Tanya Dilema

Suatu pagi, di tengah-tengah pekerjaan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan di Facebook Messenger dari seorang temanku.

Seperti Nemo

Ada satu film yang bagiku aneh banget, yaitu Finding Nemo. Inti ceritanya kan ada seekor ayah ikan yang mencari anaknya. Yang aneh itu ternyata ikan ini bisa ngomong. Padahal kalopun ikan bisa ngomong, kan ikan ini ada di dalam air. Coba kita aja yang ngomong di dalam air, kedengeran nggak sama temen kita yang ada di deket kita.

Pakai Bahasa Indonesia

Dari sejak blog pertamaku aku selalu pengen mempertahankan ke-Indonesiaanku, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia di setiap tulisan blogku. Bukan karena aku nggak bisa bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau India, bukan! Tapi sebenarnya emang nggak bisa sih, tapi bukan itu maksudnya.

Hobi

Hobiku adalah membaca. Aku mendapatkannya dari sebuah majalah anak-anak. Jadi gini awal ceritanya, waktu itu ibuku mengirimkan foto dan dataku ke sebuah rubrik koresponden di majalah anak-anak itu. Dan di bagian hobinya, ibuku menuliskan kalo hobiku adalah membaca.

Power Bank

Di jaman gadget seperti sekarang ini, keberadaan smartphone menjadi bagian kehidupan bagi beberapa orang. Tapi di balik kecanggihan dan segala kelebihannya, ada salah satu sisi di mana smartphone justru lebih boros dalam pemakaian daya baterainya.

Jumat, 31 Oktober 2014

Seperti Nemo

Ada satu film yang bagiku aneh banget, yaitu Finding Nemo. Inti ceritanya kan ada seekor ayah ikan yang mencari anaknya. Yang aneh itu ternyata ikan ini bisa ngomong. Padahal kalopun ikan bisa ngomong, kan ikan ini ada di dalam air. Coba kita aja yang ngomong di dalam air, kedengeran nggak sama temen kita yang ada di deket kita. Kalopun omongan kita jelas, bisa nggak temen kita denger omongan kita, kan kupingnya kemasukan air.

La kalo si Nemo tadi sebagai ikan sejati pengen ngobrol pasti mereka punya bahasa sendiri. Kalo dengan ngomong nggak jelas kedengeran, bisa pake bahasa isyarat. Tapi masalahnya, sirip mereka kan pendek, lalu gimana bikin bahasa isyarat yang berbeda untuk setiap kata yang ada di dunia ini kalo gerakan mereka sangat terbatas? Ini pasti banyak kata yang sama buat sebuah gerakan. Lagian spesies ikan itu juga banyak, tapi kalo saling ngobrol mereka bisa saling ngerti satu sama lain spesies. Ini pasti karena nenek moyang ikan itu adalah seorang motivator ulung, di mana dia memotivasi semua ikan untuk menggunakan satu bahasa persatuan yang sama biar sama-sama dimengerti biarpun ada ikan paus ngomong sama ikan teri.

Kita bisa bilang ‘Ah, itu kan cuma film!’. Tapi pernah nyadar nggak, sekhayal-khayalnya film, kita bisa ngebahas film tersebut dengan serius sama teman-teman kita. Padahal dalam lubuk hati yang paling dalam kita tau bahwa itu film, ceritanya karangan, dan adegannya buatan, banyak efek-efek di dalamnya. Tapi karena cerita film, kita bisa marahan sama temen kita. Adegannya bisa mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Film pertama kali yang aku tonton di bioskop adalah Tutur Tinular, sekitar tahun 1989. Setelah nonton itu aku jadi bercita-cita menjadi Arya Kamandanu, sampai akhirnya aku nonton Power Rangers.

Ada lagi misalnya gini, kita tau bahwa dalam film horor hantu-hantunya itu buatan, ada yang memerankan. Kita bisa bilang bahwa film horor itu sebenarnya nggak horor, malah film horor sekarang itu adalah film semi porno yang disamarkan. Tapi kalo liat film horor kita bisa ngeri juga, abis nonton kita nggak bisa tidur, nggak berani jalan di jalanan sepi gelap sendiri, dan lain sebagainya. Padahal pola pikir kita di depan tadi kan ini hantu jadi-jadian, bahkan sebelum nonton filmnya kita udah ngeliat trailer di balik layar film itu. Tapi masih aja ada rasa ngerinya.

Efek-efek spesial di film Hollywood juga keren-keren! Pas nonton kita seolah-olah ngerasa itu beneran terjadi. Film ‘2012’ misalnya, rasanya beneran dunia akan dapat bencana besar, padahal kita tau itu cuma film. Kalo nonton film India rasanya kita ikut terbuai dalam lagu dan tarinya, padahal sebelumnya kita bilang kalo film Bollywood itu lebay. Itu berarti bahwa dari sebuah film kita seolah diajak masuk ke dalam alur cerita film itu dan merasakan bahwa segala hal yang ada di dalam film tadi nyata.

