina-bobo(k) atau nina bobo. Kata kerja seperti “meninabobokkan”, yang juga berasal dari lagu ini, memiliki arti “menyanyikan lagu untuk menidurkan”. Penggunaan kata tersebut spesifik hanya di Indonesia. Sementara itu, dalam Bahasa Melayu, “meninabobokkan” diterjemahkan menjadi dodoi.

Kata “nina” seringkali dikira merupakan nama sebuah gadis. Kata tersebut sebenarnya berasal dari bahasa Portugis menina, yang meskipun juga memiliki arti gadis tetapi bukanlah sebuah nama. Namun, lagu ini dinyanyikan baik untuk anak pria maupun wanita tanpa membeda-bedakan. Beberapa kata Indonesia diserap dari bahasa Portugis; misalnya juga pada kata Nona. Semenjak abad ke-16, bangsa Belanda dan Portugis menuju ke India Timur dan meninggalkan jejak mereka dalam segi bahasa serta kultur budaya.

Kata “bobok” atau “bobo” berasal dari bahasa China. Kata Indonesia yang baku adalah “tidur”, sementara kata “bobok” lebih jarang digunakan dan umumnya hanya diterapkan pada anak-anak. Berdasarkan pada lirik lagu, seekor nyamuk akan menggigit si anak jika tidak segera tidur. Ada lelucon bahwa binatang lain selain nyamuk, yaitu toegezongene, yang akan menggigit.

Referensi:
1. Nina Bobo
2. Sejarah Mengerikan di Balik Lagu Nina Bobo
3. Asal Usul Lagu Nina Bobo

Rabu, 17 Desember 2014

Cerita Sendiri

Sebagai seseorang yang bikin tulisan di blog, sesekali aku juga punya cita-cita menyusun buku sendiri. Sesekali sih, soalnya dulu udah pernah nulis buku, banyak malah, pas sekolah dulu. Judulnya ‘Buku Tulis Pelajaran Bahasa Indonesia’, ‘Buku Tulis Pelajaran Matematika’, dan beberapa lagi. Pas dijual, eh laku banget lo! Yang beli ya itu, tukang loak, tukang barang bekas, beberapa teman juga. Kalo yang dibawa teman sih bukan beli dia, tapi minjem dan nggak balik.

Tapi seperti halnya tulisan di blog, aku ini termasuk orang yang bisa bikin konsep dan ide awal, tapi sulit mengembangkan dan bikin akhirannya yang pas. Dulu pernah bikin yang buku judulnya ‘Pelajaran Matematika’ tadi, nggak ada akhirannya, soalnya akhirannya waktu itu ujian nasional, nggak sempat ditulis di buku.

Nggak tau kenapa, kalo bikin cerita itu dari awal sampai tengah-tengahnya aku bisa banget. Soalnya kan emang di setiap cerita pas bagian awal sampai tengah itu isinya banyak yang nggak jelas gitu, begitu sampai akhir baru ketauan ini cerita mau dibawa ke mana. Ibaratnya benang, pas awal itu agak kusut, tengahnya kusut banget, dan akhirnya kekusutan itu diurai. Kalo cerita yang aku bikin, berawal dari agak kusut, kusut banget, terus hampir akhir ujung yang bikin kusut itu nggak ketemu dan akhirnya benang kusut ini dibuang. Nggak ada akhir lain selain nggak berlanjut.

Itu terjadi dulu aku kan pernah bikin cerita. Karena penggemar anime dan manga, aku bikin alur cerita kaya anime yang aku tonton atau manga atau aku baca. Awalnya bikin cerita yang alurnya kaya kartun Saint Seiya, eh ternyata filmnya nggak lanjut sampai habis, begitu juga ceritaku. Terus bikin cerita petualangan yang kaya manga apa gitu aku lupa, kan aku nggak langganan itu manga, jadinya ceritanya juga nggak lanjut.

