Tanya Dilema

Suatu pagi, di tengah-tengah pekerjaan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan di Facebook Messenger dari seorang temanku.

Seperti Nemo

Ada satu film yang bagiku aneh banget, yaitu Finding Nemo. Inti ceritanya kan ada seekor ayah ikan yang mencari anaknya. Yang aneh itu ternyata ikan ini bisa ngomong. Padahal kalopun ikan bisa ngomong, kan ikan ini ada di dalam air. Coba kita aja yang ngomong di dalam air, kedengeran nggak sama temen kita yang ada di deket kita.

Pakai Bahasa Indonesia

Dari sejak blog pertamaku aku selalu pengen mempertahankan ke-Indonesiaanku, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia di setiap tulisan blogku. Bukan karena aku nggak bisa bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau India, bukan! Tapi sebenarnya emang nggak bisa sih, tapi bukan itu maksudnya.

Hobi

Hobiku adalah membaca. Aku mendapatkannya dari sebuah majalah anak-anak. Jadi gini awal ceritanya, waktu itu ibuku mengirimkan foto dan dataku ke sebuah rubrik koresponden di majalah anak-anak itu. Dan di bagian hobinya, ibuku menuliskan kalo hobiku adalah membaca.

Power Bank

Di jaman gadget seperti sekarang ini, keberadaan smartphone menjadi bagian kehidupan bagi beberapa orang. Tapi di balik kecanggihan dan segala kelebihannya, ada salah satu sisi di mana smartphone justru lebih boros dalam pemakaian daya baterainya.

Selasa, 16 Desember 2014

Foto Penulisnya

Mungkin dari sekian ribu pembaca blogku ini ada yang pengen tau, sebenarnya gimana sih kira-kira ekspresiku kalo pas mengutarakan tulisan dalam blogku ini, apakah marah-marah, atau diam aja, belagak lugu-lugu ngeselin gitu, atau ketawa-ketiwi, atau juga senyum-senyum tersedu-sedu? Aku pernah baca sebuah blog, di headernya ada foto penulisnya lagi senyum lebar gitu, jadi setiap kali baca isi tulisannya aku jadi ngebayangin kalo orang ini kalo dia mempresentasikan setiap tulisannya dengan senyum-senyum lebar.

Itulah kenapa aku pasang fotoku juga di blogku ini, nggak di atas sih biar nggak ada kesan apa gitu, yang penting ada. Kalo foto yang sekarang bentuk wajahnya gimana? Tetep sih!

Tapi emang aku nggak terlalu suka nampangin foto diri di tulisan-tulisan blog. Biar nggak ada pikiran gini, “Ih, isi blognya cemen banget, eh ini ada foto yang bikin tulisan ini. Oh, jadi si cendol ini toh yang bikin tulisan? Fotonya senyum-senyum kaya udah paling bener aja… alay lo…!!!”. Itu rasanya kaya seluruh tulisan yang aku tulis tadi nempel di mukaku yang nggak rata ini. Dan semua orang baca tulisanku sambil menilai “Ni hidungnya nggak simetris nih… matanya kurang oke, meskipun alisnya kurang bumbu tapi ekspresinya cukup bagus. Kompor gas!!!”.

Nggak tau juga sih, sebenarnya isi blog itu berbanding lurus dengan wajah penulisnya atau nggak, tapi tetep aja kalo lagi baca sebuah tulisan, kita sering nyari-nyari, ada nggak foto penulisnya. Coba liat di koran-koran atau majalah gitu, kan sering tuh pas baca sebuah artikel dan nemuin kalimat apa gitu, kita sekejap mengalihkan perhatian dari teks yang kita baca ke foto penulisnya kalo ada. Kita ngebayangin gimana kalo wajah ini lagi ngomongin tulisannya, kemudian sekejap kemudian kita balik lagi ke teks yang kita baca tadi. Ini bahayanya kalo si penulis tadi nggak pede kita liatin, pas kita baca teks, liat ke foto penulisnya, lalu kita balik lagi ke teks semula, begitu kita liat lagi ke foto eh ternyata nggak ada gambarnya, tinggal tulisan aja ‘Lagi cuci muka’.

Tapi emang bisa dibilang foto penulis itu penting nggak penting sih. Dari foto ini kita bisa tau wajah penulisnya, siapa tau tar ketemu di jalan terus kita sapa atau minta tanda tangan gitu. Nggak pentingnya ya itu tadi, pas tulisannya nggak mutu sama sekali dia malah nyumpah-nyumpahin fotonya. Ya itu sih sebenarnya juga nggak bisa terlalu dianggap penting, saat sebenarnya yang kita cermati adalah hasil-hasil tulisannya.

