Tanya Dilema

Suatu pagi, di tengah-tengah pekerjaan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan di Facebook Messenger dari seorang temanku.

Seperti Nemo

Ada satu film yang bagiku aneh banget, yaitu Finding Nemo. Inti ceritanya kan ada seekor ayah ikan yang mencari anaknya. Yang aneh itu ternyata ikan ini bisa ngomong. Padahal kalopun ikan bisa ngomong, kan ikan ini ada di dalam air. Coba kita aja yang ngomong di dalam air, kedengeran nggak sama temen kita yang ada di deket kita.

Pakai Bahasa Indonesia

Dari sejak blog pertamaku aku selalu pengen mempertahankan ke-Indonesiaanku, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia di setiap tulisan blogku. Bukan karena aku nggak bisa bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau India, bukan! Tapi sebenarnya emang nggak bisa sih, tapi bukan itu maksudnya.

Hobi

Hobiku adalah membaca. Aku mendapatkannya dari sebuah majalah anak-anak. Jadi gini awal ceritanya, waktu itu ibuku mengirimkan foto dan dataku ke sebuah rubrik koresponden di majalah anak-anak itu. Dan di bagian hobinya, ibuku menuliskan kalo hobiku adalah membaca.

Power Bank

Di jaman gadget seperti sekarang ini, keberadaan smartphone menjadi bagian kehidupan bagi beberapa orang. Tapi di balik kecanggihan dan segala kelebihannya, ada salah satu sisi di mana smartphone justru lebih boros dalam pemakaian daya baterainya.

Selasa, 01 November 2011

Kemampuan Agilitas

Apa yang harus dikorbankan saat kita mengalami perubahan? Yaitu adalah kebiasaan. Kebiasaan lama yang harus bergeser bahkan harus diubah keseluruhan secara brutal atau perlahan. Itu yang dikenal dengan istilah adaptasi.

Bagi orang yang statis, kaku, tidak nyaman dengan perubahan, dan menyukai kemapanan, sedikit perubahan akan mengancam kenyamanan mereka. Padahal hidup harus terus berubah, tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kemapanan mereka, yang telah dirasakan selama ini, agar kemapanan ini tidak bergeser dari genggaman mereka. Bahkan jika perubahan itu berguna untuk kemajuan mereka sendiri.

Dalam istilah pendaki gunung, ada tiga tipe jenis pendaki, yaitu quitter, camper, dan climber. Quitter bersifat sebagai individu yang berusaha sekeras mungkin menghindari kesulitan. Begitu sedikit kesulitan muncul, maka quitter akan menghindar, atau malah berbalik menjauh. Sedangkan camper adalah tipe orang yang cepat puas. Begitu meraih sesuatu, maka baginya itulah akhirnya. Tidak ada upaya untuk meningkatkan apa yang diraihnya ke arah yang lebih baik, karena dia berpikir dengan meraih ini sudah cukup, rintangan di depan bukan lagi masalahnya.

Sedangkan climber adalah individu yang tidak kenal lelah, pantang menyerah, dan selalu berpikir untuk maju. Rintangan dan tantangan bukan masalah baginya, selama kemauan dalam dirinya selalu mendorongnya untuk berbuat lebih dari apa yang dia raih sekarang. Tipe climber paham tujuan hidupnya dan menyukai tantangan. Sebenarnya ketiga tipe ini mempunyai potensi yang sama, tapi tingkat keberanian menghadapi tantangan yang berbeda.

Saat kesulitan bertambah, jumlah orang yang berkumpul akan semakin sedikit. Seiring dengan bertambahnya kesulitan, satu per satu tipe quitter dan camper akan segera meninggalkan climber. Padahal menghindari kesulitan sama dengan menghindari kehidupan. Jangan pernah mengukur tinggi gunung sebelum sampai ke puncak, diperlukan mental yang menyukai tantangan untuk mencapai puncaknya.

Senin, 31 Oktober 2011

Romansa Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha

Saat bersih-bersih dan liat-liat file-file di komputer-komputer kantorku, aku kemudian tertarik dan membaca salah satu file lamaku yang membahas soal cerita Nabi Yusuf dan Zulaikha. Dalam literatur ini dicantumkan salah satu surat:

“Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.” Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Yusuf: 21)
Kemudian ada penjelasan di seputar ayat ini. Kisah Nabi Yusuf dengan Zulaikha kemudian timbul di kalangan mufassirin. Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir al Qur’an yang ditunjuk oleh Departemen Agama Republik Indonesia (DEPAG-RI) dalam al Qur’an dan Terjemahnya, memberikan penafsiran ayat tersebut. Ketika terjemah ayat tersebut menuturkan: “Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya”, dalam footnote (no. 748), Tim menulis: “Orang Mesir yang membeli Yusuf AS. itu seorang Raja Mesir bernama Qithfir dan nama isterinya Zulaikha.” Tidak sampai di situ, lebih jauh lagi nama Zulaikha tersebut langsung dicantumkan di dalam terjemah ayatnya. Hal ini dapat kita lihat pada terjemah Surat Yusuf ayat 23: “Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya…”. Begitu pula dalam footnote (no. 750) yang menafsiri ayat tersebut. “Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Nabi Yusuf AS. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu Zulaikha….”. Demikian nama Zulaikha disinggung sebanyak tiga kali dalam al-Qur’an dan Terjemahnya yang dicetak dan disebarluaskan oleh DEPAG-RI. Usaha penerjemahan itu dilangsungkan selama delapan tahun oleh tim khusus yang diketuai oleh Prof. R.H. A. Soenarjo, S.H. dari Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al Qur’an. Selesai pada tahun 1971.