Kalo ada yang pernah baca beberapa tulisan-tulisan di blogku ini dan nemuin akhiran tulisan yang nggantung nggak ada solusinya, ya itulah ciri khasku. Aku nggak bilang itu sebuah kelebihan, tapi sebenernya aku berharap ada yang posting komen buat nyempurnain tulisan itu. Setidaknya ada usul dan saran, atau mungkin kritik lah buat tulisanku itu, biar mungkin kalo bisa dimasukkan ke tulisan sebagai solusi masalah yang aku buat di awal tulisan kan lumayan.

Tapi sekedar info aja, bentar lagi aku mau bikin buku lo! Judulnya sih nggak keren-keren amat, ‘Jurnal Perjalanan Dinas’, isinya laporan perjalanan dinas para karyawan di kantorku. Yang nulis aku sendiri dengan tangan kananku yang bermanfaat ini, pake tulisan tanganku sendiri. Semoga jalan sih, buat bahan pelaporan kegiatan di kantor.

Selasa, 16 Desember 2014

Foto Penulisnya

Mungkin dari sekian ribu pembaca blogku ini ada yang pengen tau, sebenarnya gimana sih kira-kira ekspresiku kalo pas mengutarakan tulisan dalam blogku ini, apakah marah-marah, atau diam aja, belagak lugu-lugu ngeselin gitu, atau ketawa-ketiwi, atau juga senyum-senyum tersedu-sedu? Aku pernah baca sebuah blog, di headernya ada foto penulisnya lagi senyum lebar gitu, jadi setiap kali baca isi tulisannya aku jadi ngebayangin kalo orang ini kalo dia mempresentasikan setiap tulisannya dengan senyum-senyum lebar.

Itulah kenapa aku pasang fotoku juga di blogku ini, nggak di atas sih biar nggak ada kesan apa gitu, yang penting ada. Kalo foto yang sekarang bentuk wajahnya gimana? Tetep sih!

Tapi emang aku nggak terlalu suka nampangin foto diri di tulisan-tulisan blog. Biar nggak ada pikiran gini, “Ih, isi blognya cemen banget, eh ini ada foto yang bikin tulisan ini. Oh, jadi si cendol ini toh yang bikin tulisan? Fotonya senyum-senyum kaya udah paling bener aja… alay lo…!!!”. Itu rasanya kaya seluruh tulisan yang aku tulis tadi nempel di mukaku yang nggak rata ini. Dan semua orang baca tulisanku sambil menilai “Ni hidungnya nggak simetris nih… matanya kurang oke, meskipun alisnya kurang bumbu tapi ekspresinya cukup bagus. Kompor gas!!!”.

Nggak tau juga sih, sebenarnya isi blog itu berbanding lurus dengan wajah penulisnya atau nggak, tapi tetep aja kalo lagi baca sebuah tulisan, kita sering nyari-nyari, ada nggak foto penulisnya. Coba liat di koran-koran atau majalah gitu, kan sering tuh pas baca sebuah artikel dan nemuin kalimat apa gitu, kita sekejap mengalihkan perhatian dari teks yang kita baca ke foto penulisnya kalo ada. Kita ngebayangin gimana kalo wajah ini lagi ngomongin tulisannya, kemudian sekejap kemudian kita balik lagi ke teks yang kita baca tadi. Ini bahayanya kalo si penulis tadi nggak pede kita liatin, pas kita baca teks, liat ke foto penulisnya, lalu kita balik lagi ke teks semula, begitu kita liat lagi ke foto eh ternyata nggak ada gambarnya, tinggal tulisan aja ‘Lagi cuci muka’.

Tapi emang bisa dibilang foto penulis itu penting nggak penting sih. Dari foto ini kita bisa tau wajah penulisnya, siapa tau tar ketemu di jalan terus kita sapa atau minta tanda tangan gitu. Nggak pentingnya ya itu tadi, pas tulisannya nggak mutu sama sekali dia malah nyumpah-nyumpahin fotonya. Ya itu sih sebenarnya juga nggak bisa terlalu dianggap penting, saat sebenarnya yang kita cermati adalah hasil-hasil tulisannya.