Senin, 15 Desember 2014

Selamat

Ada seseorang yang punya rumah dua lantai. Rumahnya sedang terbakar, dan dia ada di lantai atas. Dia kemudian berteriak-teriak, “Tolong…!!! Selamatkan aku…!!!”. Ada seorang tetangganya yang dengar, terus bawa tangga kemudian naik ke lantai atas. Begitu dekat dengan orang tadi, sebelum ngobrol atau ngapa-ngapain, dia menjulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan orang tadi, kemudian dia bilang, “Selamat ya, Pak…”. Orang itu kemudian menjabat tangan tetangganya tadi lalu bilang, “Makasih ya, Pak, udah ‘diselamatkan’”.
‘Selamat’, kita mau mendefinisikan apa ya tentang kata ini? Aman-aman aja, baik-baik aja, nggak celaka, atau apapun yang berlawanan dengan hal-hal yang bercenderungan tidak aman. Itu bikin kita memikirkan hal-hal yang baik tentang kata ‘selamat’ ini. Tapi kenapa ada ucapan ‘Selamat Pagi’, ‘Selamat Hari Libur’, atau yang lainnya? Ini sebenarnya mendoakan agar kita selamat, atau paginya yang selamat?

Konsep awalnya emang itu adalah sebuah doa agar kita selamat saat waktu-waktu tertentu. Misalnya ucapan ‘Selamat makan’, ini adalah harapan agar pas makan kita terhindar dari marabahaya. Bisa aja kan pas kita makan, tiba-tiba kita terlibat bahaya, tanpa sengaja kita masuk dalam pertempuran antara kucing kita dengan anjing tetangga gitu. Dan dalam pertempuran ini kita terluka parah, dan akhirnya kita nggak jadi makan.

Atau ucapan ‘Selamat tidur’, ini harapan agar kita menjalani tidur dengan selamat. Jangan sampai kita terlibat bahaya gara-gara tidur, misalnya kita pas tidur dan mimpi, saking menghayatinya peran dalam mimpi kita, kita ngerasa itu kaya kenyataan, kita bangkit dari mimpi, terus jalan-jalan sambil tidur, dan akhirnya tanpa sengaja masuk ke dalam medan pertempuran antara kucing kita dengan anjing tetangga. Dan akhirnya dalam peperangan ini kita terluka parah, dan kita bangun dalam keadaan yang tidak ‘selamat’.

Bagaimana dengan ‘Selamat datang’? Ini ucapan pas kita datang ke suatu tempat, karena kalo nggak selamat kita nggak bakal bisa datang. Kalo ‘Selamat tinggal’? Semoga pas meninggalkan seseorang di suatu tempat dia nggak kenapa-kenapa, dan nggak terlibat dalam pertempuran antara kucing dan anjing lagi.

Ah, apapun definisi kita tentang ‘selamat’ dan ucapan ‘selamat’, semua pasti mengarah pada harapan agar diberikan keselamatan dan terjauh dari ketidakselamatan. Tapi kalo itu adalah sebuah harapan, atau katakanlah itu sebuah doa, kenapa jawabannya harus ‘Makasih ya…’? Itu mungkin karena ucapan-ucapan ini sebenarnya nggak jelas. Kalopun itu doa, doanya itu ditujukan kepada siapa. Itu mungkin ucapan buat kita agar selamat pas makan, tapi yang ngasih selamatnya siapa kan juga nggak disebutkan di situ.

Lain lagi misalkan kalo kita ucapin ‘Ya Allah, semoga Engkau memberikan keselamatan kepada saudaraku ini saat dia makan’, mungkin ini sebuah ucapan yang sebenarnya. Ini sebuah harapan dan doa yang jelas ditujukan kepada siapa untuk keselamatan siapa. Itulah kenapa kita jawabnya bukan ‘terima kasih’ lagi, tapi mengamininya. Dan lebih baiknya kalo juga balas mendoakan orang yang berdoa tadi.

Ada ucapan atau kalimat tertentu yang maksudnya sebenarnya adalah doa dan pengharapan, tapi nggak lengkap penyebutannya. Dan kalo nggak lengkap gini yang dimaksud juga nggak nyampai ke sasaran, malah kesannya nyindir-nyindir gitu. Kan lebih baiknya kalo kita bisa melengkapi ucapan tersebut, jadi kalimat tadi bisa bermakna doa dan kita dapat berkah dari doa tadi, dan moga-moga doanya juga dikabulkan.

Minggu, 14 Desember 2014

Menyampah

Seharusnya kita nggak perlu mempermasalahkan tentang bagaimana sampah itu dibersihkan atau siapa yang akan membersihkan sampah. Nonton berita di tivi, ada sungai di Jakarta yang penuh sampah, tiap hari sampahnya diangkat pake alat berat, tapi kok masih aja ada sampahnya. Belum sampe selesai pengangkatan satu hari, sampah dengan volume yang sama udah datang lagi.