Dengan demikian, tersebarnya Al Qur’an dan Terjemahnya versi DEPAG-RI kala itu, diawali keterangan para ulama yang menukil kisah itu dari kitab-kitab tafsir klasik, akhirnya penamaan Zulaikha tersebut melembaga di masyarakat. Mereka tidak tahu menahu tentang otentisitas riwayat seputar itu. Yang mereka kenal, bahkan sudah menjadi keyakinan, Zulaikha itu adalah nama wanita yang merayu Nabi Yusuf AS. Kemudian setelah Nabi Yusuf AS. diangkat menjadi pembesar Mesir, Zulaikha dinikahi oleh beliau. Mereka berdua hidup seia-sekata, saling mengasihi dan menyayangi. Menurut mereka, itulah dambaan setiap keluarga dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Maka tak heran jika tipologi Yusuf – Zulaikha, oleh mereka, disamakan dengan tipologi Adam – Hawa, Muhammad – Khadijah, dan Ali – Fatimah. Padahal tidak ada riwayat yang shahih menerangkan bahwa istri al Aziz itu bernama Zulaikha dan Nabi Yusuf pernah menikahinya. Karenanya, ada yang berseloroh bahwa orang yang berdoa agar kedua mempelai itu saling sayang-menyayangi seperti Yusuf dan Zulaikha, maka hal itu sama saja dengan mendoakan agar seseorang itu menyayangi istri orang lain, alias berselingkuh.    

Agama Islam datang setelah Agama Yahudi dan Nashrani. Begitu pula pengikutnya. Kaum Yahudi dan Nashrani memiliki dasar-dasar pengetahuan agama yang diperolehnya dari kitab suci mereka, Taurat untuk Yahudi dan Injil untuk Nashrani, sebelum mereka akhirnya memeluk Islam. Bahkan, khusus mengenai cerita para nabi dan umat terdahulu, mereka memiliki data-data yang sangat rinci. Maka tidak heran, ketika al Qur’an menuturkan cerita-cerita tersebut, mereka langsung memberikan responnya berdasarkan kitab suci mereka dengan sangat mendetail.

Memang al Qur’an bukan kitab sejarah. Tetapi al Qur’an memuat fakta sejarah, khususnya para nabi dan umat-umat terdahulu. Dari segi penuturannya, menunjukkan bahwa al Qur’an ingin menunjukkan ke-i’jazan-nya. Sedangkan dari segi isinya, semua itu agar dijadikan pelajaran yang berharga bagi umat manusia yang hidup setelahnya.

Pengikut Islam periode pertama, yaitu masa Rasulullah Saw dan para shahabatnya, menyikapi cerita-cerita mereka dengan sangat hati-hati. Dalam sebuah hadits shahih dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda:

“Kamu jangan membenarkan penuturan Ahl al-Kitab, jangan pula mendustakannya. Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan apa-apa (kitab) yang diturunkan kepada kami dan (kitab-kitab) yang diturunkan kepadamu.”
Sikap kehati-hatian ini diperintahkan oleh Nabi SAW kepada para shahabatnya, sebab di dalam penuturan Ahl al-Kitab mengandung dua kemungkinan, benar dan salah. Tetapi Nabi SAW juga tidak hitam-putih. Bersikap fleksibel dalam masalah ini, beliau, yang diikuti para shahabatnya, tetap menerima penuturan mereka, sejauh tidak menyangkut akidah dan hukum-hukum syariah. Kebolehan tersebut terbetik dari sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr sebagai berikut:

“Sampaikan apa-apa dariku meskipun itu berupa satu ayat. Kamu tidak apa-apa meriwayatkan penuturan Bani Isra`il (Ahl al-Kitab). Siapa yang mendustakanku dengan sengaja, maka bersiaplah dirinya untuk menempati tempatnya di neraka.”
Hadits di atas melukiskan kepada kita bahwa Nabi SAW membolehkan para shahabatnya (dan umatnya) untuk mengambil tafsir Isra`iliyyat. Tetapi lagi-lagi tetap dengan syarat, tidak boleh berisi riwayat palsu. Jadi harus betul-betul diketahui keshahihannya. Demikian pula halnya dengan kisah romantis Nabi Yusuf As. dan Zulaikha.  Ketika al Qur’an dalam ayat di muka tadi (surat Yusuf ayat 21) disinggung, para Ahl al-Kitab pun sibuk menuturkan alur cerita tersebut dengan detail. Nama Zulaikha yang dilansir sebagai istri dari al Aziz (pejabat tinggi Negeri Mesir saat itu), tersebar luas setelah Ahl al Kitab menuturkannya. Karenanya, di sini kita perlu hati-hati dalam menyikapinya. Apakah benar seperti itu atau hanya bualan mereka yang tidak ada dasarnya. Atau jangan-jangan riwayat tentang hal itu adalah palsu. Sikap hati-hati seperti inilah yang harus kita lakukan ketika menghadapi kisah tentang Nabi Yusuf dan Zulaikha.

Sedikit sekali kitab tafsir yang menuturkan nama Zulaikha sebagai istri al-Aziz dengan metodologi transmisi. Berdasarkan suatu riwayat, namanya bukan Zulaikha, tetapi Ra’il binti Ra’a`il. Adapun yang lain menuturkan penamaan istri al Aziz tersebut dengan beberapa riwayat yang berbeda. Nama Ra’il didapatkannya dari riwayat Ibnu Ishaq yang dituturkan oleh al-Mawardi. Sedangkan nama Zulaikha tidak disebutkan sumber riwayatnya. Disebutkan nama Zulaikha tersebut bersumber dari riwayat Abu al-Syeikh dari Syu’aib al-Juba’i. Adapun nama Ra’il binti Ra’ayil didapatkannya dari riwayat Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim dari Muhammad bin Ishaq. Selain itu ada juga para mufassir yang menuturkan penamaan istri al Aziz itu, baik dengan Zulaikha atau Ra’il, dalam kitab-kitab tafsir mereka, tetapi tidak menyebutkan sumber periwayatannya.