Seperti film Finding Nemo tadi, kalo kita yang nonton mungkin kita lagi-lagi bilang ‘Ah, itu kan cuma film!’. Tapi kalo anak kecil abis nontonnya, dia pasti pengen beli ikan kaya Nemo terus berharap dia bisa ngomong atau bisa meloloskan diri dari akuariumnya. Kita lagi-lagi bisa bilang ‘Ah, itu kan cuma anak kecil!’. Tapi kalo ternyata kita masih ngeri abis nonton film horor, siapa sekarang yang jadi anak kecil?

Kamis, 30 Oktober 2014

Pakai Bahasa Indonesia

Dari sejak blog pertamaku aku selalu pengen mempertahankan ke-Indonesiaanku, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia di setiap tulisan blogku. Bukan karena aku nggak bisa bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau India, bukan! Tapi sebenarnya emang nggak bisa sih, tapi bukan itu maksudnya. Tapi intinya gini, gimanapun kita ini (terutama aku) adalah orang Indonesia, yang mengaku punya bahasa sendiri, dan pernah ada yang bersumpah pula kalo bahasa ini harus dijunjung tinggi. Kalo kita punya bahasa sendiri, ngapain ngikutin bahasanya orang lain?

Bukan berarti aku anti dengan bahasa asing ya, buktinya dulu nilai ujian bahasa Inggrisku bagus (menurutku sih). Nilai bahasa Fisikaku aja yang nggak bagus-bagus amat. Tapi pada dasarnya, kalo bukan orangnya sendiri siapa yang mau pake dan melestarikan bahasa Indonesia ini? Maka aku sering heran sama orang-orang yang ngakunya cinta Indonesia tapi mengungkapkannya pake bahasa asing. Cinta Indonesia, tapi kenapa nggak cinta sama bahasanya?

Aslinya yang namanya kata-kata, di dalam bahasa Indonesia juga udah bisa mewakili semua perasaan yang tertulis dalam bahasa Inggris. Kalaupun ada kata serapan, itu udah di-Indonesiakan sama ahli-ahli bahasa di kalangan atas sana. Jadi nggak ada alasan buat bilang bahwa bahasa Indonesia itu kuno dibandingkan bahasa Afrika kuno, misalkan. Meskipun masih aja kata-kata serapan itu terasa nggak pantes kalo dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Sampai saat ini aku masih bingung dengan apa yang dimaksud oleh kata-kata daring, luring, atau yang kata lebih umum lagi semisal tetikus, ataupun unduh, unggah, dan sebagainya. Entah apa nggak ada kata lain yang bisa mewakili itu, tapi ya udahlah, kata-kata itu juga udah masuk dalam sistem perkomputeran berbahasa Indonesia.

Kalo ngomongin transliterasi bahasa Indonesia dari bahasa Inggris, kita bisa sedikit berterima kasih sama Google Translate. Sedikit aja, karena banyak kata yang ternyata nggak ditemukan di situ. Belum lagi alih bahasanya yang sangat harfiah banget. Dengan ini, harusnya kita bisa protes ke Google Translate soal ketidakakuratan alih bahasa ini. Tapi khawatirnya, kalo kita protesnya pake bahasa Indonesia, mereka baca protes kita pake transletan dari Google Translate itu tadi. Kan jadinya kandungan protes kita nggak nyampe ke mereka lagi.

Kembali ke tulisan blog berbahasa Indonesia nih, karena mempertahankan ke-Indonesiaan tadi maka sebisa mungkin aku menguasai kata-kata serapan dan alih bahasa yang tepat untuk istilah-istilah berbahasa asing untuk dituliskan ke dalam blog. Jadi nggak lagi aku pake istilah seperti ‘download’ untuk dimasukkan ke dalam tulisan, tapi karena aku juga kurang sreg dengan kata ‘unduh’, maka aku pake aja kata donlot yang udah terkenal dalam percakapan sehari-hari. Kurang tepat sih, tapi karena aku pengen mempertahankan ke-Indonesiaan tadi namun aku juga pengen biar yang baca blog ini ngerti (itupun kalo ada yang baca), makanya pake istilah yang santai aja, namanya juga blog ini santai.

Akhir kata, pakailah bahasa Indonesia untuk hal-hal di dalam Indonesia ini. Bukan berarti aku nggak berambisi biar blogku ini dibaca oleh orang-orang di Antartika sana, tapi lebih kepada kalo mereka yang di Antartika itu baca blog ini dan mereka nggak ngerti bahasanya, mereka bisa pake Google Translate dan mereka akan semakin tersesat! Bukan itu sih, maksudnya agar orang-orang di luar negeri sana yang mau baca blog ini, makanya belajar dong bahasa Indonesia. Udah gitu aja…

Rabu, 29 Oktober 2014

Hobi

Hobiku adalah membaca. Aku mendapatkannya dari sebuah majalah anak-anak. Jadi gini awal ceritanya, waktu itu ibuku mengirimkan foto dan dataku ke sebuah rubrik koresponden di majalah anak-anak itu. Dan di bagian hobinya, ibuku menuliskan kalo hobiku adalah membaca. Dan sejak saat itu, aku memproklamirkan diri bahwa hobiku adalah membaca.