Sekarang coba fokus beralih ke seseorang yang berjalan di pinggir kali. Dia makan roti berkemasan plastik. Rotinya udah habis dan dia nggak bingung lagi mau dibuang ke mana kemasan plastik itu, soalnya ada dua pilihan tempat buang terdekat, kalo nggak di jalan ya di kali. Dan akhirnya tanpa melalui pemikiran dan musyawarah mufakat dia buang ke kali aja. Dalam otak dangkalnya dia berpikir bahwa toh hanya dia aja yang buang sampah ke sungai waktu itu. Dan juga toh hanya sampah plastik kecil tanpa bobot yang dia buang.

Sekarang beralih lagi ke pemikiran yang agak ‘perhitungan’, berapa panjang sungai itu, dan berapa panjang jalan yang ada di pinggir sungai itu untuk dilalui orang. Kemudian ditambah dengan berapa orang yang jalan di pinggir kali itu, dan berapa banyak orang yang makan roti di situ. Kemudian ditambah lagi berapa banyak orang yang memilih ngebuang bekas bungkus roti itu ke kali dibandingkan ke jalan.

Parahnya, semua orang ini berpikiran yang sama, ‘Toh hanya dia aja yang buang sampah ke sungai waktu itu’, dan ‘Toh hanya sampah plastik kecil tanpa bobot yang dia buang’. Dan hasilnya, ya muncul di berita tivi tadi. Misalkan dalam satu jam aja ada 10 orang yang memilih membuang bungkus bekas roti di kali, berarti dalam satu hari ada 240 bungkus roti mengapung di kali. Itu cuma dihitung sampah bekas roti aja. Gimana dengan sampah-sampah yang lain? Tambahan lagi, gimana dengan sampah-sampah yang lain di tempat-tempat yang lain?

Sering banget nemuin orang-orang yang pas buang sembarangan sampai dibarengin dengan pemikiran ‘Toh nanti juga ada yang bersihin’, atau ‘Kalo nggak ada sampah, tar tukang sampah kerja apa?’. Padahal coba kita lihat katanya, ‘tukang sampah’, itu bisa diartikan orang yang kerjanya bikin sampah, ya berarti dia sendiri. Maksudnya gini, kenapa kita harus berangkat dari pemikiran ‘ada yang bersihin’, padahal kita punya peluang besar untuk mencegah itu. Kita bisa mencegah sampah berceceran dengan tidak buang sampah sembarangan. Lagian kan banyak disediakan tempat sampah di berbagai tempat. Pekerjaan menampung sampah sementara sampai ketemu tempat sampah buat buang sampah di situ, itu kan juga bukan pekerjaan yang berat, kecuali kalo sampahnya itu tadi berupa truk bekas gitu.

Kenapa kita nggak mengorbankan sedikit waktu buat menampung sampah sementara, yang bisa berdampak bersihnya lingkungan. Yang buang plastik bekas roti tadi, sementara plastiknya dikantongin dulu sementara sampai ketemu tempat sampah. Atau kalo nggak mau kantongnya kotor bisa antisipasi bawa kantong plastik buat penampungan sementara. Atau kalo nggak mau repot lagi ya nggak usah makan roti dulu sementara sampai ketemu tempat sampah terdekat. Kita sering pengen menjaga kebersihan tapi bingung gimana atau memulai dari mana. Ya kita bisa mulai dari hal remeh temeh kaya tadi, dimulai dari diri kita sendiri, dan sesegera mungkin dilaksanakan, nggak perlu nunggu fungsi sungai dari penuh air menjadi penuh sampah.

Sabtu, 13 Desember 2014

Nasib Resolusi Tahun Baru

Sebuah kegiatan yang sering digembar-gemborkan pada akhir tahun adalah: MEMBUAT RESOLUSI TAHUN DEPAN. Nggak tau ini kegiatan wajib atau bukan, tapi pasti kita sering dapat pertanyaan klise, ‘Apa resolusi kamu tahun depan?’. Dan kemudian kita mau jawab apa ya terserah kita aja. Kalo misalnya ada yang emang bikin, dia kemudian bikin sesi presentasi dan menerangkan resolusinya dari awal sampai akhir, sejak tanggal 1 Januari sampai 31 Desember dengan detail dan menyeluruh, terus di sesi terakhirnya dia bilang, ‘Ada pertanyaan?’. Kalo yang emang nggak bikin, ya woles aja, itu kan nggak harus.

Tapi gini, coba kita perhatikan terutama bagi mereka yang bikin, berapa lama resolusi tahun baru anda akan bertahan untuk dilaksanakan? Atau secara globalnya, berapa persen resolusi yang anda canangkan kemudian tercapai di akhir tahun? Dan akhirnya, seberapa banyak resolusi awal tahun anda yang bisa diingat sampai akhir tahun, atau seenggaknya tengah tahun? Dan mumpung ini akhir tahun menurut perhitungan kalender, pertanyaan bagi yang bikin resolusi tahun lalu, ada nggak yang masih inget resolusi tahun baru anda tahun ini?