Ada juga mufassir yang hati-hati dalam menyikapi masalah ini. Lihat saja misalnya al Imam al Fakhr al Razi (w. 604 H). Setelah beliau menyajikan menu cerita beraroma isra`iliyyat seputar identitas orang Mesir yang membeli Yusuf berikut istrinya secara mendetail, dengan tegas beliau mengatakan bahwa riwayat-riwayat di atas tidak ada dasarnya dalam al Qur’an. Begitu juga Hadis yang shahih tidak ada yang menguatkannya. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa penafsiran kitab suci al Qur’an itu tidak disandarkan pada riwayat-riwayat ini. Karenanya, orang yang  berakal harus berhati-hati dalam mengambil riwayat tersebut sebelum  menceritakannya pada orang lain. Begitu juga halnya dengan al-Imam Ibn al-Qayyim (w. 751 H) dalam kitabnya al Tafsir al Qayyim. Ketika menafsiri ayat di atas, beliau tidak menyebutkan nama istri al Aziz tersebut. Menurut beliau para ulama yang dijadikan pegangan olehnya tidak ada yang menyebutkan nama wanita itu. Tetapi mereka hanya menuturkan sifat-sifatnya yang buruk sebagaimana al-Qur’an menuturkannya.

Hal senada dilontarkan pula oleh al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, mufassir kontemporer, dalam kitabnya Tafsir al-Manar. Dia mengatakan bahwa al Qur’an tidak menyebutkan secara jelas nama orang Mesir yang membeli Yusuf. Begitu juga nama istrinya. Menurut beliau al Qur’an itu bukan kitab cerita atau sejarah an sich, melainkan di dalamnya terdapat hikmah, nasihat, pelajaran, dan pendidikan akhlak. Karenanya al Qur’an hanya menyebut orang Mesir itu dengan al Aziz. Sebab gelar al Aziz itu nantinya akan disandang oleh Nabi Yusuf setelah diangkat menjadi kepercayaan raja di Mesir.

Terus bagaimana kebenaran cerita ini? Karena penasaran, aku kemudian bertanya kepada Bro Abbas yang lebih menguasai literatur Arab dan kitab-kitab para ulama. Bro Abbas kemudian mengambil dari tafsir Ibn Katsir.

Yang membeli Nabi Yusuf adalah Ithfir atau Qithfir seorang menteri keuangan (Menkeu) Mesir pada masa Raja: Ar-Royyan bin Al-Walid, dan istri Ithfir namanya adalah Ra’el binti Ra’ael, ada yang meriwayatkan juga nama Istri Menkeu ini adalah Zulaikha.

Dan menurut Ibn Asyur dalam Tafisrya At-Tahrir wa Al-Tanwir:

Ra’el adalah sebutan bangsa Yahudi dan Zulaikha adalah sebutan yang tertera di manuskrip Arab klasik.
Lalu Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat 56 surat Yusuf menjelaskan lebih lanjut tentang akhir cerita Nabi Yusuf ketika keluar dari penjara dan terbukti ternyata Nabi Yusuf adalah orang yang jujur.

Maka Nabi Yusuf diangkat menjadi Menkeu oleh Raja ar Rayyan, dan menggantikan posisi al Aziz atau Ithfir yang dulu menjadi dalang penjeblosan Nabi Yusuf ke penjara dengan tuduhan kasus perselingkuhan dengan Zulaikha atau Rael.
Menurut Mujahid (ahli Tafsir dari kalangan shahabat dan riwayatnya diambil Ibnu Jarir at Thobari dalam buku tafsirnya yang paling banyak menjadi refrensi tafsir bil ma’tsur Jamiul Bayan fi Ta’wil al Qur’an,) bahwa Ithfir meninggal dunia beberapa malam setelah dicopot dari MenKeu Mesir oleh Raja Arroyyan. Nah ini nih yang seru: Roman Asmaranya!!!

Lalu Raja ar Rayyan mempunyai inisiatif untuk menikahkan Nabi Yusuf dengan mantan Istri Ithfir (al Aziz) yang benama Rael atau Zulaikha. Lalu mereka (Yusuf dan Zulaikha) bertemu kembali, tapi dalam kesempatan yang berbeda dan sekarang sudah resmi dan halal layaknya pasutri. Yang menarik adalah, diriwayatkan bahwa ketika mereka berdua berada di dalam kamar, terjadilah dialog yang akan menjadi jawaban dari rasa penasaranku tadi. Diriwayatkan Nabi Yusuf membuka pembicaraan dengan berkata: “Bukankah kesempatan seperti ini lebih baik dan terhormat daripada pertemuan kita dahulu ketika engkau menggebu-gebu melampiaskan hasratmu, wahai Zulaikha”. Lalu diriwayatkan bahwa Zulaikha pun menjawab dengan jawaban yang diplomatis dan romantis.