Hobi adalah sebuah kegemaran atau kesenangan terhadap sesuatu perilaku tertentu. Dan yang patut diperhatikan adalah hobi itu berada di luar lingkaran kegiatan dan kebutuhan sehari-hari. Jadi yang namanya makan, tidur, minum, bernapas, mandi, dan lain-lainnya bukan termasuk hobi. Nggak kebayang kalo ada seseorang yang bilang bahwa hobinya makan, kalo suatu saat dia nggak lagi bilang bahwa hobinya makan terus ternyata dia berhenti makan.

Karena hobi itu menjadi spesifik kepada hal-hal tertentu, hobi ini bisa jadi penghasilan. Yang hobinya main sepakbola misalnya, dia bisa berkembang menjadi pemain sepakbola profesional. Atau yang hobinya bikin kerajinan, dia bisa menjual hasil-hasil kerajinannya. Tapi yang hobinya nyolong sebaiknya jangan dikembangkan, itu bisa jadi kriminal!

Kalo sekarang, seiring berjalannya waktu, hobiku jadi tambah banyak, nggak cuma membaca saja, sampai-sampai saking banyaknya aku nggak punya cukup waktu buat ngelakuin semua hobiku. Aku jadi lebih mengelompokkan hobi-hobi ini menjadi minat. Jadi kalo ada sebuah pendaftaran blog di internet, terus aku diharuskan mengisi bahwa blog itu tentang apa, itu bisa aku isikan sesuai dengan apa yang menjadi minatku.

Kalo minat ini berbeda dengan bakat. Misalkan aku berminat menjadi penyanyi, tapi ternyata kalo aku ngorok aja fals, berarti aku nggak bakat jadi penyanyi. Tapi tetap aja sama, minat bisa berubah dan bakat bisa diasah. Jadi kalo aku berminat menjadi penyanyi, aku bisa berlatih dan ikut kursus menjahit agar bisa menjadi koki ternama.

Selasa, 28 Oktober 2014

Power Bank

Di jaman gadget seperti sekarang ini, keberadaan smartphone menjadi bagian kehidupan bagi beberapa orang. Tapi di balik kecanggihan dan segala kelebihannya, ada salah satu sisi di mana smartphone justru lebih boros dalam pemakaian daya baterainya. Kesannya jadi smartphone tidak bisa dibawa ke mana-mana karena butuh pengisian baterai ekstra. Kan nggak bisa kita mampir ke masjid atau mushola cuma buat nyolokin charger buat ngisi ulang daya. Apalagi kalo tar main colok sembarangan, terus ternyata colokannya kena infeksi virus atau kuman, bisa kena penyakit. #eh

Makanya ada teknologi pendukung bernama power bank. Nggak tau juga siapa yang pertama kali ngasih nama power bank itu, soalnya biasanya di badan alat ini juga nggak ada keterangan bahwa alat itu bernama power bank. Tapi yang pasti power bank ini sangat berguna dan membantu bagi kelangsungan hidup smartphone, apalagi kalo power banknya berarus besar dan tahan lama.

Tapi nggak selamanya power bank menjadi berguna saat kita dalam perjalanan. Malah bisa jadi bawa power bank di perjalanan itu menjadi blunder, terutama kalo kita dalam perjalanan bersama rombongan yang ternyata hanya kita yang bawa power bank. Misalkan gini, kita ada dalam rombongan perjalanan bersama 8 orang, 6 orang di antaranya punya smartphone yang butuh belas kasihan daya berlebih, dan hanya kita yang punya power bank, dan untungnya lagi power bank itu kita bawa.

Ini sama aja kaya kita mau berlibur di gurun berpadang pasir yang luas bersama 5 orang, yang konyolnya hanya kita seorang yang bawa minum, dan untungnya lagi botol yang kita bawa berkapasitas 1 liter. Tambahan kasusnya, kita ini yang fisik dan staminanya paling kuat di antara 5 orang yang lain. Ini bisa jadi ajang perebutan air minum kalo kita terusin liburan itu, kalo belum nyampe jalan 5 kilometer satu per satu teman kita mulai kehausan dan tidak ada cara lain selain minum dari botol minum 1 liter punya kita itu. Dan 5 kilometer berikutnya, saat kita butuh minum, kita nggak punya air sama sekali.

Ini juga terjadi sama kasus power bank buat berenam tadi, kalo nggak segera nemu colokan buat ngisi daya tambahan smartphonenya. Ini power bank pasti menjadi harta karun yang diperebutkan oleh 5 orang, belum termasuk kita yang jadi pemilik resminya. Jika salah satu teman udah kehilangan daya buat SMSan aja, terus dia butuh daya tambahan dan kita belum nemuin colokan terdekat, pasti power bank ini jadi sasaran targetnya dan kita menyerahkannya tanpa sadar. Padahal kemaren semalaman power bank itu udah diisi penuh buat mendukung smartphone kita sendiri.

Dan kalo ternyata kebetulan (nggak kebetulan juga sih), teman kita ini punya 2 smartphone dan kita nggak segera ngambil itu power bank karena kebutuhan kita sendiri, dia pasti nyolokin power bank itu ke smartphone satunya. Belum lagi teman-teman yang lain, yang ternyata juga berharap belas kasihan daya baterai. Sehingga pada saat power bank itu balik ke kita, karena kita yang terakhir membutuhkan soalnya tadi malam selain ngisi penuh power bank smartphone kita juga kita isi penuh baterainya, kita nggak punya daya apa-apa lagi buat diisi ke smartphone kesayangan. Dan parahnya, kita masih belum nemuin colokan terdekat buat ngisi daya lagi.