Resolusi tahun baru, seringnya berupa deretan daftar apapun yang ingin kita capai atau kita ubah di tahun depan. Alih-alih bikin perubahan sekarang, orang-orang cenderung suka bikin perencanaan perubahan untuk tahun depan. Dan akhirnya entah konsisten atau nggak dengan pencanangan itu, orang-orang cenderung lupa dengan yang namanya resolusi tahun baru, bahkan di minggu kedua tahun baru. Ini kenapa?

Balik lagi kepada kecenderungan bikin perubahan untuk direncanakan tahun depan, dengan ini kita terlalu terbiasa dengan yang namanya menunda. Mau berubah aja nunggu tahun depan. Dan dalam pikiran kita, sering muncul latar belakang bahwa hari esok masih panjang buat bikin perubahan itu di masa depan. Nah, menunda ini bisa terjadi lagi pas tahunnya udah ganti, sedangkan resolusi yang tadi udah waktunya dilaksanakan. Abis itu kita tunda lagi sampai bulan depan, bulan depannya tunda lagi, tunda lagi, berulang-ulang sampai akhirnya kita ketemu akhir tahun lagi.

Ibarat sebuah unit kerja yang bikin program kerja tahun depan dengan target-target tertentu kapan untuk dilaksanakan, resolusi tahun baru itu hampir sama kaya gitu. Resolusi kaya gini bukan buat orang-orang yang suka menunda-nunda bikin perubahan atau orang-orang yang suka berkompromi dengan aturan-aturan tertentu yang mereka buat sendiri. Dan resolusi kaya gini membutuhkan sifat konsisten, konsekuen, komitmen, dan tekad untuk melaksanakan. Tanpa sifat-sifat kaya gini, percuma! Mending nggak usah bikin resolusi, bikin aja prinsip hidup seperti air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Mau berubah kapan pun, nggak ada target, bisa! Mau nggak berubah, tunggu bulan depan, bisa! Pokoknya nggak terikat resolusi kosongan.

Sebenernya terserah sih sama masing-masing, mau bikin resolusi, mau nggak, ya nggak masalah. Nggak perlu menggembar-gemborkan juga lah mana yang bener mana yang nggak. Yang bikin ya silakan berusaha untuk melaksanakan, yang nggak ya nggak usah ribut. Toh juga nggak ada bedanya antara tahun baru sama tahun lama, kecuali bilangan tanggalnya.

Dan kalo ditanya apa resolusi tahun baruku, aku jawab ‘1024 × 768′.

Jumat, 12 Desember 2014

Di Beranda Facebook

Facebook sekarang ini udah kaya tempat mengumpulkan keluhan-keluhan. Mungkin kalo satu hari aja keluhan yang ada di berandanya dikumpulin bisa jadi buku berpuluh-puluh halaman. Herannya kok nggak habis-habis ya itu keluhan, ada aja yang dikeluhkan. Padahal tiap hari udah mengeluh lo, tapi stoknya kayanya masih banyak yang perlu dikumpulkan di situ.

Selain itu Facebook sering jadi tempat pamer bersosialisasi. Misalnya ada seseorang mau berkomunikasi sama temannya, terus dia buat status buat temennya itu sambil mention gitu. Ini udah kayak telepon atau SMS seperti nggak ada aja. Bikin status gitu, yang nonton banyak, tar dikomen orang nggak dibales karena yang dimaksud bukan dia.

Pernah juga nemuin ada orang bertengkar di Facebook. Ada gitu yang rebutan cowok, ceritanya ada seorang cewek yang suka sama seorang cowok atau gimana, terus si cowok itu ada cewek lain yang ngedeketin. Terus si cewek ini bikin status buat nyindir cewek yang satunya tadi, eh cewek yang satunya ini komen di situ, terus saling berdebat. Ada lagi sepasang suami istri yang lagi marahan, tapi marahannya dari dunia nyata berlanjut ke dunia Facebook. Awalnya istrinya bikin status galau gitu soal masalahnya, terus suaminya komen di situ. Ini masalah keluarga, tapi seisi Facebooknya tau dan baca.