“Wahai orang yang terpercaya, janganlah engkau memojokkanku dengan ucapanmu itu (cinta ini membunuhku, kata The Nasib) ketika kita bertemu dulu jujur dan akuilah bahwa di matamu akupun cantik dan mempesona, hidup mapan dengan gelar kerajaan dan segalanya aku punya, namun ketika itu aku tersiksa karena suamiku tidak mau menjamah perempuan manapun termasuk aku, lantas akupun mengakui dengan sepenuh hatiku akan karunia Allah yang diberikan atas ketampanan dan keperkasaan dirimu wahai Nabi Yusuf”.
Kemudian diriwayatkan para mufassir bahwa ternyata Nabi Yusuf baru menyadari kebenaran ucapan Zulaikha setelah membuktikan bahwa ternyata Zulaikha masih perawan. Mereka menikah dan dikaruniai dua orang anak laki laki. Jadi begitu ceritanya. Kesimpulannya adalah memang Istri Nabi Yusuf adalah Rael atau Zulaikha.

Dan keduanya memang “Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama”, karena memang ayat al Qur’an menyebutkan begitu. Dan hikmahnya tentu model hubungan yang paling mendapatkan barakah adalah jika melalui jalan yang disyariatkan Islam, dan bukan LKMD (Lamaran Keri Metheng Dhisik) .

Wa Allohu a’lam bi ash showab

Minggu, 30 Oktober 2011

Saat Pulang

Dalam sekejap aku terbangun. Sambil berusaha menguasai keadaan dan melihat sekeliling, selintas aku melihat ke luar. Ternyata aku ada di persimpangan. Terlihat lampu berpijar berwarna merah di luar sebelah kanan bis yang aku naiki. Aku melihat sebelahku, tidak ada yang duduk di situ. Aku taruh tas travelling besarku di situ. Keberuntunganku menjadi salah satu penumpang pertama bis ini, sehingga aku bisa memilih tempat di belakang pak supir yang sedang bekerja.

Pijaran lampu berubah warna menjadi hijau, seiring dengan laju bis melanjutkan perjalanan. Tidak perlu waktu lama untukku kembali tidur. Terasa sebentar, saat kemudian aku merasa mendengar seseorang berteriak meminta semua penumpang untuk turun sebentar lagi. Aku melihat ke luar, melihat banyak kendaraan berjajar menunggu giliran. Aku teringat tadi saat naik bis diiringi hujan gerimis, dapat tempat duduk dan dengan nyaman tidur kemudian. Ternyata sejak membayar karcis tadi, aku tertidur sampai persimpangan tadi, kemudian tidur lagi sampai pelabuhan ini. Sekitar tiga jam, aku melihat jam yang terpampang di organizer elektronikku.

Ya, hari ini aku akan pulang, memulai segalanya kembali dari rumah. Mulai hari ini aku akan pulang, mulai hari ini aku tidak berkarya di luar kotaku, setidaknya sampai sekarang, dan mungkin sampai selamanya. Seiring dengan melajunya kapal meninggalkan pelabuhan, meninggalkan segala yang ada di sana untuk tidak dikenang.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Baca Sampe Abis Dong!!!

Kebanyakan kontakku di FB kurang suka membaca, terutama artikel dan bacaan panjang yang tampil di Beranda mereka. Mereka lebih suka facebooking, chatting, statusing, sampe mancing. Sehingga beberapa artikel yang tampil akan terlewat begitu saja tanpa terbaca secara lengkap.

Aku mengaitkan semua postingku di Multiply, Blogger dan Wordpress ke dalam akunku. Itupun ditambah dengan beberapa tritku di Kaskus. Jadi sebagai pengguna pasif tanpa aku masuk ke FB pun, akunku udah terisi setiap kali aku buat posting di ketiga akun blogku itu. Menurut pengamatanku, tak banyak yang mau baca lengkap artikel-artikel tadi.

Kebanyakan dari mereka membaca sekilas yang tampil aja, tanpa mau masuk ke link ‘Lihat Kiriman Aslinya’. Dan terkadang, dari bacaan sekilas itu udah muncul komeng-komeng dari pengertian yang tidak lengkap, termasuk membubuhkan tanda 'Suka' tanpa ada tanggapan apapun. Padahal banyak bacaan yang menempatkan kesimpulan dan intinya di paragraf-paragraf akhirnya, sehingga di paragraf awal hanya merupakan pengantar dan paparan masalah.

Kalo dari awalnya aja udah dikomeng dan didebat, udah pasti mereka gak baca keseluruhannya. Masih ditambah ada lagi yang melihat sekilas udah kasih tanda ‘Suka’ gitu aja, itu sih lebih mending daripada yang gak ngasih sama sekali. Mungkin melihat judulnya udah cukup kali, sehingga gak perlu baca sampe akhir. Kaya yang aku alami kemarin, tritku dari Kaskus yang aku tautkan ke FB hanya terlihat judulnya saja di Beranda, itu aja udah ada komeng dari kontak yang tidak lihat bagaimana isinya.

Mudah-mudahan yang di sini nggak ya, soalnya di sini kan orang-orangnya suka nulis, jadi pasti suka baca juga. Kalo udah liat dan baca, gak komeng pun gak apa-apa, asal tidak menimbulkan pengertian yang terpotong dari sebuah bacaan sehingga mengurangi arti keseluruhan bacaan itu sendiri. Didebat boleh, asal udah dibaca keseluruhannya.

Jumat, 28 Oktober 2011

Semalam di Bangil

Udah melewati tengah malam, tiba-tiba aku terbangun dengan rasa terkejut saat terdengar teriakan keras, ‘Maling...maling...’, dari seorang ibu yang tidur tidak jauh dariku. Gak hanya aku saja ternyata yang terbangun, semua orang yang lagi istirahat di stasiun Bangil itu juga ikut bangun. Tapi sia-sia, gak ada yang bisa dilakukan buat bantu ibu tadi, karena malingnya udah lari ke arah kegelapan, yang tidak seorang pun tau lokasi itu. Ibu tadi kemudian melaporkan ke petugas stasiun di situ tentang kronologi kejadiannya.