Sebenarnya ini bukan masalah pelit atau nggak solider sih, cuma aja ini berhubungan dengan kebutuhan kita juga. Bukan masalah kalo kita ini orangnya terlalu dermawan, membagikan harta benda kita ke teman-teman kita, tapi alangkah baik dan bijak, serta etisnya, kalo apa yang dipinjam teman-teman kita juga masih disisakan buat kita juga, dalam kasus di atas botol air minum 1 liter dan power bank. Kalo bilang butuh, semua juga butuh. Kalo nggak butuh, ngapain perlu barang itu dibawa. Jadi sebaiknya kalo pake kebutuhan-kebutuhan itu juga secukupnya aja, sekiranya cukup sampe tempat pemberhentian berikutnya. Jangan sampe timbul perpecahan dalam rombongan perjalanan karena saling mengklaim kebutuhan masing-masing.

Rabu, 05 Maret 2014

Bikin Layout Buku

Mungkin suatu ketika kita dapat tugas bikin sebuah booklet, atau di kantor bikin pedoman yang berbentuk buku. Dengan tugas ini, apa yang akan kita lakukan? Mengorderkan tugas ke pengetikan? Atau ke percetakan? Satu hal yang perlu diperhatikan adalah sebuah tugas kalo kita berikan untuk dikerjakan ke orang lain hasilnya bisa jadi tidak seperti yang kita harapkan, itu pertama. Yang kedua adalah dengan orang lain yang mengerjakan tugas yang agak rumit dari kita, maka secara tidak langsung kita bikin orang tersebut lebih pintar dan lebih kreatif dari kita. Dan yang terakhir, akibatnya adalah kita tetap berada dalam zona di mana kita nggak bisa ngerjain tugas-tugas seperti itu nantinya, sehingga kita tetap menggantungkan pekerjaan ke orang tadi.

Kalo mau belajar dikit, sebenernya tugas bikin booklet atau buku ini bisa kita kerjakan sendiri, kan udah ada program pengolah kata semacam Microsoft Office atau OpenOffice. Kita tinggal bikin setting-setting aja, udah bisa bikin buku. Kali ini akan aku peragakan gimana cara buat kerangkanya, dalam hal ini aku pake Microsoft Office Word 2007.

Yang pertama adalah menentukan kertas yang akan dipakai. Biasanya yang sering dipakai adalah kertas kuarto, A4, atau folio. Dari Page Setup bisa diliat berbagai ukurannya. Kalo pake kertas kuarto yang berukuran 21,59 × 27,94 cm, pilih kertas bernama Letter. Kalo pake kertas A4 yang berukuran 21 × 29,7 cm, pilih kertas bernama A4. Kalo pake kertas folio yang ukurannya 21,59 × 33 cm, pilih jenis kertas Letter, tapi ganti ukuran Height yang sebelumnya 27,94 menjadi 33. Idealnya sebenarnya bikin booklet itu pake kertas folio, soalnya lebih panjang dan nantinya tata letak halamannya pas.

Secara umumnya bikin booklet di MS Word itu ada dua cara. Yang pertama adalah bikin dokumen seperti biasa aja, tar pas mau mencetak dibuat Page Layoutnya jadi Booklet. Cara ini sebenarnya lebih praktis, tapi kurang berseni. Ingat, yang praktis itu sering bikin nggak kreatif! Cara yang kedua adalah bikin dokumennya langsung dalam layout bukunya. Cara ini yang akan aku tulis di sini.

Karena kita akan bikin dokumen dalam bentuk yang nggak biasa, bergantung pada ukuran kertasnya seperti di atas tadi, setelah menentukan jenis kertas yang akan dipakai maka langkah berikutnya adalah bikin setting agar dokumen yang tampil udah jadi bentuk semi booklet. Sebagai contoh dalam tulisan ini aku pakai kertas folio. Orientasi kertas dibuat mode Landscape. Kemudian semua margin diatur, sebagai contoh aku buat margin atas, bawah, dan kanan dibuat 1 cm. Margin kiri dari dokumen juga akan dibuat 1 cm, tapi di sini margin kiri tidak diisi dengan angka 1. Dihitung dulu dengan memperhatikan panjang kertas, yaitu 33 cm, dibagi 2, jadi 16,5 cm. Kemudian 16,5 ini ditambah margin kiri yang diinginkan tadi, yaitu 1. Jadi margin kiri di Page Setup ini diisi dengan angka 17,5 cm. Lalu untuk bagian Multiple Pages dipilih Mirror Margins. Setelah itu selesai dan klik OK.