Nah ada lagi yaitu Facebook sebagai tempat berdoa. Ini sebenarnya nggak jelas, apakah maksudnya biar diaminin banyak orang, atau lagi pamer kesengsaraan. Misalkan ada masalah gitu, terus doa biar masalahnya selesai, mungkin orang yang komen bilang ‘aamiin’ apa gimana gitu. Kan doa, apalagi ngaminin itu lebih mustajab kalo diucapkan daripada ditulis. Atau misal ada cewek lagi ada masalah sama pasangannya gitu, terus bikin status galau kemudian ada doanya, kan kita nggak bisa mastiin dari semua kontaknya itu niatnya tulus ngaminin dia mungkin. Jangan-jangan ada salah satu atau beberapa dari kontaknya malah pengen si cewek ini putus sama pasangannya terus biar dia bisa ngedeketin. Kalo yang kaya gini udah jadi modus terselubung.

Banyak pula foto-foto narsis, yang sering aku sebut “1 : 50”, maksudnya satu gaya tapi fotonya ada lima puluh buah. Nggak tau kenapa, mereka ini bikin foto sebanyak lima puluh kali hanya dengan sebuah gaya yang sama. Padahal fotografi itu kan seni cahaya, kalo udah narsis-narsisan kaya gini udah nggak bisa dibilang berseni lagi tuh.

Itu adalah beberapa alasan mengapa bagiku Facebook udah nggak asyik lagi. Bagiku sebenarnya apapun yang mereka bikin di akun Facebook mereka sendiri itu adalah ya privasi mereka, semau mereka. Urusan mereka ya biar mereka urus sendiri, urusanku ya aku urus sendiri. Kalo nggak suka tinggal remove aja udah beres.

Tapi ya liat-liat juga, ada nggak manfaatnya buat kita liat di Beranda. Kalo nggak manfaat ngapain diperlihatkan. Mengekspos masalah pribadi untuk jadi konsumsi publik itu kan nggak jauh beda menjadikan Facebook sebagai infotainment basi yang sering muncul di televisi. Kita mungkin nggak suka diomongin orang lain, tapi kita sendiri yang menggembar-gemborkan masalah kita sendiri di depan umum. Status Facebook mungkin bukan sangat umum seperti televisi yang bisa dilihat semua orang bahkan mereka yang nggak punya televisi. Tapi tetap aja, itu bisa menjadi santapan dan tontonan bagi mereka yang kita undang jadi teman, atau mengundang kita jadi teman.

Sebenarnya juga salah kalo ada ungkapan ‘Statusmu adalah apa dan bagaimana dirimu’, karena kalo statusnya ngambil dari lagu, puisi, atau buku, terus bagaimana kita nilai orang itu? Puitis, ekspresif, atau plagiat?

Rabu, 10 Desember 2014

Di Mata Orang

Seekor kupu-kupu tidak pernah mengenal warna dan dan coraknya. Tapi setiap orang yang melihatnya pasti tahu bahwa kupu-kupu itu punya warna dan corak yang indah.

Seorang bayi bergerak dan berperilaku yang bagi mereka wajar. Meskipun mereka tidak bermaksud melucu, tapi setiap orang yang melihat gerakan bayi itu pasti berpikir bahwa bayi itu lucu dan menggemaskan.

Seseorang mungkin tidak menyadari bau yang dipancarkan dari badan mereka, entah itu harum atau nggak enak. Tapi orang-orang di sekitarnya yang bisa mencium bau itu dan mengenalinya sebagai bau dari seseorang itu.

Apa persamaan atau arti dari ketiga analogi itu? Orang lain di luar kita sendiri yang memperhatikan kita, mungkin tanpa kita sadari. Tapi sebenarnya apa yang dilihat orang lain itu belum tentu bahwa itulah diri kita. Itu karena orang melihat kita dari apa yang mereka lihat. Orang melihat kupu itu indah, padahal sebelumnya kupu-kupu itu adalah ulat. Bayi nggak bermaksud melucu tapi yang dilakukannya pasti terlihat lucu. Kita bisa terlihat sombong di mata orang, padahal bisa jadi kita adalah orang yang pendiam atau kaku, yang jarang menyapa orang.

Udah gitu aja.

Selasa, 09 Desember 2014

Remote Televisi

Remote TV berguna untuk memerangi iklan. Kok bisa? Ya liat aja, kalo pas nonton tivi, terus pas iklan, dan ada remote tivi di samping kita, hal terlintas yang ada di pikiran kita selain ke kamar mandi adalah pencet-pencet tombolnya. Dan mulailah otak memerintah ke otot tangan untuk menggerakkan tangan, menjamah remote tivinya dan mata mencari tombol-tombol bertuliskan angka. Satu per satu channel diabsen, kira-kira ada nggak tivi yang lagi nggak nyiarin iklan, nggak nyiarin sinetron basi, nggak nyiarin infotainment, dan yang terpenting stasiun tivinya lagi siaran. Dan saat ketemu ada channel dengan kategori-kategori yang tadi, inilah saat di mana kita menemukan acara alternatif bagi acara utama kita tadi, yang lagi nyiarin iklan.