Benar-benar dekat kursi tempatku tidur dengan kursi yang ditiduri ibu tadi, sehingga akulah orang terdekat yang berada dengan ibu tadi. Tapi karena aku tidur lelap, aku tidak merasa apapun sebelum akhir terbangun. Mungkin si maling tadi juga merasa aku gak terlihat punya barang berharga, sehingga aku dilewati begitu saja.

‘Uangnya sih gak seberapa, tapi surat-suratnya itu lo...’, ibu itu masih menjelaskan ke petugas stasiun. Dari logatnya sepertinya beliau bukan orang Jawa Timur, apalagi sepanjang dialog beliau selalu memakai bahasa Indonesia. Tidak jelas mengapa ibu tadi memilih tidur di stasiun, mungkin menunggu kereta paling pagi yang datang kali. Trus mungkin karena capek dan lelah, kemudian ibu itu tertidur dan lengah dengan barang bawaannya sehingga maling dengan mudah mengambil dan langsung lari.

Aku melihat sekitar tempatku tidur. Celingukan mencari dua orang temanku, yang ternyata dapat tempat tidur di kursi dekatku juga. Kemudian melihat ke arah maling tadi lari. Memang terlihat gelap, siapapun yang bukan orang asli situ dan mencari ke arah situ pasti kesulitan. Apalagi tidak jauh dari situ ada perkampungan juga. Soal ciri-cirinya, tak banyak juga yang tau, yang sempat terlihat olehku seorang laki-laki. Sang ibu tadi masih meratap sendiri, sambil mengulang-ulang perkataan tentang barang-barangnya tadi.

Aku kemudian melanjutkan tidurku, udah terlalu lelah seharian ini berkelana di sekitar Bangil dan Pasuruan. Paginya aku masih ada urusan bersama kedua temanku, jadi harus menghemat tenaga dan stamina. Sayup-sayup masih terdengar ibu tadi kok malah memuji malingnya, ‘Cepat sekali ya malingnya tadi...’.

Kamis, 27 Oktober 2011

Bahayanya File Aplikasi

Meletakkan file aplikasi dalam folder terbuka adalah sebuah kesalahan. Suatu saat kalo harddisk terkena virus Sality, maka file tadi akan terkena paling awal. Dan kalo file tersebut dieksekusi, maka dengan gemilang virus akan menyebar ke file-file aplikasi yang lain. Aplikasi dasar sistem operasi dengan program-programnya akan terinfeksi, kalo discan pake antivirus akan tidak bisa dibersihkan (hanya bisa dihapus), dan akhirnya sistem operasi harus diinstal ulang.

Kebanyakan virus ini selain menyebar dengan cara di atas, juga menyebar lewat perantaraan media penyimpanan seperti flashdisk. Bisa juga dari transfer file lewat jaringan. Malah ada juga yang menyebar dengan melalui printer yang diakses lewat jaringan (satu printer untuk beberapa komputer). Dan tidak ada cara yang lebih ampuh lagi selain format ulang harddisknya.

Tidak ada antivirus yang paling bagus. Yang bagus adalah antivirus yang diupdate secara rutin. Dan untuk mencegah virus seperti Sality tadi, berbagai macam antivirus udah bisa mendeteksi dan menghapus file yang terkena infeksinya. Pencegahan yang lain adalah tidak menyimpan file aplikasi yang terinfeksi, dan salah satunya juga tidak menyimpan file aplikasi di folder terbuka. Bahkan kalo file aplikasinya udah masuk CD tapi ternyata membawa infeksi, maka infeksi tadi terus terbawa dan keluar saat file itu disimpan di harddisk.

File aplikasi berekstensi *.exe adalah sarang utamanya. Untuk mencegahnya terinfeksi biasanya aku masukkan file tadi ke dalam folder terkompresi, bisa pake *.zip, *.rar, *.7z, ato kompresi yang lain. Ato kalo nggak gitu aku masukkan file ke dalam file image. Membuat file image yang paling mudah lewat Nero Burning Tool. Seperti membuat CD biasa, tapi drive tujuan diganti dengan Image Recorder, tidak mengarah ke drivenya. Kemudian simpan dengan nama (seperti nyimpen file biasa) dan proses dimulai.

Yang lebih lengkap biasanya aku pake Alcohol 120%. Dari CD filenya tidak perlu disimpan dalam harddisk, tapi langsung dikopi ke dalam file image. Dengan Alcohol ini pilihan format filenya lebih banyak dibandingkan dengan yang pake Nero tadi. Kelemahannya file image ini akan memakan kapasitas harddisk (karena ukurannya sama kaya CD aslinya), sehingga dengan harddisk berukuran kecil akan menjadi masalah dalam kapasitas kosongnya.

Untuk membuka file-file image tadi menggunakan virtual drive. Alcohol udah langsung membawa fasilitas ini. Ada program yang lain seperti Daemon Tools, PowerISO, WinISO, ato yang lain. Sedangkan Nero, yang aku tau di versi Nero 5 yang ada fasilitas virtual drivenya.

Dengan membuka lewat folder kompresi ato dari file image, file aplikasi lebih aman, kecuali kalo emang filenya dari awal udah kena virus berarti mengkandangkan dan memelihara virus tuh.

Rabu, 26 Oktober 2011

Seri Sekolah (4): Sekolah Lanjutan Tingkat Atas

Ini adalah tahap terakhir periode masa sekolahku. Setelah dari SMP aku memutuskan pada satu pilihan di sekolah ini, SMK Negeri 1 Kediri. Sebelum pendaftaran dimulai aku dan beberapa orang temanku mencoba survey lokasi dan informasi ke sekolah itu. Jarak dari rumah yang lumayan jauh, sekitar 10 km, kami tempuh dengan bersepeda. Setelah nyampe di sana dan dapat informasi, kami kemudian keliling-keliling sebentar di sekitar lokasinya.