Sekarang kita lihat bentuk dokumen yang ada di layar. Hasil dari setting yang dibuat di Page Setup tadi terlihat di sini. Bagian dokumen akan berada di bagian kanan layar, sedang bagian kirinya kosong. Nanti kalo dokumen udah memasuki halaman berikutnya, yaitu halaman 2, dokumen akan berganti ke bagian kiri, sedang sebaliknya bagian kanannya kosong. Itu adalah hasil dari setting Mirror Margins tadi, di mana nantinya untuk halaman ganjil dokumen ada di posisi yang sesuai dengan page setup awal, sedangkan sebaliknya untuk halaman genap akan berada di posisi yang sebaliknya.

Sampai di sini sementara settingnya selesai. Kita udah bisa ngetik dan menyesuaikan sesuai dengan tugas yang kita punya tadi. Kalo udah selesai semua proses pengetikannya dan mau mencetak, perhatikan baik-baik karena proses pencetakan itu nggak begitu aja. Lihat dulu berapa jumlah halaman keseluruhan dari dokumen kita ini, kemudian bagi 4, maka hasilnya adalah jumlah lembar kertas yang dibutuhkan. Kita bagi 4 karena dalam 1 lembar kertas nantinya masing-masing akan ada 4 halaman. Kalo misalnya nggak habis dibagi 4, misalnya jumlah halamannya 26, berarti kelebihan hasil pembagiannya adalah tambahan 1 lembar kertas lagi, berarti akan butuh 7 lembar kertas.

Untuk mencetaknya, pertama pada area Page Range, isi pada bagian Pages. Jika jumlah halaman tadi 26, maka bagi dua, jadi isi Pages dengan angka 1 – 14. Ini berarti hanya halaman 1 sampai dengan 14 saja yang akan dicetak. Kemudian pada bagian print, ganti All Page in Range menjadi Odd Page. Ini berarti halaman ganjil aja yang akan dicetak. Setelah itu bisa diklik OK.

Setelah selesai semua kertas cetakan pada bagian ini, kemudian tanpa mengubah tatanan kertas langsung balik dengan posisi vertikal dan masukkan lagi ke printer. Cetak lagi dengan cara yang sama dengan atas, hanya saja yang Odd Page tadi diganti dengan Even Page. Ini berarti halaman genap aja yang akan dicetak. Setelah itu bisa diklik OK.

Proses berikutnya adalah mencetak halaman sisanya, yaitu halaman 15 sampai dengan halaman 26. Jadi isi Pages dengan angka 15 – 26. Ganti lagi bagian Print yang All Page in Range menjadi Odd page. Kertas yang udah keluar sebelumnya dari printer tadi, tanpa mengubah tatanan kertas masukkan lagi ke printer tanpa dibalik. Setelah itu bisa diklik OK.

Setelah selesai kembalikan tatanan kertas yang udah keluar tadi ke printer dalam keadaan dibalik. Cetak lagi halaman 15 sampai dengan 26 dengan mengganti All Page in Range menjadi Even Page. Setelah selesai, semua cetakan udah bisa dilipat dan dibentuk buku, sesuai dengan urutan halamannya.

Yang perlu diperhatikan sekali lagi di sini adalah jumlah halaman dan kesesuaian nomor halaman pada cetakan. Misalkan halaman 1 yang ganjil, berada di sisi kanan, halaman baliknya yang berada di sisi kiri pasti adalah halaman genap. Di samping halaman genap ini, di sebelah kanan, pasti halaman ganjil dan baliknya yang sebelah kiri adalah halaman genap. Banyak masalah yang timbul karena halaman total tidak habis dibagi dengan 4. Untuk lebih yakinnya bisa dibikin simulasi dulu pake kertas lain. Bentuk lembaran kertas menjadi tatanan bentuk buku dan beri masing-masing halaman dengan nomor halamannya. Dengan simulasi ini maka mencetak bisa lebih mudah.

Kalo paparanku di atas kurang jelas dimengerti karena bahasanya berbelit-belit, anda bisa mencari referensi lain atau bikin eksperimen sendiri. Karena dengan eksperimen sendiri siapa tau anda bisa menemukan cara yang lebih mudah dari caraku tadi. Dan yang pasti anda akan lebih kreatif dalam mengerjakan tugas dan penggunaan programnya.

Selasa, 04 Maret 2014

Menjadi Orang Lain

Kita, setidaknya sekali dalam seumur hidup, pasti pernah pengen menjadi orang lain. Kita ngelihat orang lain hidupnya enak, nyaman, dan sukses, terus kita pengen menjadi dia. Misalnya gini, kita ngelihat seorang David Beckham menjadi bintang lapangan sepakbola, model berbagai iklan, menjadi selebritis, terkenal, dan seterusnya yang nggak cukup bila ditulis di sini. Terus kita secara mengkhayal pengen jadi seorang David Beckham. Pertanyaannya, mau nggak David Beckham jadi kita?

Bukan itu sih masalahnya. Masalahnya adalah kita terlalu sering melihat kehidupan orang lain adalah nyaman untuk dijalani. Kita nggak tau apakah sebenarnya orang itu nyaman dengan hidupnya sendiri, malah bisa jadi dia bisa berpikir bahwa hidup kita terlihat nyaman untuk dijalani. Padahal sebenarnya kalo kita mau menyadari, sebenarnya hidup yang enak dan nyaman untuk dijalani itu ya hidup yang sedang kita jalani sekarang ini.