Selain itu remote tivi berguna untuk memerangi siaran film atau sinetron horor, yang ada muncul setan atau hantunya gitu. Bukan buat ditunjuk-tunjuk ke hantunya, terus mereka kebakar gitu. Tapi prinsipnya sama kaya perang melawan iklan tadi. Begitu hantunya tampil, dan mulai muncul rasa ketakutan, kengerian, atau kejijikan di perasaan pemirsanya, remote tivi adalah benda yang bisa diraih setelah bantal. Dan kegiatan pencet-pencet pun kembali dimulai. Padahal ini sebenarnya termasuk PHP lo! Kan hantunya udah capek-capek dandan buat bikin penontonnya jijik gitu, eh begitu dia muncul kita ganti channelnya. Kalo hantunya sampai tau mungkin lain kali dia udah kapok jadi hantu.

Tapi parahnya kalo kombinasi dari keduanya, kita lagi kena iklan yang ada di film horor. Ya mending nggak usah liat tivi aja!

Kegunaan lain sebagai peralatan perang adalah remote tivi bisa digunakan buat memerangi tikus. Misalkan kita lagi asyik-asyiknya nonton tivi, tiba-tiba muncul tikus masuk ke ruangan nggak ketok-ketok pintu dulu, dan pas banget ada remote tivi sebagai satu-satunya benda yang menemani kita selain kursi yang kita duduki, maka kita akan lebih memilih remote tivi untuk dilempar ke tikus itu daripada kursinya, atau tivinya sendiri. Dan kebanyakan hasilnya bukan tikusnya yang kena, tapi malah remote tivinya yang rusak.

Jaman sekarang ini kayanya hampir semua produk televisi yang dikeluarkan punya remotenya masing-masing ya. Dulu kan nggak semua tivi ada, kalo pas pengen ganti channel atau ganti volume perlu bangkit dulu dari tempat duduk, jalan ke tivi, nyari tombolnya, terus dipencet-pencet. Atau kalo udah males banget, nonton tivi sambil baring-baring, mencet tombolnya bukan lagi pake tangan tapi pake kaki. Sekarang sih, bahkan ada remote tivi berjenis universal, bisa dipake buat semua tivi dengan pengaturan setting tertentu. Tapi karena remote tivi ini udah menjadi barang yang biasa ada, kita jadi lupa bahwa sebenarnya remote tivi ini adalah salah satu barang penemuan yang canggih. Saking biasanya kita akan sebuah remote, sering ditemui kita punya beberapa remote buat satu tivi aja. Nggak kebayang kan dulu awalnya remote tivi nggak kaya sekarang ini, tapi pake kabel yang terhubung sama tivinya. Ini sebenarnya bisa jadi cara meminimalisir hilangnya remote tivi, tapi gimana kalo nontonnya agak jauh dari tivi, kan remotenya nggak bisa dibawa ke mana-mana.

Ini sebenarnya sama dengan kesan kita dengan tivinya sendiri, atau lampu, listrik, dan peralatan canggih lainnya. Karena kita beruntung hidup di jaman di mana peralatan-peralatan canggih udah ditemukan lebih sempurna. Kita ingat bahwa di jaman kerajaan Majapahit belum ada ATM. Di jaman perang Salib orang masih pake gerobak, belum ada kendaraan motor roda tiga. Di jaman perang dunia aja kirim kabar belum bisa SMS-an. Hal-hal yang udah kita temui saat ini, dan kita sering lupa betapa pentingnya penemuan-penemuan ini. Coba kalo listrik nggak pernah ditemukan manusia, gimana bisa ngeblog kita sekarang ini. Tapi kita sering baru sadar bahwa kita punya listrik saat ada pemadaman listrik.

Senin, 08 Desember 2014

Permakluman

“Saya orang Indonesia salah wajarkan?”

Ini adalah retweet dari seseorang yang aku nggak kenal, meskipun wajahnya cantik (dan meskipun nggak ada hubungannya antara ‘nggak kenal’ sama ‘cantik’). Dialog nggak langsung ini berawal dari saat cewek tadi ngebalas twit dari seorang yang aku ikuti di Twitter. Dia pake bahasa Inggris di beberapa bagian kalimatnya. Nah, ada satu bagian yang pemakaiannya bahasa Inggrisnya salah, nggak pas gitu. Karena tampil di timeline-ku, aku retweet aja dengan kalimat yang benar. Eh, nggak taunya dia ngebales! Sebenernya seneng sih ada yang ngebales gitu, apalagi dia cewek. Tapi ternyata balesannya gitu…

Maksudnya bukan sok bisa bahasa Inggris atau sotoy gimana gitu, tapi cuma ngebenerin aja. Sering banget nemuin hal-hal yang kaya gini. Dan tiap kali nemuin, dalam pikiranku muncul dua pilihan, “Aku harus bilang ‘RIP English’, atau ‘Istirahat dalam tenang, Bahasa Indonesia’ ya?”. Untungnya dalam menghadapi pilihan ini nggak harus sampe sholat istikhoroh dulu, lagian nggak terlalu penting banget.