Saat pendaftaran aku diantar sama sepupuku yang jarak rumahnya gak jauh dari sekolah itu. Karena khawatir NEMku gak bisa masuk jurusan yang aku inginkan di Mesin Produksi, aku memilih dua pilihan di Mesin Produksi sendiri dan ditambah di Bangunan. Dalam satu hari langsung diadakan beberapa tahap, antara lain pemberkasan, pengisian formulir, cek fisik, cek mental, dan tes kesehatan. Pendaftaran dibuka selama satu minggu, kemudian pengumuman sekitar seminggu selanjutnya. Di SMK ini ada 5 jurusan, Mesin Otomotif, Mesin Produksi, Listrik, Elektronika, dan Bangunan.

Yak, akhirnya aku diterima di pilihan pertamaku, jurusan Mesin Produksi dengan nomor urut ranking NEM 20. Sebenarnya kalo mau masuk ke jurusan yang lebih atas (Mesin Otomotif) aku masih bisa diterima juga. Di awal-awal sekolah sekitar 2 bulan aku tinggal di rumah Paklik yang dekat situ sehingga tinggal jalan kaki aja, tapi kemudian aku lebih memilih berangkat dari rumah sendiri dengan bersepeda. Menariknya, pembagian kelas tiap jurusan dilakukan berdasarkan daftar pengurutan abjad, sehingga dalam kelasku ada 36 siswa, 23 di antaranya berhurup depan ‘A’, dan ada beberapa nama yang sama. Dalam satu angkatanku hanya ada 9 orang pelajar cewek, dan di jurusan Mesin (Otomotif dan Produksi) ‘diharamkan’ ada murid cewek.

Di sini bisa jadi di setiap pelajaran pindah ruangan kelas, jadi bisa di jam pertama dan kedua ada di kelas sini, kemudian di jam berikutnya pindah ke kelas lain. Jam pertama dimulai dari jam 06.30. Yang asyik kalo pas ada pelajaran yang gurunya tidak hadir, pelajaran berikutnya bisa maju menggantikan pelajaran kosong tadi. Kalo pas pelajaran terakhir yang kosong, ya udah, bisa pulang langsung setelah dapat persetujuan dari guru TU dan satpam. Setiap kelas berbeda jadwal pulangnya, ada yang jam 10 udah pulang (paling pagi, karena masuk setelah jam istirahat ya jam segitu), ada yang jam 12 baru pulang, paling siang jam 13.15 pulangnya. Jadi kalo cuma dapat jadwal 4 jam pelajaran (tiap mata pelajaran rata-rata 2 jam pelajaran) dalam sehari, jam 10 udah pulang. Dan kalo kedua jam pelajaran tadi kosong gak ada gurunya. Udah pasti bisa melenggang pulang pagi.

Tahun-tahun pertamaku diwarnai dengan rasa frustasi karena banyaknya tugas yang gagal aku selesaikan, terutama dalam praktek bengkel permesinan. Seolah-olah aku merasa telah salah milih jurusan. Sehingga aku agak khawatir gak naik kelas, karena sejak awal caturwulan peringkat di kelas jauh dari 20 besar. Tapi kemudian alhamdulillah bisa melewati kelas satu dengan agak terseok-seok.

Pelajaran di bengkel adalah pelajaran dengan kandungan kekerasan. Maklumlah, yang dihadapi para guru adalah anak laki-laki yang terkenal bandel-bandel, dan yang dihadapi para siswa adalah mesin-mesin berat dan dengan benda kerja yang berat pula, kebanyakan dari besi. Sehingga ada istilah lebih baik dipukul guru daripada kena colek benda kerja yang terlempar. Ada suatu kelas bengkel yang siswanya dilarang menguap, dan yang ketauan pasti akan dipanggil dan dapat hukuman yang ‘agak’ ringan. Aku sendiri, pernah dapat gamparan dan jeweran suatu ketika karena kelompok piketku menghilangkan daftar absen.

Kelas dua prestasi udah agak stabil. Pelajaran-pelajaran bengkel pun udah mulai bisa dikuasai. Kelas tiga juga demikian. Tapi kebanyakan anak-anak di kelasku kurang memperhatikan dan mempedulikan ujian akhir nasional, sehingga jarang sekali ditemui teman-teman mempersiapkan diri dengan belajar, mengikuti bimbingan belajar, atau mengumpulkan soal-soal latihan, kecuali hanya beberapa orang saja.

Sepanjang sekolah selama tiga tahun, gak pernah aku gak masuk sekolah karena alasan apapun, tapi pernah mangkir dari pelajaran karena terlambat ato sekelas mogok semua. Di sini gak ada acara rekreasi ato berkaryawisata, tapi setiap siswa diwajibkan mengikuti Praktek Industri, minimal selama 3 bulan. Waktunya ada yang di caturwulan terakhir kelas dua, tapi kebanyakan di caturwulan pertama kelas tiga. Kelasku dapat waktu yang terakhir, aku menghabiskan seminggu waktu praktek di Pare dan dua bulan yang lain di Turen.

Setamatnya dari sekolah, tidak ada acara perpisahan yang menandakan kami akan berpisah cukup lama. Hanya aku dan beberapa orang temanku duduk-duduk di dekat rumah temanku yang ada di pinggir sungai Brantas, mengeluarkan isi tas kami masing-masing, memilih beberapa lembar hasil ulangan harian yang masih tertimbun di tas, melipat jadi perahu dan menghanyutkannya di sungai Brantas. Setelah masa ini kami berjalan masing-masing, pada jalan-jalan pilihan kami sendiri dalam menghadapi kehidupan setelahnya. Sedangkan aku, alhamdulillah sebelum pengumuman kelulusan aku udah mulai magang dan kerja di sebuah pengetikan komputer.