Senin, 15 Desember 2014

Selamat

Ada seseorang yang punya rumah dua lantai. Rumahnya sedang terbakar, dan dia ada di lantai atas. Dia kemudian berteriak-teriak, “Tolong…!!! Selamatkan aku…!!!”. Ada seorang tetangganya yang dengar, terus bawa tangga kemudian naik ke lantai atas. Begitu dekat dengan orang tadi, sebelum ngobrol atau ngapa-ngapain, dia menjulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan orang tadi, kemudian dia bilang, “Selamat ya, Pak…”. Orang itu kemudian menjabat tangan tetangganya tadi lalu bilang, “Makasih ya, Pak, udah ‘diselamatkan’”.
‘Selamat’, kita mau mendefinisikan apa ya tentang kata ini? Aman-aman aja, baik-baik aja, nggak celaka, atau apapun yang berlawanan dengan hal-hal yang bercenderungan tidak aman. Itu bikin kita memikirkan hal-hal yang baik tentang kata ‘selamat’ ini. Tapi kenapa ada ucapan ‘Selamat Pagi’, ‘Selamat Hari Libur’, atau yang lainnya? Ini sebenarnya mendoakan agar kita selamat, atau paginya yang selamat?

Konsep awalnya emang itu adalah sebuah doa agar kita selamat saat waktu-waktu tertentu. Misalnya ucapan ‘Selamat makan’, ini adalah harapan agar pas makan kita terhindar dari marabahaya. Bisa aja kan pas kita makan, tiba-tiba kita terlibat bahaya, tanpa sengaja kita masuk dalam pertempuran antara kucing kita dengan anjing tetangga gitu. Dan dalam pertempuran ini kita terluka parah, dan akhirnya kita nggak jadi makan.

Atau ucapan ‘Selamat tidur’, ini harapan agar kita menjalani tidur dengan selamat. Jangan sampai kita terlibat bahaya gara-gara tidur, misalnya kita pas tidur dan mimpi, saking menghayatinya peran dalam mimpi kita, kita ngerasa itu kaya kenyataan, kita bangkit dari mimpi, terus jalan-jalan sambil tidur, dan akhirnya tanpa sengaja masuk ke dalam medan pertempuran antara kucing kita dengan anjing tetangga. Dan akhirnya dalam peperangan ini kita terluka parah, dan kita bangun dalam keadaan yang tidak ‘selamat’.

Bagaimana dengan ‘Selamat datang’? Ini ucapan pas kita datang ke suatu tempat, karena kalo nggak selamat kita nggak bakal bisa datang. Kalo ‘Selamat tinggal’? Semoga pas meninggalkan seseorang di suatu tempat dia nggak kenapa-kenapa, dan nggak terlibat dalam pertempuran antara kucing dan anjing lagi.

Ah, apapun definisi kita tentang ‘selamat’ dan ucapan ‘selamat’, semua pasti mengarah pada harapan agar diberikan keselamatan dan terjauh dari ketidakselamatan. Tapi kalo itu adalah sebuah harapan, atau katakanlah itu sebuah doa, kenapa jawabannya harus ‘Makasih ya…’? Itu mungkin karena ucapan-ucapan ini sebenarnya nggak jelas. Kalopun itu doa, doanya itu ditujukan kepada siapa. Itu mungkin ucapan buat kita agar selamat pas makan, tapi yang ngasih selamatnya siapa kan juga nggak disebutkan di situ.

Lain lagi misalkan kalo kita ucapin ‘Ya Allah, semoga Engkau memberikan keselamatan kepada saudaraku ini saat dia makan’, mungkin ini sebuah ucapan yang sebenarnya. Ini sebuah harapan dan doa yang jelas ditujukan kepada siapa untuk keselamatan siapa. Itulah kenapa kita jawabnya bukan ‘terima kasih’ lagi, tapi mengamininya. Dan lebih baiknya kalo juga balas mendoakan orang yang berdoa tadi.

Ada ucapan atau kalimat tertentu yang maksudnya sebenarnya adalah doa dan pengharapan, tapi nggak lengkap penyebutannya. Dan kalo nggak lengkap gini yang dimaksud juga nggak nyampai ke sasaran, malah kesannya nyindir-nyindir gitu. Kan lebih baiknya kalo kita bisa melengkapi ucapan tersebut, jadi kalimat tadi bisa bermakna doa dan kita dapat berkah dari doa tadi, dan moga-moga doanya juga dikabulkan.