Tapi gini aku jelasin, kita, orang Indonesia, memang bukan penutur asli bahasa Inggris. Bahasa Inggris digolongkan bahasa asing di Indonesia. Lagian Inggris juga nggak lama-lama amat menjajah Indonesia. Tapi kita saat salah dalam penggunaan bahasa Inggris selalu aja berlindung pada fakta bahwa “Saya orang Indonesia, yang wajar bila salah mengucapkan bahasa Inggris”. Kenapa harus beralibi gitu?

Maksudnya kenapa harus beralibi, karena sebenarnya itu bisa dicegah. Iya, salah mengucapkan atau menuliskan bahasa Inggris bisa kita, orang Indonesia ini, cegah, dengan tidak memakainya. Yang kita tau adalah bahasa Indonesia ini udah banyak banget kata-katanya, masak nggak ada satupun kata dari bahasa Indonesia yang bisa menggantikan kata dari bahasa Inggris yang kita pake tapi salah tadi. Misalkan gini, ada yang salah dalam memakai susunan kata dalam kalimat ‘You are is the best!’, ini kan sebenarnya maksudnya mengungkapkan kehebatan seseorang, dalam bahasa Inggris biar keren, nggak tau yang seseorang yang dimaksud hebat tadi tau nggak artinya. Tapi ternyata pas diucapkan salah guna! Kenapa nggak langsung bilang aja ‘Kamu yang terbaik!’, sederhana, tepat guna, dan insya Allah yang dibilang ‘terbaik’ tadi kalo dia orang Indonesia juga pasti ngerti.

Bahasa, itu nggak hanya sekedar dipake buat keren-kerenan. Para penggemar musik luar negeri sering pake lirik-lirik lagu buat status atau twit misalnya, biar dibilang keren atau gimana, lebih dari itu maksud dari pemakaian bahasa itu! Bahasa sebagai sarana pengantar komunikasi, yang penggunaannya juga harus baik dan benar, agar nggak hanya menghargai asal bahasa itu sendiri, juga agar komunikasi berjalan lancar dan nyaman karena kedua pihak saling mengerti. Dan karena atribut ‘keren’ itu tadi, orang yang nggak ngerti maksud dan kandungan dari kalimat yang salah, cenderung menganggap itu keren dan bisa jadi dia kemudian meneruskan penggunaan kata yang salah tadi ke orang lain. Ini sebenarnya bahayanya, saat pemakaian bahasa dan kata yang salah menyebar dan itu kemudian dianggap sebagai permakluman dan kewajaran saat kita salah memakainya.

Jadi, orang Indonesia, pake bahasa Inggris tapi salah mungkin wajar, tapi jangan sampai kewajaran ini dianggap sebagai hak perlindungan. Kita orang Indonesia mungkin dongkol atau jengkel saat bahasa Indonesia dipakai sembarangan oleh orang asing, atau beberapa di antara kita menganggap itu sebagai kelucuan dan patut ditertawakan. Mungkin sebenarnya orang Inggris juga gitu saat bahasa Inggris salah digunakan, tapi karena kita nggak ngerti bahasa mereka saat mereka protes, mungkin kita di sini menganggap itu kata-kata keren.

Sabtu, 06 Desember 2014

Compact Disc

Harga kepingan DVD kosong sekarang ini udah cukup murah, sekitar lima ribuan udah dapat. Apalagi kalo CD kosongan, bisa lebih murah lagi. Kapasitasnya juga udah dikalahkan sama yang namanya flashdisk, yang muncul belakangan. Apalagi isi flashdisk bisa lebih fleksibel untuk aktivitas tulis-hapus. Tapi nggak tau kenapa bagiku yang namanya CD itu masih aku anggap sebagai barang penting dan ‘mewah’, padahal harganya juga sangat jauh lebih murah daripada flashdisk.

Kalo menurutku ini dikarenakan fungsi dan guna CD sendiri masih sangat efektif untuk beberapa keperluan, misal mau instal OS, program, back-up data, dan sebagainya. Meskipun kapasitasnya terbatas (terutama CD), tapi bisa ngasih keamanan yang lebih. Bandingkan dengan menyimpan file di flashdisk, terutama saat sekarang ini, di mana virus-virus banyak bermunculan. Asal colok flashdisk di mana aja bikin rentan kena virus dari mana aja.