Selasa, 25 Oktober 2011

Seri Sekolah (3): Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

Lagi-lagi dapat sekolah yang deket dari rumah, SLTP Negeri 1 Ngadiluwih. Jaraknya hanya 50 m dari rumah, jadi istilahnya berangkat sekolah tinggal ngglundung aja. Kalo gak salah dulu setiap siswa baru gak wajib ikut Pramuka. Aku ikut Pramuka sampe lulus SMP ini. Rasanya emang capek banget, tapi banyak kegiatan yang menyenangkan dan lebih menantang, jadi lama kelamaan gak kerasa capek, tapi malah ketagihan. Dalam 3 tahun di SMP ini udah berkali-kali juga aku ikut perkemahan, sehingga jadi pengalaman berharga dalam menghadapi kehidupan mandiri.

Kembali ke cerita sekolahku, sejak kelas 1 aku ikut sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris sampe kelas 3. Saat kelas 1 kebetulan guru Bahasa Inggrisku juga punya kursusan, tapi aku gak masuk ke situ. Sebelumnya guruku tadi mendata anak-anak yang ikut kursus di luar tempat beliau, menanyai satu per satu anak-anak dalam satu kelas, dan kemudian ditawari untuk pindah ke tempat kursusan milik beliau. Kalo aku sih gak berminat pindah ke situ, karena aku melihat bahwa kursusan beliau lebih mengarah ke arah pelajaran beliau di dalam kelas, sehingga prospek ke depannya kami akan kesulitan saat kemudian beliau gak ngajar di kelas kami lagi. Sedangkan kursusan yang aku ikuti kebetulan guru yang mengajar kelas 3, dan sejak awal masuk kami mendapatkan pelajaran yang di luar pelajaran sekolah, meskipun sering juga membahas pelajaran.

Kelas 1 aku masuk siang jam 12 sampe jam 17.15, kecuali kalo ada pelajaran Olahraga bisa masuk pagi. Ada istirahat yang bisa dipake buat sholat Ashar. Kalo hari Jum’at ada anjuran untuk sholat Jum’at di masjid sekolah. Kalo yang sekarang kelas 1 juga masuk pagi, karena kelas di sekolah udah ditambah untuk menampung ketiga kelas masuk pagi. Tiap kelas dibagi menjadi 9 kelompok, dari A sampe I.

Kelas 2 aku baru masuk pagi, jam 7 sampe jam 12.15, sama kaya kelas 3. Kelasku termasuk kelas yang dekat dan satu gedung dengan kantor, jadi seringkali kalo lagi rame kelasku didatangi guru dan dapat himbauan untuk tidak bikin gaduh. Kelas 3 udah mulai agak badung, mungkin karena kelas paling tinggi di sekolah kali ya? Tapi tetep terarah kok badungnya, jadi gak nakal-nakal amat. Di tahun ini aku udah mulai merancang format masa depan, mau ke mana abis ini. Di sini aku juga berdiskusi dengan teman-teman tentang sekolah selanjutnya yang akan kami jadikan ‘korban’. Karena kali ini sekolah tingkat atas tidak dekat dari rumah, maka pilihan harus benar-benar tepat secara fisik dan materiil, karena pilihan ini menentukan langkah selanjutnya setelah lulus sekolah.

Rekreasi SMP diarahkan ke Jogja. Candi Borobudur, Museum Dirgantara, dan pantai Parang Tritis yang jadi obyek utama kami, ditambah Jalan Malioboro di akhir kunjungannya. Karena ini adalah karya wisata, maka abis itu kami harus buat laporan kunjungan ke Jogja sebagai salah satu syarat mendapatkan nilai akhir. Kegiatan ini diadakan saat kenaikan ke kelas 3, sehingga ada waktu yang lebih panjang buat ngumpulin kerjaan.

Setelah dinyatakan lulus kami sekelas mengadakan suatu syukuran kecil-kecilan di rumah salah satu teman. Dihadiri oleh beberapa guru kami, kami diwejang untuk menjadi yang lebih baik di sekolah kami selanjutnya. Dan secara pribadi aku juga dipeseni sama beberapa guru, jangan nakal di sekolahku nanti.

Senin, 24 Oktober 2011

Seri Sekolah (2): Sekolah Dasar

SD Ngadiluwih I, tujuan utamaku setelah dari TK. Alasannya sangat sederhana, dekat dengan rumah, bahkan sangat dekat, wong cuma di seberang rumah aja. Tapi karena jalan depan rumahku itu jalan propinsi, jadi nyebrangnya harus pake panduan orang dewasa lain. Kebanyakan teman TKku juga bersekolah di sini, jadi gak terlalu sulit mengenal teman-teman satu sekolah. Masuk pertama pembagian kelas, aku kurang paham bagaimana dan di mana kelasku, tapi kemudian aku baru tahu kalo aku ada di kelas B (pembagian kelasnya ada dua, A dan B).

Meskipun udah SD, tapi aku masih selalu ikut rekreasi TK, ikut ibuku tiap tahun. Seingatku sampe kelas 4 aku ikut rekreasi TK, setelah itu udah gak pernah lagi.