Minggu, 14 Desember 2014

Menyampah

Seharusnya kita nggak perlu mempermasalahkan tentang bagaimana sampah itu dibersihkan atau siapa yang akan membersihkan sampah. Nonton berita di tivi, ada sungai di Jakarta yang penuh sampah, tiap hari sampahnya diangkat pake alat berat, tapi kok masih aja ada sampahnya. Belum sampe selesai pengangkatan satu hari, sampah dengan volume yang sama udah datang lagi.

Sekarang coba fokus beralih ke seseorang yang berjalan di pinggir kali. Dia makan roti berkemasan plastik. Rotinya udah habis dan dia nggak bingung lagi mau dibuang ke mana kemasan plastik itu, soalnya ada dua pilihan tempat buang terdekat, kalo nggak di jalan ya di kali. Dan akhirnya tanpa melalui pemikiran dan musyawarah mufakat dia buang ke kali aja. Dalam otak dangkalnya dia berpikir bahwa toh hanya dia aja yang buang sampah ke sungai waktu itu. Dan juga toh hanya sampah plastik kecil tanpa bobot yang dia buang.

Sekarang beralih lagi ke pemikiran yang agak ‘perhitungan’, berapa panjang sungai itu, dan berapa panjang jalan yang ada di pinggir sungai itu untuk dilalui orang. Kemudian ditambah dengan berapa orang yang jalan di pinggir kali itu, dan berapa banyak orang yang makan roti di situ. Kemudian ditambah lagi berapa banyak orang yang memilih ngebuang bekas bungkus roti itu ke kali dibandingkan ke jalan.

Parahnya, semua orang ini berpikiran yang sama, ‘Toh hanya dia aja yang buang sampah ke sungai waktu itu’, dan ‘Toh hanya sampah plastik kecil tanpa bobot yang dia buang’. Dan hasilnya, ya muncul di berita tivi tadi. Misalkan dalam satu jam aja ada 10 orang yang memilih membuang bungkus bekas roti di kali, berarti dalam satu hari ada 240 bungkus roti mengapung di kali. Itu cuma dihitung sampah bekas roti aja. Gimana dengan sampah-sampah yang lain? Tambahan lagi, gimana dengan sampah-sampah yang lain di tempat-tempat yang lain?

Sering banget nemuin orang-orang yang pas buang sembarangan sampai dibarengin dengan pemikiran ‘Toh nanti juga ada yang bersihin’, atau ‘Kalo nggak ada sampah, tar tukang sampah kerja apa?’. Padahal coba kita lihat katanya, ‘tukang sampah’, itu bisa diartikan orang yang kerjanya bikin sampah, ya berarti dia sendiri. Maksudnya gini, kenapa kita harus berangkat dari pemikiran ‘ada yang bersihin’, padahal kita punya peluang besar untuk mencegah itu. Kita bisa mencegah sampah berceceran dengan tidak buang sampah sembarangan. Lagian kan banyak disediakan tempat sampah di berbagai tempat. Pekerjaan menampung sampah sementara sampai ketemu tempat sampah buat buang sampah di situ, itu kan juga bukan pekerjaan yang berat, kecuali kalo sampahnya itu tadi berupa truk bekas gitu.

Kenapa kita nggak mengorbankan sedikit waktu buat menampung sampah sementara, yang bisa berdampak bersihnya lingkungan. Yang buang plastik bekas roti tadi, sementara plastiknya dikantongin dulu sementara sampai ketemu tempat sampah. Atau kalo nggak mau kantongnya kotor bisa antisipasi bawa kantong plastik buat penampungan sementara. Atau kalo nggak mau repot lagi ya nggak usah makan roti dulu sementara sampai ketemu tempat sampah terdekat. Kita sering pengen menjaga kebersihan tapi bingung gimana atau memulai dari mana. Ya kita bisa mulai dari hal remeh temeh kaya tadi, dimulai dari diri kita sendiri, dan sesegera mungkin dilaksanakan, nggak perlu nunggu fungsi sungai dari penuh air menjadi penuh sampah.