Kalo pake keping CD atau DVD, sesuai dengan sifatnya yang kompak, maka tanpa proses tertentu file apapun nggak bisa asal masuk ke dalam CD dan mengganggu filenya. Belum lagi kalo mau nginstal OS, pake master dari CD itu lebih aman daripada menginstal dari flashdisk, yang bisa aja master instalannya udah kena virus, sehingga kalo nginstal dari situ maka virus yang ada ikutan masuk ke OSnya.

Tapi tentu aja semua ada kelemahannya. Musuh utama CD adalah goresan. Kalo udah kegores, baca data juga tersendat. Berikutnya adalah kotor. Kalo ada kotoran yang nempel di permukaan baca CD, maka drive optik akan ada masalah atau gangguan dalam ketepatan baca datanya. Lalu juga retakan, pecah, dan lain-lain gangguan. Terlepas dari keamanan datanya, keamanan perangkat CDnya sendiri juga perlu diperhatikan.

Kalo punya CD-CD yang penting dan perlu, biasanya aku back-up CD tersebut dalam bentuk file image. Kalo suatu saat pas CD pertamanya rusak dan nggak bisa dipakai lagi, maka tinggal bikin CD baru dari image tadi. Cuma masalahnya adalah image CD ini bisa memenuhi kapasitas harddisk dari komputernya. Tapi tentu saja ini masih bisa diakali dengan misalnya menyimpan filenya di flashdisk atau tempat penyimpanan lain.

Nilai guna dari sebuah barang menjadi sebuah nilai tambah dari harga barang tadi yang sebenarnya sangat murah. Soalnya kegunaan dan fungsi barang ini bisa jadi sangat berharga dan sangat berguna yang bisa diandalkan dalam kegiatan kita, sehingga seringkali sebesar apapun harga barangnya menjadi nggak kerasa karena kepentingan fungsinya.

Kamis, 04 Desember 2014

Sepedanya Rusak

Keingat dulu semasa di SMK alasan telat karena sepeda rusak itu sering nggak diterima guru bengkel sebagai alasan yang masuk akal dan mendapat keringanan atau dispensasi. Para guru berpendapat bahwa harusnya rusaknya sepeda itu bisa diminimalisir dengan pengecekan hari sebelumnya atau pas paginya saat sepeda dipanasi. Tapi ini kan sepeda, gimana manasinnya, kaya motor aja! Padahal kebanyakan pelajaran di bengkel itu mulai jam pertama yang rentan telat karena berbagai sebab.

Sebenarnya argumen guru-guru ini masuk akal juga. Kondisi sepeda bisa dicek sebelum dipakai, sehingga kalo ada yang nggak biasa dari sepeda bisa diantisipasi sebelumnya. Tapi nyatanya kita juga nggak bisa menghindari takdir saat ternyata sepedanya ditakdirkan untuk rusak. Entah karena rantainya putus, atau bannya bocor, atau gimanapun, namanya juga rusak di jalan. Pernah kejadian aku gagal masuk tepat waktu karena sepedaku ditabrak sama mikrolet dan akhirnya rusak. Ini kan juga nggak bisa diantisipasi, misal hari sebelumnya aku ngomong dulu sama sopirnya mikrolet, ‘Bang, besok jangan tabrak ane ya!’, ya mana bisa gitu juga.

Tapi itu jadi sebuah resiko tersendiri menghadapi guru-guru bengkel seperti ini. Karena bisa jadi sebuah keberanian dengan telat kemudian menghadap guru bengkel dan menerima hukuman nggak bisa ngikutin pelajarannya sampai habis jamnya. Ada beberapa teman yang karena nggak mau dihukum, akhirnya mereka nggak masuk jam tadi tapi langsung masuk jam berikutnya. Pemikirannya kan sama aja mau menghadap atau nggak, tetap nggak boleh masuk jam pelajarannya, jadi mending nggak usah menghadap sekalian. Tapi dengan cara seperti ini kan kita jadi nggak tau tar gurunya mau ngasih hukuman atau nggak. Bisa aja kan ternyata pas waktu itu gurunya lagi bahagia, jadi seneng dan males ngasih hukuman ke muridnya, pas kita telat eh langsung disuruh masuk tanpa ada hukuman. Namanya juga kemungkinan, kan sama besarnya dengan kemungkinan sepeda kita rusak di jalan tadi.

Jam-jam pelajaran di bengkel adalah jam-jam penuh kedisiplinan dengan menghadapi guru-guru yang nggak enak diajak guyonan. Makanya pelajaran di bengkel lebih didominasi dengan suasana ketegangan, meskipun nggak selalu. Maklum aja sih sebenarnya, soalnya yang kita hadapi di situ kan mesin-mesin besar dan peralatan-peralatan logam. Salah perhitungan atau kurang disiplin, resikonya lebih besar daripada menghadap guru bengkel karena telat tadi. Dan resiko ini, sebenarnya juga sama besarnya dengan rusaknya sepeda di jalan tadi.

Daftar Blog Saya