Aku sering berpikir bahwa tidak akan ada orang yang mungkin mampu menjalani hidup seperti yang aku jalani sekarang ini. Hidupku yang seperti ini terlalu sayang untuk dijalani oleh orang lain, ataupun juga terlalu sayang untuk dijalani lagi untuk kedua kalinya. Aku udah berada di posisi sekarang ini dengan banyak hal yang telah dijalani sejak lahir, dan bagaimana jadinya bila ada orang lain yang pengen bertukar hidup denganku yang sekarang. Padahal dia nggak tau apa aja yang pernah aku lalui, apa aja yang telah berhasil aku bangun, mental yang telah aku pertahankan sampai sekarang, dan seterusnya yang nggak cukup bila ditulis di sini.

Inti sebenarnya adalah bahwa dengan mensyukuri hidup yang kita jalani sampai sekarang ini, kita bisa menghargai hidup, serta tidak ada satupun dalam hidup kita ini yang terlalu murah untuk kita tukar dengan kehidupan orang lain. Dan ada sebuah ungkapan, bahwa hidup terlalu singkat untuk dijalani menjadi orang lain.

Senin, 03 Maret 2014

Les atau Sekolah

Dulu selama sekolah di tingkat SD aku mengikuti les mata pelajaran di luar jam sekolah. Sebenarnya guru pengajarnya juga sama, tapi bedanya les dilakukan tidak di sekolah dan tidak di dalam jam pelajaran. Di dalam les tersebut lebih banyak dibahas tentang pelajaran di sekolah juga, selain sedikit pemahaman dan pengetahuan di luar pelajaran yang diajarkan di sekolah. Dan karena mengikuti les tersebut, nilai sekolah menjadi terbantu dan pelajaran lebih mudah dipahami.

Meningkat di tingkat SMP aku mengikuti les juga, hanya saja yang aku ikuti cuma les bahasa Inggris saja. Les ini lebih kepada pemahaman tentang bahasa Inggris beserta pemakaiannya dalam praktek, serta didukung dengan pembahasan pelajaran di sekolah. Sehingga secara umum dan luasnya pemahaman bahasa Inggris lebih bisa dikuasai dan sangat mendukung dalam pelajaran sekolah, meskipun kemudian di sekolah tidak diajar oleh guru yang memberi les tersebut.

Sama-sama belajar, sama-sama diberi materi, sama-sama diajar oleh guru sekolah, tapi mengapa ya pengajaran dari les lebih mudah dipahami dan lebih mudah diterapkan? Kalo aku pribadi sih menganggap karena suasana di les lebih nyaman dan komunikatif aja. Misalnya saat di les, saat diberi sebuah soal matematika, guru akan mengarahkan dengan efektif dan efisien bagaimana cara menyelesaikan soal tersebut. Saat kita salah mengerjakannya, kita nggak akan dihukum, malah diberitahu cara mengerjakan soal tersebut dengan mudah. Selain itu suasana les juga nggak kaku. Kita lebih bebas berekspresi dengan menanyakan berbagai pelajaran yang tidak atau belum kita pahami.

Beberapa contoh seperti di atas tentu beda dengan suasana pembelajaran di sekolah. Kita lebih dituntut ‘menjawab dengan benar’ dari setiap soal yang diberikan kepada kita. Padahal mungkin metode pengajaran yang diberikan sama antara les dan sekolah. Tapi nggak tau kenapa seolah-olah penjelasan guru di sekolah tidak cukup untuk menyalurkan ilmu dari sebuah bahasan kepada murid-muridnya. Entah kenapa…

Aku jadi teringat ada sebuah ungkapan dari seorang kenalan, dia bilang kalau les bisa bikin anak jadi pinter, kenapa perlu ada sekolah? Dari ungkapan ini seolah sekolah itu hanya sebuah sarana untuk mendapatkan pengakuan atas ‘kepintaran’ seseorang, padahal dengan adanya les mata pelajaran seorang anak bisa lebih menguasai pelajaran daripada penyajian di sekolah. Sementara aku sendiri menganggap bahwa sebenarnya proses menuntut ilmu itu tidak harus dari sekolah. Sekolah hanyalah salah satu sarana menuntut ilmu. Tapi kenyataannya memang tanpa sekolah seseorang tidak bisa diakui kompetensinya, karena tidak ada bukti formal yang mendukung bahwa dia telah mengikuti ‘proses pembelajaran’ yang mengikuti ‘proses menuntut ilmu’.

Menuntut ilmu itu penting, sekolah itu sarana, dan les itu pendukung. Tidak ada salahnya ikut les kalau ternyata bisa mendukung kegiatan di sekolah, dan selama itu merupakan bagian dari menuntut ilmu. Dengan banyaknya pilihan tempat les daripada pilihan tempat sekolah, maka harapannya pilihan yang tepat bisa mengembangkan nilai pendidikan seseorang dalam menjalani jenjang pendidikan formalnya, serta bisa meningkatkan standar pendidikannya sebagai pendukung program mencerdaskan kehidupan bangsa.