Sabtu, 13 Desember 2014

Nasib Resolusi Tahun Baru

Sebuah kegiatan yang sering digembar-gemborkan pada akhir tahun adalah: MEMBUAT RESOLUSI TAHUN DEPAN. Nggak tau ini kegiatan wajib atau bukan, tapi pasti kita sering dapat pertanyaan klise, ‘Apa resolusi kamu tahun depan?’. Dan kemudian kita mau jawab apa ya terserah kita aja. Kalo misalnya ada yang emang bikin, dia kemudian bikin sesi presentasi dan menerangkan resolusinya dari awal sampai akhir, sejak tanggal 1 Januari sampai 31 Desember dengan detail dan menyeluruh, terus di sesi terakhirnya dia bilang, ‘Ada pertanyaan?’. Kalo yang emang nggak bikin, ya woles aja, itu kan nggak harus.

Tapi gini, coba kita perhatikan terutama bagi mereka yang bikin, berapa lama resolusi tahun baru anda akan bertahan untuk dilaksanakan? Atau secara globalnya, berapa persen resolusi yang anda canangkan kemudian tercapai di akhir tahun? Dan akhirnya, seberapa banyak resolusi awal tahun anda yang bisa diingat sampai akhir tahun, atau seenggaknya tengah tahun? Dan mumpung ini akhir tahun menurut perhitungan kalender, pertanyaan bagi yang bikin resolusi tahun lalu, ada nggak yang masih inget resolusi tahun baru anda tahun ini?

Resolusi tahun baru, seringnya berupa deretan daftar apapun yang ingin kita capai atau kita ubah di tahun depan. Alih-alih bikin perubahan sekarang, orang-orang cenderung suka bikin perencanaan perubahan untuk tahun depan. Dan akhirnya entah konsisten atau nggak dengan pencanangan itu, orang-orang cenderung lupa dengan yang namanya resolusi tahun baru, bahkan di minggu kedua tahun baru. Ini kenapa?

Balik lagi kepada kecenderungan bikin perubahan untuk direncanakan tahun depan, dengan ini kita terlalu terbiasa dengan yang namanya menunda. Mau berubah aja nunggu tahun depan. Dan dalam pikiran kita, sering muncul latar belakang bahwa hari esok masih panjang buat bikin perubahan itu di masa depan. Nah, menunda ini bisa terjadi lagi pas tahunnya udah ganti, sedangkan resolusi yang tadi udah waktunya dilaksanakan. Abis itu kita tunda lagi sampai bulan depan, bulan depannya tunda lagi, tunda lagi, berulang-ulang sampai akhirnya kita ketemu akhir tahun lagi.

Ibarat sebuah unit kerja yang bikin program kerja tahun depan dengan target-target tertentu kapan untuk dilaksanakan, resolusi tahun baru itu hampir sama kaya gitu. Resolusi kaya gini bukan buat orang-orang yang suka menunda-nunda bikin perubahan atau orang-orang yang suka berkompromi dengan aturan-aturan tertentu yang mereka buat sendiri. Dan resolusi kaya gini membutuhkan sifat konsisten, konsekuen, komitmen, dan tekad untuk melaksanakan. Tanpa sifat-sifat kaya gini, percuma! Mending nggak usah bikin resolusi, bikin aja prinsip hidup seperti air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Mau berubah kapan pun, nggak ada target, bisa! Mau nggak berubah, tunggu bulan depan, bisa! Pokoknya nggak terikat resolusi kosongan.

Sebenernya terserah sih sama masing-masing, mau bikin resolusi, mau nggak, ya nggak masalah. Nggak perlu menggembar-gemborkan juga lah mana yang bener mana yang nggak. Yang bikin ya silakan berusaha untuk melaksanakan, yang nggak ya nggak usah ribut. Toh juga nggak ada bedanya antara tahun baru sama tahun lama, kecuali bilangan tanggalnya.

Dan kalo ditanya apa resolusi tahun baruku, aku jawab ‘1024 × 768′.

Daftar Blog Saya