Kelas satu tidak ada kesulitan berarti. Masuk pagi sampai sekitar jam 10. Kelas dua masuk agak siang (lupa jam berapa), pulangnya jam 12. Di kelas tiga dan empat aku masuk siang dengan diselingi pagi. Maksudnya dalam satu bulan ada satu minggu di mana kelasku masuk pagi, sisanya masuk siang. Karena jatah masuk siang ada 4 kelas (2 kelas 4, 2 kelas 3). Jadi kalo mau masuk siang minggu berikutnya, hari Sabtu udah dikasih tau. Tapi tetep aja kadang khawatir kalo-kalo ternyata kelas masuk pagi, padahal aku mikir masuknya siang. Malah pernah kecele masuk pagi, eh ternyata kelasku masuk siang.

Di kelas tiga inilah prestasi terburukku selama di SD. Nilai-nilaiku jatuh gak pegangan. Khawatir dengan kemajuan belajarku, ibuku memasukkan aku dalam les seorang guruku, yang mengajar kelas empat. Perlahan-lahan nilaiku agak meningkat, sehingga di akhir tahun ajaran aku berhasil ikut naik kelas.

Meskipun masuk siang, tapi pelajaran olahraga tetep dilakukan pagi hari. Pernah sekali olahraga diikutkan di siang hari, tapi ternyata siangnya hujan deres banget, sehingga pelajaran olahraganya berganti dengan kegiatan main hujan-hujanan.

Kelas empat punya pengalaman masuk sekolah hampir sama dengan kelas tiga, karena jadwal masuknya sama. Kelas lima udah mulai masuk pagi lagi, dari jam 7 sampe jam 12 siang, sama dengan kelas enam. Mulai pertengahan kelas lima ini aku berhenti dari les guruku kelas empat, ganti ke les guruku kelas lima. Kelas lima ini mulai ada spesialisasi buat guru di tiap mata pelajarannya, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang satu guru untuk semua pelajaran sekaligus wali kelasnya.

Tiap masuk pagi selalu ada upacara di hari Senin, dan senam kesegaran jasmani di hari lainnya. Ada pembacaan sila-sila Pancasila sebelum memulai pelajaran (sekarang masih ada apa nggak ya?). Aku juga mengikuti ekstrakulikuler drumband sejak kelas 4 sampe kelas 6. Untuk rekreasi SD, kami pergi ke Tanjung Kodok Lamongan, Gua Maharani di Lamongan juga, Kebun Binatang Surabaya, dan terakhir ke Tanjung Perak.

Sepanjang SD, aku termasuk anak yang berbadan kecil, sering jadi bulan-bulanan teman-teman yang lebih gede. Tapi sekarang, pernah ketemu teman yang dulu badannya gede, dibandingin sama aku badannya ternyata lebih kecil daripada aku.

Minggu, 23 Oktober 2011

Seri Sekolah (1): Taman Kanak-Kanak

Aku gak tau mulai masuk TK pada usia berapa, tapi sepertinya di usia tiga tahun, soalnya pas umur lima taun aku udah masuk SD. TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal, opsi utama sekolahku bagi orangtuaku, karena emang ibuku kepala TKnya. Jaraknya sekitar 200 m dari rumahku, padahal 50 m ke arah utara dari rumahku ada TK juga. Karena ibuku waktu itu seringnya mengurus adekku yang masih kecil, maka aku berangkat sekolah seringnya diantar nenekku sambil bareng beliau berangkat kerja, pulangnya ada yang jemput, seringnya kakak sepupuku. Tapi tak jarang juga kalo ada teman bareng pulangnya jalan kaki, tar nunggu di pinggir jalan buat diseberangkan.

Tak banyak yang aku ingat di masa TK ini, kecuali aku adalah anak yang tidak bisa bersosialisasi dengan baik dan benar. Waktu istirahat aku habiskan dengan duduk-duduk di bangku depan kelas, seringnya ditemani sama bapak penjaga TK. Saat di nol kecil, karena udah bisa baca, abis jam istirahat pindah ke nol besar buat ikut ulih-ulihan. Tapi masa TK penuh aku abiskan selama dua tahun. Tapi yang aku ingat pas di nol kecil aku sering bolos, males berangkat sekolah. Sering kalo pagi di depan rumah aku liat teman-temanku lagi berangkat sekolah, tapi aku gak tergerak buat rajin masuk. Di nol besarnya baru aku mau rajin sekolah.

Aku sering mengingat nama-nama lengkap teman sekelasku, karena biasanya diabsen dengan dipanggil satu per satu. Tapi ada juga nama temanku yang aku gak tau nama lengkapnya, padahal dia akrab banget denganku, meskipun kemudian pas SD berpisah dan belum pernah ketemu lagi sampai sekarang. Aku cuma ingat nama panggilannya, aku dulu manggil dia Mas Wiwit. Rekreasi TK waktu itu pergi ke Kebun Binatang Surabaya, Pantai Kenjeran Surabaya, dan mengamati dari jauh Bandara Juanda Surabaya.

Dalam perpisahan pun aku juga diikutkan tampil. Waktu itu aku jadi dokter dalam sandiwaranya. Dalam sandiwara itu ada pidato tanpa teks juga, yang aku dilatih berminggu-minggu sebelum acara itu. Pidatonya lumayan panjang, tapi berhasil aku hapal. Buat jaga-jaga kalo aku gak hapal, ada guruku yang khusus duduk di barisan penonton paling depan, jadi kalo aku melihat ke beliau ini, beliau memberiku petunjuk dengan menuntunku kata-kata pidatonya. Kadang aku melihat beliau juga walau gak lupa teksnya, buat minta dukungan aja lah. Acara ini aku inget banget, karena ada beberapa foto dari acara tersebut yang masih disimpan dan kadang masih aku liat.

Daftar Blog Saya