Minggu, 02 Maret 2014

Outbound

Ngomongin tentang outbound itu menyenangkan, terutama kalo pas kelompok yang aku ikuti menang. Tapi nggak cuma kemenangan itu yang menjadi kesenangan outbound, tapi juga permainan, kebersamaan, dan outbound itu sendiri secara keseluruhan. Banyak manfaat yang bisa diambil dari kegiatan ini, terutama bagiku sendiri memberikan kesan yang berbeda-beda dari masing-masing kegiatan outboundnya.

Salah satu kegiatan outbound yang bagiku paling berkesan dan menyenangkan adalah outbound yang bersifat penjelajahan. Kita dibagi menjadi beberapa kelompok, yang terdiri dari antara tujuh sampai sepuluhan orang. Kemudian semua kelompok berkumpul dari satu titik pemberangkatan untuk kemudian menyusuri rute tertentu yang telah ditentukan. Selama perjalanan setiap kelompok mendapatkan misi yang berakhir di titik finish. Selain itu, selama rute perjalanan tersebut ada pos-pos tertentu, di mana masing-masing pos ada tugasnya masing-masing. Yang seperti ini sih sebenarnya dulu sering aku alami sebagai penjelajahan selama mengikuti kegiatan kepramukaan.

Satu hal yang menambah kesenangannya adalah kita menyusuri sebuah rute yang berada di daerah yang sama sekali kita kenal. Maklum outboundnya kan juga bukan di daerah rumah atau tempat kerja, tapi di daerah pedesaan. Jadi menyusuri sawah, kebun, sungai, dan naik-turun daratan yang tinggi adalah perjalanan yang harus dilalui selama kegiatan outbound. Selama perjalanan ini kita bisa dihadapkan pada berbagai masalah, seperti tersesat karena tidak menemukan petunjuk jalan, tertusuk karena melewati jalan berduri, atau juga tidak berhasil melaksanakan misi globalnya.

Lain halnya dengan outbound yang on the spot, tempatnya dari awal sampai akhir ya di situ-situ aja. Kalau outbound lingkungan dengan penjelajahan panitia bisa memanfaatkan lingkungan yang ada sebagai sarananya, outbound yang ini menuntut penyelenggaranya lebih kreatif dalam membuat trek outboundnya. Misalnya kalau mau ada outbound yang pakai sarana halang rintang, ya jadinya harus bikin sarananya sendiri dengan pemanfaatan lingkungan yang minim. Selain itu outbound yang semacam ini juga membutuhkan tempat yang lebih luas agar masing-masing tugas dan permainan bisa berlangsung dan menyambung lebih cepat sehingga menghemat waktu pelaksanaan outbound secara keseluruhan.

Intinya kegiatan outbound itu menyenangkan, terutama bagi orang-orang yang menyukai tantangan, petualangan, serta suka hal-hal yang berbau olahraga dan taktik strategi. Kalau mau kegiatan outbound yang lebih serius lagi bisa latihan di markas militer yang sarananya sudah tersedia, pelatihnya ada, dan sudah pasti manfaatnya bakal lebih terasa. Apalagi kalau setelah outbound kebersamaan menjadi lebih erat dan terasa hangat, semua rasa lelah dan capek selama mengikutinya jadi terbayar lunas.

Sabtu, 01 Maret 2014

Hari Besar Nasional

Di dunia ini banyak diperingati hari-hari besar, sebagai pengingat untuk peristiwa-peristiwa tertentu yang memang perlu diingat. Di Indonesia juga gitu, ada banyak hari-hari yang beraroma ‘bersejarah’. Nggak hanya hari peringatan, tapi tentunya juga hari-hari besar agama. Masing-masing hari pasti merujuk pada sebuah alasan dan peristiwa tertentu, dengan maksud dan tujuan tertentu pula.

Masalahnya adalah hari-hari yang udah merujuk pada sebuah alasan dan peristiwa tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu itu seringkali tercampuraduk dengan sebuah alasan dan peristiwa dengan maksud dan tujuan dari hari yang lain. Misalnya nih, Hari Ibu yang dibuat untuk tiap tanggal 22 Desember. Kita mungkin sering nemuin ada kata-kata untuk memperingati Hari Ibu itu dengan begini nih, ‘Selamat Hari Ibu untuk ibu-ibu dan calon ibu-ibu di Indonesia’. Ini kan jadi menggeneralisasi Hari Ibu untuk seluruh wanita Indonesia kan. Padahal untuk perempuan Indonesia udah diplot peringatannya di Hari Kartini! Kalo Hari Ibu udah mewakili untuk seluruh perempuan Indonesia, lalu Hari Kartini untuk apa?

Lain lagi dengan Hari Sumpah Pemuda, biasanya selain ucapan tentang Sumpah Pemuda juga ada tambahan ‘Untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah berjuang melawan penjajah’. Lha, padahal kan Hari Pahlawan udah ada sendiri, lalu kalo perjuangan udah diperingati bersama Hari Sumpah Pemuda, tar Hari Pahlawan ngapain lagi?

Atau Hari Kebangkitan Nasional, memperingati bangkitnya persatuan dan kesatuan bangsa dalam melawan penjajah. Padahal hal yang hampir sama diperingati pas Hari Sumpah Pemuda juga. Pengkhususan seperti itu bikin anak sekolah jadi sering punya upacara untuk hari-hari tertentu. Ada upacara Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Sumpah Pemuda sendiri-sendiri. Padahal kalo maksud dan tujuannya memperingati hal yang sama kan dua peringatan itu bisa diringkas menjadi sekali upacara aja.

Tapi lebih menyenangkan kalo hari-hari besar nasional itu dijadikan hari libur nasional, kan bisa menambah hari istirahat dari kerja atau sekolah. Yah daripada ada hari cuti bersama yang hanya dinikmati oleh para PNS dan pekerja-pekerja tertentu saja, kan asyik tuh kalo tambah hari libur.

Rabu, 22 Januari 2014

Fasilitas Umum

Ngomongin soal fasilitas umum, pernah nggak anda menemukan fasilitas umum di Indonesia ini yang bersih, terawat, dan berfungsi dengan baik? Jarang sekali kita dapat fasilitas yang kondisinya seperti ini. Bisa jadi bersih, terawat, tapi rusak. Atau terawat dan berfungsi dengan baik, tapi jorok banget.

Kita dihadapkan pada kenyataan bahwa masyarakat kita sedikit sekali mempunyai kesadaran akan rasa memiliki terhadap fasilitas umum, dengan menjaga dan memperlakukan fasilitas umum seperti milik sendiri yang harus selalu bersih, terawat, dan berfungsi dengan baik. Kalaupun ada yang punya rasa memiliki mungkin terus dicongkel dan dibawa pulang atau dijual.

Contohnya nih, telepon umum. Sekarang sih emang udah jarang ya telepon umum, tapi yang ABG tahun ‘90an pasti akrab banget sama barang yang satu ini. Telepon umum dulu biasanya ada yang jenis ‘akuarium’, yang kayak lemari kaca terus kita masuk ke dalamnya. Atau model tiang dengan tempat payungan berbahan fiber di atasnya. Tapi pernah nggak setelah sekian lama telepon umum tersebut berada di tempat itu, kita nemuin telepon umum yang kondisinya sama seperti pertama kali dipasang? Masih untung teleponnya bisa dipake dengan nyaman, tanpa melihat tempatnya.

Contoh lagi halte bis. Di depan rumahku ada halte bis yang lumayan rame, nggak hanya buat nyegat bis, tapi juga buat nongkrong dan jualan. Tapi ya sama saja, kondisinya nggak sedap dipandang. Halte ini udah beberapa kali ganti desain. Dulu pernah modelnya bagian bawahnya seperti semacam pondasi yang menonjol ke atas sebagai tempat duduk, terus kedua tepinya ada tiang besi ke atas yang menyangga atapnya. Di sela-sela tiang itu ada pipa paralon yang berfungsi sebagai saluran air yang mengalirkan air hujan dari atap ke bawah. Nggak seberapa lama dari selesainya desain yang ini, pipa paralon itu udah pecah, dari atap sampai tempat dudukannya.

Yang model sekarang ini sebenarnya cukup bagus. Tapi sayangnya, kondisinya udah penuh coretan di mana-mana. Jadi curiga nih, jangan-jangan ada seseorang yang bikin nyoretan pada awalnya, terus ada orang lagi yang ngejawab di bawahnya, dan seterusnya. Jadi kayak dialog tanya jawab gitu, tapi di dinding halte sampai atapnya. Fungsi haltenya, ya itu tadi. Jadi tempat nyegat bis, nongkrong, dan jualan.

Apalagi WC umum! Pintu WC umum yang utuh dan berfungsi sempurna itu adalah sebuah kemewahan tersendiri! Memang biasanya itu yang sering paling cepat rusak dari sebuah WC umum, di samping baunya yang khas. Dan fasilitas terakhir yang bisa berfungsi dari sebuah WC umum adalah kran air, mengesampingkan bisa nggaknya airnya keluar.

Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. Intinya adalah fasilitas umum itu adalah milik umum, bukan milik pemerintah, bukan milik lembaga tertentu, atau yang lainnya, karena fasilitas umum digunakan untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Kita nggak bisa mengesampingkan bahwa orang lain juga akan menggunakan fasilitas tersebut. Tapi apa yang terjadi kemudian muncul rasa memiliki yang nggak wajar, yang berlebihan, sehingga seolah kita menganggap bahwa kita saja yang menggunakan fasilitas tersebut, nggak peduli apakah fasilitas tersebut akan berfungsi baik bila dipakai orang lain. Dan kalau fasilitas itu kemudian rusak, kita lebih suka menyalahkan pemerintah atau pengelola fasilitas tersebut daripada menyalahkan kita yang notabene penggunanya.

Jadi kita perlu memperbaiki rasa memiliki kita dengan kadar yang sesuai dengan tempatnya. Kita harus kembali menanamkan pada pikiran kita bahwa fasilitas umum itu ya fasilitas yang digunakan untuk umum, bukan hanya untuk umum yang orang lain saja, tapi suatu saat kita juga akan menggunakannya. Sehingga saat suatu ketika kita menggunakannya, kita akan merasakan nyamannya menggunakan fasilitas umum yang bersih, terawat, dan berfungsi dengan baik.

Daftar Blog Saya